Sabtu, 24 Agustus 2013

Apa yang Terjadi dengan Jiwa pada Saat Kematian?..bab 8


 
”Doktrin bahwa jiwa manusia tidak berkematian dan akan terus ada setelah manusia mati dan tubuhnya hancur merupakan salah satu batu penjuru filsafat dan teologi Kristen.”—”NEW CATHOLIC ENCYCLOPEDIA.”

AKAN tetapi, karya referensi yang dikutip di atas mengakui bahwa ”konsep mengenai jiwa yang terus hidup setelah kematian tidak dapat dengan mudah dipahami dalam Alkitab”. Kalau begitu, apa yang sebenarnya diajarkan Alkitab mengenai apa yang terjadi dengan jiwa pada saat kematian?

Orang Mati Tidak Tahu Apa-Apa

2 Keadaan orang mati dijelaskan di Pengkhotbah 9:5, 10, yang berbunyi, ”Orang yang mati tak tahu apa-apa . . . Tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati.” Oleh karena itu, kematian adalah keadaan tanpa eksistensi. Sang pemazmur menulis bahwa sewaktu seseorang mati, ”ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya”.—Mazmur 146:4.

3 Jadi, orang mati tidak tahu apa-apa, tidak aktif. Sewaktu menjatuhkan hukuman atas Adam, Allah menyatakan, ”Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19) Sebelum Allah membentuk Adam dari debu tanah dan memberinya kehidupan, ia tidak ada. Ketika Adam mati, ia kembali ke keadaan itu. Hukumannya adalah kematian—bukan perpindahan ke alam lain.

Jiwa Dapat Mati

4 Ketika Adam mati, apa yang terjadi dengan jiwanya? Nah, ingatlah bahwa dalam Alkitab kata ”jiwa” sering kali memaksudkan seseorang. Jadi, apabila kita mengatakan bahwa Adam mati, kita mengatakan bahwa jiwa yang bernama Adam itu mati. Ini mungkin terdengar aneh bagi seseorang yang mempercayai jiwa yang tidak berkematian. Akan tetapi, Alkitab menyatakan, ”Jiwa yang berbuat dosa—jiwa itulah yang akan mati.” (Yehezkiel 18:4, NW) Imamat 21:1 (NW) berbicara mengenai ”jiwa yang mati” (”mayat”, Jerusalem Bible). Dan, kaum Nazir diperintahkan untuk tidak mendekati ”jiwa yang mati” (”tubuh yang mati”, Lamsa).—Bilangan 6:6, NW.

5 Rujukan yang serupa untuk jiwa ditemukan di 1 Raja-Raja 19:4 (NW). Elia yang merasa sangat menderita ”mulai meminta agar jiwanya mati”. Demikian pula, Yunus ”terus meminta agar jiwanya mati, dan ia berulang-ulang mengatakan, ’Lebih baik aku mati daripada aku hidup.’” (Yunus 4:8, NW) Dan, Yesus menggunakan ungkapan ”mematikan jiwa”, yang oleh Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) diterjemahkan sebagai ”membunuh”. (Markus 3:4) Jadi, kematian jiwa berarti kematian orang itu.

”Pergi” dan ”Kembali”

6 Tetapi, bagaimana dengan kematian Rahel yang mengenaskan, yang terjadi sewaktu ia melahirkan putra keduanya? Di Kejadian 35:18 (NW), kita membaca, ”Seraya jiwanya pergi (karena dia mati) dia menamainya Ben-oni; tetapi bapaknya memanggilnya Benyamin.” Apakah ayat ini menyiratkan bahwa Rahel memiliki suatu bagian lain dalam dirinya yang keluar dari tubuh pada saat kematiannya? Sama sekali tidak. Ingatlah, kata ”jiwa” juga dapat memaksudkan kehidupan yang dimiliki seseorang. Jadi, dalam kasus ini ”jiwa” Rahel berarti ”kehidupan”-nya. Itulah sebabnya Alkitab-Alkitab lain menerjemahkan ungkapan ”jiwanya pergi” sebagai ”kehidupannya semakin surut” (Knox), ”ia hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan” (BIS), dan ”kehidupannya keluar dari dia” (Bible in Basic English). Tidak ada petunjuk bahwa suatu bagian yang misterius dari Rahel tetap hidup setelah kematiannya.

7 Halnya serupa dengan kebangkitan putra seorang janda, yang dicatat di 1 Raja-Raja pasal 17. Di ayat 22 (NW), kita membaca bahwa seraya Elia berdoa bagi anak laki-laki itu, ”Yehuwa mendengarkan perkataan Elia, sehingga jiwa anak itu kembali ke dalam dirinya dan ia hidup.” Sekali lagi, kata ”jiwa” berarti ”kehidupan”. Oleh karena itu, New American Standard Bible berbunyi, ”Kehidupan anak itu kembali kepadanya dan ia hidup kembali.” Ya, yang kembali kepada anak laki-laki itu adalah kehidupan, bukan suatu bentuk yang samar-samar. Ini selaras dengan apa yang Elia katakan kepada ibu dari anak laki-laki tersebut, ”Ini anakmu, ia [pribadinya secara keseluruhan] sudah hidup.”—1 Raja 17:23.

Dilema ”Keadaan Sementara”

8 Banyak orang yang mengaku Kristen percaya bahwa akan ada kebangkitan di masa depan manakala tubuh akan bergabung dengan jiwa yang tidak berkematian. Pada waktu itu, orang-orang yang dibangkitkan akan diserahkan pada nasib mereka—pahala bagi mereka yang menempuh hidup baik atau hukuman bagi orang yang fasik.

9 Konsep ini kedengarannya sederhana. Tetapi, orang-orang yang berpegang pada kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian mengalami kesulitan menjelaskan apa yang terjadi dengan jiwa antara waktu kematian dan waktu kebangkitan. Sesungguhnya, ”keadaan sementara” (keadaan peralihan) ini, sebagaimana itu sering kali disebut, telah membangkitkan spekulasi selama berabad-abad. Beberapa orang mengatakan bahwa selama periode ini, jiwa pergi ke api penyucian, tempat ia dapat disucikan dari dosa yang terampuni sehingga layak untuk masuk ke surga.

10 Akan tetapi, seperti yang telah kita lihat, jiwa adalah orang itu. Ketika seseorang mati, jiwanya mati. Oleh karena itu, tidak ada eksistensi yang sadar setelah kematian. Sesungguhnya, ketika Lazarus mati, Yesus Kristus tidak mengatakan bahwa dia ada dalam api penyucian, Limbo (tempat tinggal jiwa-jiwa yang dijauhkan dari surga karena belum menerima pembaptisan Kristen), atau ”keadaan sementara” apa pun. Sebaliknya, Yesus hanya berkata, ”Lazarus sudah tidur.” (Yohanes 11:11, BIS) Jelaslah, Yesus, yang mengetahui kebenaran mengenai apa yang terjadi dengan jiwa pada saat kematian, percaya bahwa Lazarus dalam keadaan tidak tahu apa-apa, tanpa eksistensi.

Apa Itu Roh?

11 Alkitab mengatakan bahwa apabila seseorang mati, ”nyawanya melayang [”rohnya pergi”, NW], ia kembali ke tanah”. (Mazmur 146:4) Apakah ini berarti bahwa suatu roh yang terpisah dari tubuh benar-benar keluar dan terus hidup setelah kematian seseorang? Hal itu tidak mungkin, karena sang pemazmur selanjutnya mengatakan, ”Pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya” (”semua pikirannya berakhir”, New English Bible). Kalau begitu, apa itu roh, dan bagaimana roh ”pergi” dari seseorang pada saat kematiannya?

12 Dalam Alkitab, kata-kata yang diterjemahkan ”roh” (Ibrani, ruakh; Yunani, pneuma) pada dasarnya berarti ”napas”. Oleh karena itu, sebaliknya daripada menggunakan ”rohnya pergi”, terjemahan R. A. Knox menggunakan ungkapan ”napasnya meninggalkan tubuhnya”. (Mazmur 145:4, Knox) Tetapi, kata ”roh” menyiratkan lebih daripada sekadar tindakan bernapas. Misalnya, ketika melukiskan pembinasaan kehidupan manusia dan binatang pada waktu Air Bah sedunia, Kejadian 7:22 (NW) mengatakan, ”Matilah segala yang memiliki napas dari daya [atau roh; Ibrani, ruakh] kehidupan yang aktif di lubang hidungnya, yakni semua yang ada di tanah yang kering.” Jadi, ”roh” dapat memaksudkan daya hidup yang aktif dalam semua makhluk hidup, baik manusia maupun binatang, dan yang ditunjang oleh pernapasan.

13 Sebagai ilustrasi: Arus listrik menyalurkan kekuatan pada sebuah alat. Jika arusnya berhenti, alat itu berhenti berfungsi. Arus itu sendiri tidak menjadi suatu alat yang terpisah. Demikian pula, ketika seseorang mati, rohnya tidak lagi menghidupi sel-sel tubuh. Roh itu tidak meninggalkan tubuh dan pindah ke alam lain.—Mazmur 104:29.

14 Kalau begitu, mengapa Pengkhotbah 12:7 menyatakan bahwa apabila seseorang mati, ”roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”? Apakah ini berarti bahwa roh secara harfiah mengadakan perjalanan melewati angkasa ke hadirat Allah? Bukan itu yang tersirat. Ingatlah, roh adalah daya hidup. Sekali daya hidup itu hilang, hanya Allah yang memiliki kesanggupan untuk mengembalikannya. Jadi, roh ”kembali kepada Allah” dalam arti bahwa harapan apa pun untuk kehidupan di masa depan bagi orang tersebut kini bergantung sepenuhnya pada Allah.

15 Hanya Allah yang dapat mengembalikan roh, atau tenaga hidup, menyebabkan seseorang hidup kembali. (Mazmur 104:30) Tetapi, apakah Allah berniat untuk melakukannya?

[Catatan Kaki]

Menurut New Catholic Encyclopedia, ”Bapak [Gereja] pada umumnya tidak meragukan adanya api penyucian”. Namun, karya referensi ini juga mengakui bahwa ”doktrin Katolik mengenai api penyucian didasarkan pada tradisi, bukan Kitab Suci”.

[Kotak di hlm. 23]

Ingatan tentang Kehidupan Sebelumnya

  JIKA tidak ada yang terus hidup setelah tubuh mati, bagaimana dengan orang-orang yang mengaku memiliki ingatan tentang kehidupan sebelumnya?

  Sarjana Hindu, Nikhilananda, mengatakan bahwa ’pengalaman setelah kematian tidak dapat dipertunjukkan secara masuk akal’. Dalam ceramah ”Pola Kepercayaan Akan Kekekalan Dalam Agama-Agama”, teolog Hans K√ľng menandaskan, ”Tidak ada satu pun dari laporan-laporan—yang sebagian besar berasal dari anak-anak atau dari negeri-negeri tempat dipercayainya reinkarnasi—mengenai kenangan akan kehidupan sebelumnya yang dapat diteguhkan kebenarannya.” Ia menambahkan, ”Sebagian besar [peneliti yang dengan serius bekerja secara ilmiah dalam bidang tersebut] mengakui bahwa pengalaman-pengalaman yang mereka teguhkan tidak menyediakan dasar bagi suatu bukti yang benar-benar meyakinkan tentang adanya pengulangan kehidupan di bumi.”

  Bagaimana jika saudara merasa bahwa saudara memiliki ingatan yang bersifat pribadi tentang kehidupan sebelumnya? Perasaan semacam itu boleh jadi disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagian besar informasi yang kita terima disimpan dalam suatu sudut tersembunyi dari alam bawah sadar kita karena kita tidak langsung menggunakannya. Sewaktu ingatan yang terlupakan itu muncul, beberapa orang menafsirkan hal ini sebagai bukti adanya kehidupan sebelumnya. Meskipun demikian, faktanya adalah bahwa kita tidak mempunyai pengalaman hidup yang dapat diteguhkan kebenarannya selain daripada yang sedang kita jalani sekarang. Mayoritas orang yang hidup di atas bumi sama sekali tidak mempunyai kenangan bahwa mereka pernah hidup sebelumnya; mereka juga tidak berpikir bahwa mereka mungkin pernah menjalani kehidupan-kehidupan sebelumnya.