Senin, 12 Agustus 2013

Lebih dari 20 persen Ilmuan Ateis bersifat Spiritual

 


Minggu, 15 Mei 2011 - Lebih dari 20 persen ilmuan ateis bersifat spiritual, menurut penelitian terbaru dari Universitas Rice. Walaupun masyarakat umum menikahkan spiritualitas dengan agama, studi ini menemukan kalau spiritualitas sesungguhnya merupakan gagasan terpisah – yang lebih dekat kesejajarannya dengan penemuan ilmiah – bagi ilmuan “ateis spiritual.”

Penelitian ini diterbitkan dalam edisi Juni 2011 jurnal ilmiah Sociology of Religion. Lewat wawancara mendalam pada 275 ilmuan alam dan sosial di universitas-universitas terkenal, para peneliti Rice menemukan kalau 72 dari para ilmuan tersebut mengatakan bahwa mereka memiliki spiritualitas yang konsisten dengan sains, walaupun mereka tidak beragama secara formal.

“Hasil kami menunjukkan kalau para ilmuan memandang agama dan spiritualitas sebagai konstruk yang berbeda secara kualitatif,” kata Elaine Howard Ecklund, asisten profesor sosiologi di Rice dan penulis perdana studi ini. “Para ilmuan ateis spiritual ini mencari makna kebenaran lewat spiritualitas – yang dibangkitkan lewat dan konsisten dengan pekerjaan mereka sebagai ilmuan.”

Sebagai contoh, para ilmuan ini memandang sains dan spiritualitas sebagai “pembuatan makna tanpa keyakinan” dan sebagai penaklukkan makna individual yang tidak akan pernah final. Menurut penelitian ini, mereka melihat spiritualitas kongruen dengan sains dan terpisah dari agama, karena penaklukkan tersebut; dimana spiritualitas terbuka dengan perjalanan ilmiah, sementara agama memerlukan keyakinan mutlak walau dengan “ketiadaan bukti empiris.”

“Ada spiritualitas diantara ilmuan yang paling sekuler sekalipun,” kata Ecklund. “Spiritualitas ada dalam pemikiran ilmuan baik yang religius maupun ateis. Hal ini menantang gagasan kalau ilmuan, dan kelompok lain yang dipandang sekuler mengabaikan pertanyaan seperti “Mengapa saya ada di sini?” Mereka juga memiliki pertanyaan dasar manusia ini dan ingin mencari maknanya.”

Ecklund menulis studi ini bersama dengan Elizabeth Long, professor dan kepala jurusan sosiologi di Rice. Dalam analisis mereka pada 275 wawancara, mereka menemukan kalau kata sifat yang paling sering digunakan ilmuan untuk menyatakan agama mencakup “terorganisir, bermasyarakat, kesatuan dan kolektif.” Kumpulan kata yang digunakan untuk spiritualitas mencakup “individual, personal dan dikonstruksi secara personal.” Semua responden yang menggunakan istilah kolektif atau individual menisbahkan istilah kolektif pada agama dan istilah individual pada spiritualitas.

“Sementara data menunjukkan kalau spiritualitas terutama merupakan perjuangan individual bagi ilmuan akademis, ia bukanlah individualis dalam artian klasik yaitu membuat mereka lebih terfokus pada diri sendiri,” kata Ecklund, direktur Program Agama dan Kehidupan Masyarakat di Rice. “Dalam artian benda-benda, menjadi spiritual memotivasi mereka untuk membantu orang lain dan mengarahkan kembali cara mereka memikirkan tentang dan bekerja sebagai ilmuan.”

Ecklund dan Long mencatat kalau ilmuan spiritual melihat batasan antara diri mereka dengan kolega non spiritualnya karena spiritualitas mereka memfasilitasi keterlibatan dengan dunia di sekitarnya. Keterlibatan demikian, menurut para ilmuan spiritual, membangkitkan pendekatan berbeda pada penelitian dan pengajaran: Sementara koleganya yang nonspiritual berfokus pada penelitian mereka sendiri dengan mengorbankan interaksi dengan mahasiswa, para ilmuan spiritual merasa spiritualitas menyediakan alasan yang tidak dapat dirundingkan untuk memastikan kalau mereka membantu mahasiswa yang berjuang untuk berhasil.

Sumber:
Referensi jurnal:
E. H. Ecklund, E. Long. Scientists and Spirituality. Sociology of Religion, 2011; DOI: 10.1093/socrel/srr003
Sumber: FaktaIlmiah.com

sumber