Minggu, 25 Agustus 2013

Bagaimana Orang Lain Dapat Membantu?

Bila orang yg kita kasihi meninggal ?
Bab 4





 

”Bagaimana Orang Lain Dapat Membantu?, kita mengucapkannya dengan tulus. Kita akan melakukan apa saja untuk membantu. Namun, apakah orang yang berkabung mendatangi kita dan berkata, ”Terpikir oleh saya akan sesuatu yang Anda dapat lakukan untuk saya”? Biasanya tidak. Jelaslah, kita perlu mengambil beberapa inisiatif jika kita benar-benar ingin membantu dan menghibur orang yang berduka cita.

Sebuah amsal Alkitab berkata, ”Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 15:23; 25:11) Dibutuhkan hikmat untuk mengetahui apa yang harus dikatakan dan apa yang jangan dikatakan, apa yang harus dilakukan dan apa yang jangan dilakukan. Berikut ini adalah beberapa saran berdasarkan Alkitab yang didapati berguna oleh beberapa orang yang berkabung.

Apa yang Harus Dilakukan . . .

Dengarkan: ’Cepatlah mendengar’, kata Yakobus 1:19. Salah satu hal paling berguna yang dapat Anda lakukan adalah ikut merasakan kesedihan dari orang yang berkabung dengan mendengarkan. Beberapa orang yang berkabung mungkin perlu berbicara mengenai orang yang mereka kasihi yang telah meninggal, mengenai kecelakaan atau penyakit yang menyebabkan kematiannya, atau mengenai perasaan-perasaan mereka setelah kematian tersebut. Maka tanyakanlah, ”Apakah Anda ingin membicarakannya?” Biarkan mereka yang memutuskan. Ketika mengenang saat ketika ayahnya meninggal, seorang pria muda berkata, ”Saya merasa sangat dibantu sewaktu orang-orang menanyakan apa yang telah terjadi dan kemudian benar-benar mendengarkan.” Maka dengarkanlah dengan sabar dan penuh simpati tanpa perlu merasa bahwa Anda harus menyediakan jawaban atau jalan keluarnya. Biarkan mereka mengutarakan apa pun yang ingin mereka katakan.

Tenteramkan hati mereka: Yakinkan mereka bahwa mereka telah melakukan sebisa mungkin (atau hal-hal lain yang Anda tahu benar dan positif). Tenteramkan hati mereka bahwa apa yang mereka rasakan—kesedihan, kemarahan, perasaan bersalah, atau beberapa emosi lain—sama sekali bukannya tidak lazim. Beri tahu mereka tentang orang-orang lain yang Anda ketahui berhasil pulih dari kehilangan yang serupa. ”Perkataan yang menyenangkan” demikian merupakan ”obat bagi tulang-tulang”, kata Amsal 16:24.—1 Tesalonika 5:11, 14.

Sediakan diri: Sediakan diri Anda, tidak hanya beberapa hari pertama sewaktu banyak teman dan sanak saudara masih ada, tetapi bahkan berbulan-bulan kemudian, sewaktu orang-orang lain telah kembali ke rutin yang normal. Dengan cara ini Anda membuktikan diri Anda sebagai ”sahabat”, yang selalu siap membantu seorang sahabat pada masa ”kesukaran”. (Amsal 17:17) ”Teman-teman kami memastikan bahwa setiap malam kami ada kesibukan supaya kami tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian di rumah,” kata Teresea menjelaskan, yang anaknya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. ”Hal ini membantu kami mengatasi perasaan hampa yang kami miliki.” Selama bertahun-tahun setelah itu, hari-hari peringatan, seperti ulang tahun perkawinan atau tanggal dari kematian itu, dapat merupakan saat yang penuh tekanan bagi orang yang ditinggalkan. Mengapa tidak menandai tanggal-tanggal demikian di kalender Anda sehingga pada waktu hari itu tiba, Anda dapat menyediakan diri, jika perlu, untuk memberi dukungan yang penuh simpati?

Ambil inisiatif yang cocok: Apakah ada tugas-tugas yang perlu dikerjakan? Apakah seseorang diperlukan untuk mengasuh anak-anak? Apakah teman-teman dan sanak saudara yang berkunjung membutuhkan tempat menginap? Orang-orang yang baru saja berkabung sering kali begitu tergoncang sehingga mereka bahkan tidak tahu apa yang perlu mereka lakukan, apa lagi memberi tahu orang-orang lain bagaimana mereka dapat membantu. Jadi jika Anda memperhatikan kebutuhan yang sebenarnya, jangan menunggu untuk diminta; ambillah inisiatif. (1 Korintus 10:24; bandingkan 1 Yohanes 3:17, 18.) Seorang wanita yang suaminya meninggal mengenang, ”Banyak yang berkata, ’Jika ada yang dapat saya bantu, jangan segan memberi tahu saya.’ Namun seorang sahabat tidak menanyakannya. Ia langsung pergi ke kamar tidur, menarik sprei dari tempat tidur, dan mencuci hal-hal yang kotor karena kematiannya. Yang lain mengambil sebuah ember, air, dan alat-alat pembersih dan menggosok permadani yang terkena muntahan suami saya. Beberapa minggu kemudian, salah seorang penatua sidang mampir dengan pakaian kerjanya dan berkata, ’Saya yakin pasti ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Apa yang bisa saya perbaiki?’ Hati saya tersentuh oleh kasih saudara tersebut karena ia memperbaiki pintu yang engselnya lepas dan karena memperbaiki sebuah peralatan listrik!”—Bandingkan Yakobus 1:27.

Bersifat suka menerima tamu: ”Janganlah kamu lupa memberi tumpangan [”sifat suka menerima tamu”, NW],” demikian Alkitab mengingatkan kita. (Ibrani 13:2) Kita teristimewa harus ingat untuk memperlihatkan sifat suka menerima tamu kepada orang-orang yang berduka cita. Sebaliknya daripada undangan ”datanglah kapan saja”, tetapkan hari dan waktunya. Jika mereka menolak, jangan cepat menyerah. Anjuran yang lembut mungkin dibutuhkan. Barangkali mereka menolak undangan Anda karena mereka takut kehilangan kendali atas emosi-emosi mereka di hadapan orang-orang lain. Atau mereka mungkin merasa bersalah karena menikmati makan bersama dan pergaulan pada saat seperti itu. Ingatlah tentang Lidia, wanita yang suka menerima tamu yang disebutkan dalam Alkitab. Setelah diundang ke rumahnya, Lukas berkata, ”Ia mendesak sampai kami menerimanya.”—Kisah 16:15.

Bersabar dan berpengertian: Jangan terlalu terkejut dengan apa yang mungkin dikatakan oleh orang-orang yang berkabung pada mulanya. Ingat, mereka mungkin merasa marah dan merasa bersalah. Jika ledakan emosi ditujukan kepada Anda, dibutuhkan pemahaman dan kesabaran di pihak Anda untuk tidak menanggapi dengan perasaan kesal. ”Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelembahlembutan dan kesabaran,” demikian saran Alkitab.—Kolose 3:12, 13.

Tulis sepucuk surat: Yang sering diabaikan adalah nilai dari sepucuk surat yang menyatakan belasungkawa atau sebuah kartu yang menyatakan turut berduka cita. Manfaatnya? Cindy, yang kehilangan ibunya karena kanker, menjawab, ”Seorang teman menulis surat yang indah. Itu benar-benar membantu karena saya dapat membacanya berulang kali.” Surat atau kartu yang menganjurkan seperti itu dapat disusun ”dengan sedikit kata-kata”, namun itu hendaknya benar-benar keluar dari hati. (Ibrani 13:22) Anda dapat menulis bahwa Anda turut prihatin dan Anda memiliki kenangan khusus akan orang yang meninggal, atau Anda dapat memperlihatkan bagaimana orang yang meninggal itu telah meninggalkan kesan khusus dalam kehidupan Anda.

Berdoa bersama mereka: Jangan meremehkan nilai dari doa-doa Anda bersama dan untuk orang yang sedang berkabung. Alkitab berkata di Yakobus 5:16, ”Doa orang yang benar . . . sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16) Misalnya, mendengarkan Anda berdoa demi kepentingan mereka dapat membantu mereka menyembuhkan perasaan-perasaan negatif seperti rasa bersalah.—Bandingkan Yakobus 5:13-15.

Apa yang Jangan Dilakukan . . .

Jangan menjauhi mereka karena Anda tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan: ’Saya yakin sekarang mereka perlu berada seorang diri,’ kita mungkin berkata kepada diri kita sendiri. Namun barangkali kebenarannya adalah bahwa kita menjauhi mereka karena kita takut akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah. Akan tetapi, dihindari oleh teman-teman, sanak saudara, atau rekan-rekan seiman hanya membuat orang yang berkabung semakin kesepian, menambah kepada rasa sedih mereka. Ingat, kata-kata dan tindakan yang paling baik sering kali adalah yang paling sederhana. (Efesus 4:32) Kehadiran Anda saja dapat menjadi sumber anjuran. (Bandingkan Kisah 28:15.) Mengenang hari ketika putrinya meninggal, Teresea berkata, ”Dalam waktu satu jam, ruang tunggu rumah sakit dipenuhi oleh teman-teman kami; semua penatua dan istri mereka berada di sana. Beberapa saudari bahkan belum sempat melepaskan rol rambut mereka, beberapa masih mengenakan baju kerja mereka. Mereka meninggalkan apa yang mereka kerjakan dan segera datang. Banyak dari mereka memberi tahu kami bahwa mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan, tetapi itu tidak menjadi soal karena kehadiran mereka saja sangat berarti.”

Jangan mendesak mereka untuk berhenti berduka cita: ’Sudah, sudah, jangan menangis,’ kita mungkin ingin berkata demikian. Namun bisa jadi lebih baik untuk membiarkan air mata bercucuran. ”Saya rasa penting untuk membiarkan orang yang berkabung memperlihatkan emosi mereka dan benar-benar melampiaskan perasaan mereka,” kata Katherine, mengenang kematian suaminya. Lawanlah kecenderungan untuk memberi tahu orang-orang lain apa yang harus mereka rasakan. Dan jangan menduga bahwa Anda harus menyembunyikan perasaan-perasaan Anda untuk menjaga perasaan mereka. Sebaliknya, ”menangislah dengan orang yang menangis”, demikian saran Alkitab.—Roma 12:15.

Jangan tergesa-gesa menganjurkan mereka untuk menyingkirkan baju atau barang-barang pribadi lain dari orang yang meninggal sebelum mereka merasa siap: Kita mungkin merasa bahwa lebih baik bagi mereka untuk menyingkirkan barang-barang yang menggugah kenangan karena hal-hal itu setidaknya memperpanjang duka cita. Namun pepatah ”Jauh di mata, jauh di hati”: mungkin tidak berlaku di sini. Orang yang berkabung mungkin perlu perlahan-lahan melepas orang yang meninggal. Ingatlah gambaran Alkitab berkenaan reaksi Yakub sewaktu ia dikelabui sehingga percaya bahwa Yusuf putranya yang masih remaja telah dibunuh oleh binatang buas. Setelah jubah Yusuf yang berlumuran darah diberikan kepada Yakub, ”berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu. Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan”.—Kejadian 37:31-35.

Jangan mengatakan, ’Anda dapat memiliki bayi lagi’: ”Saya benci orang-orang memberi tahu saya bahwa saya dapat memiliki anak lagi,” kenang seorang ibu yang ditinggal mati anaknya. Mereka mungkin bermaksud baik, tetapi bagi orang-tua yang berduka cita, ucapan yang menyatakan bahwa anak yang meninggal bisa digantikan dapat menjadi ’seperti tikaman pedang’. (Amsal 12:18) Seorang anak tidak dapat digantikan oleh anak lain. Mengapa? Karena masing-masing anak unik.

Bila tidak perlu jangan menghindari menyebutkan nama orang yang meninggal: ”Banyak orang bahkan tidak mau menyebutkan nama putra saya Jimmy atau berbicara tentangnya,” kenang seorang ibu. ”Saya harus akui saya merasa sedikit terluka sewaktu orang-orang melakukan hal itu.” Jadi, tidak perlu mengganti topik percakapan sewaktu nama orang yang meninggal disebutkan. Tanyakan orangnya apakah ia ingin membicarakan orang yang ia kasihi. (Bandingkan Ayub 1:18, 19 dan 10:1.) Beberapa orang yang berkabung senang mendengarkan teman-teman mereka menceritakan sifat-sifat istimewa yang membuat mereka menyayangi orang yang telah meninggal.—Bandingkan Kisah 9:36-39.

Jangan tergesa-gesa berkata, ’Ini yang terbaik baginya’: Berupaya mencari sesuatu yang positif berkenaan kematian tidak selalu ’menghibur mereka yang tawar hati’ yang sedang berduka cita. (1 Tesalonika 5:14) Ketika mengenang saat ibunya meninggal, seorang wanita muda berkata, ”Orang-orang lain berkata, ’Ia tidak menderita lagi sekarang’ atau, ’Setidaknya ia berada dalam damai sekarang.’ Tetapi saya tidak suka mendengar hal-hal semacam itu.” Komentar-komentar demikian secara tidak langsung dapat menyatakan bahwa orang-orang yang ditinggalkan tidak boleh merasa sedih atau bahwa kematian ini tidak berarti. Akan tetapi, mereka bisa jadi merasa sangat sedih karena mereka sangat kehilangan orang yang mereka kasihi.

Sebaiknya jangan berkata, ’Saya tahu bagaimana perasaan Anda’: Apakah memang demikian? Misalnya, mungkinkah Anda mengetahui apa yang dirasakan orang-tua sewaktu seorang anak meninggal jika Anda sendiri tidak pernah mengalami kehilangan demikian? Dan bahkan jika Anda telah mengalaminya, sadarilah bahwa orang-orang mungkin tidak merasakan hal yang persis sama seperti yang Anda rasakan. (Bandingkan Ratapan 1:12.) Di lain pihak, jika tampak cocok, mungkin ada beberapa manfaat dengan memberi tahu bagaimana Anda telah pulih dari perasaan kehilangan orang yang Anda kasihi. Seorang wanita yang putrinya mati dibunuh merasa terbina sewaktu seorang ibu yang putrinya telah meninggal memberi tahu dia bagaimana ibu itu kembali kepada kehidupan yang normal. Ia berkata, ”Ibu dari anak yang meninggal itu tidak mengawali ceritanya dengan ’Saya tahu bagaimana perasaan Anda’. Ia sekadar memberi tahu saya segala sesuatu yang ia alami dan membiarkan saya memberi tanggapan atasnya.”

Membantu orang yang berkabung menuntut kasih sayang, daya pengamatan, dan banyak kasih di pihak Anda. Jangan menunggu sampai orang yang berkabung datang kepada Anda. Jangan sekadar berkata, ”Jika ada sesuatu yang dapat saya bantu . . .” Cari tahu apa ”sesuatu” itu, dan kemudian ambil inisiatif yang cocok.

Masih ada beberapa pertanyaan: Bagaimana dengan harapan Alkitab tentang kebangkitan? Hal itu dapat berarti apa bagi Anda dan orang yang dikasihi yang telah meninggal? Bagaimana kita dapat merasa yakin bahwa itu merupakan harapan yang dapat diandalkan?
Pertanyaan untuk Direnungkan
Mengapa berguna untuk turut merasakan kesedihan dari orang yang berkabung dengan mendengarkan?
Apa beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghibur orang yang berduka cita?
Kita harus menghindari mengatakan atau melakukan hal apa kepada seseorang yang berkabung?

[Kotak di hlm. 25]

Membantu Anak-Anak Memahami Kematian

Bila kematian menimpa suatu keluarga, orang-tua dan juga sanak keluarga serta teman-teman sering tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan untuk membantu anak-anak memahami apa yang telah terjadi. Namun, anak-anak membutuhkan orang-orang dewasa untuk membantu mereka memahami kematian. Pertimbangkan beberapa pertanyaan yang lazim diajukan berkenaan membantu anak-anak mengerti kematian.

Bagaimana Anda menjelaskan kematian kepada anak-anak? Penting untuk menjelaskannya dengan kata-kata yang sederhana. Juga jelaskan dengan benar. Jangan segan menggunakan kata-kata yang sesungguhnya, seperti misalnya “mati” dan “kematian”. Sebagai contoh, Anda dapat duduk bersama sang anak, memeluknya, dan berkata, “Suatu hal yang sangat, sangat menyedihkan telah terjadi. Papa menderita karena suatu penyakit yang tidak banyak dialami orang [atau apa pun yang Anda ketahui benar], dan dia meninggal. Bukan salah siapa pun dia meninggal. Kita akan sangat merindukannya karena kita mencintainya, dan ia mencintai kita.” Namun, akan berguna untuk menjelaskan bahwa anak tersebut atau orang-tuanya yang masih hidup tidak akan mati hanya karena ia kadang-kadang sakit.
 
Anjurkan mereka untuk bertanya. ‘Apa itu mati?’ mereka mungkin bertanya. Anda dapat menjawab seperti ini, “’Mati’ berarti tubuh berhenti bekerja dan tidak dapat lagi melakukan hal-hal yang biasa dilakukan—tidak dapat berbicara, melihat, atau mendengar, dan tidak dapat merasakan apa-apa.” Orang-tua yang percaya kepada janji-janji Alkitab akan suatu kebangkitan dapat menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan bahwa Allah Yehuwa mengingat orang yang meninggal dan dapat menghidupkannya kembali dalam Firdaus di bumi di masa depan. (Lukas 23:43; Yohanes 5:28, 29)—Lihat bagian “Harapan yang Pasti Bagi Orang Mati”.



Apakah ada hal-hal yang hendaknya jangan Anda katakan? Tidak akan membantu untuk mengatakan bahwa orang yang meninggal sedang mengadakan perjalanan jauh. Rasa takut ditinggalkan merupakan kekhawatiran utama seorang anak, khususnya bila orang-tua yang meninggal. Diberi tahu bahwa orang yang meninggal sedang bepergian hanya akan memperkuat perasaan si anak bahwa ia ditinggalkan dan ia mungkin bernalar, ‘Nenek pergi, dan pamit pun tidak!’ Juga, hati-hati dengan anak-anak kecil, mengenai berkata bahwa orang yang mati telah pergi tidur. Anak-anak cenderung sangat harfiah. Jika sang anak menyamakan tidur dengan kematian, akibatnya ia akan takut untuk pergi tidur pada malam hari.

Perlukah anak-anak menghadiri upacara pemakaman? Orang-tua harus mempertimbangkan perasaan anak-anak. Jika mereka tidak ingin pergi, jangan paksa mereka atau dengan satu atau lain cara membuat mereka merasa bersalah karena tidak hadir. Jika mereka ingin hadir, berikan kepada mereka penjelasan yang terperinci berkenaan apa yang akan berlangsung, termasuk apakah akan ada peti dan apakah itu akan terbuka atau tertutup. Jelaskan juga bahwa mereka akan melihat banyak orang menangis karena mereka sedih. Sekali lagi, biarkan mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dan yakinkan mereka bahwa mereka dapat meninggalkan acara jika mereka ingin.

Bagaimana anak-anak menanggapi kematian? Anak-anak sering kali merasa bertanggung jawab atas kematian dari orang yang dikasihi. Karena seorang anak mungkin pernah satu atau beberapa kali merasa marah terhadap orang yang meninggal, sang anak mungkin akan menganggap bahwa pikiran atau kata-kata amarah menyebabkan kematian. Anda mungkin perlu memberikan penghiburan, ‘Pikiranmu dan kata-katamu tidak membuat orang-orang menjadi sakit, dan juga tidak membuat orang mati.’ Seorang anak kecil perlu diyakinkan berulang kali.

Haruskah Anda menyembunyikan duka cita Anda dari anak-anak? Menangis di hadapan anak-anak adalah normal dan juga menyehatkan. Lagi pula, hampir mustahil untuk sepenuhnya menyembunyikan perasaan-perasaan Anda dari anak-anak; mereka cenderung sangat cerdik dan sering dapat mencium adanya sesuatu yang tidak beres. Bersikap jujur berkenaan duka cita Anda membuat mereka tahu bahwa adalah normal untuk berduka cita dan untuk kadang-kadang memperlihatkan perasaan-perasaan Anda.

[Gambar di hlm. 21]

Jika Anda melihat ada kebutuhan yang sesungguhnya, jangan menunggu untuk dimintai bantuan—ambil inisiatif yang cocok

[Gambar di hlm. 23]

Kehadiran Anda di rumah sakit dapat menganjurkan orang yang berkabung