Kamis, 20 April 2017

Sektor Industri Jadi Target Utama Penerapan Teknologi 5G di Masa Depan


0COMMENTS
Pameran jaringan 5G | Photo
Biaya produksi suatu barang atau jasa akan berpengaruh pada harga jual ke konsumen atau end user. Salah satu cara untuk menekan biaya produksi itu adalah pemanfaatan teknologi agar proses produksi bisa dilakukan dengan lebih efisien.

Salah satu teknologi yang bisa diterapkan di masa depan yakni penggunaan jaringan 5G. Kecepatan internet jaringan 5G diklaim mampu mencapai 20 Gbps, atau dua puluh kali lebih cepat dibanding 4G yang memiliki kecepatan sekitar 1 Gbps. Lantaran kecepatannya yang sangat tinggi, teknologi 5G bisa diimplementasikan untuk meningkatkan efisiensi bisnis ataupun industri.
Menurut CEO XL Axiata, Dian Siswarini, titik berat jaringan 5G memang lebih ke arah industri ketimbang konsumen. Misalnya seperti industri logistik, kesehatan, transportasi, ataupun proses produksi di sektor manufaktur.
Sebagai contoh, teknologi 5G bisa digunakan dalam bidang transportasi dalam bentuk mobil yang terkoneksi dengan internet, sehingga sebuah mobil tak perlu lagi menggunakan tenaga sopir. Teknologi 5G juga bisa diterapkan untuk mengontrol robot-robot dalam sebuah proses produksi di pabrik ataupun tambang.
Kominfo 5G | Photo
Menkominfo Rudiantara (kedua dari kiri) saat menghadiri uji coba teknologi 5G yang dilakukan oleh Ericsson
“Sebetulnya semua industri kalau mau lebih efisien butuh otomatisasi. Kalau sekarang misalnya, dokter mau melakukan remote surgery, operasi jarak jauh, pakai 5G bisa. Logistik, kalau e-commerce mau kirim barang, bisa pakai drone yang dikendalikan pakai 5G. Enggak ada lagi orang yang antar-antar,” ujar Dian ketika ditemui di Four Seasons Hotel, Jakarta, belum lama ini.
Hal senada juga diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, di tempat yang sama. Menurut beliau, jika teknologi 5G diimplementasikan secara penuh, maka hal itu akan mengubah gaya hidup banyak orang.
“Cara hidup kita akan berubah. Karena apa? Kita punya kecepatan. Teman-teman media mungkin enggak akan jalan seperti ini, di rumah kerjanya. Yang desainer, profesional kayak begitu, bikin desain kan butuh file besar. Di rumah saja, enggak usah datang ke kantor,” kata Rudiantara. “Hasil file sebesar apa pun, dengan kecepatan 7 Gbps, sama dengan 7.000 Mbps, saya katakan itu sama dengan dua ratus kertas A4 dalam satu detik.”

Menyangkut nasib banyak orang

Kecepatan yang ditawarkan jaringan 5G memang memiliki dampak positif terkait efisiensi kinerja. Namun teknologi ini juga memiliki dampak lain terkait masa depan tenaga kerja manusia.
Dian tak menjawab secara gamblang ketika ditanya apakah industri di Indonesia saat ini sudah membutuhkan jaringan 5G. Presiden Direktur XL Axiata ini hanya menjawab penerapan 5G dalam kebutuhan industri cukup sensitif karena akan menyangkut nasib banyak orang.
Ilustrasi pameran jaringan 5G
“Kalau kita lakukan otomatisasi, harus pertimbangkan melakukan replace banyak tenaga kerja. Sensitifnya ada di situ. Saya tidak katakan begitu (akan ada PHK massal), tapi mungkin dengan 5G akan terbuka lapangan kerja baru,” jelas Dian.
Di tempat yang sama, Rudiantara ketika dikonfirmasi mengenai adanya kemungkinan terjadinya PHK jika 5G diterapkan, mengatakan harus dilihat dulu di mana teknologi 5G digunakan. Jika manufaktur tersebut merupakan padat karya, Rudiantara mengatakan jangan menerapkan teknologi 5G.
“Makanya tergantung di mana tempatnya dulu. Kalau misalkan manufaktur padat karya, jangan pakai 5G. Tapi kalau sudah capital intensive manufakturnya dan pakai robot, itu bisa pakai ini. Pasukan Gegana untuk menangani bom, perfect pakai ini. Karena bisa remote (untuk mencari dan menjinakkan bom),” paparnya.
Ilustrasi pameran jaringan 5G

Menunggu kesiapan pasar

Sebelum sebuah operator meluncurkan secara resmi layanan 5G, ada beberapa hal yang dijadikan pertimbangan. Dian menjelaskan beberapa faktor yang dijadikan dasar pertimbangan pihaknya untuk memutuskan apakah 5G sudah siap dikembangkan di Indonesia atau belum.
Faktor pertama yakni ekosistem 5G itu sendiri. Setelahnya, ada faktor spektrum atau frekuensi yang diberikan pemerintah. Ketiga, faktor kesiapan perangkat, dan keempat kesiapan dari pasar atau penggunanya.
“Kami dari XL melihat yang terpenting apakah market sudah siap atau belum. Kedua dari sisi investasi. Teknologi baru, investasi baru. 5G masih di atas empat tahun dari sekarang implementasinya,” kata Dian.
Menurut Dian, banyak yang harus dipersiapkan sebelum mengimplementasikan jaringan 5G secara komersial. Jika hanya untuk technical trial, Dian mengatakan hal itu sudah bisa dilakukan saat ini. “Tapi secara komersial, masih tiga, empat tahun ke depan. Itu dari XL,” ucapnya.
(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

ABOUT DANANG

Penggemar Warkop DKI era 80'an dan film bertema retro