Kamis, 19 September 2013

Apa Isi Buku Ini--alkitab bab 4


 

Seseorang yang untuk pertama kali memasuki sebuah perpustakaan mungkin merasa bingung melihat begitu banyak deretan buku. Namun setelah mendapat sedikit penjelasan tentang bagaimana buku-buku tersebut disusun, ia segera mengetahui caranya menemukan buku-buku tertentu. Demikian pula, mencari sesuatu di dalam Alkitab menjadi lebih mudah bila saudara mengerti bagaimana isinya disusun.

KATA ”Alkitab” berasal dari kata Yunani bi·bli′a, yang berarti ”gulungan-gulungan papirus” atau ”buku-buku”.1 Alkitab sebenarnya sebuah koleksi—sebuah perpustakaan—dari 66 buku terpisah, yang penulisannya meliputi jangka waktu sekitar 1.600 tahun, dari tahun 1513 SM sampai kira-kira tahun 98 M.

Ketiga puluh sembilan buku pertama, kira-kira tiga perempat isi Alkitab, dikenal sebagai Kitab-Kitab Ibrani, karena buku-buku tersebut kebanyakan ditulis dalam bahasa Ibrani. Buku-buku ini secara umum dapat dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Sejarah, Kejadian sampai Ester, 17 buku; (2) Puisi, Ayub sampai Kidung Agung, 5 buku; dan (3) Nubuat, Yesaya sampai Maleakhi, 17 buku. Kitab-Kitab Ibrani mencakup sejarah awal dari bumi dan umat manusia serta sejarah dari bangsa Israel zaman purba sejak kelahirannya hingga abad kelima SM.

Dua puluh tujuh buku selebihnya dikenal sebagai Kitab-Kitab Yunani Kristen, karena ditulis dalam bahasa Yunani, bahasa internasional pada zaman itu. Kitab-Kitab Yunani Kristen pada dasarnya disusun menurut pokok permasalahannya: (1) Ke-5 buku sejarah—Injil dan Kisah, (2) ke-21 pucuk surat, dan (3) buku Penyingkapan. Kitab-Kitab Yunani Kristen mengarahkan perhatian kepada pengajaran dan kegiatan dari Yesus Kristus serta murid-muridnya pada abad pertama M.




Apakah Buku Ini Dapat Dipercaya?

”Saya mendapati lebih banyak tanda keautentikan yang pasti di dalam Alkitab daripada di dalam sejarah [sekuler] mana pun.”—Sir Isaac Newton, ilmuwan Inggris yang terkemuka.1

APAKAH buku ini—Alkitab—dapat dipercaya? Apakah Alkitab merujuk kepada orang-orang yang benar-benar hidup, tempat-tempat yang benar-benar ada, dan peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi? Jika demikian, seharusnya ada bukti bahwa Alkitab ditulis oleh para penulis yang cermat dan jujur. Bukti-buktinya memang ada. Banyak dari antaranya ditemukan terkubur dalam bumi, dan bahkan ada lebih banyak lagi yang terdapat dalam buku itu sendiri.

Menemukan Bukti-Bukti

Penemuan prasasti-prasasti purba yang terkubur di negeri-negeri Alkitab telah mendukung kesaksamaan sejarah dan geografi Alkitab. Perhatikan beberapa bukti yang telah ditemukan para arkeolog.

Daud, gembala muda yang berani yang menjadi raja Israel, sangat dikenal oleh para pembaca Alkitab. Namanya muncul 1.138 kali dalam Alkitab, dan pernyataan ”Rumah Daud”—sering kali memaksudkan dinastinya—muncul 25 kali. (1 Samuel 16:13; 20:16) Namun, hingga akhir-akhir ini, tidak ada bukti jelas di luar Alkitab bahwa Daud pernah ada. Apakah Daud hanya tokoh fiktif belaka?

Pada tahun 1993, suatu tim arkeolog, yang dipimpin oleh Profesor Avraham Biran, menemukan sesuatu yang menakjubkan, yang dilaporkan dalam Israel Exploration Journal. Di lokasi bukit purba yang disebut Tel Dan, di bagian utara dari Israel, mereka menemukan sebuah batu basal. Pada batu tersebut terpahat kata-kata ”Rumah Daud” dan ”Raja Israel”.2 Inskripsi ini, yang berasal dari abad kesembilan SM, konon adalah bagian dari sebuah monumen kemenangan yang didirikan oleh orang-orang Aram—musuh Israel yang tinggal di sebelah timur. Mengapa inskripsi purba ini begitu penting?

Berdasarkan laporan Profesor Biran dan rekan sekerjanya, Profesor Joseph Naveh, sebuah artikel dalam Biblical Archaeology Review menyatakan, ”Baru pertama kali nama Daud ditemukan dalam suatu inskripsi purba di luar Alkitab.”3 Hal lain lagi juga patut diperhatikan sehubungan dengan inskripsi ini. Istilah ”Rumah Daud” ditulis dalam satu kata. Seorang ahli bahasa, Profesor Anson Rainey menjelaskan, ”Sebuah pemisah kata . . . sering kali dihilangkan, terutama pada kombinasi kata yang merupakan nama yang lazim digunakan. ’Rumah Daud’ pasti merupakan nama politis dan geografis yang lazim digunakan pada pertengahan abad kesembilan SM.”5 Maka Raja Daud dan dinastinya terbukti sangat terkenal di dunia purba.

Apakah Niniwe—kota besar negeri Asiria yang disebutkan di dalam Alkitab—benar-benar ada? Pada awal abad ke-19, beberapa kritik Alkitab menolak untuk mempercayainya. Namun pada tahun 1849, Sir Austen Henry Layard menemukan reruntuhan istana Raja Sanherib di Kuyunjik, lokasi yang terbukti sebagai bagian dari Niniwe purba. Dengan demikian, kritik-kritik tersebut dibungkamkan. Namun reruntuhan ini menyingkapkan lebih banyak hal lagi. Di tembok-tembok dari sebuah ruangan yang terpelihara baik, terdapat relief yang memperlihatkan dikuasainya sebuah kota yang berkubu kuat, dengan para tawanannya dipaksa berbaris di hadapan raja penakluk. Di atas relief sang raja, terdapat sebuah inskripsi, ”Sanherib, raja dunia, raja Asiria, duduk di atas takhta-nîmedu dan menginspeksi jarahan (yang diambil) dari Lakhis (La-ki-su).”6

Relief dan inskripsi ini, yang dapat dilihat di British Museum, selaras dengan catatan Alkitab tentang dikuasainya kota Lakhis di Yudea oleh Sanherib, yang dicatat di 2 Raja 18:13, 14. Mengomentari pentingnya penemuan ini, Layard menulis, ”Sebelum adanya penemuan-penemuan ini, siapa yang akan percaya bahwa ini mungkin atau tidak mustahil, bahwa di bawah timbunan tanah dan sampah yang menandai lokasi Niniwe, akan ditemukan sejarah peperangan antara Hizkia [raja Yehuda] dengan Sanherib, yang ditulis oleh Sanherib sendiri pada saat kejadiannya, dan meneguhkan bahkan perincian yang lebih saksama dari catatan Alkitab?”7

Para arkeolog telah menemukan banyak prasasti—tembikar, reruntuhan bangunan, lempeng-lempeng tanah liat, uang logam, dokumen, monumen, dan inskripsi—yang meneguhkan kesaksamaan Alkitab. Para penggali telah menemukan kota Kasdim yang bernama Ur, pusat perdagangan dan agama tempat Abraham tinggal.8 (Kejadian 11:27-31) Tawarikh Nabonidus, yang ditemukan pada abad ke-19, menggambarkan kejatuhan Babilon ke tangan Kores Agung pada tahun 539 SM, suatu peristiwa yang diceritakan dalam Daniel pasal 5.9 Sebuah inskripsi (fragmen-fragmen yang disimpan di British Museum) ditemukan di sebuah lengkungan di Tesalonika purba memuat nama-nama dari para penguasa kota yang digambarkan sebagai ”politarki”, sebuah kata yang tidak dikenal dalam kesusastraan Yunani klasik namun digunakan oleh Lukas, salah seorang penulis Alkitab.10 (Kisah 17:6, catatan kaki NW bahasa Inggris) Dengan demikian kesaksamaan Lukas terbukti benar dalam hal ini—sebagaimana halnya dalam perincian-perincian lain.—Bandingkan Lukas 1:3.

Akan tetapi, para arkeolog, tidak selalu sependapat satu sama lain, apalagi dengan Alkitab. Meskipun demikian, Alkitab itu sendiri memuat bukti yang kuat bahwa ia adalah buku yang dapat dipercaya.

Disajikan dengan Terus Terang

Para sejarawan yang jujur bukan hanya mencatat kemenangan (seperti inskripsi sehubungan dengan direbutnya Lakhis oleh Sanherib) namun juga kekalahan, tidak hanya keberhasilan namun juga kegagalan, tidak hanya kekuatan namun juga kelemahan. Tidak banyak sejarah duniawi yang mencerminkan kejujuran demikian.

Sehubungan dengan para sejarawan Asiria, Daniel D. Luckenbill menjelaskan, ”Sering kali, jelas terlihat bahwa keangkuhan kerajaan menuntut dimanipulasinya kesaksamaan sejarah.”11 Sebagai ilustrasi ”keangkuhan kerajaan” demikian, tawarikh Raja Ashurnasirpal dari Asiria bermegah, ”Akulah sang raja, akulah tuan, aku ditinggikan, aku perkasa, aku dihormati, aku dimuliakan, aku berkuasa, aku tak kenal gentar, aku seberani singa, dan aku pahlawan!”12 Apakah saudara menerima segala sesuatu yang saudara baca dalam tawarikh semacam itu sebagai sejarah yang akurat?

Sebagai kontras, para penulis Alkitab mempertunjukkan keterusterangan yang menyegarkan. Musa, pemimpin Israel, dengan terus terang melaporkan kelemahan dari saudaranya, Harun, dari kakak perempuannya, Miryam, serta dari keponakannya Nadab dan Abihu, dan dari bangsanya, dan juga kesalahan-kesalahannya sendiri. (Keluaran 14:11, 12; 32:1-6; Imamat 10:1, 2; Bilangan 12:1-3; 20:9-12; 27:12-14) Kesalahan-kesalahan serius dari Raja Daud tidak ditutup-tutupi melainkan dicatat—dan itu dibuat sewaktu Daud masih memerintah sebagai raja. (2 Samuel, pasal 11 dan 24) Matius, penulis dari buku yang menggunakan namanya, memberitahukan bagaimana para rasul (termasuk dirinya) bertikai mempersoalkan kedudukan pribadi mereka dan bagaimana mereka meninggalkan Yesus pada malam ia ditangkap. (Matius 20:20-24; 26:56) Para penulis dari surat-surat dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen dengan terus terang mengakui adanya problem-problem, termasuk perbuatan seksual yang amoral dan pertikaian, dalam beberapa sidang Kristen masa awal. Dan mereka berbicara terus terang dalam menanggulangi problem-problem tersebut.—1 Korintus 1:10-13; 5:1-13.

Pelaporan yang terbuka dan terus terang semacam itu memperlihatkan kepedulian yang tulus terhadap kebenaran. Karena para penulis Alkitab bersedia melaporkan informasi yang tidak menyenangkan tentang orang-orang yang mereka kasihi, bangsa mereka, dan bahkan diri mereka sendiri, bukankah itu suatu alasan kuat untuk mempercayai tulisan-tulisan mereka?

Saksama dalam Perincian

Dalam persidangan pengadilan, kredibilitas keterangan seorang saksi sering kali ditentukan berdasarkan fakta-fakta sepele. Keselarasan dalam perincian sepele dapat membuktikan bahwa keterangan itu akurat dan jujur, sedangkan perbedaan serius dapat menyingkapkannya sebagai sesuatu yang dikarang-karang. Di lain pihak, kisah yang terlalu rapi—yang setiap perincian kecil dengan cermat diatur—mungkin juga mengindikasikan suatu keterangan palsu.

Bagaimana jika ”keterangan” dari para penulis Alkitab dinilai dalam hal ini? Para penulis Alkitab mempertunjukkan konsistensi yang luar biasa. Terdapat keselarasan bahkan pada perincian-perincian yang kecil. Akan tetapi, keselarasan ini bukan hasil rekayasa yang cermat, sampai-sampai menimbulkan kecurigaan akan adanya kolusi. Jelaslah tidak didapati adanya persekongkolan sehubungan dengan kebetulan-kebetulan yang sering kali ditulis dengan selaras dan tanpa disengaja. Pertimbangkan beberapa contoh.

Penulis Alkitab Matius menulis, ”Dan Yesus, ketika tiba di rumah Petrus, melihat ibu mertuanya berbaring dan sakit demam.” (Matius 8:14) Matius di sini menyediakan sebuah perincian yang menarik namun tidak penting: Petrus telah menikah. Fakta sepele ini didukung oleh Paulus, yang menulis, ”Kami mempunyai wewenang untuk membawa serta seorang saudari sebagai istri, sama seperti yang lain-lain dari antara rasul-rasul dan . . . Kefas, bukan?” (1 Korintus 9:5) Ikatan kalimatnya memperlihatkan bahwa Paulus sedang membela dirinya terhadap kritik yang tidak beralasan. (1 Korintus 9:1-4) Jelaslah, fakta kecil ini—bahwa Petrus menikah—dikemukakan Paulus bukan untuk mendukung kesaksamaan kisah Matius, namun disampaikan secara tidak sengaja.

Keempat penulis Injil—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes—mencatat bahwa pada malam Yesus ditahan, salah seorang muridnya menarik pedang dan memukul seorang budak imam besar, menetak telinga pria itu. Hanya Injil Yohanes melaporkan perincian yang tampaknya tidak perlu, ”Nama budak itu Malkhus.” (Yohanes 18:10, 26) Mengapa hanya Yohanes saja yang memberitahukan nama pria itu? Dalam beberapa ayat berikut, catatannya menyediakan fakta sepele yang tidak dinyatakan di ayat lain mana pun: Yohanes ”dikenal oleh imam besar”. Ia juga dikenal oleh rumah tangga imam besar; hamba-hambanya mengenal baik dia, dan ia mengenal baik mereka. (Yohanes 18:15, 16) Maka, adalah wajar bahwa Yohanes menyebutkan nama dari pria yang terluka, sedangkan para penulis Injil lainnya, yang tidak mengenal pria itu, tidak menulisnya.

Kadang-kadang, keterangan terperinci diabaikan di sebuah kisah namun terdapat di tempat lain oleh pernyataan yang dibuat secara kebetulan. Misalnya, catatan Matius tentang persidangan Yesus di hadapan Sanhedrin Yahudi mengatakan bahwa beberapa orang yang hadir ”menampar mukanya, sambil mengatakan, ’Bernubuatlah kepada kami, hai Kristus. Siapakah yang memukulmu?’” (Matius 26:67, 68) Mengapa mereka meminta Yesus untuk ’bernubuat’ siapa yang memukulnya, padahal sang pemukul berdiri di sana di hadapannya? Matius tidak menjelaskannya. Namun dua penulis Injil lain menyediakan perincian yang diabaikan: para penganiaya Yesus menyelubungi mukanya sebelum ia ditampar. (Markus 14:65; Lukas 22:64) Matius menyajikan bahannya tanpa mempedulikan apakah setiap perincian kecil perlu dimasukkan.

Injil Yohanes memberitahukan tentang sebuah peristiwa ketika suatu kumpulan besar berkumpul untuk mendengar Yesus mengajar. Menurut catatannya, sewaktu Yesus melihat kumpulan orang, ”ia mengatakan kepada Filipus, ’Di manakah kita akan membeli roti agar mereka dapat makan?’” (Yohanes 6:5) Dari semua murid yang hadir, mengapa Yesus bertanya kepada Filipus di mana mereka dapat membeli roti? Sang penulis tidak mengatakannya. Namun, dalam kisah yang paralel, Lukas melaporkan bahwa peristiwa ini terjadi di dekat Betsaida, sebuah kota di pantai utara dari Laut Galilea, dan sebelumnya di Injil Yohanes dikatakan bahwa ”Filipus berasal dari Betsaida”. (Yohanes 1:44; Lukas 9:10) Maka masuk akal jika Yesus bertanya kepada seseorang yang kampung halamannya tidak jauh dari situ. Keselarasan antara perincian-perinciannya sungguh menakjubkan, namun jelaslah tanpa disengaja.

Dalam beberapa kasus, diabaikannya beberapa perincian justru menambah kredibilitas dari penulis Alkitab. Misalnya, penulis dari 1 Raja-Raja memberitahukan tentang musim kering yang hebat di Israel. Begitu hebatnya hal itu sehingga raja tidak dapat menemukan cukup air dan rumput untuk memelihara hidup kawanan kuda dan bagalnya. (1 Raja 17:7; 18:5) Namun, kisah yang sama melaporkan bahwa nabi Elia memerintahkan untuk membawa kepadanya cukup banyak air ke Gunung Karmel (untuk digunakan sehubungan dengan korban) untuk mengisi parit yang membatasi areal seluas kira-kira 1.000 meter persegi. (1 Raja 18:33-35) Di tengah-tengah musim kering, dari mana semua air itu berasal? Penulis 1 Raja-Raja tidak menjelaskannya. Akan tetapi, siapa pun yang tinggal di Israel mengetahui bahwa Karmel berada di pesisir Laut Tengah, sebagaimana belakangan ditunjukkan secara kebetulan dalam kisah ini. (1 Raja 18:43) Oleh karena itu, air laut tentu saja dapat diperoleh dengan mudah. Jika buku yang ternyata terperinci ini hanyalah fiksi berkedok fakta, untuk apa penulisnya, yang dalam kasus itu pastilah seorang penipu yang cerdas, membiarkan hal yang tampak membingungkan dalam ayat tersebut?

Maka apakah Alkitab dapat dipercaya? Para arkeolog telah menemukan cukup banyak prasasti untuk meneguhkan bahwa Alkitab merujuk kepada orang-orang yang benar-benar ada, tempat yang benar-benar ada, dan peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi. Akan tetapi, yang bahkan lebih kuat lagi adalah bukti-bukti yang terdapat di dalam Alkitab itu sendiri. Para penulis yang terus terang tidak mengecualikan siapa pun—bahkan diri mereka sendiri—sewaktu mencatat fakta-fakta yang pahit. Konsistensi internal dari tulisan-tulisan ini, termasuk kebetulan-kebetulannya yang tanpa direkayasa, memberikan ”keterangan” bernada kebenaran yang jelas. Dengan ”tanda keautentikan yang pasti” demikian, Alkitab tentulah buku yang dapat saudara percayai.

[Catatan Kaki]

Setelah penemuan itu, Profesor André Lemaire melaporkan bahwa sebuah rekonstruksi baru dari sebaris tulisan yang rusak pada prasasti Mesa (yang juga disebut Batu Moab), yang ditemukan pada tahun 1868, menyingkapkan bahwa prasasti itu juga mengacu kepada ”Rumah Daud”.4

”Kefas” adalah bahasa Semit untuk ”Petrus”.—Yohanes 1:42.

[Gambar di hlm. 15]

Fragmen Tel Dan

[Gambar di hlm. 16, 17]

Relief dinding Asiria menggambarkan pengepungan atas Lakhis, yang disebutkan di 2 Raja 18:13, 14





Apakah Buku Ini Selaras dengan Sains?

Agama tidak selalu bersahabat dengan sains. Pada abad-abad yang lalu, beberapa teolog menentang penemuan-penemuan ilmiah bila mereka merasa bahwa penafsiran Alkitab mereka terancam karenanya. Namun apakah sains sebenarnya musuh Alkitab?

SEANDAINYA para penulis Alkitab menyatakan dukungan kepada pandangan ilmiah yang paling populer pada zaman mereka, maka hasilnya adalah sebuah buku yang sarat dengan ketidaksaksamaan ilmiah yang sangat mencolok. Namun para penulis tidak mendukung konsepsi keliru yang tidak ilmiah semacam itu. Sebaliknya, mereka menulis sejumlah pernyataan yang bukan hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga bertentangan langsung dengan pendapat-pendapat yang diterima pada zaman itu.

Bagaimana Bentuk Bumi?

Pertanyaan itu telah menarik perhatian manusia selama ribuan tahun. Pandangan yang umum pada zaman purba adalah bahwa bumi ini rata. Misalnya, orang-orang Babilon percaya bahwa alam semesta merupakan sebuah kotak atau sebuah ruangan dengan bumi sebagai lantainya. Para imam Wedha dari India membayangkan bahwa bumi ini rata dan bahwa hanya satu sisinya yang didiami. Salah satu suku primitif di Asia menggambarkan bumi sebagai suatu nampan yang besar.

Sudah semenjak abad keenam SM, filsuf Yunani bernama Pythagoras berteori bahwa karena bulan dan matahari berbentuk bulat, bumi juga pasti bulat. Aristoteles (abad keempat SM) belakangan setuju, dengan menjelaskan bahwa kebulatan bumi dibuktikan oleh gerhana bulan. Bayangan bumi pada bulan berbentuk lengkungan.

Akan tetapi, konsep tentang bumi yang rata (dengan hanya sisi sebelah atasnya didiami) tidak lenyap seluruhnya. Ada yang tidak dapat menerima implikasi logis dari bentuk bumi yang bulat—konsep antipode. Lactantius, seorang apologis Kristen dari abad keempat M, mencemooh gagasan tersebut. Ia bernalar, ”Apakah ada orang yang sedemikian bodohnya untuk percaya bahwa ada manusia yang jejak kakinya berada di atas kepala mereka? . . . bahwa tanaman dan pohon-pohon tumbuh ke bawah? bahwa hujan, dan salju, serta hujan es jatuh ke atas?”2

Konsep antipode menjadi suatu dilema bagi beberapa teolog. Beberapa teori berpendapat bahwa kalaupun terdapat orang-orang yang berada di antipode, mereka tidak mungkin dapat berhubungan dengan manusia-manusia di belahan bumi lainnya, karena laut terlalu luas untuk diarungi atau karena daerah panas yang tidak dapat dilewati yang meliputi khatulistiwa. Maka dari mana asalnya orang-orang di antipode? Karena bingung, beberapa teolog memilih untuk percaya bahwa tidak mungkin ada orang-orang di antipode, atau bahkan, seperti pendapat Lactantius, bahwa bumi ini memang tidak berbentuk bulat!

Meskipun demikian, konsep tentang bentuk bumi yang bulat itulah yang menang, dan pada akhirnya konsep itu diterima secara luas. Akan tetapi, baru pada permulaan era antariksa di abad ke-20 ini manusia dapat mengadakan perjalanan cukup jauh ke luar angkasa untuk meneguhkan melalui pengamatan langsung bahwa bumi berbentuk bola.

Dan bagaimana pendirian Alkitab dalam permasalahan ini? Pada abad kedelapan SM, sewaktu pandangan yang umum adalah bahwa bumi ini rata, berabad-abad sebelum para filsuf Yunani berteori bahwa bumi ini tampaknya bulat, dan ribuan tahun sebelum manusia melihat bola bumi dari luar angkasa, nabi Ibrani, Yesaya, menyatakan dengan kesederhanaan yang luar biasa, ”Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi.” (Yesaya 40:22) Kata Ibrani chugh, di sini diterjemahkan ”bulatan”, juga dapat diterjemahkan sebagai ”bola”.3 Terjemahan Alkitab lain berbunyi, ”bola bumi” (Douay Version) dan ”bumi yang bulat”.—Moffatt.

Penulis Alkitab Yesaya menghindari mitos yang umum tentang bumi. Sebaliknya, ia menulis sebuah pernyataan yang tidak terancam oleh kemajuan penemuan ilmiah.

Apa yang Menopang Bumi?

Pada zaman purba, manusia dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan lain tentang kosmos: Bumi ini terletak di mana? Apa yang menopang matahari, bulan, dan bintang? Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hukum gravitasi universal, yang diformulasikan oleh Isaac Newton dan diterbitkan pada tahun 1687. Gagasan bahwa benda-benda luar angkasa sebenarnya tergantung pada ruang hampa tidak diketahui oleh mereka. Maka, penjelasan mereka sering kali memberikan kesan bahwa terdapat suatu wujud objek atau suatu unsur sebagai penopang bumi dan benda-benda angkasa lain di udara.

Misalnya, sebuah teori purba, yang kemungkinan berasal dari orang-orang yang tinggal di sebuah pulau, adalah bahwa bumi diliputi oleh air dan bumi mengapung di air ini. Orang-orang Hindu membayangkan bahwa bumi memiliki beberapa fondasi, satu di atas yang lain. Bumi terletak di atas empat ekor gajah, gajah-gajah berdiri di atas sebuah kura-kura yang sangat besar, kura-kura berdiri di atas ular yang besar sekali, dan ular yang bergelung mengapung di perairan universal. Empedocles, seorang filsuf Yunani dari abad kelima SM, percaya bahwa bumi terletak di atas sebuah pusaran angin dan bahwa pusaran angin ini menyebabkan pergerakan dari benda-benda angkasa.

Di antara pandangan yang paling berpengaruh adalah pandangan Aristoteles. Meskipun ia berteori bahwa bumi ini bulat, ia menyangkal bahwa bumi dapat bergantung pada ruang hampa. Dalam bukunya On the Heavens, sewaktu membuktikan kekeliruan konsep bahwa bumi terletak di atas air, ia mengatakan, ”Bukanlah sifat air, ataupun juga sifat bumi, untuk berada di udara; harus ada sesuatu untuk menopangnya.”4 Maka, apa yang ”menopang” bumi? Aristoteles mengajarkan bahwa matahari, bulan, dan bintang terpasang pada permukaan sebuah bulatan keras yang transparan. Bulatan terletak di dalam bulatan, sedangkan bumi—tidak bergerak—merupakan pusatnya. Seraya bulatan-bulatan ini berputar di dalam satu sama lain, objek-objek yang terpasang padanya—matahari, bulan, dan planet-planet—bergerak di langit.

Penjelasan Aristoteles tampaknya masuk akal. Jika benda-benda angkasa tidak terpasang erat pada sesuatu, bagaimana mereka dapat bertahan di udara? Pandangan dari Aristoteles yang dihormati diterima sebagai fakta selama kira-kira 2.000 tahun. Menurut The New Encyclopædia Britannica, pada abad ke-16 dan ke-17 ajarannya ”dianugerahi status dogma agama” di mata gereja.5

Dengan ditemukannya teleskop, para astronom mulai mempertanyakan teori Aristoteles. Namun, jawabannya membingungkan mereka sampai Sir Isaac Newton menjelaskan bahwa planet-planet bergantung di ruang hampa, ditopang di orbitnya oleh suatu daya yang tidak kelihatan—gravitasi. Itu tampaknya luar biasa, dan beberapa rekan sekerja Newton merasa sulit percaya bahwa antariksa ini ternyata hampa, sebagian besar kosong tanpa unsur.6

Apa yang dikatakan Alkitab berkenaan pertanyaan ini? Hampir 3.500 tahun yang lalu, Alkitab dengan sangat jelas mengatakan bahwa bumi ini bergantung ”pada kehampaan”. (Ayub 26:7) Dalam bahasa Ibrani asli, kata ”pada kehampaan” (beli-mah′) yang digunakan di sini secara harfiah berarti ”tanpa apa pun”.7 Contemporary English Version menggunakan pernyataan, ”pada ruang hampa”.

Kebanyakan orang pada zaman itu sama sekali tidak menggambarkan bumi sebagai sebuah planet yang bergantung ”pada ruang hampa”. Namun, jauh sebelum zamannya, para penulis Alkitab mencatat sebuah pernyataan yang masuk akal secara ilmiah.

Alkitab dan Ilmu Pengetahuan Medis—Apakah Selaras Satu Sama Lain?

Ilmu pengetahuan medis modern telah banyak mengajar kita tentang penyebaran dan pencegahan penyakit. Kemajuan-kemajuan medis pada abad ke-19 telah memperkenalkan praktek medis antisepsis—kebersihan untuk meniadakan infeksi. Hasilnya dramatis. Infeksi dan kematian prematur mengalami penurunan drastis.

Akan tetapi, para tabib purba tidak sepenuhnya mengerti bagaimana penyakit menyebar, mereka juga tidak menyadari pentingnya sanitasi dalam mencegah penyakit. Itu tidak mengherankan mengingat banyak dari praktek-praktek medis mereka tampak tidak beradab menurut standar modern.

Salah satu peninggalan naskah medis tertua adalah Papirus Eber, suatu himpunan pengetahuan medis Mesir, yang berasal dari sekitar tahun 1550 SM. Gulungan ini memuat 700 macam pengobatan untuk berbagai penyakit ”mulai dari gigitan buaya sampai kuku kaki yang sakit”.8 The International Standard Bible Encyclopaedia mengatakan, ”Pengetahuan medis dari para tabib ini semata-mata bersifat empiris, sebagian besar bersifat gaib dan sama sekali tidak ilmiah.”9 Kebanyakan dari pengobatannya tidak efektif, beberapa darinya justru sangat berbahaya. Untuk mengobati luka, salah satu resep menyarankan agar mengoleskan campuran yang terbuat dari kotoran manusia dengan zat-zat lainnya.10

Naskah dari pengobatan medis Mesir ini ditulis hampir bersamaan waktu dengan buku-buku pertama Alkitab, yang mencakup Hukum Musa. Musa, yang lahir pada tahun 1593 SM, dibesarkan di Mesir. (Keluaran 2:1-10) Sebagai anggota dari rumah tangga Firaun, ia ”diajar dalam segala hikmat orang Mesir”. (Kisah 7:22) Ia kenal baik dengan ”tabib-tabib” Mesir. (Kejadian 50:1-3) Apakah praktek-praktek medis mereka yang tidak efektif dan berbahaya mempengaruhi tulisan-tulisannya?

Tidak. Sebagai kontras, Hukum Musa mencakup peraturan-peraturan sanitasi yang lebih maju dibandingkan dengan zamannya. Misalnya, sebuah hukum sehubungan dengan perkemahan militer menuntut untuk mengubur tinja jauh dari perkemahan. (Ulangan 23:13) Ini merupakan tindakan pencegahan yang sangat maju. Hal ini turut melindungi air bersih dari kontaminasi dan menyediakan perlindungan terhadap lalat pembawa sigelosis dan penyakit-penyakit diare lain yang masih merenggut jutaan nyawa setiap tahun di negeri-negeri tempat kondisi sanitasi masih buruk.

Hukum Musa memuat peraturan-peraturan sanitasi lain yang melindungi Israel terhadap penyebaran penyakit menular. Seseorang yang memiliki atau diduga memiliki penyakit yang menular harus dikarantinakan. (Imamat 13:1-5) Pakaian atau wadah yang bersentuhan dengan binatang yang telah mati bukan karena dibunuh (barangkali karena penyakit) harus dicuci sebelum digunakan kembali atau dimusnahkan. (Imamat 11:27, 28, 32, 33) Siapa pun yang menyentuh mayat dianggap najis dan harus menjalani prosedur pembersihan yang mencakup mencuci pakaiannya dan mandi. Selama periode najis tujuh hari, ia harus menghindari kontak fisik dengan orang-orang lain.—Bilangan 19:1-13.

Aturan sanitasi ini menyingkapkan hikmat yang tidak dimiliki oleh para tabib dari bangsa-bangsa sekitarnya pada saat itu. Ribuan tahun sebelum ilmu pengetahuan kedokteran mengetahui tentang cara penyebaran penyakit, Alkitab telah menetapkan langkah-langkah pencegahan yang masuk akal sebagai perlindungan terhadap penyakit. Tidak heran, Musa dapat mengatakan bahwa orang-orang Israel pada zamannya rata-rata hidup sampai 70 atau 80 tahun.—Mazmur 90:10.

Saudara mungkin mengakui bahwa pernyataan-pernyataan Alkitab yang disebutkan di atas saksama secara ilmiah. Namun ada pernyataan-pernyataan lain di dalam Alkitab yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Apakah itu membuat Alkitab bertentangan dengan sains?

Menerima Keterangan yang Tidak Dapat Dibuktikan

Suatu pernyataan yang tidak dapat dibuktikan tidak selalu berarti palsu. Pembuktian ilmiah dibatasi oleh kesanggupan manusia untuk menemukan bukti-bukti yang cukup dan untuk menafsirkan data dengan tepat. Namun beberapa kebenaran tidak dapat dibuktikan karena tidak terdapat peninggalan barang bukti, bukti-buktinya tidak jelas atau belum tersingkap, atau kemampuan dan keahlian ilmiah belum memadai untuk sampai pada kesimpulan yang tidak dapat disangkal. Mungkinkah ini yang terjadi dengan beberapa pernyataan Alkitab yang kurang memiliki bukti-bukti fisik yang independen?

Misalnya, referensi Alkitab tentang suatu wilayah yang tidak kelihatan yang didiami oleh makhluk-makhluk roh; itu tidak dapat dibuktikan—atau disangkal—secara ilmiah. Demikian pula peristiwa-peristiwa yang bersifat mukjizat yang disebutkan di dalam Alkitab. Tidak tersedia cukup bukti geologis yang jelas sehubungan dengan Air Bah sedunia pada zaman Nuh, yang dapat meyakinkan sebagian orang. (Kejadian, pasal 7) Haruskah kita menyimpulkan bahwa Air Bah tidak terjadi? Peristiwa-peristiwa bersejarah dapat dikaburkan oleh waktu dan perubahan. Maka bukankah ada kemungkinan bahwa ribuan tahun dari kegiatan geologi telah melenyapkan banyak bukti tentang Air Bah?

Memang, Alkitab memuat pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dibuktikan atau disangkal oleh bukti-bukti fisik yang tersedia. Namun haruskah hal itu mengejutkan kita? Alkitab bukanlah buku pelajaran sains. Akan tetapi, Alkitab adalah buku kebenaran. Kita telah membahas bukti-bukti kuat bahwa para penulisnya adalah pria-pria yang berintegritas dan jujur. Dan sewaktu mereka menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan sains, kata-kata mereka akurat dan sepenuhnya bebas dari teori ”ilmiah” purba yang belakangan terbukti sebagai mitos belaka. Dengan demikian sains bukanlah musuh Alkitab. Ada alasan kuat untuk mempertimbangkan apa yang Alkitab katakan dengan pikiran terbuka.

[Catatan Kaki]

”Antipode . . . adalah dua tempat yang terletak di belahan bumi yang berlawanan. Suatu garis yang lurus di antaranya melewati pusat bumi. Dalam bahasa Yunani, kata antipode berarti kaki ke kaki. Telapak kaki dari dua orang yang berdiri di antipode yang berlawanan berada pada jarak yang paling dekat satu sama lain.”1The World Book Encyclopedia.

Berbicara secara teknik, bumi ini tidak bulat sempurna; bumi sedikit rata pada kedua kutubnya.

Selain itu, hanya objek yang berbentuk bulat tampak sebagai suatu lingkaran dari setiap sudut pandangan. Sebuah piringan yang rata akan lebih sering kelihatan berbentuk elips, bukan lingkaran.

Suatu pandangan yang terkemuka pada zaman Newton adalah bahwa alam semesta dipenuhi dengan cairan—suatu ”sup” kosmik—dan bahwa pusaran air dalam cairan ini membuat planet-planet berputar.

Pada tahun 1900, harapan hidup di banyak negeri Eropa dan Amerika Serikat kurang dari 50 tahun. Semenjak itu, harapan hidup meningkat secara dramatis bukan hanya berkat kemajuan medis dalam mengendalikan penyakit melainkan juga berkat sanitasi dan kondisi hidup yang lebih baik.

[Blurb di hlm. 21]

Suatu pernyataan yang tidak dapat dibuktikan tidak selalu berarti palsu

[Gambar di hlm. 18]

Ribuan tahun sebelum manusia melihat bola bumi dari luar angkasa, Alkitab menyebutnya ”bulatan bumi”

[Gambar di hlm. 20]

Sir Isaac Newton menjelaskan bahwa planet-planet ditopang dalam orbit mereka oleh gravitasi