Kamis, 07 November 2013

Adam dan Hawa—Apakah Mereka Benar-Benar Ada?


 
BAGI banyak orang, kisah Adam dan Hawa dalam buku Kejadian hanyalah cerita yang menarik. ”Para penganut agama-agama utama Susunan Kristen telah lama menganggap berbagai cerita dalam buku Kejadian, misalnya tentang Adam dan Hawa, sebagai alegori,” kata sepucuk surat kepada redaksi Time. Banyak pakar Katolik, Protestan, dan Yahudi sependapat. Mereka menyatakan bahwa banyak kisah dalam buku Kejadian jelas tidak sejalan dengan sejarah dan sains.
Bagaimana menurut Anda? Percayakah Anda bahwa Adam dan Hawa benar-benar ada? Adakah bukti yang menunjukkan bahwa mereka memang pernah hidup? Di pihak lain, apa saja yang tersangkut bila kisah dalam buku Kejadian ditepis sebagai mitos belaka?
Kisah dalam Buku Kejadian—Bisakah Dipercaya secara Ilmiah?
Pertama-tama, mari kita tinjau poin-poin utama dalam kisah penciptaan manusia pertama. Mengenai Adam, Alkitab berkata, ”Allah Yehuwa membentuk manusia dari debu tanah dan mengembuskan ke dalam lubang hidungnya napas kehidupan, dan manusia itu menjadi jiwa yang hidup.” (Kejadian 2:7) Apakah pernyataan ini bisa dipercaya secara ilmiah?
Buku Nanomedicine menyatakan bahwa tubuh manusia terdiri dari 41 unsur kimia. Unsur-unsur dasar ini—karbon, besi, oksigen, dan lain-lain—semuanya ada dalam ”debu” di bumi. Maka, sebagaimana buku Kejadian katakan, manusia sesungguhnya dibentuk ”dari debu tanah”.

Bagaimana bahan dasar yang tak bernyawa itu bersatu membentuk manusia yang hidup? Untuk melukiskan bahwa hal itu sangat sulit, perhatikan pesawat ulang-alik NASA, salah satu mesin paling rumit yang pernah dirancang. Keajaiban teknologi ini terdiri dari luar biasa banyak bagian, yaitu 2,5 juta. Tim ahli mesin butuh waktu bertahun-tahun untuk merancang dan menyatukannya. Nah, pertimbangkan tubuh manusia yang terdiri dari kira-kira 7 oktiliun atom, 100 triliun sel, belasan organ, dan paling tidak 9 sistem organ utama.* Bagaimana mesin biologis yang sangat rumit dan struktur yang luar biasa ini dihasilkan? Secara kebetulan belaka ataukah hasil rancangan Pribadi yang cerdas?
Selain itu, apa yang membuat manusia hidup? Dari mana pancaran kehidupan itu berasal? Para ilmuwan mengaku bahwa mereka tidak tahu. Sebenarnya, mereka bahkan tidak dapat mencapai kesepakatan soal definisi yang berterima tentang kehidupan. Bagi orang yang menerima gagasan tentang Pencipta, kesimpulannya jelas. Sumbernya, tentu saja, adalah Allah.*
Bagaimana dengan uraian dalam buku Kejadian bahwa Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam? (Kejadian 2:21-23) Sebelum menepis kisah ini dan menganggapnya mitos atau fantasi, pertimbangkan fakta berikut: Pada bulan Januari 2008, para ilmuwan di Kalifornia, AS, untuk pertama kalinya di dunia berhasil mengklon embrio manusia dari sel kulit orang dewasa. Malah, dengan menggunakan teknik-teknik serupa, para ilmuwan telah mengklon setidaknya 20 binatang. Yang paling terkenal, domba Dolly, diklon pada tahun 1996 dari kelenjar susu domba dewasa.*
Kita belum tahu hasil akhir eksperimen semacam itu. Tetapi, kesimpulannya ini: Jika manusia bisa menggunakan bahan biologis dari satu organisme untuk menghasilkan organisme lain yang sejenis, tidak dapatkah Allah yang mahakuasa membentuk manusia dari bahan biologis manusia lain? Yang menarik, para ahli bedah biasa menggunakan tulang rusuk dalam bedah rekonstruktif (pembedahan untuk mengutuhkan kembali) karena kemampuannya untuk tumbuh lagi dan mengganti diri.
Bukti dalam Alkitab
Ada yang terkejut sewaktu mengetahui bahwa Adam dan Hawa disebutkan berulang kali dalam Alkitab. Bagaimana hal itu menyingkapkan kebenaran sejarah kisah dalam buku Kejadian?
Sebagai contoh, perhatikan daftar leluhur orang Yahudi yang dicatat dalam Alkitab di buku Satu Tawarikh pasal 1 sampai 9 dan di Injil Lukas pasal 3. Catatan silsilah yang luar biasa terperinci ini masing-masing mencakup 48 dan 75 generasi. Lukas menelusuri silsilah Yesus Kristus, sedangkan buku Tawarikh mencatat garis keturunan leluhur raja dan imam bangsa Israel. Dalam kedua daftar itu terdapat nama tokoh-tokoh terkenal seperti Salomo, Daud, Yakub, Ishak, Abraham, Nuh, dan yang terakhir Adam. Semua nama dalam kedua daftar itu adalah nama orang yang benar-benar ada, dan Adam adalah manusia sungguhan yang pertama pada setiap daftar.
Selain itu, Alkitab kerap menampilkan Adam dan Hawa sebagai manusia yang pernah hidup, bukan tokoh dongeng. Berikut beberapa contoh:
• ”Dari satu orang [Allah] menjadikan setiap bangsa manusia.”—KISAH 17:26.
• ”Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang dan kematian, melalui dosa, demikianlah . . . kematian berkuasa sebagai raja sejak Adam terus sampai Musa.”—ROMA 5:12, 14.
• ”Manusia pertama, Adam, menjadi jiwa yang hidup.”—1 KORINTUS 15:45.
• ”Adam dibentuk terlebih dahulu, kemudian Hawa.”—1 TIMOTIUS 2:13.
• ”Henokh, orang ketujuh dalam garis keturunan Adam, juga bernubuat mengenai [orang fasik].”—YUDAS 14.
Yang lebih penting, Yesus Kristus, saksi yang paling tepercaya dalam Alkitab, mengakui eksistensi Adam dan Hawa. Ketika digugat soal perceraian, Yesus menjawab, ”Sejak awal ciptaan ’[Allah] menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Itulah sebabnya seorang pria akan meninggalkan bapak dan ibunya, dan keduanya akan menjadi satu daging’ . . . Oleh karena itu, apa yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk hendaknya tidak dipisahkan manusia.” (Markus 10:6-9) Apakah Yesus akan menggunakan alegori untuk menetapkan preseden hukum yang mengikat? Tidak! Yesus mengutip buku Kejadian sebagai fakta.
Sewaktu meringkaskan bukti Alkitab, The New Bible Dictionary menyimpulkan, ”Perjanjian Baru meneguhkan kebenaran sejarah dari kisah yang terdapat dalam pasal-pasal awal buku Kejadian.”
Efek Domino
Banyak hadirin gereja yang tulus berpikir bahwa percaya akan Adam dan Hawa tidak penting untuk menjadi orang Kristen yang baik. Sekilas tampaknya memang begitu. Tetapi, mari kita ikuti alur penalaran ini dan melihat hasilnya.
Misalnya, pertimbangkan doktrin Alkitab yang menghangatkan hati kebanyakan hadirin gereja—tebusan. Menurut ajaran ini, Yesus Kristus memberikan kehidupan manusia sempurnanya sebagai tebusan untuk menyelamatkan orang-orang dari dosa mereka. (Matius 20:28; Yohanes 3:16) Seperti kita ketahui, tebusan adalah pembayaran nilai yang sepadan untuk menebus atau membeli kembali sesuatu yang hilang atau yang dihilangkan. Itu sebabnya, Alkitab menggambarkan Yesus sebagai ”tebusan yang sepadan”. (1 Timotius 2:6) Kita mungkin bertanya, Sepadan dengan apa? Alkitab menjawab, ”Sebagaimana semua manusia mati sehubungan dengan Adam, demikian juga semua manusia akan dihidupkan sehubungan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:22) Kehidupan sempurna yang Yesus korbankan untuk menebus umat manusia yang taat sepadan dengan kehidupan sempurna yang Adam hilangkan akibat dosa asal di Eden. (Roma 5:12) Jelaslah, jika Adam tidak ada, korban tebusan Kristus pun sama sekali tidak ada artinya.
Menolak atau menyepelekan kisah dalam buku Kejadian tentang Adam dan Hawa menciptakan efek domino yang meruntuhkan hampir semua ajaran penting dalam Alkitab!* Cara berpikir seperti itu menghasilkan banyak pertanyaan yang tak terjawab dan iman yang tak berdasar.—Ibrani 11:1.
Kehidupan—Bermakna atau Sia-Sia?
Akhirnya, sampailah kita pada pertanyaan yang fundamental ini: Apakah menolak kisah dalam buku Kejadian memuaskan kebutuhan manusia akan makna dan tujuan hidup? Menurut Richard Dawkins, seorang ateis dan evolusionis terkemuka, di alam semesta ini ”tidak ada rancangan, tidak ada tujuan, tidak ada kejahatan dan tidak ada kebaikan, tidak ada apa pun selain ketidakacuhan yang membabi buta dan kejam”. Betapa sangat kelam sudut pandang itu, sama sekali bertolak belakang dengan kodrat manusia!
Sangat kontras dengan itu, Alkitab menyediakan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang paling penting tentang kehidupan: Dari mana kita berasal? Apa tujuan kehidupan? Mengapa ada banyak kejahatan dan penderitaan di dunia? Apakah kefasikan akan berakhir? Dan sebagainya. Selain itu, iman akan tebusan Kristus memberikan harapan berupa kehidupan abadi dalam lingkungan firdaus, seperti yang di Eden, di mana Allah menempatkan manusia pertama, Adam dan Hawa. (Mazmur 37:29; Penyingkapan [Wahyu] 21:3-5) Prospek yang sungguh menakjubkan!*
Meski kisah Adam dan Hawa mungkin tidak sejalan dengan teori evolusi, itu selaras dengan apa yang dikenal sains. Kisah itu pun selaras sepenuhnya dengan selebihnya dari Firman Allah terilham, Alkitab, yang memberikan makna dan tujuan yang memuaskan dalam kehidupan.
Jadi, tidakkah Anda sebaiknya menyelidiki Alkitab lebih lanjut? Saksi-Saksi Yehuwa siap dan rela membantu Anda.
[Catatan Kaki]
Dalam sistem numerik AS, angka-angka ini masing-masing adalah 7 diikuti 27 angka nol dan 100 diikuti 12 angka nol.
Untuk informasi lebih lanjut, lihat buku Apakah Ada Pencipta yang Mempedulikan Anda? dan Kehidupan—Bagaimana Asal Mulanya? Melalui Evolusi atau melalui Penciptaan? keduanya diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
Para ilmuwan ini, tentu saja, tidak menciptakan kehidupan. Sebaliknya, mereka bekerja dengan bahan dari sel-sel hidup yang ada.
Ini termasuk ajaran tentang kedaulatan Allah, integritas manusia, kebaikan dan kejahatan, kebebasan memilih, keadaan orang mati, perkawinan, Mesias yang dijanjikan, bumi firdaus, Kerajaan Allah, dan banyak ajaran lain.
Untuk perincian lebih lanjut, lihat buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? pasal 3, ”Apa Maksud-Tujuan Allah bagi Bumi?”, dan pasal 5, ”Tebusan—Pemberian Allah yang Paling Berharga”, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
[Blurb di hlm. 13]
Sama seperti pesawat ulang-alik dirancang dengan teliti, begitu pula tubuh manusia
[Gambar di hlm. 14]
Jelaslah, jika Adam tidak ada, korban tebusan Kristus pun sama sekali tidak ada artinya
[Gambar di hlm. 15]
Yesus mengakui eksistensi Adam dan Hawa

sumber