Jumat, 16 Agustus 2013

Apa Kata Buku Kejadian?.....dari Bible.


Pasal 3

 

HAL-HAL yang disalahgambarkan atau disalahmengerti setidaknya patut diperiksa dengan jujur. Demikian pula halnya dengan pasal pertama Alkitab. Isinya perlu diselidiki dan dipastikan, apakah selaras dengan fakta-fakta yang ada, tidak dicocok-cocokkan dengan teori tertentu. Selain itu, perlu diingat bahwa catatan di buku Kejadian tidak ditulis untuk menunjukkan ”bagaimana” penciptaan terjadi. Sebaliknya, buku itu menceritakan peristiwa-peristiwa utama secara progresif, menjelaskan apa saja yang dijadikan, urutannya, dan jangka waktu, atau ”hari”, ketika setiap peristiwa mulai terjadi.

2 Sewaktu memeriksa catatan Kejadian, ada baiknya mengingat bahwa isinya dituturkan dari sudut pandang manusia di bumi. Maka, berbagai peristiwanya diceritakan sebagaimana terlihat oleh seorang pengamat seandainya manusia telah ada pada waktu itu. Ini dapat terlihat dari uraian tentang peristiwa pada ”hari” keempat. Matahari dan bulan dilukiskan sebagai benda penerang yang besar dibandingkan dengan bintang-bintang. Sebenarnya, banyak bintang lebih besar daripada matahari kita, dan bulan tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bintang-bintang itu. Tetapi, tidak demikian bagi seorang pengamat di bumi. Maka, dari bumi, matahari tampak sebagai ’penerang yang lebih besar yang berkuasa atas siang’ dan bulan, ’penerang yang lebih kecil yang berkuasa atas malam’.—Kejadian 1:14-18.

3 Bagian awal buku Kejadian menunjukkan bahwa bumi bisa jadi sudah ada miliaran tahun sebelum ”hari” pertama di buku Kejadian, walaupun tidak dikatakan berapa lama. Namun, buku itu menjelaskan bagaimana keadaan bumi tepat sebelum ”hari” pertama dimulai, ”Bumi belum berbentuk dan kosong dan kegelapan ada di atas permukaan air yang dalam; dan tenaga aktif Allah bergerak ke sana kemari di atas permukaan air.”—Kejadian 1:2.

Berapa Panjangnya ”Hari” di Buku Kejadian?

4 Banyak yang menganggap ”hari” yang disebutkan di Kejadian pasal 1 panjangnya 24 jam. Tetapi, di Kejadian 2:4 seluruh periode penciptaan disebut satu ”hari”, ”Inilah sejarah langit dan bumi pada waktu diciptakan, pada hari [keenam periode penciptaan] Allah Yehuwa membuat bumi dan langit.”

5 Kata Ibrani yohm, yang diterjemahkan ”hari”, dapat memaksudkan waktu yang berbeda-beda panjangnya. Menurut Old Testament Word Studies karya William Wilson, pengertiannya antara lain: ”Satu hari; kata ini sering digunakan untuk waktu secara umum, atau waktu yang panjang; seluruh jangka waktu yang sedang dibicarakan . . . Hari juga digunakan untuk musim atau waktu tertentu ketika peristiwa-peristiwa luar biasa terjadi.”1 Kalimat terakhir ini tampaknya cocok dengan ”hari-hari” penciptaan, karena memang pada periode tersebut terjadilah peristiwa-peristiwa luar biasa. Ini juga bisa berarti bahwa periode-periode itu panjangnya jauh melebihi 24 jam.

6 Kejadian pasal 1 menggunakan ungkapan ”petang” dan ”pagi” sehubungan dengan periode penciptaan. Bukankah ini menunjukkan bahwa periode tersebut panjangnya 24 jam? Belum tentu. Dalam beberapa bahasa, kata ”hari” sering digunakan untuk memaksudkan suatu masa dalam kehidupan seseorang. Misalnya, masa tua sering disebut ”hari tua”. Dan, kita juga mengenal istilah ”fajar kehidupan” atau ”usia senja” yang memaksudkan periode waktu yang panjang dalam kehidupan seseorang. Maka, pengertian ’petang dan pagi’ di Kejadian pasal 1 tidak terbatas pada 24 jam harfiah.

7 Kata ”hari” dalam Alkitab dapat mencakup musim panas dan musim dingin, pergantian musim. (Zakharia 14:8) ”Hari panen” terdiri dari banyak hari. (Bandingkan Amsal 25:13 dan Kejadian 30:14.) Seribu tahun diibaratkan dengan satu hari. (Mazmur 90:4; 2 Petrus 3:8, 10) ”Hari Penghakiman” panjangnya bertahun-tahun. (Matius 10:15; 11:22-24) Tampaknya masuk akal bahwa ”hari-hari” di buku Kejadian juga mencakup waktu yang lama—ribuan tahun. Lalu, apa yang terjadi selama masa-masa penciptaan itu? Apakah catatan Alkitab tentang penciptaan bersifat ilmiah? Berikut ini, kita akan meninjau ”hari-hari” itu sebagaimana diuraikan di Kejadian.

”Hari” Pertama

8 ”’Biarlah ada terang.’ Lalu terang pun ada. Allah mulai menyebut terang itu Siang, tetapi kegelapan itu disebutnya Malam. Tibalah petang dan tibalah pagi, hari pertama.”—Kejadian 1:3, 5.

9 Tentu saja matahari dan bulan sudah ada di luar angkasa jauh sebelum ”hari” pertama ini, tetapi cahayanya tidak sampai ke permukaan bumi sehingga tidak dapat dilihat oleh pengamat di bumi. Pada ”hari” pertama ini, terang mulai kelihatan di bumi. Dan, siang serta malam pun silih berganti seraya bumi berputar pada porosnya.

10 Tampaknya, terang ada secara berangsur-angsur, selama waktu yang lama, tidak dalam sekejap seperti jika Anda menyalakan lampu. Ini jelas dalam terjemahan J.W. Watts untuk ayat tersebut, ”Dan secara bertahap cahaya mulai ada.” (A Distinctive Translation of Genesis) Cahaya ini berasal dari matahari, tetapi matahari sendiri tidak dapat terlihat karena terhalang awan. Maka, cahaya yang sampai ke bumi kala itu adalah ”cahaya yang terdifusi”, atau cahaya yang tersebar, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah komentar tentang ayat 3 dalam Emphasised Bible terjemahan Rotherham.—Lihat catatan kaki b untuk ayat 14.

”Hari” Kedua

11 ”’Biarlah ada angkasa di tengah-tengah air dan biarlah terjadi pemisahan antara air dengan air.’ Kemudian Allah membuat angkasa dan memisahkan air yang harus ada di bawah angkasa itu dan air yang harus ada di atas angkasa itu. Dan jadilah demikian. Allah mulai menyebut angkasa itu Langit.”—Kejadian 1:6-8.

12 Beberapa terjemahan tidak menggunakan kata ”angkasa” tetapi ”cakrawala”. Karena itu, ada yang berargumentasi bahwa catatan Kejadian menyontek berbagai mitos penciptaan yang menggambarkan ”cakrawala” ini sebagai kubah logam. Tetapi, bahkan Alkitab King James Version, yang menggunakan kata ”cakrawala”, mencantumkan ”angkasa” di catatan pinggirnya. Itu karena kata Ibrani raqi′a‛, yang diterjemahkan menjadi ”angkasa”, berarti meregangkan atau menghamparkan atau membentangkan.

13 Catatan Kejadian mengatakan bahwa Allah yang membuatnya, tetapi tidak dikatakan bagaimana caranya. Tidak soal bagaimana pemisahan itu terjadi, kelihatannya ’air di atas’ seolah-olah telah terdorong ke atas dari bumi. Dan, burung-burung belakangan dapat dikatakan beterbangan di ”angkasa”, seperti dinyatakan di Kejadian 1:20.

”Hari” Ketiga

14 ”’Biarlah air di bawah langit terkumpul ke satu tempat dan biarlah tanah yang kering muncul.’ Dan jadilah demikian. Allah mulai menyebut tanah yang kering itu Darat, tetapi air yang terkumpul itu disebutnya Laut.” (Kejadian 1:9, 10) Seperti biasa, catatan itu tidak menggambarkan prosesnya. Tidak diragukan, untuk membentuk wilayah daratan, lempeng-lempeng bumi tentu telah mengalami pergerakan dahsyat. Menurut para geolog, pergeseran besar-besaran demikian disebut sebagai katastrofe. Tetapi, Kejadian menunjukkan adanya pengarahan dan pengendalian oleh seorang Pencipta.

15 Dalam catatan Alkitab yang menjelaskan bagaimana Allah menanyakan pengetahuan Ayub tentang bumi, berbagai perkembangan sejarah bumi dikemukakan: ukurannya, kumpulan awannya, lautnya dan bagaimana gelombang-gelombangnya dibatasi oleh daratan—banyak hal umum tentang penciptaan, yang meliputi periode waktu yang lama. Salah satunya, ketika mengumpamakan bumi sebagai sebuah bangunan, Alkitab mengatakan bahwa Allah bertanya kepada Ayub, ”Ke dalam apa alasnya yang bersoket ditanamkan, atau siapakah yang meletakkan batu penjurunya?”—Ayub 38:6.

16 Menarik sekali, seperti ’alas yang bersoket’, kerak bumi di bawah benua jauh lebih tebal dan bahkan lebih tebal lagi di bawah barisan pegunungan, menembus jauh ke dalam lapisan di bawah, seperti akar-akar pohon menembus ke dalam tanah. ”Gagasan bahwa gunung dan benua memiliki akar telah berulang kali diuji, dan terbukti benar,” kata buku Putnam’s Geology.2 Kerak di bawah lautan tebalnya hanya kira-kira 8 kilometer, tetapi akar benua masuk hingga kira-kira 32 kilometer dan akar gunung menembus kira-kira dua kali lebih dalam. Dan, semua lapisan bumi mendesak ke dalam dari segala jurusan ke arah inti bumi, yang bagaikan ’batu penjuru’ penopang yang besar.

17 Cara apa pun yang digunakan untuk memunculkan daratan, yang penting adalah: Baik Alkitab maupun sains mengakuinya sebagai salah satu tahap pembentukan bumi.

Tumbuhan Darat pada ”Hari” Ketiga

18 Catatan Alkitab menambahkan, ”’Biarlah tanah menumbuhkan rumput, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, pohon buah-buahan yang menghasilkan buah menurut jenisnya, yang di dalamnya ada biji, di atas tanah.’ Dan jadilah demikian.”—Kejadian 1:11.

19 Jadi, menjelang akhir periode ketiga penciptaan, tiga golongan besar tumbuhan darat telah diciptakan. Cahaya yang terdifusi tentu sudah sangat kuat pada waktu itu, cukup untuk proses fotosintesis yang amat penting bagi tumbuhan hijau. Sekadar tambahan, catatan itu tidak menyebutkan setiap ’jenis’ tumbuhan yang muncul. Organisme mikroskopis, tumbuhan air, dan lain-lain tidak disebutkan secara spesifik, tetapi kemungkinan besar diciptakan pada ”hari” ini.

”Hari” Keempat

20 ”’Biarlah ada benda-benda penerang di angkasa untuk memisahkan siang dan malam; dan itu semua akan berfungsi sebagai tanda dan untuk menandai musim-musim dan hari-hari dan tahun-tahun. Dan itu semua akan berfungsi sebagai benda penerang di angkasa untuk menyinari bumi.’ Dan jadilah demikian. Kemudian Allah membuat kedua benda penerang besar itu, benda penerang yang lebih besar untuk berkuasa atas siang dan benda penerang yang lebih kecil untuk berkuasa atas malam, dan juga bintang-bintang.”—Kejadian 1:14-16; Mazmur 136:7-9.

21 Sebelumnya, pada ”hari” pertama, ungkapan ”Biarlah ada terang” digunakan. Kata Ibrani untuk ”terang” yang digunakan di sana adalah ’ohr, artinya terang dalam pengertian umum. Tetapi, pada ”hari” keempat, kata Ibraninya berubah menjadi ma·’ohr′, yang berarti sumber terang. Pada catatan kaki untuk ”Benda-benda penerang” dalam Emphasised Bible, Rotherham mengatakan, ”Di ay. 3, ’ôr [’ohr], cahaya yang terdifusi.” Kemudian, ia selanjutnya menunjukkan bahwa kata Ibrani ma·’ohr′ di ayat 14 berarti sesuatu ”yang menghasilkan terang”. Pada ”hari” pertama, cahaya yang terdifusi tampaknya menembus lapisan-lapisan pembungkus, tetapi sumber-sumber cahaya tersebut tidak terlihat oleh pengamat di bumi karena lapisan awan masih menutupi bumi. Pada ”hari” keempat ini, keadaan rupanya berubah.

22 Atmosfer yang pada mulanya sarat gas karbon dioksida mungkin telah menyebabkan seluruh bumi berhawa panas. Tetapi, tumbuh-tumbuhan yang berkembang subur selama periode penciptaan ketiga dan keempat menyerap sebagian lapisan karbon dioksida yang menahan panas itu. Tumbuh-tumbuhan selanjutnya mengeluarkan oksigen, yang sangat dibutuhkan binatang.

23 Maka, seandainya ada pengamat di bumi pada waktu itu, ia kini dapat melihat matahari, bulan, dan bintang-bintang, yang akan ”berfungsi sebagai tanda dan untuk menandai musim-musim dan hari-hari dan tahun-tahun”. (Kejadian 1:14) Bulan akan menunjukkan berlalunya masa-masa menurut peredaran bulan, dan matahari menunjukkan berlalunya tahun-tahun berdasarkan peredaran bumi mengitari matahari. Berbagai musim yang ’terjadi’ pada ”hari” keempat ini pastilah tidak seekstrem yang ada belakangan.—Kejadian 1:15; 8:20-22.

”Hari” Kelima

24 ”’Biarlah dalam air berkeriapan sekelompok jiwa yang hidup dan biarlah makhluk-makhluk terbang beterbangan di atas bumi pada permukaan angkasa.’ Kemudian Allah menciptakan makhluk-makhluk laut yang luar biasa besar dan segala jiwa yang hidup dan bergerak, yang berkeriapan dalam air menurut jenisnya, dan segala makhluk terbang yang bersayap menurut jenisnya.”—Kejadian 1:20, 21.

25 Menarik untuk diperhatikan bahwa makhluk-makhluk yang berkeriapan dalam air itu disebut ”jiwa yang hidup” meskipun mereka bukan manusia. Istilah ini juga berlaku bagi ”makhluk-makhluk terbang [yang] beterbangan di atas bumi pada permukaan angkasa”. Dan, itu juga berlaku bagi berbagai makhluk di laut dan udara, seperti makhluk laut raksasa, yang sisa fosilnya ditemukan oleh para ilmuwan akhir-akhir ini.

”Hari” Keenam

26 ”’Biarlah bumi mengeluarkan jiwa-jiwa yang hidup menurut jenisnya, binatang peliharaan dan binatang merayap dan binatang liar di bumi menurut jenisnya.’ Dan jadilah demikian.”—Kejadian 1:24.

27 Demikianlah, pada ”hari” keenam muncullah binatang darat yang digolongkan sebagai binatang liar dan binatang peliharaan. Tetapi, ”hari” terakhir ini belum selesai. Satu ’jenis’ terakhir yang mengagumkan akan muncul:

28 ”Selanjutnya Allah berfirman, ’Mari kita membuat manusia menurut gambar kita, sesuai dengan rupa kita, dan biarlah mereka menundukkan ikan-ikan di laut dan makhluk-makhluk terbang di langit dan binatang-binatang peliharaan dan seluruh bumi dan segala binatang merayap yang merayap di bumi.’ Kemudian Allah menciptakan manusia menurut gambarnya, menurut gambar Allah diciptakannya dia; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka.”—Kejadian 1:26, 27.

29 Kejadian pasal 2 rupanya menambahkan beberapa perincian. Namun, ini bukan catatan lain tentang penciptaan yang bertentangan dengan uraian di pasal 1, sebagaimana disimpulkan beberapa orang. Pasal 2 mulai pada suatu saat di ”hari” ketiga, setelah daratan muncul tetapi sebelum tumbuhan darat diciptakan, sebagai perincian tambahan seputar kehadiran manusia—Adam, jiwa yang hidup itu; taman tempat tinggalnya, Eden; dan wanita yang menjadi istrinya, Hawa.—Kejadian 2:5-9, 15-18, 21, 22.

30 Hal-hal di atas dikemukakan untuk membantu kita mengerti apa yang dikatakan oleh buku Kejadian. Dan, dari catatan yang sangat realistis ini jelaslah bahwa proses penciptaan berlangsung selama suatu periode, yang panjangnya bukan hanya 144 jam (6 × 24), melainkan ribuan tahun.

Sumber Keterangan Buku Kejadian

31 Banyak yang merasa sulit mempercayai catatan penciptaan ini. Mereka mengatakan bahwa catatan itu diambil dari mitos-mitos zaman dahulu tentang penciptaan, terutama dari Babilon kuno. Namun, seperti yang dikatakan dalam sebuah kamus Alkitab baru-baru ini, ”Belum ada mitos yang secara eksplisit menyebut tentang penciptaan alam semesta” dan mitos-mitos itu ”bercirikan politeisme dan pertempuran antardewa untuk memperebutkan kekuasaan dan ini sangat berbeda dengan monoteisme Ibr[ani] dalam [Kejadian] 1-2.”3 Mengenai legenda penciptaan versi Babilon, para pengurus British Museum mengatakan, ”Konsep dasar kisah versi Babilon dan versi Ibrani pada hakikatnya berbeda.”4

32 Dari apa yang telah kita bahas, jelaslah bahwa catatan penciptaan di buku Kejadian adalah dokumen yang logis secara ilmiah. Catatan itu menyingkapkan adanya golongan-golongan yang lebih besar untuk tumbuhan dan binatang, dengan banyak variasinya, yang berkembang biak hanya ”menurut jenisnya”. Catatan fosil meneguhkan hal ini, malah menunjukkan bahwa setiap ’jenis’ muncul secara tiba-tiba, tanpa bentuk-bentuk peralihan yang menghubungkannya dengan ’jenis’ sebelumnya, sebagaimana yang harus ada dalam teori evolusi.

33 Segala pengetahuan para cendekiawan Mesir tidak mungkin memberikan petunjuk tentang proses penciptaan kepada Musa, penulis Kejadian. Mitos penciptaan zaman dahulu sama sekali tidak mirip dengan tulisan Musa di Kejadian. Kalau begitu, dari mana Musa mengetahui semua hal itu? Jelaslah dari pribadi yang menyaksikan semua peristiwa tersebut.

34 Teori probabilitas (kemungkinan) dalam matematika memberikan bukti yang mencolok bahwa catatan penciptaan di buku Kejadian pasti berasal dari sumber yang mengetahui peristiwanya. Catatan itu menguraikan 10 tahap utama dengan urutan ini: (1) suatu permulaan; (2) bumi primitif yang gelap dan diselubungi gas-gas yang pekat dan air; (3) terang; (4) angkasa atau atmosfer; (5) wilayah daratan yang luas; (6) tumbuh-tumbuhan darat; (7) matahari, bulan, dan bintang-bintang dapat dilihat di angkasa, dan musim-musim dimulai; (8) makhluk-makhluk laut raksasa dan makhluk-makhluk terbang; (9) binatang yang liar dan jinak, mamalia; (10) manusia. Sains setuju bahwa seperti itulah urutannya. Seberapa besarkah peluangnya bagi penulis Kejadian untuk menebak urutan itu dengan benar? Halnya seperti jika Anda secara acak mau mengambil angka 1 sampai 10 dari sebuah kotak dengan berurutan. Peluang untuk melakukan hal ini dengan tepat pada kesempatan pertama ialah 1 berbanding 3.628.800! Maka, sungguh tidak realistis bila dikatakan bahwa sang penulis hanya kebetulan saja mengurutkan peristiwa-peristiwa tadi dengan tepat tanpa memperoleh fakta dari suatu sumber.

35 Namun, teori evolusi mengesampingkan adanya Pencipta yang menyaksikan semuanya, yang mengetahui fakta-faktanya dan dapat menyingkapkannya kepada manusia. Malah, teori itu menyebutkan bahwa kehidupan di bumi berasal dari organisme hidup yang muncul secara spontan dari zat-zat kimia yang tidak bernyawa. Tetapi, dapatkah kehidupan tercipta dari reaksi kimia tanpa pengarahan, yang mengandalkan kebetulan semata? Apakah para ilmuwan sendiri yakin bahwa hal itu dapat terjadi? Silakan lihat pasal berikut.