Selasa, 24 September 2013

Apakah Ada Tujuan dalam Kehidupan?-bagian 1



 

Cepat atau lambat, hampir setiap orang akan bertanya-tanya tentang apa tujuan hidup ini. Apakah untuk bekerja keras meningkatkan taraf hidup kita, untuk menyediakan kebutuhan keluarga kita, untuk meninggal setelah mungkin berusia 70 atau 80 tahun, dan kemudian lenyap untuk selamanya? Seorang pemuda yang merasa demikian mengatakan bahwa tujuan hidup tak lain daripada ”hidup, memiliki anak-anak, berbahagia dan kemudian mati”. Namun apakah itu benar? Apakah kematian sesungguhnya merupakan akhir dari semua itu?

2 Banyak orang di negeri-negeri Timur maupun Barat merasa bahwa tujuan utama seseorang hidup adalah untuk memperoleh kekayaan materi. Mereka percaya bahwa ini dapat menghasilkan kehidupan yang bahagia dan penuh arti. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang sudah memiliki kekayaan materi? Seorang penulis Kanada, Harry Bruce, mengatakan, ”Suatu jumlah yang mengejutkan dari orang-orang kaya berkeras bahwa mereka tidak bahagia.” Ia menambahkan, ”Berbagai pol [pengumpulan pendapat] memperlihatkan adanya suatu pesimisme yang sangat buruk yang telah menjangkiti Amerika Utara . . . Apakah ada orang yang berbahagia di dunia ini? Jika ada, apa rahasianya?

3 Mantan Presiden AS, Jimmy Carter, mengatakan, ”Kita telah mendapati bahwa memiliki harta benda dan mengkonsumsinya tidak memuaskan kerinduan kita akan suatu arti. . . . Menimbun perkara-perkara materi tidak dapat mengisi kekosongan dalam kehidupan yang tanpa keyakinan atau tujuan.” Dan seorang pemimpin politik lain mengatakan, ”Sudah selama beberapa tahun ini, saya terlibat dalam upaya pencarian yang intensif akan kebenaran tentang diri saya dan kehidupan saya; banyak orang lain yang saya kenal melakukan hal yang sama. Lebih banyak orang daripada sebelumnya mengajukan pertanyaan, ’Siapakah kita? Apa tujuan kita?’”

Keadaan Menjadi Lebih Sulit

4 Banyak orang merasa sangsi bahwa kehidupan memiliki tujuan sewaktu mereka melihat bahwa kondisi kehidupan telah menjadi lebih sulit. Di seluruh dunia, lebih dari satu miliar orang menderita sakit parah atau malnutrisi, yang mengakibatkan kematian sekitar sepuluh juta anak setiap tahun di Afrika saja. Jumlah penduduk bumi, yang mendekati 6 miliar, terus bertambah dengan perlipatan lebih dari 90 juta setahun, lebih dari 90 persen pertambahan ini terjadi di negara-negara berkembang. Jumlah penduduk yang terus bertambah meningkatkan kebutuhan akan makanan, perumahan, serta industri, yang mendatangkan kerusakan lebih jauh atas tanah, air, dan udara oleh industri dan sumber-sumber pencemaran lain.

5 Publikasi World Military and Social Expenditures 1991 melaporkan, ”Setiap tahun, suatu area hutan seluas seluruh permukaan [Inggris Raya] dimusnahkan. Dengan kecepatan (penebangan hutan) sekarang, pada tahun 2000 kita sudah akan melenyapkan 65 persen hutan di zona-zona tropis yang lembab.” Di area-area tersebut, menurut agen PBB, 10 pohon ditebang untuk setiap 1 pohon yang ditanam; di Afrika, rasionya lebih dari 20 berbanding 1. Jadi, area padang gurun semakin luas dan setiap tahun satu area seluas Belgia, lenyap untuk penggunaan agrikultural.

6 Juga, pada abad ke-20 ini, jumlah kematian akibat peperangan adalah empat kali banyaknya jumlah total kematian selama empat abad sebelumnya. Di mana-mana terdapat peningkatan dalam kejahatan, terutama kejahatan dengan kekerasan. Perpecahan keluarga, penyalahgunaan narkotika, AIDS, penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, dan faktor-faktor negatif lain juga membuat kehidupan lebih sulit. Dan para pemimpin dunia belum dapat menyediakan jalan keluar bagi banyak problem yang menimpa keluarga manusia. Maka, dapat dimengerti mengapa orang-orang bertanya, Apa tujuan hidup ini?

7 Bagaimana pertanyaan itu ditanggapi oleh para sarjana dan pemimpin agama? Setelah banyak abad berlalu, apakah mereka menyediakan jawaban yang memuaskan?

Apa yang Mereka Katakan

8 Sarjana Konfusianisme, Tu Wei-Ming, mengatakan, ”Makna pokok dari kehidupan terdapat dalam eksistensi kita sehari-hari sebagai manusia.” Menurut pandangan ini, umat manusia akan terus dilahirkan, berjuang untuk hidup, dan mati. Sudut pandangan semacam itu tidak memberi banyak harapan. Dan apakah pandangan itu memang benar?

9 Elie Wiesel, orang yang selamat dari kamp-kamp kematian Nazi dalam Perang Dunia II, menyatakan, ”’Untuk apa kita hidup?’ merupakan pertanyaan terpenting yang harus dihadapi umat manusia. . . . Saya percaya bahwa kehidupan mempunyai arti meskipun adanya kematian sia-sia yang telah saya lihat.” Namun ia tidak dapat mengatakan apa makna kehidupan ini.

10 Penulis tajuk rencana bernama Vermont Royster mengatakan, ”Dalam renungan tentang manusia itu sendiri, . . . mengenai statusnya di alam semesta, kita tidak beranjak jauh daripada saat berawalnya waktu. Kita masih bertanya-tanya siapa kita dan mengapa kita ada dan ke mana tujuan kita.”

11 Ilmuwan evolusi bernama Stephen Jay Gould menyatakan, ”Kita boleh merindukan jawaban yang ’lebih luhur’—namun satu pun tak ada.” Bagi seorang penganut evolusi seperti itu, kehidupan adalah suatu perjuangan untuk kelangsungan hidup bagi yang paling kuat dan sehat, dengan kematian mengakhiri semua itu. Pandangan semacam itu pun tidak memberikan harapan. Dan, sekali lagi, apakah pandangan itu benar?

12 Banyak pemimpin agama mengatakan bahwa tujuan hidup ini adalah menempuh kehidupan yang baik agar pada waktu mati, jiwa seseorang dapat pergi ke surga dan menjalani kekekalan di sana. Alternatif yang tersedia bagi orang-orang jahat adalah siksaan abadi dalam api neraka. Namun, menurut kepercayaan ini, di bumi akan tetap ada lebih banyak eksistensi yang juga tidak memuaskan yang telah ada sepanjang sejarah. Namun, apabila tujuan Allah adalah agar manusia hidup di surga seperti malaikat, mengapa Ia tidak menciptakan mereka seperti itu sejak awal mula, sebagaimana Ia menciptakan para malaikat?

13 Bahkan kaum pemimpin agama menghadapi kesulitan dengan pandangan-pandangan demikian. Dr. W. R. Inge, mantan uskup Katedral St. Paul di London, pernah mengatakan, ”Sepanjang hidup saya, saya berjuang untuk menemukan tujuan hidup. Saya telah berupaya menjawab tiga masalah yang selalu kelihatan mendasar bagi diri saya: masalah kekekalan; masalah kepribadian manusia; dan masalah kejahatan. Saya gagal. Saya belum memecahkan satu pun.”

Pengaruhnya

14 Apa pengaruh dari begitu banyak gagasan yang berbeda dari para sarjana dan pemimpin agama tentang pertanyaan mengenai tujuan hidup? Banyak yang menanggapinya seperti seorang pria lanjut usia yang mengatakan, ”Hampir dalam seluruh kehidupan saya, saya bertanya mengapa saya ada di sini. Bila ada tujuannya, saya sudah tidak peduli lagi.”

15 Cukup banyak orang yang mengamati keragaman pandangan di antara agama-agama dunia menyimpulkan bahwa apa yang seseorang percayai sama sekali tidak menjadi soal. Mereka merasa bahwa agama hanyalah suatu selingan bagi pikiran, sesuatu yang memberikan sedikit ketenangan pikiran dan penghiburan agar seseorang dapat mengatasi problem-problem kehidupan. Orang-orang lain merasa bahwa agama tidak lebih daripada takhayul. Mereka merasa bahwa spekulasi agama selama berabad-abad tidak menjawab pertanyaan tentang tujuan hidup, juga tidak memperbaiki kehidupan masyarakat pada umumnya. Memang, sejarah memperlihatkan bahwa agama-agama dunia ini sering telah menghalangi umat manusia untuk maju dan menjadi penyebab kebencian dan peperangan.

16 Namun, apakah memang penting untuk memperoleh kebenaran tentang tujuan hidup ini? Seorang ahli kesehatan mental bernama Viktor Frankl menjawab, ”Upaya untuk menemukan makna dalam kehidupan seseorang adalah kekuatan penggerak utama dalam diri manusia. . . . Saya berani mengatakan bahwa tidak ada apa pun di dunia ini yang akan dengan begitu efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup bahkan dalam keadaan yang paling buruk, selain daripada pengetahuan bahwa ada arti dalam kehidupan seseorang.”

17 Karena filsafat dan agama manusia tidak menjelaskan secara memuaskan apa tujuan hidup itu, ke mana lagi kita dapat mencari jawabannya? Apakah ada sumber hikmat yang lebih tinggi yang dapat memberi tahu kita kebenaran tentang hal ini?