Jumat, 23 Agustus 2013

Jiwa menurut Alkitab bab 6


 

”Manusia itu menjadi jiwa yang hidup.”—KEJADIAN 2:7, ”NW”.

SEBAGAIMANA telah kita lihat, ada banyak dan beragam kepercayaan mengenai jiwa. Bahkan di antara orang-orang yang mengaku mendasarkan kepercayaan mereka pada Alkitab, terdapat gagasan yang berbeda-beda mengenai apa jiwa itu dan apa yang terjadi dengan jiwa sewaktu kita meninggal. Tetapi, apa yang sebenarnya diajarkan Alkitab mengenai jiwa? Untuk mengetahuinya, kita perlu memeriksa arti kata-kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan ”jiwa” dalam Alkitab.

”Jiwa” sebagai Makhluk Hidup

2 Kata Ibrani yang diterjemahkan ”jiwa” adalah nefes, dan kata itu muncul 754 kali dalam Kitab-Kitab Ibrani (umumnya disebut Perjanjian Lama). Apa artinya nefes? Menurut The Dictionary of Bible and Religion, itu ”biasanya memaksudkan makhluk hidup seutuhnya, individu itu secara keseluruhan”.

3 Misalnya, Kejadian 2:7 (NW) menyatakan, ”Kemudian Allah Yehuwa membentuk manusia dari debu tanah dan mengembuskan ke dalam lubang hidungnya napas kehidupan, dan manusia itu menjadi jiwa yang hidup.” Perhatikan bahwa Adam tidak memiliki jiwa; ia adalah jiwa—sama seperti seseorang yang menjadi dokter adalah seorang dokter. Maka, kata ”jiwa” dapat melukiskan suatu pribadi secara keseluruhan.

4 Seluruh Kitab-Kitab Ibrani mendukung pengertian ini; kita menemukan ungkapan-ungkapan seperti ”apabila ada jiwa yang berbuat dosa” (Imamat 5:1, NW), ”setiap jiwa yang melakukan pekerjaan apa pun” (Imamat 23:30, NW), ”apabila seorang pria kedapatan menculik suatu jiwa” (Ulangan 24:7, NW), ”jiwa Simson menjadi tidak sabar” (Hakim 16:16, NW), ”berapa lama kamu sekalian akan terus mengesalkan jiwaku” (Ayub 19:2, NW), dan ”jiwaku menangis karena duka hati”.—Mazmur 119:28.

5 Tidak ada petunjuk dalam ayat-ayat ini bahwa jiwa adalah suatu wujud yang samar-samar, yang terus hidup setelah kematian. ”Mengatakan dalam ungkapan kita bahwa ’jiwa’ orang yang dikasihi telah pergi ke sisi Tuhan atau berbicara mengenai ’jiwa yang tidak berkematian’ sama sekali tidak dapat dimengerti dalam kebudayaan PL [Perjanjian Lama],” kata The Dictionary of Bible and Religion.

6 Kata yang diterjemahkan ”jiwa” sebanyak lebih dari seratus kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen (umumnya disebut Perjanjian Baru) adalah psikhe. Seperti nefes, kata ini sering kali memaksudkan suatu pribadi secara keseluruhan. Misalnya, perhatikan pernyataan-pernyataan berikut, ”Jiwaku merasa susah.” (Yohanes 12:27) ”Perasaan takut mulai menimpa setiap jiwa.” (Kisah 2:43) ”Hendaklah setiap jiwa tunduk kepada kalangan berwenang yang lebih tinggi.” (Roma 13:1) ”Berbicaralah dengan cara yang menghibur kepada jiwa-jiwa yang masygul.” (1 Tesalonika 5:14) ”Beberapa orang, yaitu delapan jiwa, dibawa dengan selamat melalui air.”—1 Petrus 3:20.

7 Psikhe, seperti nefes, dengan jelas memaksudkan pribadi secara keseluruhan. Menurut sarjana Nigel Turner, kata ini ”menunjukkan karakteristik manusia, dirinya, tubuh jasmani yang memiliki ruah [roh] Allah yang diembuskan ke dalamnya. . . . Titik beratnya adalah pada dirinya secara keseluruhan”.

8 Dalam Alkitab, kata ”jiwa” tidak hanya digunakan untuk manusia melainkan juga untuk binatang. Misalnya, sewaktu melukiskan penciptaan makhluk-makhluk laut, Kejadian 1:20 (NW) mengatakan bahwa Allah memerintahkan, ”Biarlah dalam air berkeriapan sekelompok jiwa yang hidup.” Dan pada hari penciptaan berikutnya, Allah berfirman, ”Biarlah bumi mengeluarkan jiwa-jiwa yang hidup menurut jenisnya, binatang peliharaan dan binatang bergerak dan binatang liar.” (Kejadian 1:24, NW; bandingkan Bilangan 31:28, NW.) Oleh karena itu, ”jiwa” dapat memaksudkan makhluk hidup, baik manusia maupun binatang.

”Jiwa” sebagai Kehidupan Suatu Makhluk

9 Adakalanya, kata ”jiwa” memaksudkan kehidupan yang dinikmati seorang manusia atau seekor binatang. Ini tidak mengubah definisi Alkitab mengenai jiwa sebagai seorang manusia atau seekor binatang. Sebagai ilustrasi: Kita mengatakan bahwa seseorang adalah orang yang hidup. Kita juga bisa mengatakan bahwa ia memiliki kehidupan. Dengan cara yang sama, orang yang hidup adalah jiwa. Namun, sewaktu ia hidup, ”jiwa” bisa disebut sebagai sesuatu yang ia miliki.

10 Misalnya, Allah memberi tahu Musa, ”Semua orang yang memburu jiwamu sudah mati.” (Keluaran 4:19, NW) Jelaslah, musuh-musuh Musa berupaya merenggut kehidupannya. Penggunaan yang serupa dari kata ”jiwa” terlihat dalam pernyataan-pernyataan berikut. ”Kami menjadi sangat takut akan kehilangan jiwa kami.” (Yosua 9:24, NW) ”Mereka melarikan diri menyelamatkan jiwa.” (2 Raja 7:7, NW) ”Orang adil-benar memperhatikan jiwa binatang peliharaannya.” (Amsal 12:10, NW) ”Putra manusia datang . . . untuk . . . memberikan jiwanya sebagai tebusan untuk penukar bagi banyak orang.” (Matius 20:28) ”Ia nyaris mati, membukakan jiwanya kepada bahaya.” (Filipi 2:30) Dalam setiap kasus di atas, kata ”jiwa” berarti ”kehidupan”.

11 Jadi, kata ”jiwa” yang digunakan dalam Alkitab memaksudkan seorang manusia atau seekor binatang atau memaksudkan kehidupan yang dinikmati seorang manusia atau seekor binatang. Definisi Alkitab mengenai jiwa adalah sederhana, konsisten, dan tidak dibebani oleh filsafat yang rumit dan takhayul manusia. Tetapi, apa yang terjadi dengan jiwa pada waktu kematian? Untuk menjawab pertanyaan itu, pertama-tama kita harus mengerti mengapa kita mati.

[Catatan Kaki]

Matius 10:28 juga menggunakan kata ”jiwa” untuk mengartikan ”kehidupan”.