Rabu, 25 September 2013

Susunan Kristen Telah Mengkhianati Allah dan Alkitab-bagian 4


 

 
1 Orang-orang di banyak negeri menghindari Alkitab dan kurang menghormatinya karena tingkah laku buruk dari orang-orang yang mengaku mengikutinya. Di beberapa negeri dikatakan bahwa Alkitab adalah buku yang menuntun kepada peperangan, bahwa Alkitab adalah buku masyarakat kulit putih, dan buku yang mendukung kolonialisme. Namun itu semua adalah pandangan yang keliru.

2 Alkitab, yang ditulis di Timur Tengah, tidak mendukung peperangan-peperangan kolonial dan eksploitasi yang tamak yang telah dijalankan atas nama kekristenan untuk jangka waktu yang begitu lama. Sebaliknya, dengan membaca Alkitab dan mempelajari ajaran-ajaran kekristenan sejati yang diajarkan oleh Yesus, saudara akan melihat bahwa Alkitab dengan keras mengutuk peperangan, perbuatan amoral, dan eksploitasi atas orang-orang lain. Kesalahannya terletak pada orang-orang yang tamak, bukan pada Alkitab. (1 Korintus 13:1-6; Yakobus 4:1-3; 5:1-6; 1 Yohanes 4:7, 8) Jadi, jangan biarkan tingkah laku yang salah dari orang-orang yang mementingkan diri yang hidup bertentangan dengan nasihat baik dari Alkitab mencegah saudara memperoleh manfaat dari hartanya yang bernilai.

3 Di antara orang-orang yang tidak hidup selaras dengan nasihat Alkitab terdapat orang-orang dan bangsa-bangsa Susunan Kristen. ”Susunan Kristen” didefinisikan sebagai bagian dari dunia yang di dalamnya kekristenan sangat berpengaruh. Ini adalah sebagian besar dunia Barat dengan sistem-sistem gerejanya, yang kira-kira sejak abad keempat M menjadi terkemuka. Susunan Kristen telah memiliki Alkitab selama berabad-abad, dan para pendetanya mengaku mengajarkan itu dan mengaku sebagai wakil-wakil Allah. Akan tetapi, apakah para pendeta dan misionaris Susunan Kristen mengajarkan kebenaran? Apakah tindakan mereka benar-benar mewakili Allah dan Alkitab? Apakah kekristenan benar-benar berpengaruh dalam Susunan Kristen? Tidak. Sejak agamanya tampil di garis depan pada abad keempat, Susunan Kristen telah terbukti menjadi musuh Allah dan Alkitab. Ya, fakta-fakta sejarah memperlihatkan bahwa Susunan Kristen telah mengkhianati Allah dan Alkitab.

Doktrin-Doktrin yang Tidak Berdasarkan Alkitab

4 Doktrin-doktrin utama Susunan Kristen tidak berdasarkan Alkitab namun berdasarkan dongeng-dongeng purba—yang berasal dari Yunani, Mesir, Babilon, dan tempat-tempat lain. Ajaran seperti jiwa manusia yang mempunyai sifat tidak berkematian, siksaan kekal dalam api neraka, api penyucian, serta Tritunggal (tiga pribadi dalam satu Keilahian) tidak terdapat dalam Alkitab.

5 Misalnya, pertimbangkan ajaran bahwa orang-orang jahat akan disiksa selama-lamanya dalam neraka yang bernyala-nyala. Bagaimana pendapat saudara mengenai gagasan ini? Banyak yang menganggapnya menjijikkan. Mereka menganggap tidak masuk akal bahwa Allah akan selama-lamanya menyiksa manusia, membiarkan mereka dalam rasa sakit yang sangat menyiksa. Gagasan yang kejam demikian sangat kontras dengan Allah dari Alkitab, karena ”Allah adalah kasih”. (1 Yohanes 4:8) Alkitab dengan jelas memberi tahu bahwa ajaran demikian ’tidak pernah timbul dalam hati’ Allah Yang Mahakuasa.—Yeremia 7:31; 19:5; 32:35.

6 Dewasa ini, banyak agama, termasuk gereja-gereja Susunan Kristen, mengajarkan bahwa manusia mempunyai jiwa yang tidak berkematian, yang pada waktu mati akan pergi ke surga atau ke neraka. Ini bukan ajaran Alkitab. Sebaliknya, dengan jelas Alkitab mengatakan, ”Orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, . . . karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati [Syeol, kuburan], ke mana engkau akan pergi.” (Pengkhotbah 9:5, 10) Dan pemazmur menyatakan bahwa pada waktu mati manusia akan ”kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya”.—Mazmur 146:4.

7 Juga, ingatlah bahwa sewaktu Adam dan Hawa melanggar hukum Allah, hukumannya bukanlah peri tidak berkematian. Kalau demikian, itu jadinya suatu hadiah bukan hukuman! Sebaliknya, mereka diberi tahu bahwa mereka akan ”kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah [mereka] diambil”. Allah menekankan kepada Adam, ”Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19) Jadi, ajaran tentang jiwa yang mempunyai sifat tidak berkematian tidak terdapat dalam Alkitab namun dipinjam oleh Susunan Kristen dari bangsa-bangsa non-Kristen yang hidup sebelumnya.

8 Juga, doktrin Tritunggal dari Susunan Kristen menggambarkan Allah sebagai Allah tiga-dalam-satu yang misterius. Namun ajaran tersebut juga tidak terdapat dalam Alkitab. Misalnya, di Yesaya 40:25, dengan jelas Allah menyatakan, ”Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia?” Jawabannya jelas: Tidak seorang pun dapat setara dengan-Nya. Juga, Mazmur 83:19 dengan sederhana menyatakan, ”Engkau sajalah yang bernama [Yehuwa], Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.”—Lihat juga Yesaya 45:5; 46:9; Yohanes 5:19; 6:38; 7:16.

9 Ajaran Alkitab tentang Allah dan maksud-tujuan-Nya jelas, mudah dimengerti, dan masuk akal. Tetapi, tidak demikian dengan ajaran gereja-gereja Susunan Kristen. Lebih buruk lagi, hal-hal tersebut bertentangan dengan Alkitab.

Perbuatan-Perbuatan yang Fasik

10 Selain mengajarkan doktrin-doktrin yang palsu, Susunan Kristen telah mengkhianati Allah dan Alkitab melalui perbuatan-perbuatannya. Apa yang telah dilakukan oleh para pendeta dan gereja-gereja pada abad-abad yang lalu, dan yang terus berlanjut sampai zaman kita, berlawanan dengan apa yang dituntut oleh Allah dari Alkitab dan bertentangan dengan apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Pendiri kekristenan, Yesus Kristus.

11 Misalnya, Yesus mengajar para pengikutnya untuk tidak mencampuri urusan politik dunia ini ataupun terlibat dalam perang-perangnya. Ia juga mengajar mereka untuk cinta damai, mematuhi hukum, memiliki kasih kepada sesama manusia tanpa prasangka, bahkan rela mengorbankan nyawa mereka sendiri sebaliknya dari merenggut nyawa orang lain.—Yohanes 15:13; Kisah 10:34, 35; 1 Yohanes 4:20, 21.

12 Sesungguhnya, Yesus mengajarkan bahwa kasih kepada sesama manusia akan menjadi ciri yang membedakan umat Kristen yang sejati dari peniru-peniru, umat Kristen yang palsu. Ia mengatakan kepada orang-orang yang mau mengikutinya, ”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”—Yohanes 13:34, 35; 15:12.

13 Namun, abad demi abad, para pendeta Susunan Kristen ikut campur dalam politik dan mendukung peperangan bangsa-bangsa mereka. Mereka bahkan mendukung pihak-pihak yang bermusuhan dalam peperangan-peperangan di antara Susunan Kristen, seperti dua perang dunia dari abad ini. Dalam konflik-konflik tersebut, para pendeta pada masing-masing pihak berdoa demi kemenangan pihaknya, dan anggota-anggota dari sebuah agama dari satu negeri membunuh anggota-anggota agama yang sama dari negeri lainnya. Akan tetapi, itulah yang Alkitab katakan tentang perbuatan anak-anak Setan, bukan anak-anak Allah. (1 Yohanes 3:10-12, 15) Maka, meskipun para pendeta dan pengikutnya mengaku Kristen, mereka telah melawan ajaran Yesus Kristus, yang memberi tahu para pengikutnya untuk ’menyingkirkan pedang’.—Matius 26:51, 52.

14 Selama berabad-abad gereja-gereja bekerja sama dengan kuasa-kuasa politik Susunan Kristen sewaktu bangsa-bangsa tersebut menaklukkan, memperbudak, dan merendahkan bangsa-bangsa lain selama era imperialisme. Inilah keadaannya selama berabad-abad di Afrika. Cina juga mengalami hal ini, sewaktu bangsa-bangsa Barat menciptakan lingkungan pengaruh dengan paksa, seperti selama Perang Candu dan Pemberontakan Bokser.

15 Agama-agama Susunan Kristen juga telah berada di garis depan dalam menganiaya, menyiksa, dan bahkan membunuh orang-orang yang tidak menyetujui mereka selama abad-abad sejarah yang disebut Abad-Abad Kegelapan. Selama Inkwisisi, yang berlangsung ratusan tahun, praktek-praktek yang kejam, seperti penyiksaan dan pembunuhan, disahkan dan dijalankan atas orang-orang yang baik serta tidak bersalah. Pelakunya adalah kaum pemimpin agama dan pengikut mereka, semua yang mengaku diri Kristen. Mereka bahkan berupaya memusnahkan Alkitab agar orang-orang awam tidak dapat membacanya.

Bukan Kristen

16 Tidak, bangsa-bangsa dan gereja-gereja Susunan Kristen dulu maupun sekarang tidak bersifat Kristen. Mereka bukan hamba-hamba Allah. Firman-Nya yang terilham mengatakan tentang mereka, ”Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.”—Titus 1:16.

17 Yesus mengatakan bahwa agama palsu dapat dikenali dari apa yang dihasilkannya, buah-buahnya. Ia mengatakan, ”Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. . . . Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka [nabi-nabi palsu].”—Matius 7:15-20.

18 Maka, melalui apa yang telah mereka ajarkan dan apa yang telah mereka lakukan, agama-agama Susunan Kristen memperlihatkan sehubungan dengan pengakuan mereka bahwa mereka percaya kepada Alkitab dan takut akan Allah dan sebagai umat Kristen adalah suatu dusta. Mereka telah mengkhianati Allah dan Alkitab. Dengan melakukan hal itu, mereka telah membuat jutaan orang merasa jijik dan menyebabkan mereka tidak lagi percaya kepada Pribadi Yang Mahatinggi.

19 Namun, kegagalan kaum pemimpin agama dan gereja-gereja Susunan Kristen, serta kegagalan agama-agama lain di luar Susunan Kristen, bukan berarti Alkitab telah gagal. Ini juga tidak berarti bahwa Allah telah gagal. Sebaliknya, Alkitab memberi tahu kita tentang suatu Pribadi Yang Mahatinggi yang benar-benar ada dan yang mempedulikan kita dan masa depan kita. Alkitab memperlihatkan bagaimana Ia akan memberi imbalan kepada orang-orang yang berhati jujur yang ingin melakukan apa yang benar, yang ingin melihat keadilan dan perdamaian terwujud di seluruh muka bumi. Juga diperlihatkan mengapa Allah membiarkan kejahatan dan penderitaan dan bagaimana Ia akan menyingkirkan dari muka bumi orang-orang yang merugikan sesama mereka, serta juga orang-orang yang hanya di bibir saja mengaku melayani-Nya.