Jumat, 26 Juli 2013

Benarkah Materi Gelap Telah Ditemukan?


 

Benarkah Materi Gelap Telah Ditemukan?
Gambar lubang hitam baru di Galaksi Bima Sakti yang ditemukan NASA. nasa.gov
 
 
TEMPO.CO, Jenewa - Misteri materi gelap perlahan terkuak. Para fisikawan pada Rabu, 3 April 2013, mengumumkan penemuan materi paling misterius sejagat itu setelah jejak keberadaannya dikenali oleh sebuah detektor partikel berukuran raksasa yang terpasang di Stasiun Antariksa Internasional.

Detektor bernama Alpha Magnetic Spectrometer (AMS) itu berfungsi khusus untuk mengukur sinar kosmik partikel di antariksa. Setelah mendeteksi miliaran partikel selama satu setengah tahun terakhir, AMS mencatat sinyal yang diduga kuat berasal dari materi gelap (dark matter), materi misterius yang diduga menyusun lebih dari 90 persen massa alam semesta.

AMS menemukan sekitar 400 ribu positron, partikel antimateri yang merupakan pasangan elektron. Energi yang dipancarkan oleh positron ini menunjukkan bahwa partikel tersebut mungkin telah terbentuk saat partikel materi gelap bertabrakan dan menghancurkan satu sama lain.

Materi gelap tidak memancarkan cahaya dan tidak dapat dideteksi dengan teleskop. Kondisi ini menjadikan materi gelap sebagai materi yang tidak biasa di alam semesta.

Para fisikawan menyatakan bahwa materi gelap terbuat dari WIMP--interaksi lemah dari berbagai partikel masif--yang hampir tidak pernah berinteraksi dengan partikel materi normal. WIMP dianggap memiliki partikel antimateri sendiri yang menjadi pasangan mereka. Ketika dua WIMP bertemu, mereka akan saling membinasakan, seperti halnya materi dan antimateri yang saling menghancurkan sewaktu terjadi kontak.

"Hasil tabrakan antara dua WIMP akan menghasilkan positron dan elektron," kata Roald Sagdeev, seorang fisikawan di Universitas Maryland, Kamis, 4 April 2013.

Veronica Bindi, seorang fisikawan di Universitas Hawaii, mengatakan, positron dari materi gelap diharapkan ditemukan pada tingkat energi yang lebih tinggi dari 10 gigaelektron volt (GeV). Ini berdasarkan meluapnya positron yang diukur dengan detektor berbasis satelit, yang disebut Payload for Antimatter Matter Exploration and Light-nuclei Astrophysics (PAMELA).

Nah, karakteristik dari positron yang terdeteksi oleh AMS sesuai dengan positron yang terukur lewat PAMELA. Ini ditunjukkan oleh luapan positron yang meningkat dari 10 sampai 250 GeV, angka yang sangat mungkin muncul dari hasil tabrakan materi gelap.

Sagdeev mengatakan, temuan dari AMS ini menggambarkan produk dari materi gelap yang diperkirakan menembus alam semesta. Ia beralasan, positron datang dari segala arah di antariksa. "Tidak ada satu lokasi khusus di langit yang menjadi sumber positron," ujarnya.

AMS diluncurkan menuju Stasiun Antariksa Internasional pada Mei 2011 oleh pesawat antariksa Endeavour. Detektor canggih berbanderol US$ 2 miliar itu dipasang oleh astronaut pada bagian belakang-luar laboratoium raksasa yang mengorbit di antariksa tersebut.

Hanya dalam waktu 1,5 tahun pertama, AMS telah mendeteksi sekitar 6,8 juta positron dan elektron. Banyaknya data yang dihimpun AMS semakin memungkinkan para ilmuwan untuk memastikan apakah sinyal positron benar-benar berasal dari materi gelap.

Masalahnya, positron tidak hanya diciptakan oleh aksi saling memusnahkan WIMP. Bintang berputar atau biasa disebut pulsar juga dapat menyebarkan positron ke sekeliling bidang galaksi Bima Sakti--galaksi yang dihuni oleh bumi dan matahari.

"Kami masih belum dapat mengetahui apakah positron ini benar-benar dari materi gelap atau pulsar," kata Bindi. Untuk memahami materi gelap secara menyeluruh, para ilmuwan berharap dapat mendeteksi WIMP secara langsung melalui eksperimen bawah tanah di bumi, seperti Cryogenic Dark Matter Search dan proyek XENON Dark Matter.

SPACE | MAHARDIKA SATRIA HADI

Topik Terhangat:
EDISI KHUSUS Guru Spiritual Selebritas || Serangan Penjara Sleman|| Harta Djoko Susilo|| Nasib Anas



sumber