Kamis, 22 Agustus 2013

Bagaimana Kehidupan Bermula?


Pertanyaan 1

 

Sewaktu masih kecil, pernahkah Anda mengagetkan orang tua Anda dengan pertanyaan, ”Dari mana datangnya bayi?” Apa jawaban mereka? Bergantung pada usia Anda dan kepribadian mereka, orang tua Anda mungkin mengabaikan saja pertanyaan itu atau menjawab sekadarnya dengan kikuk. Atau, mungkin mereka mengarang-ngarang cerita yang belakangan Anda tahu tidak benar. Tentu saja, agar seorang anak benar-benar siap menyongsong kedewasaan dan perkawinan, ia perlu belajar tentang keajaiban reproduksi seksual.

Sebagaimana banyak orang tua canggung membahas dari mana datangnya bayi, beberapa ilmuwan tampaknya enggan membahas pertanyaan yang lebih mendasar lagi—Dari mana datangnya kehidupan? Jawaban yang berdasar dan masuk akal bisa sangat memengaruhi cara pandang seseorang tentang kehidupan. Jadi, bagaimana kehidupan bermula?

Apa yang dinyatakan banyak ilmuwan? Banyak evolusionis akan memberi tahu Anda bahwa miliaran tahun yang lalu, kehidupan bermula di tepi sebuah kolam purba atau jauh di dalam samudra. Menurut mereka, di lokasi semacam itu zat-zat kimia dengan sendirinya menyatu menjadi struktur seperti busa, membentuk molekul kompleks, dan mulai bereplikasi. Mereka yakin bahwa semua kehidupan di bumi bermula secara kebetulan dari satu atau beberapa sel awal yang ”sederhana” ini.

Beberapa ilmuwan terkemuka lain yang juga mendukung evolusi tidak sependapat. Mereka berspekulasi bahwa sel-sel pertama atau setidaknya komponen-komponen utamanya berasal dari ruang angkasa. Mengapa? Karena, meskipun sudah berupaya sebisa-bisanya, para ilmuwan belum sanggup membuktikan bahwa kehidupan bisa muncul dari molekul-molekul yang tidak bernyawa. Pada 2008, Profesor Biologi Alexandre Meinesz menyoroti dilema tersebut. Ia menyatakan bahwa selama 50 tahun terakhir, ”tidak ada bukti empiris yang mendukung hipotesis bahwa kehidupan muncul dengan sendirinya di Bumi semata-mata dari sup molekul, dan tidak ada kemajuan signifikan di bidang ilmu pengetahuan yang mengarah ke sana”.1

Apa yang tersingkap dari bukti-bukti? Jawaban atas pertanyaan: Dari mana datangnya bayi? sudah terdokumentasi dan tidak diperdebatkan lagi. Kehidupan selalu berasal dari kehidupan yang sudah ada. Tetapi, jika kita mundur jauh ke zaman purba, mungkinkah ada saatnya hukum yang fundamental ini tidak berlaku? Dapatkah kehidupan muncul dengan sendirinya dari zat-zat kimia yang tidak bernyawa? Seberapa besarkah peluang terjadinya hal itu?

Para peneliti telah mengetahui bahwa agar sebuah sel bertahan hidup, sedikitnya tiga jenis molekul kompleks harus bekerja sama—DNA (asam deoksiribonukleat), RNA (asam ribonukleat), dan protein. Dewasa ini, hampir tidak ada ilmuwan yang menyatakan bahwa sebuah sel hidup yang lengkap tiba-tiba terbentuk secara kebetulan dari campuran zat-zat kimia yang tidak bernyawa. Namun, seberapa besarkah peluang terbentuknya RNA atau protein secara kebetulan?

Banyak ilmuwan merasa bahwa kehidupan bisa muncul secara kebetulan karena sebuah eksperimen yang pertama kali dilakukan pada 1953. Kala itu, Stanley L. Miller dapat membuat beberapa asam amino, yakni zat kimia pembentuk protein, dengan melepaskan kilatan listrik ke campuran gas yang diyakini mirip dengan atmosfer bumi primitif. Sejak itu, asam amino juga telah ditemukan dalam meteorit. Apakah temuan ini mengartikan bahwa semua bahan dasar kehidupan dapat dengan mudah terbentuk secara kebetulan?

”Beberapa penulis,” kata Robert Shapiro, profesor emeritus bidang kimia di New York University, ”mengira bahwa semua bahan dasar kehidupan bisa dibuat dengan mudah dalam eksperimen seperti yang Miller lakukan dan juga terdapat dalam meteorit. Kenyataannya tidak demikian.”2

Perhatikan molekul RNA. Molekul ini terdiri dari molekul-molekul yang lebih kecil yang disebut nukleotida. Nukleotida adalah molekul yang berbeda dengan asam amino dan hanya sedikit lebih kompleks. Shapiro mengatakan bahwa ”belum ada nukleotida jenis apa pun yang dihasilkan dari eksperimen kilatan listrik atau yang ditemukan dalam penelitian meteorit”.3 Ia selanjutnya menyatakan bahwa peluang terbentuknya secara acak sebuah molekul RNA yang bisa mereplikasi diri dari sekumpulan zat kimia bahan dasar kehidupan ”sedemikian kecilnya sehingga kalau pun itu sampai terjadi bahkan sekali saja di mana pun dalam jagat raya ini, hal itu dapat dianggap sebagai keberuntungan yang luar biasa”.4

Bagaimana dengan molekul protein? Molekul ini bisa terbentuk dari 50 hingga ribuan asam amino yang saling terikat dengan urutan yang sangat spesifik. Rata-rata, protein dalam sel yang ”sederhana” mengandung 200 asam amino. Bahkan dalam sel-sel seperti itu, ada ribuan jenis protein yang berbeda. Menurut perhitungan, peluang bagi satu saja protein yang hanya mengandung 100 asam amino untuk bisa terbentuk secara acak di bumi adalah sekitar satu berbanding sejuta miliar.

Hubert P. Yockey, peneliti yang mendukung ajaran evolusi, menandaskan kesulitannya. Ia mengatakan, ”Mustahil kehidupan berawal dari protein.”5 RNA dibutuhkan untuk membuat protein, tetapi protein terkait dalam pembentukan RNA. Bagaimana seandainya, sekalipun peluangnya luar biasa kecil, protein maupun molekul RNA ternyata muncul secara kebetulan di tempat yang sama dan pada waktu yang sama? Seberapa besarkah kemungkinan keduanya bekerja sama untuk membentuk suatu jenis kehidupan yang bisa bertahan hidup dan juga bereplikasi? ”Peluang terjadinya hal ini secara kebetulan (mengingat protein dan RNA dianggap bercampur secara acak) tampaknya teramat sangat kecil,” kata Dr. Carol Cleland, anggota Institut Astrobiologi di Badan Antariksa AS (NASA). ”Namun,” lanjutnya, ”kebanyakan peneliti tampaknya berasumsi bahwa jika mereka bisa memahami bagaimana protein dan RNA terbentuk secara independen dalam kondisi alam zaman purba, koordinasi di antara keduanya entah bagaimana akan terjadi dengan sendirinya.” Mengenai berbagai teori terkini tentang bagaimana bahan-bahan dasar kehidupan ini bisa muncul secara kebetulan, ia mengatakan, ”Tak ada satu pun yang memberi kita penjelasan yang sangat memuaskan tentang bagaimana hal ini telah terjadi.”6

Mengapa fakta-fakta ini penting? Pikirkan kesulitan para peneliti yang berpendapat bahwa kehidupan muncul secara kebetulan. Mereka telah menemukan beberapa asam amino di meteorit yang juga terdapat dalam sel-sel hidup. Melalui eksperimen yang dirancang dan diatur dengan teliti dalam laboratorium, mereka telah membuat molekul-molekul lain yang lebih kompleks. Akhirnya, mereka berharap bisa membuat semua bagian yang dibutuhkan untuk menghasilkan sel yang ”sederhana”. Situasi mereka bisa disamakan seperti seorang ilmuwan yang mengambil unsur-unsur di alam; mengubahnya menjadi baja, plastik, silikon, dan kabel; lalu membuat sebuah robot. Kemudian, ia memprogram robot itu agar bisa menggandakan diri. Lantas, apa yang ia buktikan? Paling-paling bahwa pribadi yang cerdas dapat menciptakan mesin yang hebat.

Demikian pula, kalau pun para ilmuwan akhirnya berhasil membuat sebuah sel, itu memang prestasi yang luar biasa—tetapi, apakah mereka membuktikan bahwa sel dapat terbentuk secara kebetulan? Yang terbukti justru kebalikannya, bukan?

Bagaimana menurut Anda? Semua bukti ilmiah hingga saat ini menunjukkan bahwa kehidupan hanya dapat berasal dari kehidupan yang sudah ada. Untuk percaya bahwa sebuah sel hidup yang ”sederhana” muncul secara kebetulan dari zat-zat kimia yang tidak bernyawa, seseorang harus memercayai sesuatu yang sama sekali tidak terbukti.

Mengingat fakta-fakta di atas, maukah Anda percaya tanpa bukti? Sebelum menjawabnya, mari kita cermati bagaimana sel terbentuk. Dengan demikian, Anda bisa menyimpulkan apakah berbagai teori yang diajukan beberapa ilmuwan tentang asal mula kehidupan itu benar atau sama seperti dongeng rekaan beberapa orang tua tentang asal mula bayi.

[Catatan Kaki]

Peluang terbentuknya DNA secara kebetulan akan dibahas dalam bagian 3, ”Dari Mana Datangnya Instruksi Itu?”

Profesor Shapiro tidak percaya bahwa kehidupan diciptakan. Ia percaya bahwa kehidupan muncul secara kebetulan dengan suatu cara yang belum sepenuhnya dipahami. Pada 2009, para ilmuwan di University of Manchester, Inggris, melaporkan telah membuat beberapa nukleotida di laboratorium. Tetapi, Shapiro menyatakan bahwa resep mereka ”sama sekali tidak memenuhi kriteria yang menurut saya masuk akal untuk menghasilkan RNA”.

Dr. Cleland tidak memercayai penciptaan. Ia percaya bahwa kehidupan muncul secara kebetulan dengan suatu cara yang belum sepenuhnya dipahami.

[Kotak di hlm. 7]

RENUNGKANLAH FAKTA-FAKTA INI

▪ Fakta: Semua riset ilmiah menunjukkan bahwa kehidupan tidak bisa muncul dari benda mati.

Renungkan: Apa dasar ilmiah untuk mengatakan bahwa sel-pertama muncul dari zat-zat kimia yang tidak bernyawa?

▪ Fakta: Di laboratorium, para peneliti telah menciptakan kondisi lingkungan yang menurut mereka merupakan kondisi pada awal sejarah bumi. Dalam eksperimen ini, beberapa ilmuwan berhasil membuat sebagian molekul yang ada dalam makhluk hidup.

Renungkan: Jika zat-zat kimia dalam eksperimen itu menggambarkan lingkungan bumi zaman purba dan molekul-molekul yang dihasilkan menggambarkan bahan dasar kehidupan, lalu siapa atau apa yang digambarkan oleh sang ilmuwan yang melakukan eksperimen itu? Apakah ia menggambarkan kebetulan semata atau pribadi yang cerdas?

▪ Fakta: Protein dan molekul RNA harus bekerja sama agar sel bertahan hidup. Ilmuwan mengakui bahwa kecil sekali kemungkinannya RNA terbentuk secara kebetulan. Peluang terbentuknya bahkan satu protein secara kebetulan luar biasa kecil. Jadi, sungguh mustahil bahwa RNA dan protein bisa terbentuk secara kebetulan di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan keduanya bisa bekerja sama.

Renungkan: Mana yang membutuhkan lebih banyak iman—percaya bahwa jutaan bagian sel yang terkoordinasi secara rumit muncul secara kebetulan atau percaya bahwa sel adalah hasil dari pikiran yang cerdas?

[Diagram di hlm. 6]

(Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

RNA 1 dibutuhkan untuk membuat protein 2, tetapi protein terkait dalam pembentukan RNA. Bagaimana mungkin salah satu muncul secara kebetulan, apalagi dua-duanya? Ribosom 3 akan dibahas di bagian 2.

Jika dibutuhkan pribadi yang cerdas untuk menciptakan dan memprogram robot yang tidak bernyawa, apa yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah sel hidup, apalagi seorang manusia?

[Gambar di hlm. 4]

Sel telur manusia yang dibuahi, sekitar 800 kali ukuran aslinya

[Gambar di hlm. 5]

Stanley Miller, 1953

[Gambar di hlm. 6]

Jika untuk menciptakan molekul yang kompleks dalam laboratorium dibutuhkan keahlian seorang ilmuwan, mungkinkah molekul yang jauh lebih kompleks dalam sel muncul secara kebetulan?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar