Minggu, 04 Agustus 2013

Alam Semesta Paralel

 


Sejak beberapa abad, sosok dan sifat alam semesta selalu menjadi bahan perdebatan panas. Sepuluh tahun terakhir ini, silang sengketa yang mencuat adalah kemungkinan adanya alam semesta lain, di luar alam semesta yang kita kenal.

Memang amat sulit untuk menerima aksioma adanya alam semesta lain. Pendukung utama teori alam semesta pararel atau multiversum, seperti Prof. Michio Kaku dari Universitas New York, mengemukakan kemungkinan adanya banyak alam semesta. Atau juga pakar astrofisika Inggris, Marcus Chown yang meyakini, di luar batasan alam semesta yang nampak, terdapat banyak alam semesta lainnya.

Satu dari Miliaran
Para pakar astrofisika juga membicarakan apa yang disebut horizon batas pandang, yaitu batasan alam semesta yang kita kenal. Teori yang dilontarkan mengenai multiversum adalah bahwa alam semesta yang dapat kita amati merupakan potongan kecil dari alam semesta yang mungkin tidak ada batasnya. Alam semesta yang kita kenal boleh jadi hanya merupakan satu dari miliaran alam semesta lain, yang bagaikan gelembung sabun mengambang di aliran waktu.

Pendukung lainnya dari teori multiversum adalah pakar astronomi dari Universitas Princeton Max Tegmark PhD yang mengatakan, alam memberikan cukup banyak indikasi bahwa alam semesta yang kita huni hanya salah satu dari banyak alam semesta. Akan tetapi harus diakui, sejauh ini pakar astronomi belum mampu menyusun potongan-potongan datanya, untuk membuat suatu gambar besar yang utuh.

Teorinya Sulit Dibuktikan
Amat sulit untuk membuktikan hipotesa multiversum tersebut. Akan tetapi jika mencermati berbagai data penelitian alam semesta, terlihat banyak faktor pendukung. Misalnya saja misteri materi gelap dan energi gelap, yang membuat alam semesta ini tidak runtuh atau tercerai berai. Juga sesuai teori fisika kuantum, seluruh kemungkinan konfigurasi alam semesta dapat muncul dan berulang tanpa batas. Untuk dapat menerima gagasan tersebut, ahli kosmologi Prof. Alexander Vilenkin dari Universitas Tufts di Massachussets mengibaratkan, kita harus melakukan latihan metafisik, karena teorinya tidak dapat langsung dibuktikan.

Empat Model Universum
Akan tetapi dengan hipotesa tersebut, kemungkinan juga tidak cuma satu model multiversum. Sedikitnya sudah ada empat kemungkinan, yakni multiversum terbuka, yang mengacu pada teori inflasi kosmis tidak ada batasnya. Kemudian multiversum seperti gelembung sabun, yang dipicu oleh inflasi kosmis yang chaos. Selanjutnya hipotesa multiversum berupa alam semesta pararel sebagai konsekuensi dari hukum fisika kuantum. Dan terakhir adalah multiversum yang masing-masing memiliki struktur dan persamaan matematik berbeda.

Bercermin Pada Kopernikus
Semua hipotesa mengenai kemungkinan adanya alam semesta lain kelihatannya memang sangat absurd. Tapi Vilenkin mengajukan semacam analogi dengan kasus Kopernikus, yang menyatakan bahwa matahari sebagai pusat alam semesta. Lima abad lalu orang juga sulit menerima gagasan abstrak bahwa bumi bukan pusat alam semesta, melainkan hanyalah planet kecil diantara triliunan planet serupa di milyaran galaksi di alam semesta yang kita kenal ini.

Big Bang
Jika mengacu pada teori fluktuasi kuantum atau teori string, memang gagasan akan adanya banyak alam semesta semakin mengental. Bahkan Vilenkin mengajukan gagasan bahwa alam semesta yang kita kenal mungkin hanya salah satu dari triliunan alam semesta serupa. Dentuman besar yang melahirkan alam semesta yang kita kenal, mungkin hanya semacam Big Bang lokal, yang berasal dari sebuah Big Bang lebih dasyat lainnya.

Anak Alam Semesta
Artinya, mungkin saja ada sebuah dentuman besar yang boleh disebut ibunya Big Bang, yang melahirkan jutaan triliun alam semesta. Jadi ibaratnya, alam semesta yang kina kenal hanyalah salah satu anak dari alam semesta induk. Mengacu pada teori inflasi alam semesta setelah dentuman besar, di batas atas pemuaian alam semesta terbentuk semacam gelembung ruang dan waktu. Di kawasan ini semua hukum alam seolah-olah tidak berlaku lagi. Dari kawasan fluktuasi kuantuk semacam itu mungkin saja lahir banyak sekali alam semesta baru.

Jumlah Alam Semesta Hampir Tanpa Batas
Hipotesa multiversum lainnya dilontarkan oleh Leonard Susskind dari Universitas Stanford. Susskind menarik konsekuensi dari teori string, yang merupakan pengembangan dari model standar teori partikel. Dari teori itu, didapatkan kemungkinan bahwa jumlah alam semesta hampir tanpa batas. Skenario inflasi alam semesta akan menciptakan mekanisme fisik, yang memungkinkan lahirnya jutaan triliun gelembung alam semesta. Susskind bahkan mengajukan teori, jumlah gelembung alam semesta adalah antara 10 pangkat 100 sampai 10 pangkat 1500. Artinya, dari angka 1 dengan 100 nol sampai 1500 nol dibelakangnya. Sebagai gambaran, satu triliun adalah angka 1 dengan 12 nol dibelakangnya.

Jarak Alam Semesta Terdekat
Max Tegmark menghitung secara matematis, alam semesta berikutnya kemungkinan berjarak 100 miliar pangkat 29 meter dari alam semesta yang kita kenal ini, sebuah bilangan yang juga kedengarannya amat absurd. Tapi dengan teori string juga dapat digambarkan bahwa alam semesta itu tidak perlu terlalu jauh terpisah dari alam semesta yang kita kenal. Dalam eksperimen di pusat penelitian nuklir Eropa CERN di Jenewa, peralatan pemercepat partikel mampu menciptakan apa yang disebut partikel Kaluza-Klein. Partikel ini lenyap ke dalam dimensi ekstra, namun jejaknya masih dapat dilacak di bumi.

Puzzle Belum Lengkap
Artinya berdasarkan teori string, bisa saja alam semesta lain berada di dimensi yang tidak kasat mata, dekat dengan alam semesta yang kita kenal. Jadi semakin terlihat, pendekatan teoritis dengan landasan berbeda, menciptakan gagasan alam semesta yang berbeda pula. Juga tidak semua ilmuawan dapat menerima teori semacam itu. Pakar astrofisika yang palang terkemuka abad ini, Hawking, mengatakan, teori multiversum ibaratnya susunan puzzle, yang sudah dikenal gambaran sisinya, tapi tengahhnya masih bolong besar. Tantangan saat ini adalah untuk terus mencari potongan-potongan puzzle yang dapat mengisi bagian tengah yang masih bolong. (muj)

SUMBER: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan teknologi

sumber