Selasa, 06 Mei 2014

Indonesia Jadi Rebutan Industri Rokok dan Obat


Rabu, 9 Juni 2010 | 08:40 WIB



Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia menjadi ajang "peperangan" antara industri rokok dan obat. Terjadi perebutan pasar dan sumber daya. Hal itu terungkap dalam peluncuran buku sekaligus diskusi bertajuk "Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat" di Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (8/6/2010).

Buku itu merupakan terjemahan dari hasil riset dan kajian Wanda Hamilton, aktivis Fight Ordinances and Restrictions to Control and Eliminate Smoking (FORCES) International. Forces merupakan organisasi yang aktif mengampanyekan kemerdekaan merokok sebagai hak.
Buku itu mengungkapkan dengan gamblang motif-motif yang mendasari larangan dan pembatasan produk tembakau secara global. Ada kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal dengan nicotine replacement therapy di balik agenda pengontrolan atas tembakau. Berbagai anggapan pakar medis mengenai dampak merokok bagi kesehatan juga dipertanyakan kebenarannya.
Salah satu pembicara, yaitu pengamat ekonomi Revrison Baswir, membedah buku itu dari sisi ekonomi politik, yakni bagaimana industri mengeruk keuntungan dari sebuah aktivitas, yakni merokok. Jaringan perusahaan farmasi berkepentingan terhadap kampanye antirokok. "Buku ini bukan pro dan kontra rokok dari sisi kesehatan," ujarnya.
Pembicara lainnya, peneliti dari Institute for Global Justice, Salamuddin Daeng, beranggapan senada. Perang dagang bukan merupakan fenomena baru. Pertarungan memperebutkan pasar sering terjadi. Dia melihat industri rokok termasuk yang mampu mengembangkan industri dengan baik, yakni menguasai dari hulu hingga hilir. Petani tembakau, misalnya, telah terintegrasi dan ketergantungan terhadap industri rokok amat tinggi.
Budayawan Mohamad Sobari mengatakan, kekuatan kapitalis dan kolonialis selalu mencengkeram negara yang pemerintahan dan parlemennya lemah serta medianya kurang peduli. "Seharusnya, kehidupan kita tidak boleh diintervensi oleh kekuatan luar," ujarnya.
Sobari juga menyatakan keprihatinannya akan nasib petani tembakau yang akan terpengaruh. Menurut dia, petani tembakau merupakan konteks nyata dan riil yang tidak bisa dipinggirkan.
Para pembicara tersebut sempat mendapatkan beberapa tanggapan dari mahasiswa peserta diskusi yang khawatir buku itu dijadikan alat pembenaran untuk terus merokok.
Sebagian mahasiswa ada yang berpendapat, industri rokok sendiri sebetulnya selama ini mengakui bahwa produknya berbahaya. Hal itu terbukti dengan pencantuman dampak kesehatan pada kemasan rokok. (INE)



Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Asep Candra