Sabtu, 17 Agustus 2013

Keajaiban Manusia


Pasal 14

 

DARI semua hal yang menakjubkan di bumi, tidak ada yang lebih memukau daripada otak manusia. Misalnya, setiap detik ada kira-kira 100 juta informasi yang masuk ke dalam otak melalui berbagai indra. Tetapi, mengapa otak tidak kewalahan mendapat serbuan informasi yang bertubi-tubi ini? Bagaimana pikiran dapat menerima jutaan pesan yang datang serentak, sedangkan kita hanya dapat memikirkan sesuatu satu demi satu? Yang jelas, pikiran tidak saja bisa bertahan menghadapi arus informasi ini, tetapi dapat menanganinya dengan mudah.

2 Kemampuan tersebut hanyalah satu di antara banyak keajaiban otak manusia. Ada dua faktor yang tersangkut. Pertama, di batang otak ada jaringan saraf sebesar jari kelingking Anda. Jaringan ini disebut formasi retikula. Fungsinya seperti pusat pengendali lalu lintas, yaitu memantau jutaan pesan yang masuk ke otak, menyingkirkan yang sepele dan memilih yang terpenting untuk diperhatikan oleh korteks serebrum. Setiap detik, jaringan saraf yang kecil ini mengizinkan paling banyak beberapa ratus pesan saja untuk masuk ke pikiran yang sadar.

3 Kedua, perhatian kita sepertinya difokuskan lebih lanjut oleh gelombang yang menyapu otak kita 8 hingga 12 kali per detik. Gelombang ini menghasilkan periode kepekaan yang tinggi; dan pada periode itu, otak memperhatikan sinyal-sinyal yang lebih kuat lalu menindaklanjutinya. Konon, melalui gelombang-gelombang inilah otak melakukan pemindaian untuk berfokus pada hal-hal yang terpenting. Jadi, setiap detik, ada banyak sekali kesibukan yang berlangsung di dalam kepala kita!

Sesuatu ”yang Menakjubkan”

4 Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah membuat kemajuan yang sangat besar dalam penelitian soal otak. Sekalipun demikian, apa yang mereka ketahui tak ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang belum diketahui. Seorang peneliti mengatakan bahwa, setelah ribuan tahun berspekulasi dan puluhan tahun terakhir mengadakan penelitian ilmiah yang intensif, otak kita, juga alam semesta, tetap saja ”pada dasarnya misterius”.1 Ya, otak manusia tidak diragukan adalah bagian yang paling misterius dari keajaiban manusia—”keajaiban” berarti sesuatu ”yang menakjubkan”.

5 Keajaiban tersebut berawal dalam rahim. Tiga minggu setelah pembuahan, sel-sel otak mulai terbentuk. Perkembangannya amat pesat, adakalanya hingga 250.000 sel per menit. Setelah bayi lahir, otak terus berkembang dan membentuk suatu jaringan koneksi. Perbedaan antara otak manusia dan otak binatang segera nyata, ”Tidak seperti otak binatang mana pun, otak bayi manusia bertambah besar tiga kali lipat pada tahun pertama,” kata buku The Universe Within.2 Akhirnya, meskipun beratnya hanya 2 persen dari berat badan, otak manusia bisa memuat kira-kira 100 miliar sel saraf, yang disebut neuron, dan juga beberapa jenis sel lain.

6 Sel-sel utama otak—neuron—tidak benar-benar bersentuhan. Sel-sel itu dipisahkan oleh sinapsis, yakni jarak kecil selebar kurang dari 0,000003 sentimeter. Celah-celah ini dijembatani oleh zat-zat kimia yang disebut neurotransmiter. Ada 30 macam neurotransmiter yang sudah dikenal, tetapi otak mungkin memiliki lebih banyak lagi. Sinyal-sinyal kimiawi ini diterima pada satu ujung neuron oleh jaringan serabut halus, bercabang-cabang, yang disebut dendrit. Kemudian, sinyal tersebut dihantarkan ke ujung yang lain melalui serabut saraf yang disebut akson. Di dalam neuron, sinyal dihantarkan secara elektris, tetapi antarcelah, secara kimiawi. Jadi, transmisi sinyal saraf bersifat elektrokimiawi. Setiap impuls sama kekuatannya, tetapi intensitas sinyal ditentukan oleh frekuensi impulsnya, yang bisa mencapai seribu dalam satu detik.

7 Tidak diketahui dengan pasti perubahan fisiologis apa saja yang terjadi dalam otak sewaktu kita belajar. Tetapi, bukti berdasarkan eksperimen memperlihatkan bahwa pada waktu belajar, khususnya semasa kita kecil, koneksi-koneksi yang lebih baik terbentuk, dan lebih banyak zat kimia, yang menjembatani celah-celah antarneuron, dilepaskan. Jika otak terus digunakan, koneksinya akan semakin kuat, sehingga kemampuan belajar pun meningkat. ”Jalur-jalur yang sering digunakan bersama-sama akan diperkuat dengan satu atau lain cara,” lapor buku Scientific American.3 Mengenai hal ini, sungguh menarik komentar Alkitab bahwa hal-hal yang lebih sulit dimengerti akan lebih dapat dipahami oleh orang-orang matang yang ”biasa menggunakan akalnya”. (Ibrani 5:14, Terjemahan Lama) Riset memperlihatkan bahwa kekuatan mental akan berangsur hilang jika tidak digunakan. Jadi, seperti otot, otak akan semakin kuat jika digunakan dan semakin lemah jika tidak digunakan.

8 Serabut saraf mikroskopis yang luar biasa banyak, yang saling terkoneksi dalam otak, sering diumpamakan dengan ”sistem hubungan listrik” (wiring). Sebuah sirkuit elektronik memiliki banyak komponen yang harus dipasang di tempatnya secara tepat, sesuai dengan diagram rangkaian yang rumit. Bagaimana serabut-serabut saraf ditempatkan secara tepat sesuai dengan ”diagram”-nya yang jauh lebih rumit dapat dikatakan sebagai suatu misteri. ”Tidak diragukan, masalah terpenting yang tak terpecahkan mengenai perkembangan otak,” kata seorang ilmuwan, ”adalah pertanyaan tentang bagaimana neuron-neuron membuat pola koneksi yang spesifik. . . . Kebanyakan koneksi kelihatannya sudah ditentukan secara cermat pada tahap awal perkembangannya.”4 Peneliti lain menambahkan bahwa daerah-daerah yang sudah dipetakan secara spesifik dalam otak ”dapat ditemukan di seluruh sistem saraf, dan bagaimana sistem-hubungan ini disusun dengan tepat masih merupakan salah satu masalah besar yang belum terpecahkan”.5

9 Jumlah koneksi dalam otak tidak terhitung banyaknya! Setiap neuron bisa memiliki ribuan koneksi dengan neuron-neuron lain. Selain koneksi antarneuron, ada juga ’rangkaian mikro’ untuk hubungan langsung antardendrit. ”’Rangkaian mikro’ ini,” kata seorang neurolog, ”menambahkan dimensi yang sama sekali baru pada konsep kita tentang cara kerja otak yang sudah terlalu sulit dipahami.”6 Beberapa peneliti percaya bahwa ”bermiliar-miliar sel saraf dalam otak manusia mungkin membuat sebanyak satu kuadriliun koneksi”.7 Seberapa besar kapasitasnya? Carl Sagan menyatakan bahwa otak dapat menampung informasi yang ”bisa memenuhi kira-kira dua puluh juta jilid buku, sebanyak koleksi perpustakaan terbesar di dunia”.8

10 Otak manusia memiliki korteks serebrum yang membedakannya dari binatang mana pun. Korteks ini tebalnya kira-kira setengah sentimeter, dan membentuk lipatan-lipatan agar bisa muat di dalam tengkorak kepala. Jika dibentangkan, korteks itu bisa mencapai 0,2 meter persegi, yang setiap sentimeter kubiknya berisi kira-kira seribu kilometer serabut-serabut yang saling bersambungan. Selain jauh lebih luas daripada korteks hewan mana pun, korteks manusia juga memiliki lebih banyak bagian yang tidak dikhususkan untuk menangani fungsi fisik tubuh tetapi bebas melakukan proses mental yang lebih tinggi yang membedakan manusia dari binatang. ”Kita bukan sekadar kera yang lebih pintar,” kata seorang peneliti. Pikiran ”membuat kita secara kualitas berbeda dengan semua bentuk kehidupan lainnya”.9

Kesanggupan Kita yang Jauh Lebih Besar

11 ”Yang membedakan otak manusia,” kata seorang ilmuwan, ”adalah beragamnya kegiatan yang lebih terspesialisasi yang sanggup dipelajarinya.”10 Ilmu komputer menggunakan istilah ”hardwired” untuk memaksudkan fitur-fitur yang sudah terpasang tetap berdasarkan rangkaian elektrik tertentu; ini berbeda dengan fungsi yang dimasukkan ke sebuah komputer oleh seorang pemrogram. ”Jika diterapkan pada manusia,” tulis seorang pakar, ”hard wiring memaksudkan potensi atau, setidaknya, kecenderungan bawaan.”11 Manusia memiliki banyak kemampuan bawaan untuk belajar, tetapi bukan ilmu itu sendiri. Sebaliknya, binatang memiliki hikmat naluriah bawaan, tetapi kemampuannya untuk mempelajari hal-hal baru sangat terbatas.

12 Buku The Universe Within menyatakan bahwa binatang yang paling cerdas pun ”tidak pernah mengembangkan pikiran seperti pikiran manusia. Karena binatang tidak memiliki apa yang kita miliki: perangkat sistem saraf yang sudah diprogram sebelumnya, yang memungkinkan kita untuk menyusun konsep berdasarkan apa yang kita lihat; bahasa berdasarkan apa yang kita dengar; dan pikiran berdasarkan pengalaman kita”. Tetapi, kita harus memprogram otak dengan memberinya masukan dari lingkungan sekitar; kalau tidak, kata buku itu, ”apa pun yang menyerupai pikiran manusia tidak akan berkembang . . . Jika tidak ada masukan berupa pengalaman dalam jumlah besar, hampir tidak ada kecerdasan yang akan muncul”.12 Jadi, kesanggupan yang ditanamkan dalam otak manusia memungkinkan kita membangun kecerdasan. Dan, tidak seperti binatang, kita memiliki kebebasan untuk memprogram kecerdasan kita sesuai dengan keinginan kita, berdasarkan pengetahuan, nilai, kesempatan, dan cita-cita kita sendiri.

Bahasa yang Hanya Dimiliki Manusia

13 Contoh mencolok tentang kemampuan bawaan yang dapat kita program dengan sangat leluasa adalah bahasa. Para pakar setuju bahwa ”otak manusia secara genetis diprogram untuk mengembangkan bahasa”,13 dan bahwa kita memiliki kecakapan berbicara ”hanya karena kita mempunyai kemampuan bawaan untuk memproses bahasa yang ada dalam otak kita”.14 Tidak seperti perilaku naluriah binatang yang tidak bisa berubah, manusia memiliki keleluasaan yang sangat besar dalam menggunakan kemampuan bawaan untuk berbahasa.

14 Tidak ada bahasa tertentu yang ditanamkan ke dalam otak kita, tetapi kita telah diprogram sebelumnya dengan kemampuan mempelajari bahasa. Jika dua bahasa digunakan di rumah, seorang anak dapat menguasai kedua-duanya. Jika ada bahasa yang ketiga, anak itu juga dapat menguasainya. Seorang gadis cilik sering mendengar beberapa bahasa sejak bayi. Ketika berusia lima tahun, ia dapat berbicara dalam delapan bahasa dengan fasih. Mengingat kesanggupan bawaan tersebut, tidaklah mengherankan jika seorang linguis mengatakan bahwa eksperimen untuk mengajarkan bahasa isyarat kepada simpanse, ”malah membuktikan bahwa simpanse tidak sanggup mempelajari bahkan bentuk bahasa manusia yang paling sederhana”.15

15 Mungkinkah kesanggupan yang begitu menakjubkan berevolusi dari geraman dan raungan binatang? Penelitian atas bahasa-bahasa yang sangat kuno menyanggah pendapat demikian tentang evolusi bahasa. Seorang pakar berkata bahwa ”tidak ada bahasa yang primitif”.16 Antropolog Ashley Montagu setuju bahwa bahasa-bahasa yang katanya primitif ”sering kali jauh lebih rumit dan lebih efisien daripada bahasa dari peradaban yang konon lebih tinggi”.17

16 Seorang neurolog menyimpulkan, ”Semakin kita berupaya menyelidiki mekanisme bahasa, semakin misterius proses itu jadinya.”18 Seorang periset lain berkata, ”Pada saat ini, asal mula ujaran dengan kalimat yang tertata masih merupakan misteri.”19 Dan, ilmuwan ketiga menyatakan, ”Kesanggupan berbicara, yang menjadi daya penggerak yang paling kuat bagi manusia dan bangsa-bangsa, secara unik membedakan manusia dari binatang. Namun, asal mula bahasa tetap merupakan misteri yang paling membingungkan tentang otak.”20 Tetapi, itu bukan misteri bagi orang yang percaya bahwa sang Pencipta-lah yang menanamkan kesanggupan berbahasa di bagian-bagian tertentu dalam otak.

Hal-Hal yang Hanya Dapat Dijelaskan oleh Penciptaan

17 Encyclop√¶dia Britannica menyatakan bahwa otak manusia ”dikaruniai potensi yang jauh lebih banyak daripada yang dapat ia gunakan sepanjang masa hidupnya”.21 Disebutkan juga bahwa otak manusia dapat menampung ilmu dan ingatan sebanyak apa pun yang dimasukkan ke dalamnya sekarang, bahkan satu miliar kali lebih banyak! Tetapi, untuk apa evolusi menghasilkan kesanggupan yang begitu berlebih? ”Ini sebenarnya satu-satunya contoh yang ada mengenai spesies yang diberi sebuah organ yang cara penggunaannya masih juga belum diketahui,” kata seorang ilmuwan. Ia kemudian bertanya, ”Bagaimana ini dapat diselaraskan dengan tesis evolusi yang paling mendasar: Seleksi alam berlangsung sedikit demi sedikit; tiap langkah harus memberi keuntungan yang kecil namun cukup berarti bagi si pemilik?” Ia menambahkan bahwa perkembangan otak manusia ”tetap merupakan aspek evolusi yang paling sulit dijelaskan”.22 Karena proses evolusi tidak mungkin menghasilkan atau mewariskan kemampuan otak yang terlalu besar dan yang tidak bakal digunakan, bukankah lebih masuk akal untuk menyimpulkan bahwa manusia, dengan kemampuan untuk terus belajar tanpa henti, dirancang untuk hidup selama-lamanya?

18 Carl Sagan, yang takjub karena otak manusia dapat menampung informasi yang ”bisa memenuhi kira-kira dua puluh juta jilid buku”, menyatakan, ”Otak adalah tempat yang sangat besar dalam ruang yang sangat kecil.”23 Dan, apa yang terjadi dalam ruang yang kecil ini sama sekali tidak dapat dimengerti oleh manusia. Misalnya, bayangkan apa yang terjadi dalam otak seorang pianis yang memainkan komposisi musik yang sulit, dengan semua jarinya menari-nari di atas tuts piano. Otaknya pasti memiliki kepekaan gerak yang amat menakjubkan, untuk memerintahkan jari-jari menekan tuts yang benar pada waktu yang tepat dengan tekanan yang pas sehingga sesuai dengan nada-nada yang ada di kepalanya! Dan, jika ia menekan nada yang salah, otak segera memberi tahunya! Seluruh kegiatan yang sangat kompleks ini telah diprogram ke dalam otaknya melalui latihan bertahun-tahun. Tetapi, ini dimungkinkan hanya karena bakat musik telah diprogramkan sebelumnya ke dalam otak manusia sejak lahir.

19 Otak binatang tidak bakal bisa memahami hal-hal demikian, apalagi melakukannya. Teori evolusi juga tidak dapat menjelaskan hal itu. Tidakkah jelas bahwa sifat-sifat intelektual manusia mencerminkan apa yang dimiliki Pribadi yang Mahacerdas? Ini selaras dengan Kejadian 1:27, yang berbunyi, ”Allah menciptakan manusia menurut gambarnya.” Binatang tidak diciptakan menurut gambar Allah. Itu sebabnya binatang tidak memiliki kesanggupan yang dimiliki manusia. Walaupun binatang bisa melakukan hal-hal yang luar biasa dengan naluri yang telah ditentukan dan yang tidak fleksibel, mereka sama sekali bukan tandingan manusia yang bisa berpikir serta bertindak secara fleksibel dan sanggup untuk terus memperkaya pengetahuan yang sudah ada.

20 Kemampuan manusia untuk menunjukkan altruisme—sifat suka memberi tanpa pamrih—menimbulkan masalah lain bagi evolusi. Seperti yang dinyatakan seorang evolusionis, ”Apa pun yang berevolusi melalui seleksi alam pasti mementingkan diri.” Dan, banyak manusia memang mementingkan diri. Tetapi, belakangan ia mengakui, ”Mungkin, sifat lain lagi yang unik pada manusia adalah kemampuan untuk menunjukkan altruisme sejati yang tulus, tanpa pamrih.”24 Ilmuwan lain menambahkan, ”Altruisme ditanamkan dalam diri kita.”25 Hanya manusia yang menunjukkan sifat itu meski menyadari bahwa ia mungkin perlu membuat pengorbanan.

Menghargai Keajaiban Manusia

21 Coba pikir: Manusia menghasilkan pemikiran yang abstrak, dengan penuh kesadaran menetapkan cita-cita, membuat rencana untuk mencapainya, berupaya menjalankannya, dan mendapatkan kepuasan dari apa yang dicapai. Mereka diciptakan dengan mata yang bisa menghargai keindahan, telinga yang bisa menikmati musik, bakat untuk kesenian, dorongan untuk belajar, rasa ingin tahu yang tak terpuaskan, dan imajinasi yang mampu menghasilkan dan menciptakan berbagai hal—manusia merasakan sukacita dan kepuasan dalam menggunakan berbagai karunia ini. Manusia merasa tertantang oleh problem-problem, dan senang menggunakan kekuatan mental dan fisik untuk memecahkannya. Manusia juga memiliki perasaan moral untuk menentukan apa yang benar dan yang salah serta hati nurani yang akan menusuknya jika ia menyimpang. Ia merasa bahagia bila memberi, dan bersukacita saat mencintai dan dicintai. Semua kegiatan itu menambah kesenangan dalam hidupnya dan menjadikan hidupnya lebih bertujuan dan berarti.

22 Manusia dapat merenungkan berbagai tumbuhan dan hewan, kehebatan gunung dan samudra, luasnya langit, dan merasa diri amat kecil. Ia sadar akan waktu dan kekekalan, bertanya-tanya bagaimana ia sampai berada di bumi dan ke mana ia akan pergi, dan mencari tahu apa yang ada di balik semua itu. Tidak ada binatang yang pernah memikirkan hal-hal demikian. Tetapi, manusia mencari tahu sebab dan akibat segala sesuatu. Itu semua karena ia dikaruniai otak yang menakjubkan dan karena ia merupakan ”gambar” dari Pribadi yang membuatnya.

23 Dengan pemahaman yang amat dalam, sang pemazmur Daud memuji sang Perancang otak yang ia anggap bertanggung jawab atas mukjizat kelahiran manusia. Ia berkata, ”Aku akan menyanjungmu karena dengan cara yang membangkitkan rasa takut, aku dibuat secara menakjubkan. Pekerjaan-pekerjaanmu menakjubkan, sebagaimana jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak tersembunyi darimu pada waktu aku dibuat di tempat yang tersembunyi, pada waktu aku ditenun di bagian-bagian bumi yang paling dalam. Matamu melihat bahkan ketika aku masih embrio, dan semua bagiannya tertulis dalam bukumu.”—Mazmur 139:14-16.

24 Memang dapat dikatakan bahwa dalam telur yang dibuahi di rahim sang ibu ”tertulis” semua bagian tubuh manusia yang akan muncul. Jantung, paru-paru, ginjal, mata dan telinga, tangan dan kaki, serta otak yang menakjubkan—ini dan semua bagian tubuh lainnya ’ditulis’ dalam kode genetik dalam telur yang dibuahi di rahim sang ibu. Dalam kode itu terdapat jadwal waktu, kapan bagian-bagian tersebut harus muncul, setiap bagian menurut urutan yang tepat. Fakta ini dicatat dalam Alkitab hampir tiga ribu tahun sebelum ilmu pengetahuan modern menemukan kode genetik!

25 Bukankah keberadaan manusia dengan otaknya yang menakjubkan benar-benar suatu keajaiban, alasan untuk takjub? Bukankah jelas juga bahwa keajaiban demikian hanya dapat dihasilkan oleh penciptaan, bukan oleh evolusi?