Kamis, 19 September 2013

Buku Nubuat----alkitab bab 5


 

Orang-orang berminat akan masa depan. Mereka berupaya mendapat prediksi yang handal mengenai banyak bidang, mulai dari prakiraan cuaca hingga indikator ekonomi. Akan tetapi, sewaktu mereka bertindak berdasarkan prakiraan tersebut, mereka sering kali kecewa. Alkitab memuat banyak ramalan, atau nubuat. Seberapa akuratkah nubuat-nubuat tersebut? Apakah itu adalah sejarah yang ditulis jauh di muka? Ataukah itu hanyalah sejarah berkedok nubuat?

NEGARAWAN Roma bernama Cato (234-149 SM) dilaporkan mengatakan, ”Saya bertanya-tanya apakah seorang peramal tidak akan tertawa bila melihat peramal yang lain.”1 Memang, sampai saat ini, banyak orang merasa skeptis terhadap para peramal, astrolog, dan juru ramal lain. Sering kali, ramalan mereka menggunakan istilah-istilah yang tidak jelas dan memungkinkan timbulnya begitu banyak ragam penafsiran.

Namun, bagaimana dengan nubuat-nubuat Alkitab? Apakah ada alasan untuk merasa skeptis? Atau apakah ada dasar untuk merasa yakin?

Bukan Sekadar Perkiraan yang Cerdas

Orang-orang yang berpengetahuan boleh jadi mencoba menggunakan trend yang dapat diobservasi untuk membuat spekulasi-spekulasi akurat sehubungan dengan masa mendatang, namun spekulasi-spekulasi itu tidak pernah seratus persen akurat. Buku Future Shock mengatakan, ”Setiap masyarakat menghadapi bukan hanya serangkaian masa depan yang belum tentu terjadi, melainkan juga serangkaian masa depan yang kemungkinan terjadi, dan suatu konflik sehubungan dengan masa depan yang sebaiknya terjadi.” Buku itu menambahkan, ”Tentu saja, tidak seorang pun dapat ’mengetahui’ masa depan dalam arti mutlak. Kita hanya dapat membuat sistematikanya dan memperdalam asumsi-asumsi kita serta berupaya menetapkan probabilitas terhadap asumsi-asumsi tersebut.”2

Namun para penulis Alkitab sebenarnya tidak ”menetapkan probabilitas terhadap asumsi-asumsi” tentang masa depan. Ramalan mereka juga tidak dapat dikesampingkan sebagaimana layaknya pernyataan yang tidak jelas, yang menimbulkan banyak ragam penafsiran. Sebaliknya, banyak nubuat mereka diutarakan dengan sangat jelas dan luar biasa spesifik, sering kali meramalkan perkara-perkara yang justru bertolak belakang dengan apa yang diperkirakan orang. Sebagai contoh, perhatikan apa yang Alkitab katakan jauh di muka tentang kota purba Babilon.

’Disapu Bersih dan Dipunahkan’

Babilon purba menjadi ”permata kerajaan-kerajaan”. (Yesaya 13:19, The New American Bible) Kota besar yang semrawut ini terletak strategis di jalur perdagangan antara Teluk Persia dan Laut Tengah, merupakan depot niaga bagi perdagangan darat dan laut antara Timur dan Barat.

Pada abad ketujuh SM, Babilon merupakan ibu kota dari Imperium Babilonia yang tampaknya mustahil ditaklukkan. Kota Babilon dilintasi oleh Sungai Efrat dan air sungai dimanfaatkan untuk mengairi suatu parit yang lebar dan dalam, serta suatu jaringan kanal. Selain itu, kota ini dilindungi oleh sistem tembok-tembok lapis dua yang kokoh, diperkuat oleh sejumlah menara pelindung. Tidak heran, penduduknya merasa aman.

Meskipun demikian, pada abad kedelapan SM, sebelum Babilon mencapai puncak kejayaannya, nabi Yesaya menubuatkan bahwa Babilon akan ’disapu bersih dan dipunahkan’. (Yesaya 13:19; 14:22, 23) Yesaya juga menggambarkan secara terperinci bagaimana Babilon akan tumbang. Para penyerbu akan ’mengeringkan’ sungai-sungainya—sumber air bagi sistem perlindungan paritnya—membuat kota tersebut sangat lemah. Yesaya bahkan memberitahukan nama sang penakluk—”Kores”, seorang raja Persia yang agung, ”yang di hadapannya gerbang-gerbang akan terbuka dan tidak ada pintu yang tertutup”.—Yesaya 44:27–45:2, The New English Bible.

Ini merupakan ramalan yang berani. Namun apakah ramalan itu terjadi? Sejarah menjawabnya.

”Tanpa Bertempur”

Dua abad setelah Yesaya mencatat nubuatnya, pada malam tanggal 5 Oktober 539 SM, bala tentara Media-Persia di bawah pimpinan Kores Agung berkemah di dekat Babilon. Namun orang-orang Babilon merasa aman-aman saja. Menurut sejarawan Yunani Herodotus (abad kelima SM), persediaan pangan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan selama bertahun-tahun.3 Mereka juga memiliki Sungai Efrat dan tembok-tembok Babilon yang perkasa untuk melindungi mereka. Meskipun demikian, pada malam itu juga, menurut Tawarikh Nabonidus, ”bala tentara Kores memasuki Babilon tanpa bertempur”.4 Bagaimana mungkin?

Herodotus menjelaskan bahwa di dalam kota, orang-orang ”sedang menari dan beria-ria pada suatu festival”.5 Akan tetapi, di luar sana, Kores telah mengalihkan air Sungai Efrat. Seraya permukaan air menurun, bala tentaranya berjalan menyusuri palung sungai, dengan air sebatas paha. Mereka berbaris melewati tembok-tembok menara dan memasuki apa yang disebut Herodotus ”gerbang-gerbang yang terbuka di sungai”, gerbang-gerbang yang dengan ceroboh dibiarkan terbuka.6 (Bandingkan Daniel 5:1-4; Yeremia 50:24; 51:31, 32.) Sejarawan-sejarawan lain, termasuk Xenophon (± 431–± 352 SM), serta batu bertulisan paku yang ditemukan oleh para arkeolog, meneguhkan kejatuhan mendadak Babilon ke tangan Kores.7

Dengan demikian, nubuat Yesaya tentang Babilon tergenap. Benarkah demikian? Mungkinkah bahwa ini sebenarnya bukan ramalan, melainkan tulisan yang dibuat setelah peristiwanya terjadi? Sebenarnya, pertanyaan ini pun dapat diajukan sehubungan dengan nubuat-nubuat Alkitab yang lain.

Sejarah Berkedok Nubuat?

Jika para nabi Alkitab—termasuk Yesaya—sekadar menulis kembali sejarah sehingga tampak seperti nubuat, maka pria-pria ini hanyalah penipu yang lihai. Namun, apa yang menjadi motif mereka melakukan muslihat demikian? Nabi-nabi yang sejati tanpa ragu-ragu menyatakan bahwa mereka tidak dapat disuap. (1 Samuel 12:3; Daniel 5:17) Dan kita telah membahas bukti-bukti kuat bahwa para penulis Alkitab (yang kebanyakan di antaranya adalah para nabi) adalah pria-pria yang dapat dipercaya yang bersedia menyingkapkan bahkan kesalahan-kesalahan mereka sendiri yang memalukan. Tidaklah mungkin pria-pria semacam ini cenderung untuk melakukan penipuan yang rumit, menyamarkan sejarah sebagai nubuat.

Ada hal lain lagi yang perlu dipertimbangkan. Banyak nubuat Alkitab berisi kecaman tajam terhadap bangsa dari para nabi itu sendiri, termasuk para imam dan penguasanya. Yesaya, misalnya, mencela kondisi moral yang memprihatinkan dari orang-orang Israel—baik para pemimpin maupun rakyatnya—pada zamannya. (Yesaya 1:2-10) Nabi-nabi lain dengan penuh semangat menyingkapkan dosa-dosa para imam. (Zefanya 3:4; Maleakhi 2:1-9) Benar-benar sulit dimengerti mengapa mereka merekayasa nubuat berisi kecaman yang paling tajam terhadap bangsa mereka sendiri dan mengapa para imam bekerja sama dalam muslihat tersebut.

Selain itu, bagaimana mungkin para nabi—kalaupun mereka hanyalah penipu—mengumumkan hasil pemalsuan mereka? Melek huruf digalakkan di Israel. Semenjak usia dini, anak-anak diajarkan cara membaca dan menulis. (Ulangan 6:6-9) Pembacaan Alkitab pribadi sangat dianjurkan. (Mazmur 1:2) Ada pembacaan Tulisan-Tulisan Kudus untuk umum di sinagoga-sinagoga pada Sabat mingguan. (Kisah 15:21) Tampaknya sukar dipercaya bahwa suatu bangsa yang seluruhnya melek huruf, mengenal baik Tulisan-Tulisan Kudus, dapat diperdaya oleh tipu muslihat semacam itu.

Selain itu, masih ada hal lain lagi dalam nubuat Yesaya tentang kejatuhan Babilon. Nubuat itu memuat perincian yang sama sekali tidak mungkin ditulis setelah penggenapannya.

”Tidak Ada Penduduk untuk Seterusnya”

Apa yang akan terjadi atas Babilon setelah kejatuhannya? Yesaya menubuatkan, ”Tidak ada penduduk untuk seterusnya, dan tidak ada penghuni turun-temurun; orang Arab tidak akan berkemah di sana, dan gembala-gembala tidak akan membiarkan hewannya berbaring di sana.” (Yesaya 13:20) Sebenarnya, mungkin tampaknya aneh untuk meramalkan bahwa sebuah kota yang terletak sangat strategis akan secara permanen tidak dihuni. Mungkinkah kata-kata Yesaya ditulis setelah ia mengamati Babilon yang telantar?

Setelah diambil alih oleh Kores, Babilon yang berpenduduk—meskipun tidak lagi perkasa—masih berdiri selama berabad-abad. Ingatlah bahwa Gulungan Laut Mati mencakup sebuah salinan buku Yesaya yang lengkap dari abad kedua SM. Pada saat gulungan itu disalin, orang-orang Partia mengambil alih Babilon. Pada abad pertama M, terdapat permukiman orang-orang Yahudi di Babilon, dan Petrus sang penulis Alkitab mengunjungi kota tersebut. (1 Petrus 5:13) Pada saat itu, Gulungan Laut Mati Yesaya telah ada selama hampir dua abad. Maka, sejak abad pertama M, Babilon masih belum sepenuhnya telantar, namun buku Yesaya telah rampung lama berselang.

Seperti yang dinubuatkan, Babilon pada akhirnya menjadi ”timbunan puing” belaka. (Yeremia 51:37) Menurut sarjana Ibrani Jerome (abad keempat M), pada zamannya Babilon merupakan tempat berburu yang di dalamnya ”segala jenis binatang buas” berkeliaran.9 Babilon tetap telantar sampai hari ini.

Yesaya sudah meninggal berabad-abad sebelum Babilon ditelantarkan. Namun puing-puing dari kota yang pernah sangat kuat ini, kira-kira 80 kilometer sebelah selatan Bagdad, di Irak modern, merupakan saksi bisu dari penggenapan kata-katanya, ”Tidak ada penduduk untuk seterusnya.” Pemulihan apa pun dari Babilon sebagai objek wisata mungkin dapat memikat para pengunjung, namun ’anak cucu dan anak cicit orang-orang Babilon’ sudah lenyap selamanya.—Yesaya 13:20; 14:22, 23.

Dengan demikian, yang diutarakan nabi Yesaya bukanlah ramalan yang tidak jelas yang dapat diberlakukan atas kejadian apa saja di masa depan. Yang ditulisnya pun bukan salinan sejarah yang dibuat tampak sebagai nubuat. Coba pikirkan: Untuk apa seorang penipu mempertaruhkan diri dengan ”bernubuat” tentang sesuatu yang sama sekali di luar kendalinya—bahwa Babilon yang perkasa tidak akan pernah lagi berpenghuni?

Nubuat tentang kejatuhan Babilon ini hanyalah satu contoh dari Alkitab. Dari penggenapan atas nubuat-nubuat Alkitab, banyak orang melihat suatu petunjuk bahwa Alkitab pastilah berasal dari sumber yang lebih tinggi daripada manusia. Barangkali saudara akan setuju bahwa, setidak-setidaknya, buku tentang nubuat ini pantas diselidiki. Satu hal yang pasti: Terdapat perbedaan besar antara ramalan yang tidak jelas atau sensasional dari para peramal zaman modern dengan nubuat-nubuat dari Alkitab yang jelas, gamblang, dan spesifik.

[Catatan Kaki]

Terdapat bukti kuat bahwa buku-buku dari Kitab-Kitab Ibrani—termasuk Yesaya—telah ditulis lama sebelum abad pertama M. Sejarawan Josephus (abad pertama M) menunjukkan bahwa kanon dari Kitab-Kitab Ibrani telah selesai lama sebelum zamannya.8 Selain itu, Septuaginta Yunani, suatu terjemahan dari Kitab-Kitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani, telah dimulai pada abad ketiga SM dan dirampungkan pada abad kedua SM.

Untuk pembahasan lebih jauh tentang nubuat-nubuat Alkitab dan fakta-fakta sejarah yang mencatat penggenapannya, silakan lihat buku Alkitab—Firman dari Allah Atau dari Manusia?, yang diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc., halaman 117-33.

[Blurb di hlm. 28]

Apakah para penulis Alkitab adalah nabi yang akurat atau penipu yang lihai?

[Gambar di hlm. 29]

Puing-puing Babilon purba






Buku yang Praktis bagi Kehidupan Modern

Buku-buku yang memberikan nasihat sangat populer dalam dunia dewasa ini. Namun buku-buku itu cenderung menjadi ketinggalan zaman dan segera direvisi atau diganti. Bagaimana dengan Alkitab? Buku ini dirampungkan hampir 2.000 tahun yang lalu. Namun, berita aslinya tidak pernah diperbaiki atau diperbarui. Mungkinkah buku semacam itu memuat bimbingan yang praktis bagi zaman kita?

BEBERAPA orang mengatakan tidak. ”Tidak seorang pun akan menganjurkan penggunaan buku pelajaran kimia edisi tahun 1924 untuk dipakai dalam mata pelajaran kimia zaman modern,” tulis Dr. Eli S. Chesen, sewaktu menjelaskan mengapa ia merasa bahwa Alkitab ketinggalan zaman.1 Tampaknya, argumen ini masuk akal. Lagi pula, manusia telah belajar banyak tentang kesehatan mental dan perilaku manusia sejak Alkitab ditulis. Jadi bagaimana sebuah buku kuno semacam itu dapat relevan bagi kehidupan modern?

Prinsip-Prinsip yang Abadi

Meskipun benar bahwa zaman telah berganti, kebutuhan dasar manusia tetap sama. Orang-orang sepanjang sejarah membutuhkan kasih dan kasih sayang. Mereka ingin berbahagia dan menjalani kehidupan yang penuh arti. Mereka membutuhkan nasihat tentang cara mengatasi tekanan-tekanan ekonomi, cara menyukseskan perkawinan, dan cara menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang baik dalam diri anak-anak mereka. Alkitab memuat nasihat yang menangani kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut.—Pengkhotbah 3:12, 13; Roma 12:10; Kolose 3:18-21; 1 Timotius 6:6-10.

Nasihat Alkitab mencerminkan pemahaman yang kuat akan watak manusia. Pertimbangkan beberapa contoh dari prinsip-prinsipnya yang spesifik, yang abadi, yang praktis bagi kehidupan modern.

Pedoman Praktis bagi Perkawinan

Menurut UN Chronicle, keluarga, ”adalah unit organisasi manusia yang paling tua dan paling dasar; mata rantai yang paling menentukan antargenerasi”. Akan tetapi, ’mata rantai yang menentukan’ ini sedang berantakan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. ”Dalam dunia dewasa ini,” tulis Chronicle, ”banyak keluarga menghadapi tantangan yang mengecilkan hati, yang mengancam kesanggupan mereka untuk berfungsi dan, sebenarnya, untuk tetap bertahan.”2 Nasihat apa yang diberikan Alkitab untuk membantu unit keluarga tetap bertahan?

Pertama-tama, Alkitab banyak berbicara tentang bagaimana seharusnya suami dan istri memperlakukan satu sama lain. Misalnya, sehubungan dengan para suami, Alkitab mengatakan, ”Suami-suami harus mengasihi istri mereka seperti tubuh mereka sendiri. Ia yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri, sebab tidak seorang pun pernah membenci dagingnya sendiri; tetapi ia memberi makan dan menyayanginya.” (Efesus 5:28, 29) Seorang istri dinasihati untuk ”memiliki respek yang dalam kepada suaminya”.—Efesus 5:33.

Pertimbangkan implikasi dari menerapkan nasihat Alkitab semacam itu. Seorang suami yang mengasihi istrinya ’seperti tubuhnya sendiri’ tidak akan membenci atau brutal terhadap sang istri. Ia tidak memukul sang istri secara fisik, juga tidak menganiayanya secara verbal atau secara emosi. Sebaliknya, ia memperlakukannya dengan penghargaan dan timbang rasa seperti yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri. (1 Petrus 3:7) Hasilnya, sang istri merasa dikasihi dan tenteram dalam perkawinannya. Dengan demikian sang suami memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya tentang bagaimana wanita hendaknya diperlakukan. Di lain pihak, seorang istri yang memiliki ”respek yang dalam” kepada suaminya tidak akan menjatuhkan martabat suaminya dengan terus mengkritik atau meremehkan sang suami. Karena sang istri merespeknya, sang suami merasa dipercaya, diterima, dan dihargai.

Apakah nasihat semacam itu praktis dalam dunia modern ini? Menarik bahwa orang-orang yang mengkhususkan diri untuk meneliti masalah keluarga zaman sekarang telah mengambil kesimpulan yang sama. Seorang pengurus dari sebuah program konseling keluarga menyatakan, ”Keluarga-keluarga paling sehat yang saya kenal adalah yang memiliki hubungan timbal balik yang kuat dan penuh kasih di antara ayah dan ibu . . . Hubungan dasar yang kuat ini tampaknya memberikan rasa aman dalam diri anak-anak.”3

Selama bertahun-tahun, nasihat Alkitab tentang perkawinan telah terbukti jauh lebih dapat diandalkan daripada nasihat dari begitu banyak penasihat perkawinan, sebaik apa pun niatnya. Lagi pula, belum lama berselang, banyak pakar menganjurkan perceraian sebagai jalan keluar yang cepat dan mudah untuk perkawinan yang tidak bahagia. Dewasa ini, banyak pakar mendesak orang-orang untuk mempertahankan perkawinan mereka, jika memang mungkin. Namun cara berpikir ini baru muncul setelah banyak kerugian terjadi.

Sebagai kontras, Alkitab memberikan nasihat yang seimbang dan dapat diandalkan tentang pokok perkawinan. Alkitab mengakui bahwa beberapa keadaan yang ekstrem membuat perceraian diizinkan. (Matius 19:9) Pada waktu yang sama, Alkitab mengutuk perceraian yang didasarkan atas alasan sepele. (Maleakhi 2:14-16) Alkitab juga mengutuk ketidaksetiaan dalam perkawinan. (Ibrani 13:4) Menurut Alkitab, perkawinan menyangkut komitmen, ”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu [”berpaut”, ”NW”] dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”—Kejadian 2:24; Matius 19:5, 6.

Dewasa ini nasihat Alkitab tentang perkawinan masih relevan sama seperti ketika Alkitab ditulis. Bila suami dan istri memperlakukan satu sama lain dengan kasih serta respek dan memandang perkawinan sebagai hubungan yang eksklusif, perkawinan kemungkinan besar akan tetap bertahan—dan demikian juga dengan keluarga.

Pedoman Praktis bagi Para Orang-Tua

Beberapa dekade yang lalu, banyak orang-tua—didorong oleh ”gagasan-gagasan inovatif” berkenaan pelatihan anak—berpikir bahwa ”melarang adalah hal yang terlarang”.8 Mereka khawatir bahwa menetapkan batas-batas kepada anak-anak akan menyebabkan trauma dan frustrasi. Para penasihat pendidikan anak, yang bermaksud baik sekalipun, berkukuh bahwa orang-tua hendaknya hanya memberikan koreksi yang lembut kepada anak-anak mereka. Namun banyak dari para pakar tersebut kini mempertimbangkan kembali peranan disiplin, dan para orang-tua yang peduli kini mencari kejelasan atas masalah ini.

Akan tetapi, selama ini Alkitab telah memberikan nasihat yang jelas dan masuk akal tentang membesarkan anak. Hampir 2.000 tahun yang lalu, Alkitab mengatakan, ”Bapak-bapak, janganlah membuat anak-anakmu kesal, tetapi teruslah besarkan mereka dalam disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa.” (Efesus 6:4) Kata benda Yunani yang diterjemahkan ”disiplin” berarti ”asuhan, pelatihan, pengajaran”.9 Alkitab mengatakan bahwa disiplin, atau instruksi semacam itu, merupakan bukti dari kasih orang-tua. (Amsal 13:24) Anak-anak akan membuat kemajuan pesat bila mereka mempunyai pedoman moral yang jelas dan pertimbangan yang matang untuk membedakan apa yang benar dan yang salah. Disiplin merupakan petunjuk bahwa orang-tua mereka peduli terhadap mereka dan terhadap pribadi macam apa mereka kelak.

Namun wewenang orang-tua—”tongkat didikan”—tidak boleh kejam. (Amsal 22:15; 29:15) Alkitab memperingatkan para orang-tua, ”Jangan keterlaluan dalam mengoreksi anak-anakmu, jika demikian engkau akan membekukan hati mereka.” (Kolose 3:21, Phillips) Juga diakui bahwa hukuman fisik biasanya bukan metode mengajar yang paling efektif. Amsal 17:10 mengatakan, ”Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal.” Selain itu, Alkitab menganjurkan disiplin sebagai tindakan pencegahan. Di Ulangan 11:19, orang-tua didesak untuk memanfaatkan waktu santai guna menanamkan nilai-nilai moral dalam diri anak-anak mereka.—Lihat juga Ulangan 6:6, 7.

Nasihat Alkitab yang abadi kepada orang-tua memang jelas. Anak-anak membutuhkan disiplin yang penuh kasih dan konsisten. Pengalaman praktis memperlihatkan bahwa nasihat demikian benar-benar ampuh.

Menanggulangi Perintang-Perintang yang Memecah-belah Orang-Orang

Orang-orang dewasa ini dipecah-belah oleh perintang ras, nasional, dan etnik. Tembok pemisah buatan manusia ini turut menyebabkan pembantaian atas manusia-manusia yang tidak bersalah dalam peperangan di seluruh dunia. Jika dilihat dari kacamata sejarah, sungguh suram prospek bagi pria dan wanita, yang berbeda ras dan bangsa, untuk memandang dan memperlakukan satu sama lain dengan sederajat. ”Jalan keluarnya,” kata seorang negarawan Afrika, ”ada di hati kita.”11 Namun mengubah hati manusia tidaklah mudah. Akan tetapi, pertimbangkanlah bagaimana berita Alkitab memikat hati dan mengembangkan sikap sederajat.

Ajaran Alkitab bahwa Allah ”menjadikan dari satu pria setiap bangsa manusia” menutup kemungkinan timbulnya gagasan yang mengunggulkan ras tertentu. (Kisah 17:26) Ini memperlihatkan bahwa sebenarnya hanya ada satu ras—ras manusia. Alkitab selanjutnya menganjurkan kepada kita untuk ’menjadi peniru Allah’, yang tentang-Nya dikatakan, ”[Ia] tidak berat sebelah, tetapi dalam setiap bangsa orang yang takut kepadanya dan mengerjakan keadilbenaran dapat diterima olehnya.” (Efesus 5:1; Kisah 10:34, 35) Bagi orang-orang yang mencamkan Alkitab dengan serius dan yang benar-benar berupaya untuk hidup selaras dengan ajarannya, pengetahuan ini mendatangkan pengaruh yang mempersatukan. Pengaruhnya menjangkau tempat yang paling dalam, di lubuk hati manusia, menyingkirkan perintang buatan manusia yang memecah-belah orang-orang. Perhatikan sebuah contoh.

Sewaktu Hitler mengobarkan perang di seluruh Eropa, hanya ada satu kelompok orang Kristen—Saksi-Saksi Yehuwa—yang dengan teguh menolak untuk ikut serta dalam pembantaian atas manusia-manusia yang tidak bersalah. Mereka tidak bersedia ”mengangkat pedang” terhadap sesama manusia. Mereka mengambil pendirian ini karena hasrat mereka untuk menyenangkan Allah. (Yesaya 2:3, 4; Mikha 4:3, 5) Mereka benar-benar percaya akan apa yang Alkitab ajarkan—bahwa tidak ada bangsa atau ras yang lebih baik daripada yang lain. (Galatia 3:28) Karena pendirian mereka yang cinta damai, Saksi-Saksi Yehuwa termasuk di antara para narapidana pertama dalam kamp-kamp konsentrasi.—Roma 12:18.

Namun tidak semua yang mengaku mengikuti Alkitab mengambil pendirian demikian. Tidak lama setelah Perang Dunia II, Martin Niemöller, seorang pemimpin agama Protestan asal Jerman menulis, ”Siapa pun yang hendak menyalahkan Allah karena [peperangan] tidak mengenal, atau tidak ingin mengenal, Firman Allah. . . . Gereja-gereja Kristen, selama berabad-abad, telah berulang-kali memberikan diri untuk memberkati peperangan, tentara, dan senjata serta . . . berdoa dengan cara yang bertentangan dengan sifat-sifat Kristen untuk membinasakan musuh-musuh mereka di medan perang. Semua ini adalah kesalahan kita dan kesalahan bapak-bapak leluhur kita, namun Allah sama sekali tidak dapat dipersalahkan. Dan kita orang-orang Kristen dewasa ini merasa sangat malu terhadap apa yang disebut sekte Siswa-Siswa Alkitab yang Sungguh-Sungguh [Saksi-Saksi Yehuwa], yang ratusan dan ribuan anggotanya masuk ke kamp-kamp konsentrasi dan [bahkan] mati karena mereka menolak dinas militer dan menolak untuk menembak manusia.”12

Sampai hari ini, Saksi-Saksi Yehuwa terkenal karena persaudaraan mereka, yang mempersatukan orang-orang Arab dan Yahudi, Kroasia dan Serbia, Hutu dan Tutsi. Namun, Saksi-Saksi dengan senang hati mengakui bahwa persatuan demikian dimungkinkan, bukan karena mereka lebih unggul daripada orang-orang lain, namun karena mereka dimotivasi oleh kuasa dari berita Alkitab.—1 Tesalonika 2:13.

Pedoman Praktis yang Memajukan Kesehatan Mental yang Baik

Kesehatan fisik seseorang sering kali dipengaruhi oleh taraf kesehatan mental dan emosi. Misalnya, penelitian ilmiah telah meneguhkan pengaruh yang membahayakan dari kemarahan. ”Sebagian besar bukti yang ada memperlihatkan bahwa orang yang cepat marah lebih berisiko untuk mengidap penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan jantung (maupun penyakit lainnya) karena berbagai alasan, termasuk berkurangnya dukungan sosial, meningkatnya dampak fisik sewaktu marah, dan meningkatnya pemuasan diri dalam perilaku yang membahayakan kesehatan,” kata Dr. Redford Williams, Direktur dari Riset Perilaku di Pusat Medis Duke University, dan istrinya Virginia Williams, dalam buku mereka Anger Kills.13

Ribuan tahun sebelum penelitian-penelitian ilmiah tersebut, Alkitab, dalam istilah yang sederhana namun jelas, mengaitkan antara keadaan emosi dan kesehatan jasmani kita, ”Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” (Amsal 14:30; 17:22) Dengan bijaksana, Alkitab menasihati, ”Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu,” dan ”Janganlah lekas-lekas marah dalam hati.”—Mazmur 37:8; Pengkhotbah 7:9.

Alkitab juga memuat nasihat yang masuk akal untuk mengendalikan kemarahan. Misalnya, Amsal 19:11 (NW) mengatakan, ”Pemahaman seseorang pasti memperlambat kemarahannya, dan adalah keindahan di pihaknya untuk memaafkan pelanggaran.” Kata Ibrani untuk ”pemahaman” berasal dari sebuah kata kerja yang menarik perhatian kepada ”pengetahuan akan alasan” terjadinya sesuatu.14 Nasihat yang bijaksana adalah, ”Berpikirlah sebelum bertindak.” Berupaya memahami alasan-alasan dasar di balik cara orang-orang lain berbicara atau bertindak dapat membantu seseorang untuk lebih toleran—dan tidak cepat marah.—Amsal 14:29.

Satu bagian lain dari nasihat yang praktis terdapat di Kolose 3:13, yang mengatakan, ”Teruslah bertahan dengan sabar menghadapi satu sama lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati.” Kejengkelan-kejengkelan kecil merupakan bagian dari kehidupan. Pernyataan ”teruslah bertahan dengan sabar” memaksudkan agar kita mentoleransi hal-hal yang tidak kita sukai dalam diri orang-orang lain. ’Mengampuni’ berarti membiarkan kekesalan berlalu. Kadang-kadang adalah bijaksana untuk membiarkan perasaan-perasaan pahit berlalu daripada memupuknya; menyimpan kemarahan hanya akan menambah beban kita.—Lihat kotak ”Pedoman Praktis Bagi Hubungan Antarmanusia”.

Dewasa ini, ada banyak sumber nasihat dan bimbingan. Namun Alkitab benar-benar unik. Nasihatnya tidak sekadar teori, saran-sarannya juga tidak mencelakakan kita. Sebaliknya, hikmatnya telah terbukti ”sangat dapat dipercaya”. (Mazmur 93:5, NW) Selain itu, nasihat Alkitab bersifat abadi. Meskipun Alkitab dirampungkan hampir 2.000 tahun yang lalu, kata-katanya masih berlaku. Dan itu berlaku dengan pengaruh yang setara, tidak soal warna kulit atau negeri tempat kita tinggal. Kata-kata Alkitab juga memiliki kuasa—kuasa untuk mengubah orang-orang menjadi lebih baik. (Ibrani 4:12) Dengan demikian, membaca buku tersebut dan menerapkan prinsip-prinsipnya dapat meningkatkan mutu kehidupan saudara.

[Catatan Kaki]

Kata Ibrani da·vaq′, yang dalam hal ini diterjemahkan ”berpaut”, ”mengandung arti berdampingan dengan seseorang dalam kasih sayang dan keloyalan”.4 Dalam bahasa Yunani, kata yang diterjemahkan ’akan berpaut’ di Matius 19:5 dihubungkan dengan kata yang berarti ”menempel”, ”menyemen”, ”menyatukan dengan kuat”.5

Di zaman Alkitab, kata ”tongkat” (Bahasa Ibrani, she′vet) berarti sebuah ”batang” atau ”tongkat”, seperti yang digunakan oleh seorang gembala.10 Dalam ikatan kalimat ini, tongkat wewenang mengartikan bimbingan yang pengasih, bukan kekejaman yang brutal.—Bandingkan Mazmur 23:4.

Lihat pasal ”Latihlah Anak Saudara Sejak Bayi”, ”Membantu Anak Remaja Saudara Berhasil”, ”Adakah Seorang Pemberontak di Rumah?”, dan ”Lindungi Keluarga Saudara Terhadap Pengaruh yang Merusak” dalam buku Rahasia Kebahagiaan Keluarga, yang diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

[Blurb di hlm. 24]

Alkitab memberikan nasihat yang jelas dan masuk akal sehubungan dengan kehidupan keluarga

[Kotak di hlm. 23]

Ciri-Ciri Keluarga yang Sehat

  Beberapa tahun yang lalu, seorang pendidik dan penasihat keluarga mengadakan survei berskala luas. Dalam survei ini, lebih dari 500 penasihat profesional yang menangani masalah-masalah keluarga diminta mengomentari sifat-sifat yang mereka amati terdapat dalam keluarga yang ”sehat”. Menarik, di antara sifat-sifat yang paling umum yang dicantumkan adalah yang lama berselang telah disarankan oleh Alkitab.

  Kebiasaan komunikasi yang baik berada di urutan yang pertama, termasuk metode-metode yang efektif dalam menyelesaikan perselisihan. Suatu kebijakan umum yang terdapat dalam keluarga-keluarga yang sehat adalah ”jangan sampai seorang pun pergi tidur dengan perasaan marah terhadap satu sama lain”, tulis sang penulis dari survei tersebut.6 Namun, lebih dari 1.900 tahun yang lalu, Alkitab menasihati, ”Jadilah murka, namun jangan melakukan dosa; janganlah matahari terbenam seraya kamu dalam keadaan terpancing menjadi marah.” (Efesus 4:26) Pada zaman Alkitab, hari-hari dihitung dari matahari terbenam sampai matahari terbenam. Jadi, lama sebelum para pakar modern membuat penyelidikan atas keluarga-keluarga, Alkitab dengan bijaksana menasihatkan: Selesaikan dengan segera masalah-masalah yang memecah-belah—sebelum suatu hari berakhir dan memulai hari yang lain.

  Keluarga-keluarga yang sehat ”tidak akan memulai pokok pembicaraan yang dapat menimbulkan kemarahan persis menjelang mereka meninggalkan rumah atau menjelang tidur”, tulis sang penulis. ”Berulang-kali saya mendengar mereka mengatakan tentang ’waktu yang tepat’.”7 Keluarga-keluarga demikian tanpa disengaja mengumandangkan amsal Alkitab yang dicatat lebih dari 2.700 tahun yang lalu, ”Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 15:23; 25:11) Metafora ini mungkin menyinggung perhiasan emas dalam bentuk apel yang ditempatkan di atas nampan perak berukir—harta yang mahal dan indah pada zaman Alkitab. Ini menyampaikan keindahan dan nilai dari kata-kata yang diucapkan pada waktu yang tepat. Dalam keadaan-keadaan yang penuh tekanan, kata-kata yang tepat yang diucapkan pada waktu yang tepat sangat berharga.—Amsal 10:19.

[Kotak di hlm. 26]

Pedoman Praktis bagi Hubungan Antarmanusia

  ”Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5) Dalam sebagian besar kasus yang menyangkut pelanggaran kecil, adalah bijaksana untuk menahan kata-kata saudara, dengan demikian menghindari konflik emosi.

  ”Ada orang yang lancang mulutnya [”berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu”, ”NW”] seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” (Amsal 12:18) Berpikirlah sebelum saudara berbicara. Kata-kata yang tanpa dipikir lebih dahulu dapat melukai orang lain dan menghancurkan persahabatan.

  ”Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1) Dibutuhkan pengendalian diri untuk memberikan tanggapan dengan lemah lembut, karena haluan demikian sering kali mencegah berkembangnya problem dan mendukung hubungan yang penuh damai.

  ”Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” (Amsal 17:14) Adalah bijaksana untuk menjauhkan diri saudara dari keadaan yang mengundang amarah sebelum saudara hilang kesabaran.

  ”Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” (Pengkhotbah 7:9) Emosi sering kali mendahului tindakan. Orang yang cepat tersinggung adalah bodoh; karena haluannya dapat membawa kepada kata-kata atau tindakan yang gegabah.

[Gambar di hlm. 25]

Saksi-Saksi Yehuwa termasuk di antara narapidana pertama dalam kamp konsentrasi





Buku bagi Saudara?

”Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya,” tulis Salomo kira-kira 3.000 tahun yang lalu. (Pengkhotbah 12:12) Dewasa ini, pengamatan tersebut masih sama benarnya seperti dahulu. Selain buku-buku klasik standar, ribuan buku baru dicetak setiap tahun. Dengan tersedianya begitu banyak buku yang dapat saudara pilih, mengapa saudara hendaknya membaca Alkitab?

BANYAK orang membaca buku untuk mencari hiburan atau untuk mendapat informasi, atau barangkali untuk keduanya. Demikian pula halnya dengan membaca Alkitab. Itu dapat menjadi pembacaan yang membangun, bahkan menghibur. Namun Alkitab bukan buku sembarang buku. Ia merupakan sumber pengetahuan yang unik.—Pengkhotbah 12:9, 10.

Alkitab menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah lama dipikirkan manusia—pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa depan kita. Banyak orang bertanya-tanya: Dari mana kita berasal? Apa tujuan hidup ini? Bagaimana kita dapat memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan? Apakah akan selalu ada kehidupan di bumi? Seperti apa masa depan kita?

Secara keseluruhan, semua bukti kuat yang disajikan di brosur ini meneguhkan dengan jelas bahwa Alkitab akurat dan autentik. Kita telah membahas bagaimana nasihatnya yang praktis dapat membantu kita untuk menempuh kehidupan yang berarti dan bahagia dewasa ini. Karena jawaban-jawabannya yang memuaskan tentang masa sekarang, tentu saja jawabannya tentang masa lalu dan nubuat-nubuatnya tentang masa depan pantas diperhatikan dengan cermat.

Cara Mendapatkan Manfaat Maksimum

Banyak orang telah memulai pembacaan Alkitab namun berhenti sewaktu tertumbuk pada bagian-bagian yang sulit dimengerti. Jika itu yang saudara alami, ada beberapa hal yang dapat membantu.

Pilihlah terjemahan Alkitab yang handal dalam bahasa modern, seperti misalnya New World Translation of the Holy Scriptures. Ada yang mulai dengan membaca kisah-kisah Injil mengenai kehidupan Yesus. Pengajarannya bijaksana, seperti yang terdapat dalam Khotbah di Gunung, mencerminkan pemahaman yang kuat akan watak manusia dan menggariskan cara memperbaiki kondisi kehidupan kita.—Lihat Matius pasal 5 sampai 7.

Selain membaca Alkitab secara keseluruhan, metode pengajaran menurut topik dapat sangat informatif. Ini mencakup analisis terhadap apa yang Alkitab katakan tentang topik tertentu. Saudara mungkin akan terkejut sewaktu mengetahui apa yang sebenarnya Alkitab katakan tentang topik-topik seperti jiwa, surga, bumi, kehidupan, dan kematian, serta tentang Kerajaan Allah—apa gerangan kerajaan itu dan apa yang akan dicapainya. Saksi-Saksi Yehuwa memiliki suatu program pengajaran Alkitab menurut topik, yang disediakan secara cuma-cuma. Saudara dapat memperoleh keterangan tentang hal ini dengan menulis surat kepada Penerbit, menggunakan alamat yang cocok yang tertera di halaman 2.

Setelah menyelidiki bukti-buktinya, banyak orang berkesimpulan bahwa Alkitab berasal dari Allah, yang diidentifikasi sebagai ”Yehuwa” di dalam Alkitab. (Mazmur 83:18, NW) Saudara mungkin belum begitu yakin bahwa Alkitab berasal dari Allah. Kalau begitu, bagaimana jika saudara menyelidikinya sendiri? Kami yakin bahwa setelah mempelajarinya, merenungkannya, dan mungkin mengalami sendiri nilai praktis dari hikmatnya yang abadi, saudara akan merasakan bahwa Alkitab benar-benar buku bagi semua orang, dan khususnya—buku bagi saudara.

[Catatan Kaki]

Diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

Buku yang telah membantu banyak orang dalam metode pengajaran Alkitab menurut topik adalah buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? atau buku sejenis yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.





Referensi Disusun Per Pasal

Buku yang Hendaknya Saudara Baca

 1. The New Encyclopædia Britannica, Micropædia, 1987, Jil. 2, hlm. 194.

 2. Emerging Trends, November 1994, hlm. 4.

 3. The Book of Books: An Introduction, oleh Solomon Goldman, 1948, hlm. 219.

Buku yang Disalahgambarkan

 1. A History of the Warfare of Science With Theology in Christendom, oleh Andrew Dickson White, 1897, Jil. I, hlm. 137-8.

 2. Galileo Galilei: A Biography and Inquiry Into His Philosophy of Science, oleh Ludovico Geymonat, 1965, hlm. 86.

 3. New Scientist, November 7, 1992, hlm. 5.

 4. Galileo Galilei, hlm. 68.

 5. Galileo Galilei, hlm. 70.

 6. Wilson’s Old Testament Word Studies, oleh William Wilson, 1978, hlm. 109.

Buku yang Paling Banyak Disiarkan di Dunia

 1. The World Book Encyclopedia, 1994, Jil. 2, hlm. 279.

 2. Scriptures of the World, diedit oleh Liana Lupas dan Erroll F. Rhodes, 1993, hlm. 5.

Bagaimana Buku Ini Dapat Tetap Bertahan?

 1. Die Überlieferung der Bibel (Penyampaian Alkitab), oleh Oscar Paret, 1950, hlm. 70-1.

 2. The Encyclopedia of Judaism, diedit oleh Geoffrey Wigoder, 1989, hlm. 468.

 3. An Introduction to the Critical Study and Knowledge of the Holy Scriptures, oleh Thomas Hartwell Horne, 1856, Jil. I, hlm. 201.

 4. An Introduction to the Critical Study and Knowledge of the Holy Scriptures, hlm. 201-2.

 5. Biblical Archaeology Review, Desember 1975, hlm. 28.

 6. Textual Criticism of the Hebrew Bible, oleh Emanuel Tov, 1992, hlm. 106.

 7. A General Introduction to the Bible, oleh Norman L. Geisler dan William E. Nix, 1968, hlm. 263.

 8. The Dead Sea Scrolls, oleh Millar Burrows, 1978, hlm. 303.

 9. Recently Published Greek Papyri of the New Testament, oleh Bruce M. Metzger, 1949, hlm. 447-8.

10. Our Bible and the Ancient Manuscripts, oleh Sir Frederic Kenyon, 1958, hlm. 55.

Buku yang ”Berbicara” dalam Bahasa yang Hidup

 1. William Tyndale—A Biography, oleh R. Demaus, 1871, hlm. 63.

 2. William Tyndale—A Biography, hlm. 482.

 3. Christianity in Africa as Seen by Africans, diedit oleh Ram Desai, 1962, hlm. 27.

 4. Missionary Labours and Scenes in Southern Africa, oleh Robert Moffat, 1842, hlm. 458-9.

 5. Life and Labours of Robert Moffat, oleh William Walters, 1882, hlm. 145.

 6. A History of Christian Missions, oleh Stephen Neill, revisi, 1987, hlm. 223-4.

 7. A Concise History of the Christian World Mission, oleh J. Herbert Kane, revisi 1987, hlm. 166.

 8. The Book of a Thousand Tongues, diedit oleh Eugene A. Nida, revisi 1972, hlm. 56.

 9. Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature, oleh John McClintock dan James Strong, cetak ulang 1981, Jil. VI, hlm. 655.

Apa Isi Buku Ini

 1. Theological Dictionary of the New Testament, diedit oleh Gerhard Kittel, 1983, Jil. I, hlm. 617.

Apakah Buku Ini Dapat Dipercaya?

 1. Two Apologies, oleh Richard Watson, 1820, hlm. 57.

 2. Israel Exploration Journal, 1993, Jil. 43, Nos. 2-3, hlm. 81, 90, 93.

 3. Biblical Archaeology Review, Maret/April 1994, hlm. 26.

 4. Biblical Archaeology Review, Mei/Juni 1994, hlm. 32.

 5. Biblical Archaeology Review, November/Desember 1994, hlm. 47.

 6. Ancient Near Eastern Texts, diedit oleh James B. Pritchard, 1974, hlm. 288.

 7. Nineveh and Babylon, oleh Sir Austen Henry Layard, 1882, hlm. 51-2.

 8. Archaeological Encyclopedia of the Holy Land, diedit oleh Avraham Negev, 1972, hlm. 329.

 9. Ancient Near Eastern Texts, hlm. 305-6.

10. The New Archeological Discoveries, oleh Camden M. Cobern, 1918, hlm. 547.

11. Ancient Records of Assyria and Babylonia, oleh Daniel D. Luckenbill, 1926, Jil. I, hlm. 7.

12. Ancient Records of Assyria and Babylonia, hlm. 140.

Apakah Buku Ini Selaras dengan Sains?

 1. The World Book Encyclopedia, 1994, Jil. 1, hlm. 557.

 2. The Divine Institutes, oleh Lactantius, Buku III. XXIV.

 3. Gesenius’s Hebrew and Chaldee Lexicon to the Old Testament Scriptures, diterjemahkan oleh Samuel P. Tregelles, 1901, hlm. 263.

 4. On the Heavens, oleh Aristotle, Buku II. 13. 294a, 294b.

 5. The New Encyclopædia Britannica, Macropædia, 1995, Jil. 16, hlm. 764.

 6. The Planet-Girded Suns, oleh Sylvia Louise Engdahl, 1974, hlm. 41.

 7. A Comprehensive Etymological Dictionary of the Hebrew Language for Readers of English, oleh Ernest Klein, 1987, hlm. 75.

 8. The New Encyclopædia Britannica, Micropædia, 1995, Jil. 4, hlm. 342.

 9. The International Standard Bible Encyclopaedia, diedit oleh James Orr, 1939, Jil. IV, hlm. 2393.

10. Grundriss der Medizin der alten Ägypter IV1, Übersetzung der medizinischen Texte, oleh H. von Deines, H. Grapow, W. Westendorf, 1958, No. 541.

Buku yang Praktis bagi Kehidupan Modern

 1. Religion May Be Hazardous to Your Health, oleh Eli S. Chesen, 1973, hlm. 83.

 2. UN Chronicle, Maret 1994, hlm. 43, 48.

 3. Traits of a Healthy Family, oleh Dolores Curran, 1983, hlm. 36.

 4. Theological Wordbook of the Old Testament, diedit oleh R. Laird Harris, 1988, Jil. 1, hlm. 177-8.

 5. The New International Dictionary of New Testament Theology, diedit oleh Colin Brown, 1976, Jil. 2, hlm. 348-9; An Expository Dictionary of New Testament Words, oleh W. E. Vine, 1962, hlm. 196.

 6. Traits of a Healthy Family, hlm. 54.

 7. Traits of a Healthy Family, hlm. 54.

 8. Criativa, Mei 1992, hlm. 123.

 9. The New International Dictionary of New Testament Theology, 1978, Jil. 3, hlm. 775.

10. Theological Wordbook of the Old Testament, Jil. 2, hlm. 897.

11. Report of the Seminar on the political, historical, economic, social and cultural factors contributing to racism, racial discrimination and “apartheid,” United Nations Centre for Human Rights, Jenewa, Swiss, 1991, hlm. 13.

12. Ach Gott vom Himmel sieh darein—Sechs Predigten (Ya Allah, Lihatlah dari Surga—Enam Khotbah), oleh Martin Niemöller, 1946, hlm. 27-8.

13. Anger Kills, oleh Redford Williams dan Virginia Williams, 1993, hlm. 58.

14. Theological Wordbook of the Old Testament, Jil. 2, hlm. 877.

Buku Nubuat

 1. De Divinatione, oleh Cicero, Buku II. XXIV.

 2. Future Shock, oleh Alvin Toffler, 1970, hlm. 394, 396.

 3. History, oleh Herodotus, Buku I. 190.

 4. Ancient Near Eastern Texts, hlm. 306.

 5. History, Buku I. 191.

 6. History, Buku I. 191.

 7. Cyropaedia, oleh Xenophon, Buku VII. v. 33.

 8. Against Apion, oleh Josephus, Buku I. 38-41 (Whiston numbering, Buku I. par. 8).

 9. Commentary on Isaiah, oleh Jerome, Yesaya 13:21, 22.