Sabtu, 24 Agustus 2013

Kebenaran tentang Jiwa Itu Penting..bab 10


 

”Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran akan memerdekakan kamu.”—YOHANES 8:32.

KEPERCAYAAN tentang kematian dan kehidupan setelah kematian sebagian besar adalah hasil dari latar belakang agama dan kebudayaan seseorang. Seperti yang telah kita lihat, ini berkisar dari keyakinan bahwa jiwa mencapai tujuan akhirnya hanya setelah mengalami banyak kelahiran kembali hingga gagasan bahwa satu masa hidup seseorang menentukan nasib akhirnya. Oleh karenanya, seseorang boleh jadi yakin bahwa akhirnya ia akan menyatu dengan realitas akhir sewaktu mati, sementara yang lainnya yakin bahwa ia akan mencapai Nirwana, dan ada pula yang yakin bahwa ia akan mendapatkan pahala surgawi. Kalau begitu, apa kebenarannya? Karena kepercayaan kita mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan kita, bukankah kita seharusnya berminat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu?

2 Buku tertua di dunia, Alkitab, menelusuri sejarah manusia hingga penciptaan jiwa manusia yang pertama. Ajarannya bebas dari filsafat dan tradisi manusia. Alkitab dengan jelas menyatakan kebenaran tentang jiwa: Jiwa saudara adalah saudara sendiri, orang mati sama sekali tanpa eksistensi, dan orang-orang yang ada dalam ingatan Allah akan dibangkitkan pada waktu yang ditentukan-Nya. Apa artinya pengetahuan ini bagi saudara?

3 ”Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran akan memerdekakan kamu,” kata Yesus Kristus kepada para pengikutnya. (Yohanes 8:32) Ya, kebenaran itu membebaskan. Tetapi, kebenaran tentang jiwa akan memerdekakan kita dari apa?

Kemerdekaan dari Rasa Takut dan Putus Asa

4 ”Sebagian besar orang takut akan kematian dan tidak mau memikirkannya,” kata The World Book Encyclopedia. ”Kata ’kematian’ itu sendiri nyaris tidak disebut-sebut lagi di dunia Barat,” demikian komentar seorang sejarawan. Dan dalam beberapa kebudayaan, eufemisme seperti ”meninggal dunia” atau ”wafat” umumnya digunakan untuk melukiskan kematian seseorang. Rasa takut akan kematian ini sebenarnya adalah rasa takut akan sesuatu yang tidak diketahui, karena bagi kebanyakan orang, kematian adalah misteri. Mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi sewaktu kita meninggal mengurangi rasa takut ini.

5 Misalnya, perhatikan keadaan pikiran Michaelyn yang berusia 15 tahun. Ia menderita leukemia dan menghadapi kematian yang tragis. Ibunya, Paula, mengenang, ”Michaelyn mengatakan bahwa ia tidak khawatir akan kematian, karena ia tahu bahwa kematian hanyalah bersifat sementara. Kami banyak berbicara mengenai dunia baru Allah dan semua orang yang akan dibangkitkan di sana. Michaelyn memiliki iman yang sangat kuat akan Allah Yehuwa dan kebangkitan—tanpa setitik keraguan pun.” Harapan kebangkitan memerdekakan gadis muda yang berani ini dari rasa takut yang hebat akan kematian.

6 Bagaimana kebenaran mempengaruhi orang-tua Michaelyn? ”Kematian anak perempuan kami yang masih kecil adalah hal paling menyakitkan yang pernah terjadi pada kami,” kata Jeff, ayahnya. ”Tetapi, kami sepenuhnya mempercayai janji Yehuwa akan kebangkitan, dan kami menanti-nantikan hari manakala kami dapat memeluk lagi Michaelyn kami yang tersayang. Itu benar-benar akan menjadi reuni yang luar biasa!”

7 Ya, kebenaran tentang jiwa memerdekakan seseorang dari keadaan putus asa tanpa harapan yang mungkin diakibatkan oleh kematian orang yang dikasihi. Tentu saja, tidak ada yang dapat sepenuhnya menyingkirkan kepedihan hati dan dukacita yang dialami pada saat kematian seseorang yang dikasihi. Akan tetapi, harapan kebangkitan meringankan perkabungan dan membuat kepedihan hati itu jauh lebih mudah ditanggung.

8 Kebenaran Alkitab tentang keadaan orang mati juga memerdekakan kita dari rasa takut akan orang mati. Sejak mengetahui kebenaran ini, banyak orang yang dahulu dibelenggu oleh ritual-ritual yang bersifat takhayul sehubungan dengan orang mati tidak lagi mengkhawatirkan kutukan, pertanda, jimat, dan berhala, mereka juga tidak lagi mempersembahkan korban yang mahal untuk menenangkan nenek moyang mereka agar tidak kembali serta menghantui orang yang masih hidup. Sesungguhnya, karena orang mati ”tak tahu apa-apa”, praktek-praktek semacam itu adalah sia-sia.—Pengkhotbah 9:5.

9 Kebenaran tentang jiwa, yang terdapat dalam Alkitab, benar-benar memerdekakan dan dapat diandalkan. Tetapi, perhatikan juga sebuah prospek unik yang diulurkan Alkitab kepada saudara.

[Pertanyaan Pelajaran]

1. Mengapa penting untuk memeriksa kepercayaan kita tentang jiwa dan kematian?

2, 3. (a) Mengapa kita dapat menaruh keyakinan akan apa yang Alkitab katakan tentang jiwa? (b) Sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab, apa kebenaran tentang jiwa?

4, 5. (a) Kebenaran tentang jiwa mengusir rasa takut akan apa? (b) Bagaimana harapan kebangkitan memberikan keberanian kepada seorang remaja yang menderita penyakit yang mematikan?

6, 7. Dari rasa putus asa akan apa kebenaran tentang jiwa memerdekakan kita? Berikan gambaran.

8, 9. Dari rasa takut akan apa kebenaran tentang keadaan orang mati memerdekakan kita?

[Blurb di hlm. 29]

Kebenaran tentang jiwa memerdekakan saudara dari rasa takut akan kematian, rasa takut akan orang mati, rasa putus asa karena kematian orang yang dikasihi