Rabu, 25 September 2013

Mengapa Begitu Banyak Penderitaan dan Ketidakadilan?--bagiam 6


 

 

1 Akan tetapi, jika Pribadi Yang Mahatinggi bermaksud agar orang-orang yang sempurna hidup di bumi selama-lamanya di tengah-tengah keadaan firdaus dan jika maksud-tujuan-Nya belum berubah, mengapa tidak ada firdaus sekarang? Mengapa, sebaliknya, manusia mengalami banyak penderitaan dan ketidakadilan selama berabad-abad?

2 Tak diragukan, sejarah umat manusia sarat dengan kesengsaraan yang disebabkan oleh peperangan, penaklukan imperialistis, eksploitasi, ketidakadilan, kemiskinan, bencana, penyakit, dan kematian. Mengapa begitu banyak perkara-perkara buruk terjadi atas begitu banyak korban yang tidak bersalah? Jika Allah mahakuasa, mengapa Ia mengizinkan penderitaan yang luar biasa banyak selama ribuan tahun? Karena Allah merancang dan mengatur alam semesta begitu baik, mengapa Ia mengizinkan kekacauan dan kehancuran atas bumi?

Sebuah Contoh

3 Marilah kita menggunakan sebuah contoh untuk melukiskan mengapa Allah yang tertib mengizinkan kekacauan di atas bumi. Coba bayangkan, saudara berjalan di sebuah hutan dan melihat sebuah rumah. Ketika saudara memeriksa rumah tersebut, saudara melihat bahwa rumah itu tidak terawat. Jendelanya pecah, atapnya rusak berat, serambi depan penuh dengan lubang-lubang, pintunya bergantung pada satu engsel, dan ledeng-ledengnya tidak berfungsi.

4 Menghadapi kerusakan ini, apakah saudara akan menyimpulkan bahwa tidak mungkin ada perancang yang cerdas yang telah merancang rumah tersebut? Apakah kerusakan itu meyakinkan saudara bahwa rumah tersebut muncul secara kebetulan saja? Atau jika saudara menyimpulkan bahwa seseorang memang merancang dan mendirikannya, apakah saudara akan merasa bahwa orang tersebut tidak ahli dan tidak berperasaan?

5 Sewaktu saudara memeriksa bangunannya dengan lebih saksama, saudara melihat bahwa pada mulanya ini dibangun dengan baik dan membuktikan adanya perawatan yang pengasih. Namun sekarang ini benar-benar rusak dan sudah akan roboh. Apa yang dapat diperlihatkan oleh kerusakan dan problem-problemnya? Hal-hal tersebut dapat menyatakan bahwa (1) pemiliknya meninggal dunia; (2) ia adalah pembangun rumah yang cakap namun tidak lagi berminat akan rumah itu; atau (3) ia menyewakan miliknya untuk sementara kepada penghuni yang tidak mempunyai penghargaan. Yang terakhir mirip dengan situasi berkenaan bumi ini.

Di Mana Letak Kesalahannya

6 Dari catatan Alkitab yang mula-mula, kita belajar bahwa bukan maksud-tujuan Allah agar umat manusia menderita atau mati. Orang-tua kita yang pertama, Adam dan Hawa, mati hanya karena mereka tidak menaati Allah. (Kejadian, pasal 2 dan 3) Sewaktu mereka tidak taat, mereka tidak lagi melakukan kehendak Allah. Mereka menarik diri dari pemeliharaan Allah. Sebenarnya, mereka memutuskan hubungan mereka dengan Allah, ”sumber hayat”.—Mazmur 36:10.

7 Seperti mesin yang menjadi lambat dan berhenti sewaktu hubungannya dengan sumber listrik diputuskan, tubuh dan pikiran mereka memburuk. Sebagai akibatnya, Adam dan Hawa mengalami kemunduran, menjadi tua, dan akhirnya mati. Apa yang kemudian terjadi? Mereka kembali ke tempat asal mereka, ”Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Allah telah memperingatkan mereka bahwa kematian akan menjadi akibat dari ketidaktaatan kepada hukum-hukum-Nya, ”Pastilah engkau mati.”—Kejadian 2:17; 3:19.

8 Orang-tua kita yang pertama tidak hanya mati namun semua keturunan mereka, seluruh ras manusia, juga ditaklukkan kepada kematian. Mengapa? Karena menurut hukum genetika, anak-anak mewarisi karakteristik orang-tua mereka. Dan apa yang diwarisi oleh semua anak dari orang-tua kita yang pertama adalah ketidaksempurnaan dan kematian. Roma 5:12 memberi tahu kita, ”Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang [Adam, bapak leluhur manusia], dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa [dengan mewarisi ketidaksempurnaan, yaitu kecenderungan untuk berdosa].” Dan karena hanya dosa, ketidaksempurnaan, dan kematian yang dikenal oleh manusia, ada yang memandangnya sebagai hal yang wajar dan tidak terelakkan. Namun, manusia yang pertama diciptakan dengan kesanggupan dan keinginan untuk hidup selama-lamanya. Itulah sebabnya kebanyakan orang mengganggap prospek bahwa kehidupan mereka akan diperpendek oleh kematian sangat mengecewakan.

Mengapa Begitu Lama?

9 Mengapa Allah mengizinkan manusia menempuh jalan mereka sendiri untuk waktu yang begitu lama? Mengapa Ia mengizinkan penderitaan selama berabad-abad? Satu alasan vital adalah bahwa suatu sengketa yang sangat penting diajukan: Siapa yang memiliki hak untuk memerintah? Haruskah Allah menjadi Penguasa manusia, atau apakah mereka dapat memerintah diri sendiri dengan berhasil terpisah dari-Nya?

10 Umat manusia diciptakan dengan kehendak bebas, yaitu, kesanggupan untuk memilih. Mereka tidak diciptakan seperti robot atau seperti binatang, yang dibimbing terutama oleh naluri. Maka, manusia dapat memilih siapa yang akan mereka layani. (Ulangan 30:19; 2 Korintus 3:17) Oleh karena itu, Firman Allah menasihati, ”Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1 Petrus 2:16) Namun, meskipun manusia memiliki karunia yang menakjubkan berupa kebebasan memilih, mereka harus menerima akibat dari langkah pilihan mereka.

11 Orang-tua kita yang pertama membuat pilihan yang salah. Mereka memilih haluan bebas dari Allah. Memang, Allah dapat saja menghukum mati pasangan manusia pertama yang memberontak ini segera setelah mereka menyalahgunakan kehendak bebas mereka. Namun hal ini tidak akan menyelesaikan masalah berkenaan hak Allah untuk memerintah atas umat manusia. Karena pasangan manusia yang pertama ingin bebas dari Allah, pertanyaan ini harus dijawab: Dapatkah haluan tersebut menghasilkan kehidupan yang bahagia dan berhasil? Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan membiarkan orang-tua kita yang pertama dan keturunan mereka menempuh haluan mereka sendiri, karena itu merupakan pilihan mereka. Waktu akan memperlihatkan apakah manusia diciptakan untuk berhasil memerintah diri mereka terlepas dari Pencipta mereka.

12 Penulis Alkitab, Yeremia, mengetahui apa hasilnya kelak. Dibimbing oleh roh kudus atau tenaga aktif Allah yang penuh kuasa, ia dengan jujur menulis, ”Aku tahu, ya [Yehuwa], bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya. Hajarlah [”koreksilah”, NW] aku, ya [Yehuwa].” (Yeremia 10:23, 24) Ia mengetahui bahwa manusia harus memiliki bimbingan dari hikmat surgawi Allah. Mengapa? Jelas karena Allah tidak menciptakan manusia untuk dapat berhasil terpisah dari bimbingan-Nya.

13 Hasil dari pemerintahan manusia selama ribuan tahun memperlihatkan tanpa keraguan apa pun bahwa adalah di luar kemampuan manusia untuk mengendalikan urusan-urusan mereka terlepas dari Pencipta mereka. Setelah mencobanya, mereka hanya dapat menyalahkan diri sendiri atas hasil-hasil yang mencelakakan. Alkitab membuatnya jelas, ”Gunung Batu [Allah], yang pekerjaannya sempurna, Karena segala jalannya adil. Allah yang setia, padanya tiada ketidakadilan; Adil benar dan lurus dia. Mereka telah bertindak secara merusak di pihak mereka sendiri; Mereka yang bukan anak-anaknya, cacat itu dari mereka sendiri.”—Ulangan 32:4, 5, NW.

Allah Akan Segera Campur Tangan

14 Karena telah mengizinkan ditunjukkannya banyak bukti kegagalan pemerintahan manusia selama waktu berabad-abad, Allah kini dapat mulai campur tangan dalam urusan manusia dan menghentikan penderitaan, kesedihan, penyakit, dan kematian. Karena telah mengizinkan manusia mencapai puncak prestasi mereka dalam sains, industri, kedokteran, dan bidang-bidang lain, Allah tidak perlu lagi memberikan waktu berabad-abad kepada manusia yang bebas dari Pencipta mereka untuk memperlihatkan apakah mereka sanggup menghasilkan dunia yang damai seperti firdaus. Mereka belum dan tidak akan pernah sanggup. Haluan bebas terlepas dari Allah telah menghasilkan dunia yang sangat buruk, penuh kebencian dan membawa maut.

15 Meskipun ada banyak penguasa yang tulus yang ingin membantu manusia, upaya mereka tidak berhasil. Di mana-mana dewasa ini terdapat bukti kegagalan dalam pemerintahan manusia. Itulah sebabnya Alkitab menasihati, ”Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.”—Mazmur 146:3.