Jumat, 23 Agustus 2013

Adakah Kehidupan Setelah Kematian?....bab 1


 

”Bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali . . . Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?”—MUSA, SEORANG NABI ZAMAN PURBA.

DI SEBUAH rumah duka di New York City, teman-teman dan keluarga dengan senyap berjalan melewati peti jenazah yang terbuka. Mereka menatap jenazah itu, seorang anak lelaki berusia 17 tahun. Teman-teman sekolahnya sama sekali tidak dapat mengenalinya. Kemoterapi telah merontokkan rambutnya; kanker telah menggerogoti tubuhnya. Inikah teman mereka? Baru beberapa bulan yang lalu, ia begitu kaya dengan gagasan, pertanyaan, energi—penuh semangat hidup! Sang ibu yang berdukacita mencoba menemukan harapan dan penghiburan dengan berpikir bahwa dengan satu atau lain cara putranya masih hidup. Sambil bercucuran air mata, ia terus-menerus mengulangi apa yang selama ini diajarkan kepadanya, ”Tommy lebih bahagia sekarang. Allah ingin agar Tommy berada di surga bersamanya.”

2 Sekitar 11.000 kilometer dari sana, di Jamnagar, India, tiga putra dari seorang pengusaha yang berusia 58 tahun membantu membaringkan jenazah ayah mereka di atas tumpukan kayu pembakaran jenazah. Di bawah cahaya matahari yang terang pada pagi hari itu, putra yang sulung memulai upacara kremasi: menyalakan batang-batang kayu dengan obor serta menuangkan campuran rempah-rempah dan dupa yang harum ke atas tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa. Gemeretak api teredam oleh suara sang Brahmana yang mengulang-ulangi mantra berbahasa Sanskerta yang berarti, ”Semoga jiwa yang tidak pernah mati melanjutkan upayanya untuk menyatu dengan realitas akhir.”

3 Seraya ketiga bersaudara tersebut mengikuti jalannya kremasi, masing-masing bertanya dalam hati, ’Apakah saya percaya akan kehidupan setelah kematian?’ Karena telah dididik di bagian-bagian dunia yang berbeda, mereka memberikan jawaban yang berbeda. Yang bungsu merasa yakin bahwa ayah mereka yang tercinta akan mengalami reinkarnasi ke kehidupan yang statusnya lebih tinggi. Putra kedua percaya bahwa orang mati seperti orang tidur, sama sekali tidak sadar akan apa pun. Yang sulung sekadar mencoba menerima realitas dari kematian, karena ia berpikir bahwa tidak seorang pun dapat tahu pasti apa yang terjadi dengan kita bila kita meninggal.

Satu Pertanyaan, Banyak Jawaban

4 Adakah kehidupan setelah kematian? adalah pertanyaan yang telah membingungkan umat manusia selama ribuan tahun. ”Bahkan para teolog merasa malu apabila dihadapkan dengan [pertanyaan itu],” kata Hans Küng, seorang sarjana Katolik. Selama berabad-abad, orang-orang dari segala lapisan masyarakat telah memikirkan pokok tersebut, dan tidak sedikit jawaban yang dikemukakan.

5 Banyak orang yang mengaku Kristen percaya akan surga dan neraka. Sebaliknya, orang Hindu percaya akan reinkarnasi. Sewaktu mengomentari pandangan orang Muslim, Amir Muawiyah, seorang asisten di sebuah pusat agama Islam, mengatakan, ”Kami mempercayai adanya suatu hari penghakiman setelah kematian, pada waktu Anda pergi menghadap Allah, persis seperti berjalan memasuki ruang pengadilan.” Menurut kepercayaan Islam, pada waktu itu Allah akan menilai haluan hidup setiap orang dan menyerahkan orang itu ke firdaus atau ke api neraka.

6 Di Sri Lanka, orang Buddha maupun orang Katolik membiarkan pintu dan jendela terbuka lebar apabila ada anggota keluarga mereka yang meninggal. Sebuah lampu minyak dinyalakan, dan peti jenazah ditempatkan dengan kaki orang mati itu menghadap pintu depan. Mereka percaya bahwa hal-hal ini akan memudahkan keluarnya roh, atau jiwa orang mati itu, dari rumah tersebut.

7 Orang Aborigin Australia, kata Ronald M. Berndt dari University of Western Australia, percaya bahwa ”manusia secara rohani tidak dapat dibinasakan”. Suku-suku tertentu di Afrika percaya bahwa setelah kematian, rakyat biasa akan menjadi hantu, sedangkan pribadi-pribadi terkemuka akan menjadi roh nenek moyang, sebagai pemimpin dari alam roh yang akan dihormati oleh masyarakat dan menjadi tempat meminta petunjuk.

8 Di beberapa negeri, kepercayaan mengenai jiwa-jiwa yang dianggap berasal dari orang mati merupakan campuran tradisi lokal dan kekristenan nominal. Misalnya, di antara banyak orang Katolik dan Protestan di Afrika Barat, ada kebiasaan untuk menutupi cermin-cermin sewaktu ada yang meninggal agar tidak seorang pun memandang ke cermin dan melihat roh orang mati tersebut. Kemudian, 40 hari setelah kematian orang yang dikasihi, keluarga dan teman-teman merayakan kenaikan jiwanya ke surga.

Tema yang Sama

9 Jawaban untuk pertanyaan mengenai apa yang terjadi bila kita meninggal sangat bervariasi, sama seperti kebiasaan dan kepercayaan dari orang-orang yang mengemukakannya. Namun, sebagian besar agama sependapat dengan satu gagasan fundamental: Sesuatu dalam diri seseorang—jiwa, roh, hantu—tidak berkematian dan terus hidup setelah kematian.

10 Kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian hampir bersifat universal dalam ribuan agama dan sekte Susunan Kristen. Ini juga merupakan doktrin resmi dalam Yudaisme. Dalam Hinduisme, kepercayaan ini justru adalah fondasi dari ajaran reinkarnasi. Orang Muslim percaya bahwa jiwa menjadi ada bersama tubuh, tetapi terus hidup setelah tubuh mati. Kepercayaan-kepercayaan lain—animisme di Afrika, Shinto, dan bahkan Buddha—mengajarkan berbagai kepercayaan dari tema yang sama ini.

11 Namun, ada orang-orang yang sama sekali berpandangan lain, yaitu bahwa kehidupan yang sadar berakhir pada saat kematian. Bagi mereka, gagasan tentang berlanjutnya kehidupan dengan emosi dan kecerdasan, dalam bentuk jiwa yang abstrak dan samar-samar terpisah dari tubuh, tampaknya tidak masuk akal. Penulis dan sarjana abad ke-20 dari Spanyol, Miguel de Unamuno, menulis, ”Mempercayai jiwa yang tidak berkematian sama saja dengan mengharapkan bahwa jiwa itu tidak bisa mati, tetapi mengharapkannya dengan tekad yang sedemikian kuat sehingga membuat seseorang mengabaikan penalaran dan menjadi tidak masuk akal.” Mereka yang tidak mau mempercayai adanya pribadi yang tidak berkematian di antaranya adalah filsuf Aristoteles dan Epikuros yang terkenal di zaman purba, dokter Hipokrates, filsuf asal Skotlandia, David Hume, sarjana asal Arab, Averroës, dan perdana menteri India yang pertama setelah merdeka, Jawaharlal Nehru.

12 Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita benar-benar memiliki jiwa yang tidak berkematian? Jika jiwa sebenarnya berkematian, maka bagaimana ajaran palsu semacam itu dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian besar agama dewasa ini? Dari mana gagasan ini berawal? Dan jika jiwa sebenarnya lenyap pada saat kematian, apa harapan yang dapat dimiliki oleh orang-orang mati?

13 Dapatkah kita menemukan jawaban yang benar dan memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu? Ya! Pertanyaan-pertanyaan ini dan yang lain akan dijawab pada halaman-halaman berikut. Pertama-tama, marilah kita memeriksa asal usul doktrin jiwa yang tidak berkematian.