Minggu, 25 Agustus 2013

Apakah Normal untuk Merasa seperti Ini?


Bila orang yg kita kasihi meninggal ?
Bab 2




 

SEORANG yang sedang berkabung menulis, ”Sebagai seorang anak di Inggris, saya diajar untuk tidak mengungkapkan perasaan saya di hadapan umum. Saya masih ingat ayah saya, seorang mantan perwira militer, berbicara kepada saya sambil menggertakkan giginya, ’Awas, jangan berani menangis!’ sewaktu ada sesuatu yang menyakitkan saya. Saya tidak ingat lagi apakah ibu saya pernah mencium atau memeluk kami anak-anak (kami empat bersaudara). Saya berusia 56 tahun ketika saya melihat ayah saya meninggal. Saya merasakan kehilangan yang luar biasa. Namun, pada mulanya, saya tidak sanggup menangis.”

Dalam beberapa kebudayaan, orang-orang mengungkapkan perasaan mereka secara terbuka. Apakah mereka sedang gembira atau sedih, orang-orang lain mengetahui bagaimana perasaan mereka. Di lain pihak, di beberapa bagian dunia, terutama di Eropa bagian utara dan Inggris, orang-orang, khususnya kaum pria, telah dibentuk oleh masyarakat untuk menyembunyikan perasaan mereka, untuk menekan emosi mereka, untuk tetap tenang dan tidak emosional serta tidak membiarkan perasaan mereka terbaca. Namun bila Anda kehilangan seseorang yang dikasihi, apakah sebenarnya salah untuk memperlihatkan duka cita Anda? Apa yang Alkitab katakan?

Mereka yang Menangis dalam Alkitab

Alkitab ditulis oleh orang-orang Ibrani dari daerah Laut Tengah sebelah timur, yang berpembawaan ekspresif. Alkitab memuat banyak contoh dari orang-orang yang secara terbuka memperlihatkan duka cita mereka. Raja Daud meratapi kematian Amnon, putranya yang terbunuh. Sesungguhnya, ia ”menangis dengan suara nyaring”. (2 Samuel 13:28-39) Ia bahkan berduka cita atas kematian dari Absalom, putranya yang berkhianat, yang berupaya merebut takhta. Catatan Alkitab memberi tahu kita, ”Maka terkejutlah raja [Daud] dan dengan sedih ia naik ke anjung pintu gerbang lalu menangis. Dan beginilah perkataannya sambil berjalan: ’Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!’” (2 Samuel 18:33) Daud berkabung seperti ayah mana pun yang normal. Dan betapa sering orang-tua berharap agar mereka saja yang mati menggantikan anak-anak mereka! Tampak sangat tidak wajar jika seorang anak mati sebelum orang-tuanya.

Bagaimana reaksi Yesus terhadap kematian Lazarus temannya? Ia menangis di dekat kuburannya. (Yohanes 11:30-38) Belakangan, Maria Magdalena menangis sewaktu ia mendekati makam Yesus. (Yohanes 20:11-16) Memang, seorang Kristen yang memahami harapan kebangkitan dari Alkitab tidak berduka cita sampai tak dapat dihibur, seperti yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki dasar Alkitab yang jelas bagi kepercayaan mereka berkenaan keadaan orang mati. Namun sebagai manusia dengan perasaan-perasaan yang normal, seorang Kristen yang sejati, bahkan dengan harapan kebangkitan, benar-benar berduka cita dan meratapi kematian orang yang dikasihi.—1 Tesalonika 4:13, 14.

Menangis atau Tidak Menangis

Bagaimana dengan reaksi-reaksi kita dewasa ini? Apakah Anda merasa sulit atau malu memperlihatkan perasaan-perasaan Anda? Apa yang dianjurkan oleh para penasihat? Pandangan mereka yang modern sering kali sekadar mengulangi hikmat kuno dari Alkitab yang terilham. Mereka mengatakan bahwa kita hendaknya menyatakan duka cita kita, bukan memendamnya. Ini mengingatkan kita kepada pria-pria yang setia pada zaman dahulu, seperti misalnya Ayub, Daud, dan Yeremia, yang pernyataan duka cita mereka dimuat dalam Alkitab. Mereka tentunya tidak memendam perasaan mereka. Maka, tidak bijaksana untuk mengasingkan diri dari orang-orang. (Amsal 18:1) Tentu saja, perkabungan diperlihatkan dengan cara-cara yang berbeda dalam berbagai ragam kebudayaan, juga bergantung kepada kepercayaan agama yang lazim.

Bagaimana jika Anda merasa ingin menangis? Adalah bagian dari sifat alamiah manusia untuk menangis. Ingatlah peristiwa kematian Lazarus, ketika Yesus ”mengerang dalam roh dan . . . mengeluarkan air mata”. (Yohanes 11:33, 35, NW) Ia dengan demikian memperlihatkan bahwa menangis merupakan reaksi yang normal atas kematian orang yang dikasihi.

Hal ini didukung oleh kasus seorang ibu, Anne, yang kehilangan bayinya yang bernama Rachel karena Sindroma Kematian Anak Mendadak (SIDS). Suaminya berkomentar, ”Hal yang mengejutkan adalah Anne maupun saya tidak menangis pada saat pemakaman. Orang-orang lain menangis.” Menanggapi hal ini, Anne berkata, ”Ya, tetapi saya telah banyak menangis untuk kami berdua. Saya rasa, saya benar-benar mengalami goncangan emosi beberapa minggu setelah tragedi ini, sewaktu saya akhirnya pada suatu hari berada sendirian di rumah. Saya menangis sepanjang hari. Namun saya yakin hal itu justru membantu saya. Saya merasa lebih baik setelah itu. Saya harus berkabung atas kematian bayi saya. Saya sangat yakin bahwa Anda hendaknya membiarkan orang-orang yang berduka cita menangis. Meskipun merupakan reaksi yang wajar bagi orang-orang lain untuk berkata, ’Jangan menangis’, hal itu tidak benar-benar membantu.”

Bagaimana Beberapa Orang Bereaksi

Bagaimana beberapa orang bereaksi sewaktu merasa kesepian karena kehilangan orang yang dikasihi? Misalnya, pertimbangkan Juanita. Ia mengetahui bagaimana rasanya kehilangan seorang bayi. Ia telah lima kali keguguran. Kini ia mengandung lagi. Maka sewaktu sebuah kecelakaan mobil menyebabkannya harus diopname, masuk akal ia merasa khawatir. Dua minggu kemudian ia melahirkan—secara prematur. Tak lama berselang si kecil Vanessa lahir—dengan berat badan hanya 0,9 kilogram, ”Saya sangat gembira,” kenang Juanita, ”Akhirnya saya menjadi seorang ibu!”

Namun kebahagiaannya berumur pendek. Empat hari kemudian Vanessa meninggal. Juanita mengenang, ”Saya merasa sangat hampa. Peran saya sebagai ibu dirampas. Saya merasa tidak utuh lagi. Sedih sekali pulang ke rumah ke kamar yang telah kami persiapkan untuk Vanessa dan melihat baju dalamnya yang mungil yang saya belikan untuknya. Selama beberapa bulan berikutnya, saya membayangkan kembali kelahirannya. Saya menarik diri dari pergaulan.”

Suatu reaksi yang ekstrem? Mungkin sulit bagi orang-orang lain untuk memahami, namun orang-orang, seperti Juanita, yang telah mengalaminya menjelaskan bahwa mereka yang berduka cita karena kematian bayi mereka sama seperti mereka yang berduka cita karena kematian seseorang yang telah hidup sekian lama. Menurut mereka, lama sebelum seorang anak lahir, ia telah dikasihi oleh orang-tuanya. Terjalin suatu ikatan yang istimewa dengan sang ibu. Sewaktu bayi itu meninggal, sang ibu merasa bahwa suatu pribadi utuh telah hilang. Dan inilah yang perlu dipahami orang-orang lain.

Bagaimana Kemarahan dan Perasaan Bersalah Dapat Mempengaruhi Anda

Ibu yang lain menyatakan perasaannya sewaktu ia diberi tahu bahwa putranya yang berusia enam tahun tiba-tiba meninggal karena kelainan jantung sejak lahir. ”Saya mengalami serangkaian reaksi—mati rasa, perasaan tidak percaya, perasaan bersalah, dan kemarahan terhadap suami saya dan dokter karena tidak menyadari seberapa serius keadaannya.”

Kemarahan dapat merupakan gejala lain dari duka cita. Ini bisa jadi kemarahan kepada para dokter atau juru rawat, merasa bahwa dulu mereka seharusnya berbuat lebih banyak dalam merawat orang yang meninggal. Atau bisa jadi kemarahan kepada teman-teman dan sanak saudara yang, tampaknya, mengucapkan atau melakukan sesuatu yang salah. Beberapa menjadi marah kepada orang yang meninggal karena mengabaikan kesehatannya. Stella mengenang, ”Saya ingat saya marah kepada suami saya karena saya tahu seharusnya keadaannya tidak begini. Ia menderita sakit parah, tapi ia mengabaikan peringatan dokter.” Dan kadang-kadang kemarahan ditujukan kepada orang yang meninggal karena beban yang ditimpakan oleh kematiannya kepada mereka yang ditinggalkan.

Beberapa merasa bersalah karena kemarahan—yaitu, mereka mungkin menyalahkan diri mereka karena mereka merasa marah. Yang lain-lain menyalahkan diri karena kematian orang yang mereka kasihi. ”Sebetulnya dia tidak perlu mati,” mereka meyakinkan diri, ”seandainya saja saya menyuruhnya pergi ke dokter lebih awal” atau ”menyuruhnya pergi ke dokter lain” atau ”membuatnya lebih menjaga kesehatannya.”

Bagi orang-orang lain perasaan bersalah melampaui hal itu, khususnya bila orang yang mereka kasihi meninggal secara mendadak dan tak terduga. Mereka mulai mengenang saat-saat manakala mereka marah kepada orang yang meninggal atau bertengkar dengan mereka. Atau mereka mungkin merasa bahwa dulu mereka seharusnya tidak berlaku demikian terhadap orang yang meninggal.

Proses berduka cita yang berlangsung lama dari banyak ibu mendukung apa yang banyak ahli katakan, bahwa kematian seorang anak meninggalkan suatu kesenjangan permanen dalam kehidupan orang-tua, khususnya sang ibu.

Bila Anda Kehilangan Teman Hidup

Kematian seorang teman hidup merupakan trauma lain lagi, khususnya jika keduanya menjalani kehidupan yang sangat aktif bersama-sama. Ini dapat berarti akhir dari seluruh gaya hidup yang mereka tempuh bersama, berkenaan perjalanan, pekerjaan, hiburan, dan ketergantungan kepada satu sama lain.

Eunice menjelaskan apa yang terjadi sewaktu suaminya tiba-tiba meninggal karena serangan jantung. ”Pada minggu pertama, saya berada dalam keadaan mati rasa secara emosi, seolah-olah saya berhenti berfungsi. Saya bahkan tidak dapat mengecap rasa atau mencium bau. Namun, akal sehat berjalan terpisah. Karena saya berada bersama suami saya sewaktu mereka berupaya menstabilkan dengan RJP (Resusitasi Jantung Paru) dan obat-obatan, saya tidak mengalami gejala penyangkalan yang biasa. Namun, ada perasaan frustrasi yang kuat, seolah-olah saya menyaksikan sebuah mobil terjun ke sebuah tebing dan saya tak mampu berbuat apa-apa untuk mencegahnya.”

Apakah dia menangis? ”Tentu saja, khususnya sewaktu saya membaca ratusan kartu belasungkawa yang saya terima. Saya menangis membaca setiap kartu. Ini membantu saya untuk tegar sepanjang hari tersebut. Tetapi tidak ada yang dapat membantu jika saya berulang kali ditanya bagaimana perasaan saya. Jelas sekali, saya sangat sengsara.”

Apa yang membantu Eunice untuk menghadapi duka citanya? ”Tanpa disengaja, secara tidak sadar saya telah membuat keputusan untuk terus melanjutkan kehidupan saya,” katanya. ”Akan tetapi, apa yang masih menyakitkan saya adalah sewaktu saya ingat bahwa suami saya, yang sangat mengasihi kehidupan, tidak berada di sini untuk menikmatinya.”

”Jangan Biarkan Orang-Orang Lain Mendikte . . .”

Pengarang dari buku Leavetaking—When and How to Say Goodbye (PerpisahanKapan dan Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal) menyarankan ”Jangan biarkan orang-orang lain mendikte tindakan atau perasaan Anda. Proses berduka cita berbeda atas masing-masing orang. Orang-orang lain mungkin berpendapat—dan memberi tahu pendapat mereka—bahwa Anda terlalu berduka cita atau kurang berduka cita. Maafkan mereka dan lupakan hal itu. Dengan berupaya memaksakan diri Anda kepada cetakan yang diciptakan oleh orang-orang lain atau oleh masyarakat secara keseluruhan, Anda menghambat perkembangan untuk memulihkan kesehatan emosi Anda.”

Tentu saja, setiap orang menangani duka cita mereka dengan cara-cara yang berbeda. Kami tidak berupaya menyarankan bahwa satu cara pasti lebih baik daripada cara yang lain bagi masing-masing orang. Akan tetapi, bahaya muncul sewaktu terjadi stagnasi, manakala orang yang dilanda duka cita tidak dapat menerima kenyataan. Saat itulah, bantuan mungkin dibutuhkan dari teman-teman yang berbelas kasihan. Alkitab berkata, ”Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Maka janganlah takut untuk mencari bantuan, untuk berbicara, dan untuk menangis.—Amsal 17:17.

Duka cita merupakan reaksi yang normal atas kematian, dan tidak salah jika duka cita Anda terbaca oleh orang-orang lain. Namun pertanyaan-pertanyaan selanjutnya membutuhkan jawaban: ’Bagaimana saya dapat mengatasi duka cita saya? Apakah normal untuk merasa bersalah dan marah? Bagaimana saya harus mengatasi reaksi-reaksi ini? Apa yang dapat membantu saya bertahan menghadapi perasaan kehilangan dan duka cita?’ Bagian berikut akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan beberapa pertanyaan lain.
[Catatan Kaki]
Misalnya, orang-orang Yoruba di Nigeria memiliki kepercayaan tradisional akan reinkarnasi jiwa. Maka, sewaktu seorang ibu kehilangan anaknya, ada duka cita yang dalam namun untuk jangka pendek saja, karena seperti yang dikatakan oleh sebuah refrain nyanyian Yoruba, ”Airnya saja yang tumpah. Kalabas (sejenis labu) tidak hancur.” Menurut orang-orang Yoruba, ini berarti bahwa kalabas yang mengandung air tersebut, sang ibu, dapat melahirkan anak lain—barangkali reinkarnasi dari anak yang mati. Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengikuti tradisi mana pun yang didasarkan atas takhayul yang berasal dari gagasan palsu berkenaan jiwa yang tidak berkematian dan reinkarnasi, yang tidak ada dasarnya dalam Alkitab.—Pengkhotbah 9:5, 10; Yehezkiel 18:4, 20.
Pertanyaan untuk Direnungkan
Bagaimana duka cita beberapa orang dipengaruhi oleh kebudayaan mereka?
Contoh-contoh apa kita miliki dalam Alkitab berkenaan orang-orang yang berduka cita dengan terbuka?
Bagaimana beberapa orang bereaksi terhadap kematian dari orang yang dikasihi? Bagaimana Anda bereaksi dalam keadaan yang sama?
Apa yang membuat kematian seorang teman hidup suatu pengalaman yang berbeda?
Bagaimana proses berduka cita berlangsung? Apakah salah untuk berduka cita?
Apa beberapa aspek dari proses berduka cita? (Lihat kotak pada halaman 9.)
Keadaan-keadaan khusus apa mempengaruhi orang-tua dalam Sindroma Kematian Anak Mendadak (SIDS)? (Lihat kotak pada halaman 12.)
Bagaimana banyak ibu dipengaruhi oleh keguguran atau lahir mati? (Lihat kotak pada halaman 10.)

[Kotak di hlm. 9]

Proses Berduka Cita

Kata “proses” tidak menyatakan bahwa duka cita memiliki jadwal atau program yang ditentukan. Reaksi-reaksi duka cita bisa terjadi bersamaan dan memakan waktu yang lamanya bervariasi, bergantung kepada orangnya. Daftar ini tidak lengkap. Reaksi-reaksi lain mungkin juga diperlihatkan. Berikut ini adalah beberapa gejala duka cita yang mungkin dialami seseorang.

Reaksi-Reaksi Awal: Goncangan pertama; perasaan tidak percaya, penyangkalan; mati rasa secara emosi; perasaan-perasaan bersalah; kemarahan.

Duka cita yang parah bisa mencakup: Tidak bisa mengingat dan insomnia; kelelahan yang ekstrem; perubahan suasana hati secara tiba-tiba; penilaian dan pemikiran yang buruk; meledak dalam tangis; selera makan berubah, dengan akibat berat badan turun atau naik; berbagai gejala kesehatan yang terganggu; kelesuan; berkurangnya kesanggupan bekerja; halusinasi—merasakan, mendengar, melihat orang yang meninggal; jika kehilangan seorang anak, permusuhan yang tidak beralasan dengan teman hidup Anda.

Periode membuat diri seimbang: Kesedihan disertai nostalgia; lebih banyak kenangan yang menyenangkan dari orang yang meninggal, bahkan dibumbui dengan humor.

[Kotak/Gambar di hlm. 10]

Keguguran dan Lahir Mati—Duka Cita Para Ibu

Meskipun Monna telah memiliki anak-anak yang lain, ia sangat menantikan kelahiran anaknya yang berikut. Bahkan sebelum kelahirannya, bayi ini telah ia ajak “bermain, berbicara, dan impikan.”
 
Proses ikatan antara ibu dan anak yang belum lahir sangat kuat. Ia melanjutkan, “Rachel Anne adalah bayi yang menendang-nendang buku yang saya letakkan di atas perut saya, membuat saya tidak bisa tidur pada malam hari. Saya masih ingat tendangan kecilnya yang pertama, bagaikan sentuhan yang lembut dan penuh kasih. Setiap kali ia bergerak, saya dipenuhi oleh kasih demikian. Saya mengenalnya begitu baik sehingga saya tahu sewaktu ia menderita, sewaktu ia sakit.”

Monna melanjutkan kisahnya, “Dokter tidak mempercayai saya sampai akhirnya sudah terlambat. Ia memberi tahu saya agar jangan cemas. Saya yakin saya merasakan ia meninggal. Ia tiba-tiba saja berbalik dengan kuat. Hari berikutnya ia telah meninggal.”

Pengalaman Monna bukanlah kasus yang langka. Menurut penulis Friedman dan Gradstein, dalam buku mereka Surviving Pregnancy Loss, kira-kira satu juta wanita dalam satu tahun di Amerika Serikat saja mengalami kehamilan yang gagal. Tentu saja, jumlahnya di seluruh dunia jauh lebih besar.

Orang-orang sering tidak menyadari bahwa keguguran atau lahir mati merupakan tragedi bagi seorang wanita dan sesuatu yang ia ingat—barangkali seumur hidupnya. Misalnya, Veronica, yang kini berusia 50 tahun lebih, mengenang keguguran yang dialaminya dan teristimewa mengingat bayinya yang lahir mati, yang masih hidup sampai kandungannya berusia sembilan bulan dan lahir dengan berat 6 kilogram. Selama dua minggu terakhir ia mengandung bayi yang telah mati. Ia berkata, “Melahirkan seorang bayi yang telah meninggal merupakan sesuatu yang buruk sekali bagi seorang ibu.”

Reaksi dari ibu-ibu yang frustrasi ini tidak selalu dapat dipahami, bahkan oleh wanita-wanita lain. Seorang wanita yang kehilangan anaknya karena keguguran menulis, “Apa yang telah saya pelajari dengan cara yang paling menyakitkan adalah bahwa sebelum hal ini menimpa saya, saya sama sekali tidak mengetahui apa yang teman-teman saya harus tanggung. Saya dahulu tidak dapat merasakan dan tidak mengetahui apa yang mereka alami, persis seperti sikap yang sekarang saya terima dari orang-orang.”

Problem lain bagi ibu yang sedang berduka cita adalah perasaan bahwa suaminya tidak merasakan kehilangan yang sama seperti yang ia alami. Seorang istri menyatakannya seperti ini, “Saya sangat kecewa terhadap suami saya saat itu. Menurut anggapan dia, saya sama sekali tidak hamil. Ia tidak merasakan duka cita yang saya alami. Ia benar-benar penuh simpati terhadap kekhawatiran saya, tetapi tidak terhadap duka cita saya.”

Reaksi ini barangkali wajar bagi seorang suami—ia tidak mengalami ikatan fisik dan emosi yang sama dengan sang janin dibandingkan istrinya yang mengandung. Akan tetapi, ia juga mengalami kehilangan. Dan penting bagi suami dan istri untuk menyadari bahwa mereka menderita bersama-sama, meskipun dalam cara-cara yang berbeda. Mereka hendaknya berbagi duka cita. Jika sang suami menyembunyikannya, istrinya bisa jadi menganggap ia tidak berperasaan. Maka, berbagilah dalam mencucurkan air mata, pemikiran, dan rangkulan. Perlihatkan bahwa Anda saling membutuhkan satu sama lain seperti yang belum pernah sebelumnya. Ya, para suami, perlihatkanlah empati Anda.



[Kotak di hlm. 12]

Sindroma Kematian Anak Mendadak—Menghadapi Duka Cita Tersebut

Kematian yang mendadak dari seorang bayi merupakan tragedi yang menyedihkan. Suatu hari seorang bayi yang tampak normal dan sehat tidak bangun lagi. Ini sama sekali tidak diharapkan, karena siapa yang membayangkan bahwa seorang bayi atau anak akan mati sebelum orang-tuanya? Seorang bayi yang menjadi pusat kasih seorang ibu yang tak terhingga tiba-tiba menjadi pusat duka citanya yang tak terhingga.
 
Perasaan bersalah mulai meluap-luap. Orang-tua mungkin merasa bertanggung jawab atas kematian ini, seolah-olah ini disebabkan karena kelalaian tertentu. Mereka menanyakan diri mereka, ‘Apa yang dapat kami lakukan untuk mencegahnya?’ Dalam beberapa kasus, sang suami, tanpa dasar, mungkin bahkan tanpa disadari mempersalahkan istrinya. Sewaktu ia pergi bekerja, sang bayi masih hidup dan sehat. Sewaktu ia tiba di rumah, bayinya telah meninggal dalam tempat tidurnya! Apa yang dilakukan istrinya? Di mana dia pada saat itu? Pertanyaan-pertanyaan yang menjengkelkan ini harus dijernihkan sehingga tidak menimbulkan ketegangan dalam perkawinan.

Keadaan-keadaan yang tak terduga dan tak dapat diramalkan menyebabkan terjadinya tragedi tersebut. Alkitab berkata, “Aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua [“saat dan kejadian yang tak terduga menimpa mereka semua”, “NW”].”—Pengkhotbah 9:11.

Bagaimana orang-orang lain dapat membantu sewaktu suatu keluarga kehilangan bayi? Seorang ibu yang berkabung menanggapi, “Seorang teman datang dan membersihkan rumah tanpa saya harus mengucapkan apa-apa. Yang lain-lain mempersiapkan makanan bagi kami. Beberapa cukup membantu dengan memeluk saya—tanpa sepatah kata, hanya memeluk. Saya tidak mau membicarakannya. Saya tidak mau berulang kali menjelaskan apa yang terjadi. Saya tidak membutuhkan pertanyaan-pertanyaan yang menyelidik, seolah-olah saya telah gagal melakukan sesuatu. Saya adalah ibunya; saya pasti akan berbuat sebisa mungkin untuk menyelamatkan bayi saya.



[Catatan Kaki]

Sindroma Kematian Anak Mendadak (SIDS), yang biasanya terjadi pada bayi-bayi berusia satu sampai enam bulan, adalah istilah yang digunakan sewaktu seorang bayi yang sehat tiba-tiba meninggal tanpa penyebab yang dapat dijelaskan. Dalam beberapa kasus, dianggap bahwa kemungkinan ini bisa dihindari jika bayi ditidurkan dalam posisi terlentang atau miring bukan tidur telungkup. Akan tetapi, tidak ada posisi tidur yang akan mencegah setiap kasus dari SIDS.

[Gambar di hlm. 8]

Adalah normal untuk berduka cita dan menangis bila seseorang yang dikasihi meninggal

[Gambar di hlm. 11]

Kehilangan seorang anak merupakan trauma yang menyakitkan—simpati dan empati yang tulus dapat membantu orang-tua