Kamis, 15 Agustus 2013

Pro dan Kontra Seputar Evolusi—Mengapa?


Pasal 2

 
Sewaktu edisi khusus 100 tahun The Origin of Species karya Darwin akan diterbitkan, W. R. Thompson, yang kala itu adalah direktur Lembaga Pengendalian Biologi Persemakmuran di Ottawa, Kanada, diundang untuk menulis kata pengantarnya. Ia menulis, ”Sebagaimana kita ketahui, ada perbedaan pendapat yang besar di kalangan para biolog, tidak saja mengenai penyebab evolusi, tetapi bahkan mengenai proses yang sebenarnya. Perbedaan ini timbul karena buktinya tidak memuaskan dan tidak membantu tercapainya kesimpulan yang pasti. Maka, selayaknyalah pro dan kontra seputar evolusi itu dibawa ke perhatian masyarakat non-ilmiah”a

MENURUT para pendukung evolusi, teori tersebut kini merupakan fakta yang tak bisa disangkal. Mereka percaya bahwa evolusi adalah ”peristiwa nyata”, ”realitas”, ”kebenaran”, sesuai dengan definisi kata ”fakta” dalam sebuah kamus. Tetapi, benarkah demikian?

2 Sebagai contoh: Dulu orang percaya bahwa bumi ini datar. Sekarang telah dipastikan bahwa bumi berbentuk bulat. Itu suatu fakta. Dulu orang percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan bahwa langit berputar mengelilingi bumi. Sekarang kita tahu pasti bahwa bumi berputar mengitari matahari dalam suatu orbit. Itu juga suatu fakta. Banyak hal yang dahulu hanya teori yang diperdebatkan, kini terbukti sebagai fakta yang aktual, realitas, kebenaran.

3 Apabila bukti tentang evolusi diteliti, apakah kita akan mencapai kesimpulan yang sama kuatnya? Yang menarik, sejak buku The Origin of Species karya Charles Darwin diterbitkan pada tahun 1859, berbagai aspek teori ini telah menjadi bahan perdebatan sengit bahkan di kalangan para ilmuwan evolusi yang terkemuka. Dewasa ini, perbantahan itu malah kian memanas. Kita akan lebih memahami persoalannya dengan memperhatikan apa yang dikatakan para pendukung evolusi itu sendiri tentang hal tersebut.

Evolusi Diserang

4 Majalah sains Discover menggambarkan situasinya demikian, ”Evolusi . . . tidak hanya diserang oleh orang Kristen fundamentalis, tetapi juga diragukan oleh para ilmuwan ternama. Di antara para paleontolog, yakni ilmuwan yang mempelajari catatan fosil, semakin banyak yang tidak setuju dengan teori Darwin yang populer.”1 Francis Hitching, seorang evolusionis dan pengarang buku The Neck of the Giraffe, mengatakan, ”Walaupun teori Darwin sudah diterima dalam dunia sains sebagai prinsip pemersatu utama dalam biologi, ternyata setelah satu seperempat abad, teori itu sungguh sarat masalah.”2

5 Setelah sebuah konferensi penting yang diadakan di Chicago, Illinois, dan diikuti oleh kira-kira 150 ahli evolusi, suatu laporan menyimpulkan, ”[Evolusi] kini mengalami revolusinya yang paling luas dan paling mendalam setelah hampir 50 tahun. . . . Bagaimana persisnya evolusi terjadi, sekarang menjadi perdebatan sengit di antara para biolog. . . . Belum terlihat adanya kata sepakat yang jelas untuk perdebatan tersebut.”3

6 Paleontolog Niles Eldredge, seorang evolusionis terkemuka, berkata, ”Keyakinan yang arogan tentang biologi evolusi yang dimiliki selama dua puluh tahun terakhir ini telah disusupi oleh keragu-raguan yang mengobarkan emosi.” Ia berbicara tentang ”tidak adanya kesepakatan bulat bahkan di dalam setiap kubu yang bertikai”, dan menambahkan, ”akhir-akhir ini keadaannya benar-benar kacau . . . Kadang-kadang, variasi tentang tema [evolusi] tampaknya sama banyak dengan jumlah biolog”.4

7 Seorang penulis Times London, Christopher Booker (yang mempercayai evolusi), berkata mengenai hal ini, ”Teori itu indah, sederhana, dan menarik. Satu-satunya masalah ialah, sebagaimana disadari oleh Darwin sendiri walaupun tidak sepenuhnya, teori itu sarat dengan kelemahan yang parah.” Mengenai The Origin of Species karya Darwin, ia berkomentar, ”Luar biasa ironis, buku yang terkenal karena menjelaskan asal mula spesies ternyata sama sekali tidak menjelaskan apa pun tentang hal tersebut.”—Cetak miring ditambahkan.

8 Booker juga menyatakan, ”Satu abad setelah Darwin wafat, kita sama sekali belum mempunyai gagasan yang jelas atau yang bahkan masuk akal tentang bagaimana sebenarnya evolusi terjadi—dan pada tahun-tahun belakangan ini, situasi itu telah menimbulkan serentetan perdebatan besar tentang pokok itu. . . . di kalangan para evolusionis sendiri situasinya hampir menyerupai perang terbuka, dan segala macam sekte [evolusi] berupaya memasukkan beberapa perubahan baru.” Ia menyimpulkan, ”Mengenai bagaimana dan mengapa sebenarnya evolusi terjadi, kita sama sekali tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu.”5

9 Evolusionis Hitching setuju, dengan mengatakan, ”Perseteruan tentang teori evolusi telah pecah . . . Sikap yang berurat berakar, yang pro dan kontra, terbentuk di tingkat atas, dan hinaan dilontarkan bagaikan peluru-peluru mortir dari kedua kubu.” Ia mengatakan bahwa ini adalah perselisihan akademis berskala luas, ”mungkin salah satu kejadian dalam perjalanan sains ketika, secara tiba-tiba, suatu gagasan yang telah lama dianut ditumbangkan oleh banyak bukti yang menentangnya dan diganti dengan gagasan yang baru”.6 Dan, majalah New Scientist dari Inggris menyatakan bahwa ”semakin banyak ilmuwan, khususnya semakin banyak evolusionis . . . menyatakan bahwa teori evolusi Darwin sama sekali bukan teori ilmiah sejati. . . . Banyak di antara para kritikus itu memiliki reputasi intelektual yang sangat tinggi”.7

Dilema tentang Asal Mula

10 Mengenai asal mula kehidupan, astronom Robert Jastrow berkata, ”Dengan sangat menyesal, [para ilmuwan] tidak mempunyai jawaban yang jelas, karena ahli-ahli kimia tidak pernah berhasil mereproduksi eksperimen alam dalam menciptakan kehidupan dari benda mati. Para ilmuwan tidak mengetahui bagaimana hal itu terjadi.” Ia menambahkan, ”Para ilmuwan tidak mempunyai bukti bahwa kehidupan bukan hasil penciptaan.”8

11 Tetapi, problemnya bukan hanya tentang asal mula kehidupan. Perhatikan organ tubuh seperti mata, telinga, otak. Kerumitannya sangat mencengangkan, jauh lebih rumit daripada alat tercanggih buatan manusia. Problem yang selama ini dihadapi teori evolusi adalah fakta bahwa semua bagian organ-organ tersebut harus bekerja sama supaya penglihatan, pendengaran, atau pikiran dapat berfungsi. Organ-organ tersebut tidak akan ada gunanya kecuali semua bagiannya lengkap. Maka, timbul pertanyaan: Dapatkah unsur kebetulan tanpa pengarahan, yang dianggap sebagai daya penggerak evolusi, mempersatukan semua bagian ini pada saat yang tepat sehingga menghasilkan mekanisme yang demikian rumit?

12 Darwin mengakui bahwa hal ini merupakan suatu problem. Misalnya, ia menulis, ”Anggapan bahwa mata . . . terbentuk melalui [evolusi], terus terang saya akui, sepertinya sangat tidak masuk akal.”9 Lebih dari satu abad telah berlalu. Apakah problem tersebut telah terpecahkan? Tidak. Sebaliknya, sejak masa Darwin, penelitian tentang mata memperlihatkan bahwa mata jauh lebih rumit daripada yang dahulu ia pahami. Maka, Jastrow mengatakan, ”Mata tampaknya telah dirancang; perancang teleskop tidak dapat membuat yang lebih baik.”10

13 Jika demikian halnya tentang mata, lantas bagaimana dengan otak manusia? Karena mesin yang sederhana pun tidak dapat berevolusi secara kebetulan, bagaimana mungkin itu bisa terjadi pada otak yang jauh lebih rumit? Jastrow menyimpulkan, ”Sulit untuk percaya bahwa mata manusia berevolusi secara kebetulan; lebih sulit lagi untuk percaya bahwa kecerdasan manusia berevolusi melalui gangguan acak pada sel-sel otak nenek moyang kita.”11

Dilema tentang Fosil

14 Jutaan tulang dan bukti lain dari kehidupan masa lampau telah ditemukan oleh para ilmuwan dalam penggalian, dan ini disebut fosil. Seandainya evolusi memang suatu fakta, tentu semua fosil itu seharusnya memberikan banyak bukti tentang satu jenis makhluk hidup yang berevolusi menjadi jenis lain. Tetapi, Bulletin dari Field Museum of Natural History di Chicago berkomentar, ”Teori Darwin tentang [evolusi] selalu dikaitkan dengan bukti dari fosil-fosil, dan mungkin kebanyakan orang mengira bahwa fosil sangat berperan dalam argumen umum yang dikemukakan untuk membela penafsiran Darwin mengenai sejarah kehidupan. Sayang sekali, hal ini tidak sepenuhnya benar.”

15 Mengapa tidak? Bulletin tersebut melanjutkan bahwa Darwin ”merasa dipermalukan oleh catatan fosil karena hal itu tidak seperti yang ia prediksi . . . catatan geologi, pada waktu itu dan sampai sekarang, belum juga menghasilkan rangkaian perubahan evolusioner yang berlangsung secara bertahap, sedikit demi sedikit”. Bahkan sekarang, setelah lebih dari satu abad pengumpulan fosil, ”contoh peralihan evolusioner yang ada bahkan tidak sebanyak pada zaman Darwin”, majalah Bulletin menjelaskan.12 Mengapa? Karena bukti fosil yang semakin banyak sekarang menunjukkan bahwa sebagian contoh yang pernah dipakai untuk mendukung evolusi ternyata sama sekali tidak mendukungnya.

16 Karena bukti fosil tidak dapat mendukung evolusi bertahap, banyak evolusionis merasa khawatir. Dalam buku The New Evolutionary Timetable, Steven Stanley menjelaskan bahwa ”catatan [fosil] secara umum gagal memperlihatkan adanya peralihan bertahap dari satu kelompok utama ke kelompok utama lainnya”. Ia mengatakan, ”Catatan fosil yang ada tidak, dan tidak akan pernah, sesuai dengan [evolusi perlahan].”13 Niles Eldredge juga mengakui, ”Selama 120 tahun terakhir, kita diminta untuk mencari pola yang ternyata tidak ada.”14

Teori-Teori yang Lebih Baru

17 Ini semua telah mendorong banyak ilmuwan untuk memperjuangkan teori-teori baru tentang evolusi. Science Digest menyatakannya begini, ”Beberapa ilmuwan mengusulkan perubahan evolusi yang jauh lebih cepat dan kini secara serius membahas gagasan-gagasan yang dulu hanya dipopulerkan dalam cerita fiksi.”15

18 Misalnya, beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa kehidupan tidak mungkin muncul dengan sendirinya di bumi. Sebaliknya, mereka berspekulasi bahwa kehidupan pasti bermula di luar angkasa dan kemudian melayang-layang turun ke bumi. Tetapi, hal itu justru memperunyam problem tentang asal mula kehidupan. Sudah umum diketahui bahwa keadaan di luar angkasa sangat berbahaya bagi kehidupan. Jadi, mungkinkah kehidupan muncul dengan sendirinya di suatu tempat di alam semesta dan bertahan dalam kondisi yang demikian keras sebelum mencapai bumi, kemudian berkembang menjadi kehidupan seperti yang kita ketahui?

19 Karena catatan fosil tidak memperlihatkan adanya perkembangan bertahap dari satu jenis kehidupan ke jenis lainnya, beberapa evolusionis berteori bahwa prosesnya pasti terjadi melalui lonjakan-lonjakan mendadak yang tidak teratur. Seperti yang dijelaskan oleh The World Book Encyclopedia, ”Banyak biolog berpendapat bahwa spesies baru bisa jadi dihasilkan melalui perubahan yang mendadak dan drastis dalam gen-gen.”16

20 Beberapa penganut teori ini menyebut proses itu ”keseimbangan terganggu”. Yaitu, spesies mempertahankan ”keseimbangan”-nya (hampir tidak ada perubahan), tetapi sekali-sekali ada ”gangguan” (lompatan besar untuk berevolusi menjadi jenis lain). Ini benar-benar kebalikan dari teori yang telah dipercaya oleh hampir semua evolusionis selama puluhan tahun. Perbedaan besar antara kedua teori tersebut digambarkan melalui sebuah berita utama dalam The New York Times: ”Teori tentang Evolusi-Cepat Diserang”. Artikel tersebut menyebut bahwa gagasan baru tentang ”keseimbangan terganggu” telah ”menimbulkan perlawanan baru” dari para penganut pandangan lama.17

21 Tidak soal teori mana yang dianut, masuk akal bahwa setidaknya harus ada sedikit bukti untuk menunjukkan bahwa satu jenis kehidupan berubah menjadi jenis lain. Tetapi, jurang perbedaan di antara berbagai jenis kehidupan dalam catatan fosil, dan juga jurang perbedaan di antara berbagai jenis makhluk hidup di bumi sekarang, tetap ada.

22 Selain itu, kita dapat memahami sesuatu dengan memperhatikan apa yang terjadi pada gagasan Darwin yang sudah lama diterima tentang ”yang terkuat dapat bertahan hidup”. Gagasan ini ia sebut ”seleksi alam”. Ia percaya bahwa alam ”menyeleksi” makhluk terkuat untuk bertahan hidup. Konon, makhluk-makhluk yang ”kuat” ini perlahan-lahan berevolusi sewaktu mereka mengembangkan ciri-ciri baru yang menguntungkan mereka. Tetapi, bukti selama 125 tahun terakhir menunjukkan bahwa, sekalipun makhluk terkuat memang mungkin terus bertahan hidup, fakta itu sendiri tidak menjelaskan bagaimana asal mula mereka. Seekor singa mungkin lebih kuat daripada singa lain, tetapi ini tidak menunjukkan bagaimana ia menjadi seekor singa. Dan, semua keturunannya akan tetap menjadi singa, bukan makhluk lain.

23 Maka, dalam majalah Harper’s, penulis Tom Bethell berkomentar, ”Darwin membuat kesalahan yang cukup serius sehingga dapat merongrong teorinya. Dan, kesalahan itu baru belakangan ini diakui sebagai kesalahan. . . . Suatu organisme memang bisa jadi ’lebih kuat’ daripada yang lain . . . Hal ini, tentu saja tidak menjelaskan bagaimana organisme tersebut tercipta, . . . Saya kira, jelaslah ada sesuatu yang sangat, sangat tidak beres dengan gagasan tersebut.” Bethell menambahkan, ”Menurut hemat saya, kesimpulannya agak mengejutkan: Teori Darwin, saya kira, sedang berada di ambang keruntuhan.”18

Fakta atau Teori?

24 Ketika merangkum beberapa problem tak terpecahkan yang mengadang teori evolusi, Francis Hitching mengatakan, ”[Teori evolusi modern] telah gagal dalam tiga bidang uji yang sangat penting: Catatan fosil mengungkapkan suatu pola loncatan evolusi dan bukan perubahan yang bertahap. Gen-gen adalah mekanisme penstabil yang tangguh yang fungsi utamanya ialah mencegah bentuk-bentuk baru berevolusi. Mutasi langkah demi langkah yang terjadi secara acak pada tingkat molekuler tidak dapat menjelaskan fakta tentang kehidupan yang terorganisasi dan semakin rumit.”—Cetak miring ditambahkan.

25 Kemudian, Hitching menyimpulkan dengan komentar ini, ”Dalam bahasa yang paling halus dapat dikatakan bahwa seseorang boleh mempertanyakan teori evolusi yang dilanda begitu banyak keragu-raguan bahkan di kalangan orang-orang yang mengajarkannya. Teori Darwin disebut-sebut sebagai prinsip pemersatu utama dalam biologi, tetapi nyatanya teori itu sarat dengan ketidaktahuan. Teori itu gagal menjawab beberapa pertanyaan yang paling mendasar: bagaimana zat kimia yang tidak bernyawa menjadi hidup, aturan-aturan apa yang terdapat di balik kode genetik, bagaimana gen menentukan bentuk makhluk hidup.” Malahan, Hitching mengatakan bahwa ia menganggap teori evolusi modern ”begitu tidak memadai sehingga pantas dianggap sebagai masalah iman”.19

26 Namun, banyak pendukung evolusi merasa bahwa mereka memiliki cukup alasan untuk berkeras bahwa evolusi itu suatu fakta. Mereka menjelaskan bahwa yang mereka perdebatkan hanyalah perinciannya. Tetapi, seandainya ada teori lain yang memiliki kesulitan besar yang belum juga teratasi seperti itu, dan kontradiksi besar seperti itu di antara para pendukungnya, apakah teori tersebut akan begitu mudah dinyatakan sebagai fakta? Sekadar mengulang-ulangi bahwa sesuatu adalah fakta tidak membuatnya menjadi fakta. Seperti yang ditulis biolog John R. Durant dalam The Guardian dari London, ”Banyak ilmuwan jatuh ke dalam godaan untuk bersikap dogmatis, . . . berkali-kali soal asal mula spesies ditampilkan seolah-olah akhirnya sudah terpecahkan. Kenyataannya tidak seperti itu. . . . Tetapi kecenderungan untuk dogmatis tetap ada, dan itu justru bertentangan dengan tujuan sains.”20

27 Di pihak lain, bagaimana dengan penciptaan? Apakah penciptaan adalah jawaban untuk asal mula kehidupan di bumi? Apakah penciptaan memberikan kerangka dasar untuk bukti yang lebih masuk akal daripada sekadar pernyataan tegas yang sering dijadikan penopang teori evolusi? Dan, sebagai catatan yang paling dikenal mengenai penciptaan, apakah buku Kejadian memberikan keterangan yang dapat dipercaya tentang bagaimana asal mula bumi dan makhluk-makhluk hidup?