Sabtu, 17 Agustus 2013

Naluri—Hikmat yang Terprogram Sebelum Lahir


Pasal 13

 
”BEGITU menakjubkannya berbagai naluri sehingga bagi pembaca, perkembangan naluri mungkin akan tampak sebagai problem yang cukup besar yang dapat menggulingkan seluruh teori saya,” tulis Darwin. Ia rupanya merasa bahwa naluri merupakan masalah yang tidak bisa dijelaskan, karena ia selanjutnya mengatakan, ”Mungkin di sini saya bisa menyatakan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang asal mula kekuatan mental, seperti juga tentang kehidupan itu sendiri.”1

2 Seperti Darwin, para ilmuwan sampai sekarang pun belum bisa memberikan penjelasan tentang naluri. Seorang evolusionis berkata, ”Faktanya, tidak ada sedikit pun tanda bahwa mekanisme genetik sanggup menurunkan pola perilaku yang spesifik. . . . Jika kita bertanya kepada diri sendiri bagaimana pola perilaku naluriah itu bisa muncul pada mulanya dan menjadi sesuatu yang diwariskan, kita tidak mendapat jawabannya.”2

3 Namun, tidak seperti Darwin dan para evolusionis lainnya, sebuah buku bertiras luas tentang burung dengan mudahnya memberikan penjelasan tentang salah satu naluri yang paling misterius—yang menyangkut migrasi. Buku itu mengatakan, ”Tidak diragukan, prosesnya merupakan proses evolusi: burung yang berasal dari iklim hangat mungkin menyebar ke tempat lain untuk mencari makanan.”3

4 Dapatkah jawaban yang begitu sederhana menjelaskan prestasi luar biasa dari banyak hewan migran? Para ilmuwan tahu bahwa pengembaraan yang bersifat coba-coba dan perilaku hasil pemelajaran seperti itu tidak tertanam dalam kode genetik dan karena itu tidak diwariskan kepada keturunannya. Migrasi diakui bersifat naluriah dan ”tidak bergantung pada pengalaman di masa lampau”.4 Perhatikan beberapa contoh.

Prestasi Migrasi yang Mengagumkan

5 Juara terbang jarak jauh dipegang oleh dara-laut Arktik. Mereka bersarang di sebelah utara Lingkaran Arktik (Kutub Utara), dan pada akhir musim panas mereka terbang ke selatan untuk menghabiskan musim panas di Antartika di atas bongkahan es dekat Kutub Selatan. Mereka bisa jadi mengelilingi seluruh benua Antartika sebelum terbang kembali ke Arktik. Demikianlah mereka menyelesaikan migrasi tahunan mereka sejauh kira-kira 35.000 kilometer. Di kedua belah kutub ada sumber makanan yang berlimpah, sehingga seorang ilmuwan mengajukan pertanyaan, ”Bagaimana mereka bisa tahu adanya sumber makanan di tempat-tempat yang begitu jauh terpisah?”5 Evolusi tidak dapat menjawabnya.

6 Yang juga tidak dapat dijelaskan oleh evolusi adalah migrasi burung prenjak kepala hitam. Berat tubuhnya hanya 21 gram. Tetapi pada musim gugur, ia terbang dari Alaska ke pesisir timur Kanada atau New England, makan sekenyang-kenyangnya, menimbun lemak dalam tubuhnya lalu menunggu muka massa udara dingin (cold front). Sewaktu muka massa udara tersebut tiba, burung itu pun berangkat. Tujuan akhirnya adalah Amerika Selatan, tetapi ia mula-mula terbang ke arah Afrika. Di atas Samudra Atlantik pada ketinggian kira-kira 6.000 meter, ia menumpang arus angin yang membelokkannya ke Amerika Selatan.

7 Bagaimana burung prenjak itu tahu bahwa ia harus menunggu datangnya muka massa udara dingin, bahwa hal itu mengartikan cuaca baik dan ia akan terbantu oleh tiupan angin buritan? Bagaimana ia tahu bahwa ia harus terbang lebih tinggi, padahal udaranya tipis, dingin, dan hanya mengandung 50 persen oksigen? Bagaimana ia tahu bahwa hanya pada ketinggian tersebut ada tiupan angin lintang yang akan membawanya ke Amerika Selatan? Bagaimana ia tahu bahwa ia harus terbang ke arah Afrika agar bisa terbawa angin ke arah barat daya? Burung prenjak tidak tahu mengapa ia harus melakukan semua hal itu. Dalam perjalanan sejauh kira-kira 3.800 kilometer di atas laut lepas ini, selama tiga atau empat hari siang dan malam, ia hanya dikendalikan oleh naluri.

8 Bangau putih melewatkan musim panas di Eropa tetapi terbang sejauh 12.800 kilometer untuk melewatkan musim dingin di Afrika Selatan. Burung cerek kernyut terbang dari tundra di Kutub Utara sampai ke pampa (padang rumput) di Argentina. Sejenis burung trinil pantai bermigrasi 1.600 kilometer lebih jauh lagi hingga ke ujung Amerika Selatan. Burung gajahan berbulu sikat terbang dari Alaska ke Tahiti dan pulau-pulau lain, hingga sejauh 9.600 kilometer di atas samudra lepas. Kolibri berleher merah delima bermigrasi dengan rute yang lebih pendek, tetapi sama-sama menakjubkan mengingat berat tubuhnya hanya tiga gram. Ia terbang sejauh 960 kilometer menyeberangi Teluk Meksiko dengan mengepakkan sayap mungilnya hingga 75 kali per detik selama 25 jam. Lebih dari enam juta kepakan nonstop!

9 Banyak migrasi dilakukan untuk pertama kalinya oleh anak-anak burung tanpa ditemani burung dewasa. Burung kuku berekor panjang dari Selandia Baru terbang sejauh 6.400 kilometer ke pulau-pulau di Pasifik untuk bergabung dengan induk mereka yang sudah pergi terlebih dahulu. Burung penggunting-laut Manx bermigrasi dari Wales ke Brasil, meninggalkan anak-anaknya, yang menyusul segera setelah mereka bisa terbang. Ada yang menyelesaikan perjalanan itu selama 16 hari, rata-rata 740 kilometer setiap harinya. Seekor burung ini dibawa dari Wales ke Boston, jauh dari rute normalnya. Tetapi, burung tersebut kembali ke liangnya di Wales yang jauhnya 5.100 kilometer dalam 12 1/2 hari. Burung dara piaraan, bila dibawa ke tempat mana pun dalam radius 1.000 kilometer, bisa kembali ke tempat asal mereka dalam satu hari.

10 Satu contoh terakhir: burung yang bisa berjalan dan berenang tetapi tidak bisa terbang. Perhatikan penguin Adélie. Sewaktu dipindahkan sejauh 1.900 kilometer dari sarang mereka dan dilepaskan, mereka segera berorientasi dan berjalan lurus ke depan, tidak menuju sarang tempat asal mereka, tetapi menuju laut lepas dan mencari makanan. Dari laut mereka akhirnya kembali ke sarang. Mereka melewatkan musim dingin yang nyaris gelap gulita di laut. Bagaimana penguin dapat mengenali arah selama musim dingin yang gelap? Tidak ada yang tahu.

11 Bagaimana burung-burung dapat melakukan navigasi yang demikian hebat? Eksperimen menunjukkan bahwa mereka mungkin memanfaatkan matahari dan bintang-bintang. Mereka tampaknya mempunyai jam biologis untuk mengkompensasi pergerakan benda-benda langit tersebut. Lantas, bagaimana jika langit mendung? Setidaknya beberapa burung memiliki kompas magnetis dalam tubuh mereka untuk digunakan pada waktu itu. Namun, kompas penunjuk arah tidaklah cukup. Mereka memerlukan ”peta” di kepala mereka, yang menunjukkan titik tolak maupun titik tujuan. Dan, pada peta tersebut rutenya harus ditandai, karena rute itu tidak selalu lurus. Tetapi, semua ini tidak ada gunanya jika mereka tidak tahu di mana lokasi mereka pada peta tersebut! Burung penggunting-laut Manx harus tahu di mana ia berada sewaktu dilepaskan di Boston untuk menentukan arah menuju Wales. Burung dara piaraan harus tahu ke mana ia dibawa sebelum dapat memastikan jalan pulang.

12 Baru pada Abad Pertengahan banyak orang memperdebatkan fakta tentang migrasi burung ke tempat-tempat yang jauh, namun Alkitab sudah menyebutkannya pada abad keenam SM, ”Burung bangau pun tahu waktunya untuk kembali; tekukur, burung layang-layang dan murai juga tahu masanya untuk berpindah tempat.” Sekarang ini, meski banyak yang telah diketahui, banyak juga yang masih merupakan misteri. Suka atau tidak, kata-kata Alkitab terbukti benar, ”Ia memberi kita keinginan untuk mengetahui hari depan, tetapi kita tak sanggup mengerti perbuatan Allah dari awal sampai akhir.”—Yeremia 8:7; Pengkhotbah 3:11, Bahasa Indonesia Masa Kini.

Para Navigator Lainnya

13 Karibu (rusa kutub) di Alaska bermigrasi ke selatan sejauh 1.200 kilometer pada musim dingin. Banyak paus berenang sejauh 9.600 kilometer lebih dari Samudra Arktik dan kembali. Anjing-laut-berbulu bermigrasi sejauh 4.800 kilometer dari Kepulauan Pribilof ke Kalifornia selatan. Penyu hijau berenang dari pesisir Brasil ke Pulau Ascension yang kecil, sejauh 2.250 kilometer di Samudra Atlantik, lalu kembali. Beberapa kepiting bermigrasi sejauh 240 kilometer di dasar samudra. Ikan salmon meninggalkan sungai tempat mereka menetas dan tinggal selama beberapa tahun di laut lepas, lalu kembali ratusan kilometer jauhnya ke sungai tempat asal mereka. Anak belut yang lahir di Laut Sargasso di Samudra Atlantik, menghabiskan hampir seluruh hidupnya di sungai air tawar di Amerika Serikat dan di Eropa, tetapi kembali ke Laut Sargasso untuk bertelur.

14 Kupu-kupu raja meninggalkan Kanada pada musim gugur, banyak yang melewatkan musim dingin di Kalifornia atau Meksiko. Ada yang terbang lebih dari 3.200 kilometer; seekor kupu-kupu terbang sejauh 128 kilometer dalam sehari. Mereka hinggap di pohon yang teduh—di hutan kecil yang sama, bahkan pohon yang sama, dari tahun ke tahun. Tetapi, bukan kupu-kupu yang sama! Pada perjalanan pulang di musim semi, mereka bertelur pada tanaman milkweed. Kupu-kupu yang baru menetas itu meneruskan migrasi ke utara, dan pada musim gugur berikutnya mereka terbang dengan jarak yang sama ke selatan, yakni 3.200 kilometer seperti induk mereka, dan memenuhi pohon-pohon yang sama. Buku The Story of Pollination menjelaskan, ”Kupu-kupu yang pergi ke selatan pada musim gugur adalah kupu-kupu muda yang belum pernah melihat tempat persinggahan musim dingin mereka. Bagaimana mereka bisa menemukan tempat-tempat ini masih merupakan salah satu misteri Alam yang sulit dipahami.6

15 Hikmat naluriah tidak terbatas pada kemampuan bermigrasi. Contoh-contoh singkat berikut membuktikan hal ini:

Bagaimana jutaan rayap yang buta bisa bekerja sama dalam membangun dan menyejukkan sarang mereka yang rumit? Naluri.

Bagaimana ngengat pronuba mengetahui langkah-langkah untuk melakukan penyerbukan silang pada bunga yucca, sehingga bisa muncul tanaman yucca baru maupun ngengat baru? Naluri.

Bagaimana laba-laba yang hidup dalam ”lonceng selam” di bawah air tahu bahwa jika oksigen habis, ia harus melubangi loncengnya, mengeluarkan udara kotor, lalu menambal lubang tersebut serta membawa masuk persediaan udara baru yang bersih? Naluri.

Bagaimana kumbang-kulit-pohon mimosa tahu bahwa ia harus bertelur di bawah kulit cabang pohon mimosa, menggerogoti sekeliling cabang sampai sedalam 30 sentimeter sehingga cabang itu mati, karena telur-telurnya tidak dapat menetas pada kayu pohon yang hidup? Naluri.

Bagaimana bayi kanguru yang sebesar kacang merah, terlahir buta dan belum berkembang sempurna, tahu bahwa untuk bertahan hidup, ia harus berjuang sendiri untuk naik melalui bulu-bulu induknya dan masuk ke dalam kantong di perut induknya serta mendekatkan diri pada salah satu puting susunya? Naluri.

Bagaimana seekor lebah madu dengan tariannya dapat memberi tahu lebah-lebah lain di mana ada nektar, seberapa banyak, seberapa jauh, ke arah mana serta jenis bunga yang memilikinya? Naluri.

16 Pertanyaan seperti ini bisa terus berlanjut dan memenuhi sebuah buku, namun semua pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang sama: Mereka ”berhikmat secara naluri”. (Amsal 30:24) ”Bagaimana mungkin,” kata seorang peneliti keheranan, ”pengetahuan naluriah yang begitu rumit bisa berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya?”7 Manusia tidak dapat menjelaskannya. Evolusi pun tidak. Tetapi, jika ada kecerdasan, tentu harus ada sumber yang cerdas. Jika ada hikmat, tentu harus ada sumber hikmat. Harus ada Pencipta yang cerdas dan berhikmat.

17 Namun banyak orang yang percaya kepada evolusi dengan serta-merta menolak semua bukti penciptaan dan menyatakannya tidak relevan dan tidak bisa dipertimbangkan secara ilmiah. Tetapi, jangan biarkan sikap yang picik ini menghalangi Anda untuk menguji bukti tersebut. Masih ada lebih banyak bukti di pasal berikut.