Selasa, 24 September 2013

Sumber Hikmat Tertinggi yang Unik-bagian 3


 

 

1 Apakah Alkitab merupakan catatan dari hikmat tertinggi tersebut? Dapatkah buku ini memberi kita jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan penting yang berkaitan dengan tujuan hidup ini?

2 Alkitab tentu patut kita selidiki. Satu alasan adalah karena ini adalah buku paling istimewa yang pernah disusun, sangat berbeda dari buku lain mana pun. Perhatikan fakta-fakta berikut ini.

Buku Tertua dan Paling Luas Disiarkan

3 Alkitab adalah buku tertua yang pernah ditulis, beberapa bagian darinya disusun kira-kira 3.500 tahun yang lalu. Umurnya beberapa abad lebih tua daripada kitab lain mana pun yang dianggap suci. Yang pertama dari ke-66 buku yang dimuat di dalamnya ditulis kira-kira seribu tahun sebelum Budha dan Kong Hu Cu dan sekitar dua ribu tahun sebelum Muhammad.

4 Sejarah yang dicatat dalam Alkitab dimulai dengan awal keluarga umat manusia dan menjelaskan bagaimana kita berada di bumi. Ini bahkan membawa kita kembali ke saat sebelum manusia diciptakan, dengan memberi kita fakta-fakta tentang pembentukan bumi ini.

5 Mengenai kitab-kitab agama lain, dan buku-buku non-agama, hanya beberapa salinan dari manuskrip-manuskrip tua mereka yang masih ada. Kira-kira 11.000 salinan Alkitab yang ditulis dengan tangan atau bagian-bagian darinya masih ada dalam bahasa Ibrani dan Yunani, yang beberapa dari antaranya berasal dari periode yang mendekati jangka waktu penulisan aslinya. Salinan-salinan ini tetap bertahan meskipun serangan terpadu yang paling hebat yang dapat dibayangkan telah dilancarkan terhadap Alkitab.

6 Juga, Alkitab benar-benar merupakan buku yang paling luas disiarkan dalam sejarah. Kira-kira tiga miliar Alkitab atau bagian-bagiannya telah disiarkan dalam kira-kira dua ribu bahasa. Dikatakan bahwa 98 persen dari keluarga umat manusia dapat memiliki Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Tidak ada buku lain yang mendekati sirkulasi tersebut.

7 Lagi pula, tidak ada buku kuno lain yang sebanding dengan Alkitab dalam hal kesaksamaan. Para ilmuwan, sejarawan, arkeolog, ahli geografi, ahli bahasa, dan yang lain-lain terus meneguhkan kebenaran catatan Alkitab.

Kesaksamaan secara Ilmiah

8 Misalnya, meskipun Alkitab tidak ditulis sebagai buku pelajaran sains, ini selaras dengan sains murni bila menyangkut soal-soal ilmiah. Namun, buku-buku kuno lain yang dianggap suci memuat dongeng-dongeng ilmiah, ketidaksaksamaan, serta dusta secara terang-terangan. Perhatikan empat dari banyak contoh kesaksamaan Alkitab secara ilmiah:

9 Bagaimana bumi tergantung di ruang angkasa. Pada zaman dahulu sewaktu Alkitab dalam proses penulisan, terdapat banyak spekulasi tentang bagaimana bumi ini tergantung di ruang angkasa. Ada yang percaya bahwa bumi ditopang oleh empat gajah yang berdiri di atas seekor kura-kura laut raksasa. Aristoteles, seorang filsuf Yunani dan ilmuwan pada abad keempat SM, mengajarkan bahwa bumi ini tidak mungkin tergantung di ruang hampa. Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa benda-benda angkasa melekat pada permukaan bulatan-bulatan yang padat dan tembus pandang. Bulatan yang satu terletak di dalam bulatan yang lain. Bumi dianggap terletak paling dalam dari bulatan itu dan bulatan paling luar menopang bintang-bintang.

10 Namun, sebaliknya daripada ikut menyatakan pandangan yang bersifat khayalan dan tidak ilmiah pada masa penulisannya, Alkitab dengan sederhana mengatakan (kira-kira pada tahun 1473 SM), ”Allah . . . menggantungkan bumi pada kehampaan.” (Ayub 26:7) Dalam bahasa Ibrani asli, kata untuk ”kehampaan” yang digunakan di sini berarti ”tidak sesuatu pun”, dan kata ini hanya muncul di ayat ini dalam Alkitab. Gambaran yang diberikan mengenai bumi yang dikelilingi ruang hampa diakui oleh para sarjana sebagai pandangan jauh ke depan yang luar biasa untuk zaman Alkitab. Theological Wordbook of the Old Testament berkata, ”Ayub 26:7 secara mencolok menggambarkan dunia yang belakangan diketahui sebagai tergantung di ruang angkasa, dengan demikian mendahului penemuan ilmiah di kemudian hari.”

11 Pernyataan Alkitab yang saksama ini mendahului Aristoteles lebih dari 1.100 tahun. Akan tetapi, pandangan Aristoteles terus diajarkan sebagai suatu fakta selama kira-kira 2.000 tahun setelah kematiannya! Akhirnya, pada tahun 1687 M, Sir Isaac Newton menerbitkan penemuannya bahwa bumi tergantung di luar angkasa dalam hubungan dengan benda-benda angkasa lainnya dengan saling tarik-menarik, yaitu melalui gravitasi. Akan tetapi, itu hampir 3.200 tahun setelah Alkitab mengatakan dengan kesederhanaan yang anggun bahwa bumi ini bergantung ”pada kehampaan”.

12 Ya, hampir 3.500 tahun yang lalu, Alkitab dengan tepat mencatat bahwa bumi tidak ditopang oleh apa pun yang kelihatan, suatu fakta yang selaras dengan hukum gravitasi dan hukum gerak yang belum lama ini dipahami. ”Bagaimana Ayub mengetahui kebenarannya,” kata seorang sarjana, ”adalah suatu pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan oleh orang-orang yang menyangkal bahwa Alkitab itu terilham.”

13 Bentuk bumi. The Encyclopedia Americana berkata, ”Gambaran yang paling awal diketahui manusia mengenai bumi ialah bahwa bumi adalah suatu panggung yang datar, kaku dan keras di pusat jagat raya. . . . Konsep tentang bumi yang bulat baru diterima umum sampai zaman Renaisans.” Beberapa pengemudi kapal pada zaman dulu bahkan takut kalau-kalau berlayar melewati tepi bumi yang datar ini. Tetapi, kemudian, dengan diperkenalkannya kompas dan adanya kemajuan lain, perjalanan yang lebih panjang melintasi samudera dapat diadakan. ”Penemuan perjalanan-perjalanan ini”, menurut penjelasan sebuah ensiklopedia lain, ”menunjukkan bahwa dunia bulat, tidak datar seperti yang dipercayai oleh kebanyakan orang.”

14 Namun, lama sebelum adanya perjalanan demikian, kira-kira 2.700 tahun yang lalu, Alkitab mengatakan, ”Dia . . . bertakhta di atas bulatan bumi.” (Yesaya 40:22) Kata Ibrani di sini yang diterjemahkan ”bulatan” dapat juga berarti ”berbentuk seperti bola”, seperti diperlihatkan oleh berbagai karya referensi. Karena itu, terjemahan-terjemahan Alkitab lain menyebutkan, ”bola bumi” (Douay Version) dan ”bumi yang bundar”.—Moffatt.

15 Jadi, Alkitab tidak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan yang tidak ilmiah yang umum pada waktu itu berkenaan penopang dan bentuk bumi. Alasannya sederhana: Pengarang Alkitab adalah Pengarang alam semesta. Ia menciptakan bumi, maka Ia pasti mengetahui di mana bumi tergantung dan bagaimana bentuknya. Oleh karena itu, sewaktu mengilhami Alkitab, Ia memastikan agar pandangan-pandangan yang tidak ilmiah tidak masuk di dalamnya, tidak soal seberapa banyak hal-hal tersebut dipercayai oleh orang-orang lain pada zaman itu.

16 Komposisi dari makhluk-makhluk hidup. ”[Yehuwa] Allah membentuk manusia itu dari debu tanah,” kata Kejadian 2:7. The World Book Encyclopedia menyatakan, ”Semua unsur kimia yang membentuk makhluk-makhluk hidup, juga terdapat di dalam zat mati.” Maka, semua bahan kimia dasar yang membentuk organisme-organisme yang hidup, termasuk manusia, terdapat pula di dalam tanah itu sendiri. Ini selaras dengan keterangan Alkitab yang menyatakan bahan yang Allah gunakan dalam menciptakan manusia dan semua makhluk hidup lain.

17 ’Menurut jenisnya’. Alkitab menyatakan bahwa Allah menciptakan pasangan manusia pertama dan dari mereka lahirlah semua manusia lain. (Kejadian 1:26-28; 3:20) Dikatakan bahwa makhluk-makhluk hidup lain, seperti ikan, burung, dan mamalia, juga demikian, berkembang biak ’menurut jenisnya’. (Kejadian 1:11, 12, 21, 24, 25, NW) Inilah yang ditemukan oleh para ilmuwan dalam ciptaan-ciptaan alam, bahwa setiap makhluk hidup berasal dari induk yang sama jenisnya. Tidak ada pengecualian. Berkenaan hal ini, ahli fisika Raymo mengamati, ”Kehidupan menghasilkan kehidupan; ini selalu terjadi dalam setiap sel. Namun, bagaimana benda mati menghasilkan kehidupan? Ini merupakan salah satu pertanyaan terbesar yang tidak terjawab dalam biologi, dan sejauh ini para biolog hanya dapat menawarkan tidak lebih daripada perkiraan-perkiraan serampangan. Entah bagaimana, zat mati berhasil merangkai dirinya dengan cara yang hidup. . . . Pengarang dari buku Kejadian akhirnya memang benar juga.”

Kesaksamaan dalam Hal Sejarah

18 Alkitab berisi sejarah kuno paling saksama dibanding buku lain mana pun yang ada. Buku A Lawyer Examines the Bible menonjolkan kesaksamaannya dalam hal sejarah sebagai berikut, ”Jika cerita roman, legenda dan kesaksian palsu dengan hati-hati menempatkan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan itu di suatu tempat yang jauh dan suatu waktu yang tidak tertentu, dengan demikian melanggar aturan-aturan pertama yang kita pelajari sebagai pengacara berkenaan pembelaan yang baik, bahwa ’pernyataan harus memberikan waktu dan tempat’, kisah-kisah Alkitab menyebutkan kepada kita tanggal dan tempat peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan ketepatan yang luar biasa.”

19 The New Bible Dictionary mengomentari, ”[Penulis buku Kisah] menyajikan kisahnya dalam kerangka sejarah kontemporer; halamannya penuh dengan referensi kepada hakim-hakim kota, gubernur-gubernur propinsi, raja-raja bawahan, dan yang serupa, dan referensi-referensi ini berulang kali terbukti benar dalam hal tempat dan waktu yang dimaksud.”

20 S. Austin Allibone menulis dalam The Union Bible Companion, ”Sir Isaac Newton . . . juga terkenal sebagai kritikus tulisan-tulisan kuno, dan menyelidiki Kitab Suci dengan penuh perhatian. Apa pendapatnya berkenaan pokok ini? Ia berkata, ’Saya mendapati bahwa tanda-tanda autentisitas dalam Perjanjian Baru lebih meyakinkan daripada dalam sejarah [duniawi] mana pun.’ Dr. Johnson mengatakan bahwa kita mempunyai lebih banyak bukti bahwa Yesus Kristus wafat di Kalvari, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, dibandingkan bukti bahwa Julius Caesar wafat di Kapitol. Sesungguhnya, kita memiliki jauh lebih banyak bukti.”

21 Sumber ini menambahkan, ”Tanyalah kepada siapa pun yang mengaku meragukan kebenaran sejarah Injil, atas dasar apa ia mempercayai bahwa [Julius] Caesar wafat di Kapitol, atau bahwa Kaisar Charlemagne dinobatkan sebagai Kaisar dari Kekaisaran Barat oleh Paus Leo III pada tahun 800? . . . Bagaimana saudara tahu bahwa orang yang bernama Charles I [dari Inggris] pernah hidup, dan dipenggal kepalanya, dan bahwa Oliver Cromwell menjadi penguasa yang menggantikannya? . . . Sir Isaac Newton diakui sebagai penemu hukum gravitasi . . . Kita mempercayai semua pernyataan tersebut mengenai orang-orang ini; dan hal itu karena kita mempunyai bukti-bukti sejarah tentang kebenarannya. . . . Jika, setelah diberikan bukti-bukti seperti ini, ada yang masih tidak mau percaya, maka kita menganggap mereka sebagai orang-orang bodoh yang tak berakal atau benar-benar tidak tahu apa-apa.”

22 Kemudian sumber ini mengambil kesimpulan, ”Kalau begitu, apa yang akan kita katakan mengenai orang-orang yang meskipun telah diberi berlimpah bukti mengenai autentisitas Kitab Suci masih mengatakan belum percaya? . . . Pasti kita mempunyai alasan untuk menyimpulkan bahwa yang salah adalah hati mereka dan bukan kecerdasan mereka;—bahwa mereka tidak mau percaya kepada apa yang mengalahkan keangkuhan mereka, dan yang akan memaksa mereka menempuh kehidupan yang berbeda.”

Keselarasan dan Keterusterangan Isinya

23 Bayangkan tentang sebuah buku yang mulai ditulis selama periode Kekaisaran Roma, terus sampai Abad Pertengahan, dan selesai pada abad ke-20 ini, dengan partisipasi dari banyak penulis yang berbeda. Hasil apa yang saudara harapkan bila profesi dari para penulisnya bermacam-macam seperti prajurit, raja, imam, nelayan, gembala, dan dokter? Apakah saudara mengharapkan buku itu selaras dan konsisten? ’Tentu tidak!’ saudara mungkin berkata. Nah, Alkitab ditulis di bawah keadaan-keadaan ini. Namun, buku ini selaras secara keseluruhan, tidak hanya dalam konsep keseluruhan, tetapi juga dalam rincian terkecil sekalipun.

24 Alkitab adalah koleksi dari 66 buku yang ditulis selama suatu periode 1.600 tahun oleh kira-kira 40 penulis yang berbeda, dimulai pada tahun 1513 SM dan berakhir pada tahun 98 M. Penulis-penulisnya berasal dari berbagai kalangan, dan banyak dari antara mereka tidak pernah berhubungan satu sama lain. Namun, buku yang dihasilkan mengikuti suatu tema pokok, yang konsisten secara keseluruhan, seolah-olah dihasilkan oleh satu pikiran. Dan bertentangan dengan pandangan orang, Alkitab bukanlah produk peradaban Barat, namun ditulis oleh orang-orang Timur.

25 Sementara mayoritas penulis kuno hanya melaporkan kesuksesan dan kebajikan mereka, para penulis Alkitab secara terbuka mengakui kesalahan-kesalahan mereka sendiri, maupun kegagalan raja-raja dan pemimpin-pemimpin mereka. Bilangan 20:1-13 dan Ulangan 32:50-52 mencatat kegagalan Musa, dan dialah yang menulis buku-buku tersebut. Yunus 1:1-3 dan 4:1 mencatat kegagalan Yunus, yang menulis kisah-kisah tersebut. Matius 17:18-20; 18:1-6; 20:20-28; dan 26:56 mencatat sifat-sifat kurang baik yang diperlihatkan oleh murid-murid Yesus. Jadi, kejujuran dan keterusterangan para penulis Alkitab memberi dukungan kepada pengakuan bahwa mereka diilhami oleh Allah.

Cirinya yang Paling Khas

26 Alkitab sendiri menyingkapkan mengapa buku ini begitu saksama dalam soal-soal sains, sejarah, dan hal-hal lain dan mengapa ini begitu selaras dan jujur. Ini memperlihatkan bahwa Pribadi Yang Mahatinggi, Allah yang mahakuasa, Pencipta yang membuat alam semesta, adalah Pengarang Alkitab. Ia hanya menggunakan orang-orang yang menulis Alkitab sebagai juru tulis-Nya, mengerahkan mereka melalui tenaga aktif-Nya yang penuh kuasa untuk menulis apa yang Ia ilhamkan kepada mereka.

27 Dalam Alkitab, rasul Paulus menulis, ”Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Dan rasul Paulus juga berkata, ”Kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi—dan memang sungguh-sungguh demikian—sebagai Firman Allah.”—2 Timotius 3:16, 17; 1 Tesalonika 2:13.

28 Jadi, Alkitab berasal dari pikiran satu Pengarang—Allah. Dan dengan kuasa-Nya yang mengagumkan, mudah bagi-Nya untuk memastikan agar integritas dari apa yang ditulis dipelihara sampai ke zaman kita. Tentang hal ini, seorang ahli manuskrip Alkitab yang terkenal, Sir Frederic Kenyon, pada tahun 1940, berkata, ”Dasar terakhir untuk meragukan bahwa Alkitab sampai kepada kita secara utuh sama seperti ketika ini ditulis, kini telah disingkirkan.”

29 Manusia memiliki kesanggupan untuk mengirimkan sinyal-sinyal radio dan televisi ke bumi dari jarak ribuan kilometer di ruang angkasa, bahkan dari bulan. Satelit-satelit ruang angkasa telah mengirimkan kembali ke bumi keterangan fisik dan gambar-gambar dari planet-planet yang berada ratusan juta kilometer jauhnya. Tentu Pencipta manusia, Pencipta gelombang radio, setidaknya dapat juga melakukan hal seperti itu. Benar, suatu hal yang sederhana bagi-Nya untuk menggunakan kuasa-Nya yang paling tinggi untuk mengirimkan kata-kata dan gambar-gambar ke dalam pikiran orang-orang yang Ia pilih untuk mencatat Alkitab.

30 Lagi pula, terdapat banyak hal tentang bumi dan kehidupan di dalamnya yang memberikan bukti tentang minat Allah kepada umat manusia. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa Ia ingin membantu orang-orang mencari tahu siapa diri-Nya dan apa maksud-tujuan-Nya bagi mereka dengan menyatakan hal-hal dengan jelas dalam sebuah buku—sebuah dokumen yang permanen.

31 Juga, pertimbangkan keunggulan dari sebuah buku yang dikarang oleh Allah, dibandingkan dengan keterangan yang disampaikan oleh manusia hanya dari mulut ke mulut. Perkataan lisan tidak dapat diandalkan, karena orang-orang akan menyadur berita-berita tersebut, dan setelah suatu periode waktu, maknanya akan disimpangkan. Mereka akan menyampaikan keterangan secara lisan menurut sudut pandangan mereka sendiri. Namun, catatan tertulis yang permanen dan diilhami Allah jauh lebih kecil kemungkinannya berisi kesalahan-kesalahan. Juga, sebuah buku dapat direproduksi dan diterjemahkan sehingga orang-orang dari berbagai bahasa dapat menarik manfaat darinya. Maka tidakkah masuk akal bahwa Pencipta kita menggunakan cara demikian untuk menyediakan keterangan? Benar, ini lebih daripada masuk akal, karena Pencipta mengatakan bahwa itulah yang Ia lakukan.

Nubuat-Nubuat yang Tergenap

32 Selain itu, Alkitab memuat tanda pengilhaman ilahi dengan cara yang luar biasa dan unik: Ini adalah sebuah buku nubuat yang telah dan terus mengalami penggenapan yang tidak keliru.

33 Misalnya, kehancuran Tirus kuno, kejatuhan Babilon, pembangunan kembali Yerusalem, dan awal serta akhir raja-raja Media Persia dan Yunani dinubuatkan dengan sangat terperinci di dalam Alkitab. Nubuat-nubuat ini begitu saksama sehingga beberapa kritikus berupaya, namun tanpa hasil, untuk mengatakan bahwa itu ditulis setelah peristiwa-peristiwa tersebut terjadi.—Yesaya 13:17-19; 44:27–45:1; Yehezkiel 26:3-6; Daniel 8:1-7, 20-22.

34 Nubuat-nubuat yang Yesus berikan mengenai kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M secara saksama digenapi. (Lukas 19:41-44; 21:20, 21) Dan nubuat-nubuat tentang ”hari-hari terakhir” yang diberikan oleh Yesus dan rasul Paulus sedang digenapi secara terperinci dalam zaman kita sendiri.—2 Timotius 3:1-5, 13; Matius 24; Markus 13; Lukas 21.

35 Tidak ada pikiran manusia, secerdas apa pun, yang dapat dengan begitu saksama meramalkan peristiwa-peristiwa di masa depan. Hanya pikiran dari Pencipta yang mahakuasa dan mahabijak dari alam semesta yang dapat, sebagaimana kita baca di 2 Petrus 1:20, 21, Bode, ”Tidak pernah ada nubuat yang jadi dengan kehendak manusia, melainkan datangnya daripada Allah, diucapkan oleh orang yang digerakkan oleh Rohul kudus.”

Buku Ini Memberikan Jawaban

36 Maka, dalam banyak segi, Alkitab memiliki bukti sebagai Firman yang terilham dari Pribadi Yang Mahatinggi. Dengan demikian, buku tersebut memberi tahu kita mengapa umat manusia berada di bumi, mengapa ada begitu banyak penderitaan, ke mana kita pergi, dan bagaimana keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Buku tersebut menyingkapkan kepada kita bahwa ada Allah yang mahatinggi yang menciptakan manusia dan bumi ini untuk suatu tujuan dan bahwa maksud-tujuan-Nya akan terwujud. (Yesaya 14:24) Alkitab juga menyingkapkan kepada kita apa agama yang sejati itu dan bagaimana kita bisa mendapatkannya. Maka, ini satu-satunya sumber hikmat yang lebih tinggi yang memberi tahu kita kebenaran tentang semua pertanyaan penting tentang kehidupan.—Mazmur 146:3; Amsal 3:5; Yesaya 2:2-4.

37 Meskipun terdapat berlimpah bukti tentang autentisitas dan kebenaran Alkitab, apakah semua yang mengaku menerimanya mengikuti pengajarannya? Pertimbangkan, misalnya, bangsa-bangsa yang mengaku mempraktekkan kekristenan, yaitu Susunan Kristen. Mereka telah memiliki Alkitab selama berabad-abad. Namun apakah cara berpikir dan perbuatan mereka benar-benar mencerminkan hikmat Allah yang tertinggi?