Kamis, 19 September 2013

Buku yang Hendaknya Saudara Baca--Alkitab bab 1


Alkitab bab 1

”Alkitab tidak usah diberi perhatian serius.” Demikian kata seorang profesor universitas kepada seorang wanita muda yang berbicara terus terang.

”Apakah Anda pernah membaca Alkitab?” tanya wanita ini.

Terperanjat mendengar hal itu, sang profesor harus mengakui bahwa ia belum membacanya.

”Bagaimana Anda bisa dengan yakin mengutarakan pendapat tentang buku yang belum pernah Anda baca?”

Argumen wanita ini sungguh tepat. Sang profesor memutuskan untuk membaca Alkitab dan kemudian mengutarakan pendapat tentangnya.

ALKITAB, yang terdiri dari 66 buku, telah digambarkan sebagai ”kumpulan buku yang kemungkinan paling berpengaruh dalam sejarah manusia”.1 Sebenarnya, buku ini telah mempengaruhi beberapa karya terbesar dunia dalam bidang seni, kesusastraan, dan musik. Buku ini memiliki pengaruh yang sangat besar atas terbentuknya sistem hukum. Alkitab dipuji karena gaya sastranya dan disegani oleh banyak orang terpelajar. Pengaruhnya sungguh amat dalam terhadap kehidupan orang-orang dari segala lapisan masyarakat. Buku ini telah menggugah loyalitas yang luar biasa dalam diri banyak pembacanya. Ada yang bahkan telah mempertaruhkan nyawa hanya untuk membacanya.

Di lain pihak, terdapat keragu-raguan akan Alkitab. Ada orang-orang yang memiliki pendapat-pendapat yang kokoh tentang Alkitab meskipun mereka secara pribadi belum pernah membacanya. Mereka mungkin mengakui nilai sastra atau nilai sejarahnya, namun mereka bertanya-tanya: Bagaimana mungkin sebuah buku yang ditulis ribuan tahun lalu dapat relevan dalam dunia yang modern ini? Kita hidup dalam ”era informasi”. Informasi terkini dari peristiwa-peristiwa hangat dan teknologi mutakhir dapat diperoleh dengan sangat mudah. Saran-saran para ”pakar” terhadap hampir semua problem kehidupan modern telah tersedia. Sebenarnya, apakah Alkitab memuat keterangan yang praktis bagi zaman sekarang?

Brosur ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian. Brosur ini tidak bermaksud memaksakan pandangan atau kepercayaan agama kepada saudara, melainkan hendak memperlihatkan bahwa Alkitab, buku yang berpengaruh dalam sejarah, layak saudara pertimbangkan. Sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 1994 menyatakan bahwa beberapa pendidik benar-benar yakin bahwa Alkitab terpatri begitu kuat dalam kebudayaan Barat sehingga ”siapa pun orangnya, beriman ataupun tidak, yang tidak mengenal ajaran dan kisah-kisah Alkitab akan buta budaya”.2

Barangkali setelah membaca apa yang diterbitkan di brosur ini, saudara akan setuju bahwa—apakah seseorang bersifat religius atau tidak—Alkitab, paling tidak adalah sebuah buku yang hendaknya saudara baca

[Kotak/Gambar di hlm. 3]

”Kearifan saya semata-mata saya peroleh dengan membaca sebuah buku.—Sebuah buku? Ya, dan ini adalah sebuah buku tua yang sederhana, bebas dari kepura-puraan, dan terus terang . . . Dan nama buku ini cukup sederhana, Alkitab.”—Heinrich Heine, pujangga Jerman abad ke-19.3