Kamis, 14 Januari 2016

Tembakau Srintil, Tembakau No 1


Tembakau sebagai bahan dasar untuk membuat rokok itu ada beberpa jenis. Jenis-jenis tembakau yang umum adalah seperti Philipmoris di Grobogan, Asepan di Klaten, Boyolali, Sukoharjo dan Blora serta Vosterland di Klaten dan Virginia di Klaten, Sukoharjo, Boyolali dan Sragen disebut tembakau nasi.
Di Indonesia, tembakau yang baik (komersial) hanya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Diantaranya adalah :
Tembakau Deli, penghasil tembakau untuk cerutu
Tembakau Temanggung, penghasil tembakau srintil untuk sigaret
Tembakau Vorstenlanden (Yogya-Klaten-Solo), penghasil tembakau untuk cerutu dan tembakau sigaret (tembakau Virginia)
Tembakau Besuki, penghasil tembakau rajangan untuk sigaret
Tembakau Madura, penghasil tembakau untuk sigaret
Tembakau Lombok Timur, penghasil tembakau untuk sigaret (tembakau Virginia)
Tembakau Kaponan (Ponorogo), penghasil tembakau untuk tingwe (tembakau jenis sompo rejep)
Tapi taukah anda jenis tembakau apa yang paling mahal dan paling berkualitas seantero dunia ?
Masyarakat petani tembakau di lereng Gunung Sindoro-Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah menyebut tembakau fenomenal tersebut dengan sebutan Srinthil.
Masih ingat Tembakau srinthil yang ada di bungkus rokok Jarum 76 ?
itu merupakan tembakau kelas satu yang hidup di dataran tinggi Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Harga 1 kg tembakau srintil bisa mencapai 300 ribu rupiah bahkan jutaan.
Tembakau Srinthil adalah tembakau yang tumbuh begitu saja secara alami dan sampai detik ini belum ada peneliti yang bisa menemukan cara untuk membudidayakannya.
Kemunculan Srinthil dideteksi ada sejenis jamur yang tumbuh saat daun tembakau dari Temanggung belum dirajang. Jamur ini yang membuat kualitas tembakau menjadi bagus. Kualitas Srinthil baru akan muncul setelah daun tembakau dimatangkan selama tiga hari.
Bakal kelihatan jamur kekuningan dan biasanya saat tembakau dalam kondisi seperti ini petani menyimpannya kembali selama 7-8 malam sebelum dirajang.

Tembakau srintil berwarna coklat gelap, lembab, berbau harum dan kadar nikotinnya tinggi. Biasanya didapat pada akhir masa panen. Ciri-cirinya, daun itu berada dipucuk pohon (masa petik terakhir), berbentuk melengkung hampir keriting, dan susah dirajang.
Adapun media tanah yang mempengaruhi kemunculan tembakau srinthil biasanya dari jenis tanah lincat yang teksturnya menyerupai tanah liat. Jenis tanah ini kerap menghasilkan Srinthil kualitas bagus.
Memelihara tembakau yang lebih repot daripada memelihara binatang hidup seperti sapi, kerbau, kambing dan anjing. Tak bolah banyak air, tak bisa kurang air,tetapi tiap hari harus minum air. Tanahnya harus menyerap air, karena itu lapisan pasir di bawah tanah humus itu harus bisa menjadi drainase alami yang baik.
Karena itu, hampir setiap hari dari Februari sampai September, harus rajin ditengok. Kabut, atau “pedut”, atau istilah orang sana “lamuk” dibutuhkan untukmemayungi tanaman agar tidak langsung terbakar sinar matahari. Kabut juga berperan pada saat proses pasca panen, saat pengembunan. Mengapa dinamai srintil?
Istilah yang ndeso dan khas Jawa. Karena bentuknya mringkil-mringkil, berupa partikel kecil-kecil tak beraturan, yang lembab berwarna hitam.
Tembakau “Srintil” sendiri tidak dijadikan sebagai bahan utama dari rokok, melainkan hanya sebagai campuran saja. Para petani tembakau menyebutnya sebagai “lauk” atau campuran.

sumber