Minggu, 18 Agustus 2013

Mengapa Allah Mengizinkan Penderitaan?


Pasal 16

 
ALASAN umum yang dikemukakan banyak orang yang meragukan adanya Pencipta ialah merajalelanya penderitaan di dunia. Selama berabad-abad, ada begitu banyak kekejaman, pertumpahan darah, dan kejahatan yang keji sehingga jutaan orang yang tak bersalah sangat menderita. Jadi, banyak orang bertanya, ’Jika Allah ada, mengapa Ia mengizinkan semua ini?’ Sebagaimana telah kita lihat, catatan Alkitab sangat cocok dengan fakta-fakta tentang penciptaan, maka apakah Alkitab juga bisa membantu kita mengerti mengapa Pencipta yang mahakuasa mengizinkan begitu banyak penderitaan untuk waktu yang sedemikian lama?

2 Pasal-pasal awal buku Kejadian memberikan latar belakang untuk menjawab pertanyaan itu. Di situ diuraikan tentang diciptakannya suatu dunia tanpa penderitaan. Pria dan wanita yang pertama ditempatkan dalam sebuah firdaus, taman indah yang disebut Eden, dan mereka diberi pekerjaan yang menyenangkan dan menantang. Mengenai bumi, mereka diperintahkan untuk ”menggarap dan mengurusnya”. Mereka juga mengawasi ”ikan-ikan di laut dan makhluk-makhluk terbang di langit dan segala makhluk hidup yang merayap di bumi”.—Kejadian 1:28; 2:15.

3 Selain itu, karena manusia pertama diciptakan dengan tubuh dan pikiran yang sempurna, mereka tidak mempunyai cacat apa pun. Jadi, tidak ada yang bisa menyebabkan mereka sakit, tua, atau mati. Sebaliknya, mereka memiliki prospek untuk terus hidup tanpa batas dalam firdaus di bumi.—Ulangan 32:4.

4 Pasangan pertama itu juga diperintahkan untuk ’beranak cucu dan bertambah banyak dan memenuhi bumi’. Kalau mereka beranak cucu, keluarga manusia akan bertambah besar dan batas-batas Firdaus akan diperluas hingga akhirnya meliputi seluruh bumi. Dengan demikian, umat manusia akan menjadi suatu keluarga yang bersatu, yang semuanya hidup dengan kesehatan yang sempurna di atas bumi firdaus.

Perlunya Mengakui Pemerintahan Allah

5 Akan tetapi, agar keharmonisan ini terus berlangsung, pasangan manusia pertama harus mengakui hak Pencipta mereka untuk mengatur urusan manusia. Artinya, mereka harus mengakui kedaulatan-Nya. Mengapa? Pertama-tama, karena hal itu sudah sepantasnya. Pencipta segala sesuatu tentu berhak mengendalikan ciptaan-Nya hingga taraf tertentu. Prinsip ini terlihat dalam hukum kepemilikan selama berabad-abad. Selain itu, manusia harus rela menerima petunjuk Pencipta mereka karena fakta penting ini: Mereka tidak dirancang dengan kemampuan untuk mengatur diri sendiri dengan hasil yang memuaskan terlepas dari Pencipta mereka, sama seperti mereka tidak dapat tetap hidup jika tidak makan, minum, dan bernapas. Sejarah telah membuktikan kebenaran Alkitab yang mengatakan, ”Manusia tidak mempunyai kuasa untuk menentukan jalannya sendiri. Manusia, yang berjalan, tidak mempunyai kuasa untuk mengarahkan langkahnya.” (Yeremia 10:23) Selama manusia mengikuti pedoman yang ditetapkan Pencipta mereka, kehidupan akan langgeng, sukses, dan bahagia.

6 Selain itu, manusia diciptakan sebagai makhluk yang bebas memilih. Mereka tidak diciptakan seperti robot, atau seperti binatang atau serangga yang terpaksa melakukan hal-hal tertentu karena dorongan naluri semata. Akan tetapi, kebebasan ini relatif, tidak mutlak. Ini harus dijalankan secara bertanggung jawab, di dalam batas-batas hukum Allah, hukum yang dibuat demi kebaikan semua. Prinsip ini dinyatakan dalam Alkitab, ”Jadilah umat yang merdeka, tetapi dengan memegang kemerdekaanmu, bukan sebagai selubung untuk menutupi keburukan, melainkan sebagai budak-budak Allah.” (1 Petrus 2:16) Jika tidak ada hukum yang mengatur hubungan antarmanusia, akan timbul anarki, dan kehidupan semua orang akan dirugikan.

7 Jadi, kebebasan relatif itu berguna, tetapi terlalu banyak kebebasan akan merugikan. Jika Anda memberikan terlalu banyak kebebasan kepada seorang anak, ia mungkin akan bermain di jalan yang ramai, atau menaruh tangannya di atas kompor yang panas. Kebebasan tanpa batas untuk memutuskan sendiri segala sesuatu tanpa mempertimbangkan petunjuk sang Pencipta bisa menimbulkan berbagai macam problem. Itulah yang terjadi atas manusia pertama. Mereka sengaja menyalahgunakan karunia kebebasan mereka. Mereka mengambil keputusan yang salah untuk melepaskan diri dari Pencipta mereka dan dengan demikian ”menjadi seperti Allah”. Mereka merasa mampu menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah.—Kejadian 3:5.

8 Sewaktu manusia pertama meninggalkan petunjuk Pencipta mereka, apa yang terjadi atas mereka dapat disamakan dengan apa yang terjadi bila Anda mencabut steker sebuah kipas angin listrik. Selama kipas angin itu terhubung dengan sumber listrik, ia terus berputar. Tetapi, jika hubungannya diputuskan, putaran kipasnya akan melambat dan akhirnya berhenti sama sekali. Itulah yang terjadi ketika Adam dan Hawa melepaskan diri dari Pencipta mereka, ”sumber kehidupan”. (Mazmur 36:9) Karena mereka sengaja memilih untuk tidak bergantung pada Pencipta mereka, Ia membiarkan mereka merasakan sepenuhnya akibat pilihan mereka dengan membiarkan mereka bertindak sesukanya. Sebuah prinsip Alkitab mengatakan, ”Jika kamu meninggalkan [Allah], dia akan meninggalkan kamu.” (2 Tawarikh 15:2) Tanpa kekuatan penunjang dari Pencipta mereka, sedikit demi sedikit pikiran dan tubuh mulai rusak. Akhirnya, mereka menjadi tua dan mati.—Kejadian 3:19; 5:5.

9 Ketika memilih untuk lepas dari sang Pencipta, Adam dan Hawa menjadi tidak sempurna. Ini terjadi sebelum mereka mempunyai anak. Akibatnya, ketika mereka kemudian mempunyai anak, anak-anak ini mewarisi ketidaksempurnaan orang tua mereka. Maka, manusia pertama menjadi seperti cetakan yang cacat. Segala yang mereka hasilkan juga cacat. Karena itu, kita semua terlahir tidak sempurna dan mewarisi cacat berupa usia tua, penyakit, dan kematian. Karena tidak sempurna, dan terpisah dari sang Pencipta serta hukum-hukum-Nya, manusia tanpa terbendung melakukan banyak sekali kebodohan. Itu sebabnya, sejarah manusia penuh dengan penderitaan, kesedihan, penyakit, dan kematian.—Mazmur 51:5; Roma 5:12.

10 Apakah ini berarti manusialah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas semua kefasikan? Tidak, ada penyebab lain. Manusia bukanlah satu-satunya ciptaan yang cerdas. Sebelumnya, Allah sudah menciptakan banyak sekali makhluk roh di surga. (Ayub 38:4, 7) Mereka pun memiliki kebebasan memilih, apakah mau menerima petunjuk Pencipta mereka atau tidak. Salah satu dari makhluk-makhluk roh itu memilih untuk memupuk keinginan akan kebebasan. Ambisinya berkembang sedemikian rupa sehingga mendorongnya untuk menantang wewenang Allah. Ia mengatakan kepada Hawa, istri Adam, bahwa mereka bisa melanggar hukum Allah dan tetap hidup. Ia meyakinkan Hawa, ”Kamu pasti tidak akan mati.” (Kejadian 3:4; Yakobus 1:13-15) Kata-katanya itu menyiratkan bahwa mereka tidak membutuhkan Pencipta untuk terus hidup dan bahagia. Sebenarnya, ia mengatakan bahwa dengan melanggar hukum, keadaan mereka akan lebih baik, mereka bisa menjadi seperti Allah. Dengan demikian, ia mempertanyakan keabsahan hukum Allah dan menebarkan keraguan akan cara Allah memerintah mereka. Ya, ia meragukan hak Pencipta mereka untuk memerintah. Karena memberikan gambaran yang salah ini, ia pun disebut Setan, yang berarti ”penentang”, dan Iblis, yang berarti ”pemfitnah”. Selama 6.000 tahun yang telah berlalu, sikap Setan ini telah mempengaruhi umat manusia, menganjurkan politik ’menguasai atau merusak’.—Lukas 4:2-8; 1 Yohanes 5:19; Penyingkapan 12:9.

11 Akan tetapi, mengapa Allah tidak membinasakan para pelanggar hukum ini, manusia maupun makhluk roh, sejak awal mula? Jawabannya adalah karena adanya sengketa-sengketa penting yang dihadapkan kepada semua makhluk yang cerdas. Salah satunya menyangkut pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah dengan terlepas dari kedaulatan Allah, manusia akan mendapat manfaat yang langgeng? Apakah petunjuk Allah bagi manusia lebih baik bagi mereka, atau apakah petunjuk manusia sendiri yang lebih baik? Dapatkah manusia memerintah dunia ini dengan hasil yang memuaskan terlepas dari Pencipta mereka? Singkatnya, apakah manusia benar-benar membutuhkan bimbingan Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang hanya dapat diberikan dengan berlalunya waktu.

Mengapa Begitu Lama?

12 Tetapi, mengapa Allah membiarkan begitu banyak waktu berlalu sebelum menyelesaikan persoalan ini—sekitar 6.000 tahun sampai sekarang? Apakah masalah itu tidak bisa dituntaskan jauh lebih awal? Nah, jika Allah sudah turun tangan sejak dahulu, bisa saja timbul tuduhan bahwa manusia tidak diberi cukup waktu untuk mengembangkan pemerintahan yang kompeten dan teknologi yang memadai untuk mewujudkan perdamaian dan kemakmuran bagi semua. Jadi, Allah yang berhikmat tahu bahwa untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul dibutuhkan waktu, dan Ia pun memberikannya.

13 Selama berabad-abad, segala bentuk pemerintahan, segala macam sistem sosial dan ekonomi telah dicoba. Selain itu, manusia mempunyai cukup waktu untuk membuat banyak kemajuan teknologi, termasuk memanfaatkan atom dan pergi ke bulan. Apa hasilnya? Apakah semua ini menghasilkan dunia yang benar-benar menyejahterakan seluruh keluarga manusia?

14 Sama sekali tidak. Apa pun yang telah dicoba manusia tidak mendatangkan perdamaian dan kebahagiaan sejati bagi semua. Sebaliknya, setelah sekian lama, keadaannya malah semakin tidak stabil. Kejahatan, perang, keluarga berantakan, kemiskinan, dan kelaparan melanda banyak negeri. Eksistensi manusia sendiri terancam. Rudal-rudal nuklir dengan daya musnah yang mengerikan dapat membinasakan sebagian besar, bahkan seluruh umat manusia. Jadi, meskipun sudah ribuan tahun berupaya, meskipun sudah berabad-abad mengumpulkan pengalaman, dan meskipun sudah mencapai kemajuan-kemajuan baru di bidang teknologi, umat manusia belum berhasil dalam perjuangan mengatasi problem-problem mereka yang paling mendasar.

15 Bahkan bumi sendiri telah rusak. Ketamakan dan kelalaian manusia telah mengubah beberapa daerah menjadi gurun karena penggundulan hutan-hutan lindung. Berbagai bahan kimia dan limbah lain telah mencemari tanah, laut, dan udara. Apa yang Alkitab gambarkan 2.000 tahun yang lalu tentang kondisi kehidupan di bumi semakin terbukti benar dewasa ini, ”Semua ciptaan sama-sama terus mengerang dan sama-sama berada dalam kesakitan sampai sekarang.”—Roma 8:22.

Apa yang Telah Dibuktikan?

16 Apa yang telah dibuktikan dengan pasti oleh kejadian-kejadian selama ini? Bahwa pemerintahan manusia yang terlepas dari Penciptanya tidaklah memuaskan. Jelaslah, pengelolaan urusan bumi tidak mungkin berhasil tanpa bimbingan Pencipta manusia. Sejarah terus meneguhkan penilaian Alkitab yang terus terang mengenai upaya manusia untuk memerintah, ”Manusia menguasai manusia sehingga ia celaka.”—Pengkhotbah 8:9.

17 Upaya manusia benar-benar mencelakakan, sungguh kontras dengan ketertiban dan ketepatan di alam semesta yang diatur oleh hukum-hukum Penciptanya! Jelaslah, manusia juga membutuhkan pengaturan, atau bimbingan, semacam ini dalam mengatur urusan mereka, karena mengabaikan pengawasan Allah telah terbukti mencelakakan. Fakta memang memperlihatkan bahwa kita membutuhkan arahan Allah, sama pastinya seperti kita membutuhkan udara, air, dan makanan.—Matius 4:4.

18 Selain itu, dengan memberikan cukup waktu untuk menyelesaikan sengketa sehubungan dengan pemerintahan manusia, Allah menetapkan preseden yang permanen untuk masa depan. Hal itu dapat disamakan dengan suatu kasus yang fundamental di Mahkamah Agung. Jadi, sengketa itu telah diselesaikan untuk selama-lamanya: Pemerintahan manusia yang terlepas dari Allah tidak dapat menghasilkan keadaan yang baik di bumi. Maka, di masa depan, jika ada makhluk yang menantang cara Allah, ia tidak perlu lagi diberi waktu ribuan tahun untuk mencoba membuktikan tantangannya. Segala sesuatu yang perlu dibuktikan telah dibuktikan selama waktu yang Allah berikan, yaitu kira-kira 6.000 tahun. Jadi, untuk selama-lamanya di masa depan, tidak akan ada lagi pemberontak yang diizinkan untuk merusak perdamaian dan kebahagiaan di bumi, atau untuk mengganggu kedaulatan Allah di mana pun di seluruh alam semesta ini. Seperti yang Alkitab katakan dengan tegas, ”Kesesakan tidak akan timbul kedua kali!”—Nahum 1:9.

Jalan Keluar dari Allah

19 Demikianlah Alkitab memberikan penjelasan yang masuk akal mengenai adanya penderitaan di dunia yang Allah ciptakan. Alkitab juga menunjukkan dengan jelas bahwa sebentar lagi Allah akan menggunakan kemahakuasaan-Nya untuk menyingkirkan para penyebab penderitaan. Amsal 2:21, 22 mengatakan, ”Orang yang lurus hatilah yang akan berdiam di bumi, dan orang yang tidak bercelalah yang akan disisakan di situ. Sedangkan orang fasik, mereka akan dimusnahkan dari bumi; dan mengenai pengkhianat, mereka akan direnggut dari situ.” Ya, Allah akan ”membinasakan orang-orang yang sedang membinasakan bumi”. (Penyingkapan 11:18) Pada akhirnya, Setan si Iblis juga akan dimusnahkan. (Roma 16:20) Allah tidak akan memberikan lebih banyak waktu bagi orang fasik untuk merusak ciptaan-Nya yang indah, bumi ini. Siapa pun yang tidak mau menyesuaikan diri dengan hukum-hukum-Nya akan dibinasakan. Hanya orang yang melakukan kehendak Allah yang akan terus hidup. (1 Yohanes 2:15-17) Anda tentu tidak akan membuat taman bunga di sebidang tanah yang penuh lalang, atau menempatkan ayam dan rubah di dalam satu kandang. Demikian pula, apabila Allah memulihkan Firdaus untuk manusia yang adil-benar, Ia tidak akan membiarkan para perusak bebas berkeliaran di sana.

20 Meskipun penderitaan selama berabad-abad sangat menyakitkan bagi mereka yang telah menjadi korbannya, hal itu memenuhi tujuan yang baik. Ini dapat diumpamakan dengan membiarkan anak Anda menjalani operasi yang menyakitkan demi menyembuhkan penyakit yang serius. Manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar daripada kesakitan sementara. Selain itu, masa depan yang Allah maksudkan untuk bumi ini dan manusia di atasnya akan melenyapkan kenangan buruk tentang masa lalu, ”Hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, ataupun timbul lagi di dalam hati.” (Yesaya 65:17) Jadi, penderitaan apa pun yang telah dialami manusia akhirnya akan dihapus dari ingatan orang-orang yang hidup pada waktu pemerintahan Allah menguasai seluruh bumi. Pada waktu itu, sukacita akan menggantikan semua kenangan buruk yang ada sebelumnya, karena Allah ”’akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.’ Lalu Pribadi yang duduk di atas takhta itu mengatakan, ’Lihat! Aku membuat segala sesuatu baru.’”—Penyingkapan 21:4, 5.

21 Yesus Kristus menyebut Orde Baru yang akan datang sebagai ”penciptaan kembali”. (Matius 19:28) Orang-orang yang menjadi korban penderitaan dan kematian di masa lalu kelak akan belajar bahwa Allah memang memedulikan mereka, karena pada masa itu orang mati yang ada dalam kuburan akan secara harfiah diciptakan kembali. Yesus mengatakan, ”Semua orang yang di dalam makam peringatan akan . . . keluar”, dibangkitkan untuk hidup kembali di bumi. (Yohanes 5:28, 29) Dengan demikian, orang mati juga akan diberi kesempatan untuk tunduk kepada pemerintahan Allah yang adil-benar dan mendapat hak istimewa untuk hidup kekal ”di Firdaus”, seperti yang Yesus sebutkan.—Lukas 23:43.

22 Dunia binatang pun akan menikmati perdamaian. Alkitab mengatakan bahwa ”serigala dan anak domba akan makan bersama-sama, dan singa akan makan jerami seperti lembu”, dan ”seorang anak kecil akan menjadi pemimpinnya”. Binatang-binatang ”tidak akan melakukan apa pun yang membawa celaka atau menimbulkan kerusakan” dalam Orde Baru Allah, terhadap satu sama lain atau terhadap manusia—Yesaya 11:6-9; 65:25.

23 Jadi, dalam segala hal, seperti yang dikatakan Roma 8:21, ”ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari keadaan sebagai budak kefanaan dan akan mendapat kemerdekaan yang mulia sebagai anak-anak Allah”. Pada akhirnya, bumi akan menjadi firdaus, yang dihuni oleh orang-orang yang sempurna—bebas dari penyakit, kesedihan, dan kematian. Penderitaan akan dilupakan untuk selama-lamanya. Tanpa terkecuali, semua ciptaan Allah di bumi akan selaras sepenuhnya dengan maksud-tujuan-Nya, sehingga hal-hal buruk yang telah mencemari alam semesta milik-Nya selama ribuan tahun tidak akan ada lagi.

24 Begitulah Alkitab menjelaskan mengapa Allah mengizinkan penderitaan, dan apa yang akan Ia lakukan untuk membereskan problem itu. Namun, mungkin ada yang bertanya, ’Bagaimana saya bisa benar-benar mempercayai apa yang Alkitab katakan?’