Selasa, 22 Agustus 2017

Realitas: Hanyalah Ilusi


Oleh: Leonardo VintiƱi

Segala peristiwa dan semua materi yang kita lihat di alam semesta adalah sesuai dengan apa yang kita ketahui sebagai realitas. Gagasan bahwa alam semesta kita seperti sebuah ilusi raksasa, atau seperti produk dari realitas maya yang sangat kompleks, dianggap lebih mirip hasil karangan cerdas dari sebuah fiksi ilmu pengetahuan daripada dunia yang kasar dan tidak sempurna yang kita alami setiap hari.

Namun, realitas yang kita rasakan ini tampaknya bertentangan dengan logika ilmiah, jika kita ingat bahwa materi sesungguhnya hampir tidak ada. Pembangun dasar dari materi yang dapat terlihat adalah atom, yang berupa partikel sangat kecil di tengah kekosongan yang luas, dikelilingi oleh partikel-partikel tak terlihat (elektron) yang mengorbit pada kecepatan luar biasa. Jika tubuh kita diamati di bawah mikroskop yang sangat kuat, apa yang akan terlihat mungkin seperti lautan pasir yang bergerak terus-menerus.

Menurut penelitian terbaru di bidang fisika kuantum, apa yang kita semua ketahui sebagai materi padat yang menjadi realitas kita ternyata tidak lebih terdiri dari fluktuasi kuantum di tengah alam semesta yang kosong.

Sekelompok fisikawan yang dipimpin oleh Dr Stephen Durr dari John Von dariNeumann Institute di Jerman menegaskan bahwa jumlah dari tiga partikel subatomik yang membentuk proton dan neutron (yang disebut quark) hanya mewakili hampir 1 persen dari total massa mereka.

Bukti seperti itu mengatakan bahwa sisa dari massa nuklir akan terdiri dari gluon, partikel sementara yang menggelembung di tengah kekosongan, yang berfungsi untuk menjaga kesatuan di antara trio quark di dalam proton dan neutron. Fakta ini menunjukkan sebuah hipotesis bahwa realitas ini mungkin hanyalah fluktuasi belaka dari sebuah kekosongan atau secara murni tidak ada.

Kebenaran lain

Apa yang kita lihat dengan mata fisik kita adalah sangat direduksi hingga level yang nyaman bagi kita. Jika kita memiliki sepasang mata yang hanya bisa melihat partikel renik/sangat kecil akan membuat mustahil bagi kita untuk bergerak di dunia dengan benda-benda yang begitu besar, karena benda-benda yang biasanya berinteraksi dengan kita terdiri dari milyaran partikel mikroskopis.

Menurut ahli biologi Richard Dawkins, bebatuan hanya terasa keras dan tak dapat ditembus dengan tangan kita karena mereka tidak bisa saling menembus satu sama lain. Bagi kita, hal ini berguna untuk memahami tentang kekerasan dan soliditas karena membantu navigasi kita di dunia.

Navigasi adalah realitas yang penuh ilusi, kita harus menerima bahwa di suatu tempat di alam semesta, realitas lain dapat ditemukan. Mungkin ada raksasa sedang tertidur, gelembung raksasa, atau Tuhan, jika Anda mau. Karena realitas partikel sesungguhnya tidak lebih dari asap dan bayangan, bisa jadi bahwa eksistensi nyata dari semua benda di alam semesta berada dalam satu atau lebih ruang-ruang paralel. Banyak ilmuwan berspekulasi bahwa, seperti benda tiga dimensi yang dapat memproyeksikan bayangan dua dimensi di atas tanah, alam semesta multidimensi (seperti kasus Teori String) bisa membentuk bayangan di ruang tiga dimensi.

Jika teori ini benar, setiap objek dan organisme di dunia ini tidak lebih dari representasi kasar dari objek dan organisme di alam semesta yang lebih “nyata”. Bertepatan dengan teori ini, keberadaan pikiran extracorporeal dalam dimensi lain mungkin menjadi penjelasan ideal mengapa kita memiliki memori, ketika atom dalam otak kita meregenerasi ratusan kali sepanjang perjalanan hidup kita. Menurut Steve Grand, penulis “Creation, life and how to make it,” tidak ada atom yang membentuk tubuh kita saat ini telah berada di tubuh kita sejak masa kecil kita yang kita ingat.

Grand menyimpulkan bahwa materi selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan menyatu sejenak sehingga Anda dapat menjadi Anda. Oleh karena itu, Anda bukanlah materi membentuk tubuh Anda saat ini. Ini akan berarti bahwa tubuh kita yang sebenarnya berada di ruang yang kita tidak bisa memahami-sedangkan tubuh maya, sebuah wadah sesungguhnya, berada dalam apa yang kita sebut realitas.

“Kepada mereka, saya katakan, bahwa kebenaran tidak lebih dari bayangan imajinasi.” -Plato, dalam”Republik”

Bayangan dan warna cahaya adalah proyeksi kasar dari realitas yang “lebih nyata”. Alam semesta yang kita tempati menyajikan dirinya sebagai sesuatu yang bahkan lebih ilusi, dimana tubuh, pikiran, dan planet-planet adalah bagian dari trik sulap besar tanpa seorangpun pesulap atau penonton.

Para ilmuwan di Hanover, Jerman, bekerja dengan GEO 600 yang merupakan instrumen yang bisa mendeteksi gelombang gravitasi, percaya bahwa mereka telah menemukan “granulasi” di ruang-waktu yang menunjukkan bahwa alam semesta kita tidak lebih dari sebuah hologram raksasa.

Mereka yang bertanggung jawab pada projek GEO 600 percaya bahwa, dengan cara yang sama sebuah gambar digital akan kehilangan resolusi sesuai dengan peningkatan ukuran yang signifikan, gangguan yang ditangkap dalam detektor dapat diartikan sebagai resolusi terbatas dari alam semesta dari apa yang mampu dideteksi oleh mata manusia. Ada sebuah titik yang tepat di mana hologram dari realitas mulai “membentuk” dirinya.

Para ilmuwan menduga bahwa ketepatan dari GEO 600 mendeteksi variasi gelombang longitudinal pada skala subatomik, berfungsi untuk menemukan butir terkecil yang membentuk semesta holografik tiga dimensi, yang diproyeksikan dari suatu tempat di dimensi lain.

Anda dan saya, hanyalah Hologram

Ide alam semesta holografik bukanlah hal baru. Pada tahun 1990-an, ilmuwan Leonard Susskind dan Gerard Hooft mengatakan bahwa ini adalah prinsip yang sama yang membuat gambar dua dimensi yang terlihat seperti tiga dimensi pada permukaan datar dapat diterapkan untuk seluruh alam semesta.

Lalu, mengapa indera kita memahami realitas secara berbeda dan dengan cara “produktif” jika kita sesungguhnya tidak lebih dari sebuah bayangan pada layar datar? Masalahnya mungkin bahwa mata manusia dan lensa teleskop kita sesuai dengan realitas dari hologram dari alam semesta. Poin kedua yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa otak kita juga telah disesuaikan dalam ilusi, dirancang tidak mampu menafsirkan alam semesta pada jumlah dimensi yang lebih besar atau lebih sedikit daripada yang bisa dirasakan.

Neurofisiologi Karl Pribram, pendiri Pusat Penelitian otak di Universitas Radford di Virginia, berpikir bahwa otak kita adalah hologram yang mengartikan hologram alam semesta, yang secara matematis membangun realitas dengan menafsirkan frekuensi yang datang dari domain dimensi lain -suatu realitas lain yang melampaui waktu dan ruang.

Namun demikian, teori alam semesta hologram dua dimensi bertentangan dengan teori-teori multidimensi yang muncul dari akar teori superchord. Sebelum hipotesis berbeda ini, banyak ilmuwan telah menduga bahwa alam semesta adalah sebuah hologram atau ilusi yang diciptakan oleh partikel dalam sebuah kekosongan. Namun, semua upaya ilmiah untuk memahami realitas ini telah terjebak pada teori yang sulit untuk dibuktikan.

Banyak pelopor teoritis berpikir bahwa keacakan di medan fisika kuantum dan relativitas dapat menjelaskan fenomena yang selalu diperdebatkan dalam bidang ilmiah, di mana pikiran tampaknya tidak berhubungan dengan otak-seperti pengalaman mati suri, visi jarak jauh dan prekognisi.

Dalam kasus apapun, alegori Plato diatas tampaknya akan menjadi pilihan paling rasional saat ini untuk menjelaskan pengalaman-pengalaman sehari-hari tentang kehidupan, bahwa otak kitalah yang menafsirkan realitas sebagai penampilan nyata di dunia.

Sumber: Henkykuntarto’s Blog -Wellcome to my spiritual blog
sumber