Rabu, 25 September 2013

Ada Tujuan yang Mulia dalam Kehidupan-bagian 5


 

 
1 Cara bumi dan makhluk-makhluk hidupnya diciptakan memperlihatkan bahwa Penciptanya adalah Allah yang penuh kasih yang benar-benar peduli. Dan Firman-Nya, Alkitab, memperlihatkan bahwa Ia peduli; buku ini memberi kita jawaban terbaik untuk pertanyaan: Mengapa kita berada di sini di atas bumi? dan, Ke mana tujuan kita?

2 Kita perlu memeriksa Alkitab untuk mendapatkan jawaban-jawaban tersebut. Firman Allah berkata, ”Bilamana kamu mencariNya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkanNya, kamu akan ditinggalkanNya.” (2 Tawarikh 15:2) Maka, setelah memeriksa Firman Allah apa yang disingkapkan Allah tentang maksud-tujuan-Nya bagi kita?

Mengapa Allah Menciptakan Manusia

3 Alkitab memperlihatkan bahwa Allah mempersiapkan bumi khususnya dengan memikirkan umat manusia. Yesaya 45:18 berkata berkenaan bumi ini bahwa Allah ”menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami”. Dan Ia memenuhi bumi dengan segala sesuatu yang akan dibutuhkan oleh orang-orang, tidak untuk sekadar hidup, namun untuk menikmati kehidupan sepenuhnya.—Kejadian, pasal 1 dan 2.

4 Dalam Firman-Nya, Allah memberi tahu tentang penciptaan manusia pertama, Adam dan Hawa, dan menyingkapkan apa yang ada dalam pikiran-Nya untuk keluarga umat manusia. Ia mengatakan, ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26) Manusia harus mengawasi ”seluruh bumi” dan binatang-binatang ciptaan di atasnya.

5 Allah menciptakan sebuah kebun besar yang seperti taman dalam suatu daerah yang di sebut Eden, yang terletak di Timur Tengah. Lalu Ia ”menempatkan [manusia] dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Ini adalah sebuah firdaus yang berisi segala sesuatu yang dibutuhkan manusia pertama untuk dimakan. Dan ini termasuk ”berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya”, serta juga tumbuh-tumbuhan lain dan banyak jenis kehidupan binatang yang menarik.—Kejadian 2:7-9, 15.

6 Tubuh manusia pertama diciptakan sempurna, sehingga mereka tidak akan menjadi sakit, tua, atau mati. Mereka juga dikaruniai sifat-sifat lain, seperti kehendak bebas. Cara mereka diciptakan dijelaskan dalam Kejadian 1:27, ”Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.” Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita tidak hanya diberi sifat-sifat fisik dan mental, namun juga aspek-aspek moral dan rohani, dan ini harus dipuaskan bila kita ingin benar-benar bahagia. Allah akan menyediakan sarana untuk memenuhi kebutuhan demikian maupun kebutuhan untuk makanan, air, dan udara. Seperti Yesus Kristus katakan, ”Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”—Matius 4:4.

7 Lagi pula, Allah memberikan suatu perintah yang menakjubkan kepada pasangan manusia pertama sewaktu mereka berada di Eden, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi.” (Kejadian 1:28) Jadi, mereka akan dapat berkembang biak dan melahirkan anak-anak yang sempurna. Dan seraya populasi manusia bertambah, mereka akan memiliki pekerjaan yang menyenangkan untuk memperluas batas-batas daerah firdaus yang mula-mula di Eden yang seperti taman itu. Pada akhirnya, seluruh bumi akan dikembangkan menjadi suatu firdaus, yang dihuni oleh orang-orang yang sempurna dan berbahagia yang dapat hidup selama-lamanya. Alkitab memberi tahu kita bahwa setelah semua ini dilaksanakan, ”Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik.”—Kejadian 1:31; lihat juga Mazmur 118:17.

8 Jelas bahwa umat manusia harus menggunakan bumi yang telah ditaklukkan demi manfaat mereka. Namun ini harus dilakukan dengan cara yang penuh tanggung jawab. Manusia harus menjadi pengurus bumi yang penuh respek, bukan perusaknya. Perusakan bumi yang kita saksikan dewasa ini tidak sesuai dengan kehendak Allah, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya bertindak bertentangan dengan tujuan kehidupan di muka bumi. Mereka harus dihukum atas hal itu, karena Alkitab berkata bahwa Allah akan ”membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi”.—Wahyu 11:18.

Maksud-Tujuan Allah Belum Berubah

9 Maka, sejak semula, maksud-tujuan Allah ialah agar keluarga manusia yang sempurna tinggal di muka bumi selama-lamanya dalam suatu firdaus. Dan maksud-tujuan-Nya belum berubah! Pasti, maksud-tujuan tersebut akan digenapi. Alkitab berkata, ”[Yehuwa] semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ’Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana’”. ”Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”—Yesaya 14:24; 46:11.

10 Yesus Kristus berkata tentang maksud-tujuan Allah untuk memulihkan firdaus di bumi sewaktu ia memberi tahu seorang pria yang menginginkan harapan untuk masa depan, ”Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43) Rasul Petrus juga berkata tentang dunia baru yang akan datang sewaktu ia menubuatkan, ”Sesuai dengan janji [Allah], kita menantikan langit yang baru [penyelenggaraan pemerintahan baru yang memerintah dari surga] dan bumi yang baru [masyarakat baru di bumi], di mana terdapat kebenaran.”—2 Petrus 3:13.

11 Pemazmur Daud juga menulis tentang dunia baru yang akan datang dan berapa lama ini akan bertahan. Ia menubuatkan, ”Orang-orang benar akan mewarisi negeri dan tinggal di sana senantiasa.” (Mazmur 37:29) Itulah sebabnya Yesus berjanji, ”Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”—Matius 5:5.

12 Sungguh mulia prospek ini, hidup selama-lamanya dalam firdaus di bumi, bebas dari segala kefasikan, kejahatan, penyakit, kesedihan, dan rasa sakit! Dalam buku terakhir dari Alkitab, Firman nubuat Allah meringkaskan maksud-tujuan yang mulia ini dengan berkata, ”[Allah] akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Ditambahkan pula, ”Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: ’Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!’ Dan firmanNya: ’Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.’”—Wahyu 21:4, 5.

13 Ya, Allah memikirkan suatu maksud-tujuan yang mulia. Ini kelak adalah suatu dunia baru yang adil benar, suatu firdaus yang kekal, yang dinubuatkan oleh Pribadi yang dapat dan akan melaksanakan apa yang Ia janjikan, karena ’perkataan-Nya tepat dan benar’.