Jumat, 23 Agustus 2013

Gagasan Itu Memasuki Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam..bab 4


 
”Agama merupakan salah satu cara untuk memudahkan orang menerima fakta bahwa pada suatu hari mereka pasti mati, baik melalui janji akan kehidupan yang lebih baik setelah kematian, melalui kelahiran kembali, atau keduanya.”—GERHARD HERM, PENULIS ASAL JERMAN.

SEWAKTU menjanjikan suatu kehidupan setelah kematian, hampir setiap agama bergantung pada kepercayaan bahwa manusia memiliki jiwa yang tidak berkematian, yang pada saat kematian pergi ke alam lain atau berpindah ke makhluk lain. Sebagaimana dinyatakan dalam bagian sebelumnya, kepercayaan akan jiwa manusia yang tidak berkematian telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agama-agama Timur sejak awal berdirinya. Tetapi, bagaimana dengan Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam? Bagaimana ajaran itu menjadi inti dari kepercayaan-kepercayaan ini?

Yudaisme Menyerap Konsep-Konsep Yunani

2 Akar Yudaisme telah ada sekitar 4.000 tahun yang lalu pada zaman Abraham. Tulisan-tulisan suci Ibrani mulai ditulis pada abad ke-16 SM dan rampung pada waktu Sokrates dan Plato membentuk teori jiwa yang tidak berkematian. Apakah Tulisan-Tulisan Kudus ini mengajarkan jiwa yang tidak berkematian?

3 Encyclopaedia Judaica menjawab, ”Baru pada masa pasca-Alkitab, kepercayaan yang jelas dan tegas berkenaan jiwa yang tidak berkematian diteguhkan . . . dan menjadi salah satu batu penjuru dari iman Yahudi dan Kristen.” Ensiklopedia itu juga menyatakan, ”Pribadi dianggap sebagai satu kesatuan dalam zaman alkitab. Jadi, jiwa tidak dibedakan secara jelas dari tubuh.” Orang-orang Yahudi masa awal percaya akan kebangkitan orang mati, dan ini ”hendaknya dibedakan dengan kepercayaan akan . . . jiwa yang tidak berkematian”, demikian ditandaskan oleh ensiklopedia itu.

4 Kalau begitu, bagaimana doktrin tersebut menjadi ”salah satu batu penjuru” dari Yudaisme? Sejarah menyediakan jawabannya. Pada tahun 332 SM, Iskandar Agung menaklukkan sebagian besar Timur Tengah dengan secepat kilat. Sewaktu ia tiba di Yerusalem, orang-orang Yahudi menyambutnya dengan tangan terbuka. Menurut sejarawan Yahudi abad pertama, Flavius Josephus, mereka bahkan memperlihatkan kepadanya nubuat dari buku Daniel, ditulis lebih dari 200 tahun sebelumnya, yang dengan jelas melukiskan penaklukan Iskandar sebagai ”raja negeri Yunani”. (Daniel 8:5-8, 21) Para penerus Iskandar melanjutkan rencananya untuk Helenisasi, yaitu menyusupkan bahasa, kebudayaan, dan filsafat Yunani ke semua bagian imperium. Perpaduan dua kebudayaan—Yunani dan Yahudi—tak terelakkan.

5 Pada awal abad ketiga SM, dimulailah penerjemahan pertama dari Kitab-Kitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani, yang disebut Septuagint. Melalui terjemahan itu, banyak orang Kafir kemudian menghargai dan mengenal agama Yahudi, ada yang bahkan beralih agama. Sebaliknya, orang-orang Yahudi pun akhirnya mengetahui pemikiran Yunani, bahkan ada yang menjadi filsuf, sesuatu yang sama sekali baru bagi mereka. Philo dari Aleksandria, pada abad pertama M, adalah salah seorang filsuf Yahudi semacam itu.

6 Philo memuja Plato dan berupaya menjelaskan Yudaisme menurut filsafat Yunani. ”Dengan menciptakan sintesis unik antara filsafat Plato dan tradisi Alkitab,” kata buku Heaven—A History, ”Philo mempersiapkan jalan bagi para pemikir Kristen [dan juga Yahudi] di kemudian hari.” Dan, apa kepercayaan Philo mengenai jiwa? Buku tersebut melanjutkan, ”Bagi dia, kematian mengembalikan jiwa ke keadaannya yang semula sebelum kelahiran. Karena jiwa berasal dari alam roh, kehidupan dalam tubuh hanyalah episode singkat yang sering kali ditandai kemalangan.” Para pemikir Yahudi lain yang percaya akan jiwa yang tidak berkematian di antaranya adalah Isaac Israeli, dokter Yahudi yang terkenal pada abad ke-10, dan Moses Mendelssohn, filsuf Jerman-Yahudi pada abad ke-18.

7 Buku yang juga sangat mempengaruhi pemikiran dan kehidupan orang Yahudi adalah Talmud—ringkasan tertulis dari apa yang disebut hukum lisan, berikut ulasan dan penjelasan yang diberikan belakangan mengenai hukum ini, yang disusun oleh para rabi dari abad kedua M hingga Abad Pertengahan. ”Para rabi penyusun Talmud,” kata Encyclopaedia Judaica, ”percaya akan eksistensi jiwa yang berlanjut setelah kematian.” Talmud bahkan berbicara mengenai orang mati yang mengadakan kontak dengan orang hidup. ”Mungkin karena pengaruh Platonisme,” kata Encyclopædia of Religion and Ethics, ”[para rabi] percaya akan praeksistensi jiwa.”

8 Kabala, lektur mistik Yahudi yang ditulis belakangan, bahkan mengajarkan reinkarnasi. Sehubungan dengan kepercayaan ini, The New Standard Jewish Encyclopedia menyatakan, ”Gagasan itu tampaknya berasal dari India. . . . Dalam Kabbalah, gagasan itu pertama-tama muncul dalam buku Bahir, dan kemudian, dari Zohar dan seterusnya, diterima secara umum oleh para penganut mistik, yang memainkan peranan penting dalam kepercayaan dan lektur Hasidik.” Di Israel dewasa ini, reinkarnasi diterima secara luas sebagai ajaran Yahudi.

9 Karena itu, gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian memasuki Yudaisme melalui pengaruh filsafat Yunani, dan konsep tersebut dewasa ini diterima oleh kebanyakan golongannya. Bagaimana dengan masuknya ajaran tersebut ke dalam Susunan Kristen?

Susunan Kristen Menerima Pemikiran Plato

10 Kekristenan sejati diawali dengan Kristus Yesus. Mengenai Yesus, Miguel de Unamuno, seorang sarjana terkemuka asal Spanyol pada abad ke-20, menulis, ”Ia percaya pada kebangkitan jasmani, berdasarkan tata cara Yahudi, bukan pada jiwa yang tidak berkematian berdasarkan tata cara Plato [dari Yunani]. . . . Bukti-bukti dari hal ini dapat dilihat dalam setiap buku tafsiran yang jujur.” Ia menyimpulkan, ”Jiwa yang tidak berkematian . . . adalah dogma filsafat yang kafir.”

11 Kapan dan bagaimana ”dogma filsafat yang kafir” ini menyusup ke dalam kekristenan? New Encyclopædia Britannica menunjukkan, ”Dari pertengahan abad ke-2 M, orang-orang Kristen, yang telah mendapat sedikit pelatihan mengenai filsafat Yunani, mulai merasa perlu untuk mengekspresikan iman mereka menurut filsafat tersebut, baik untuk kepuasan intelektual mereka sendiri dan untuk menobatkan orang-orang kafir yang terpelajar. Filsafat yang paling cocok untuk mereka adalah Platonisme.”

12 Dua filsuf masa awal semacam itu mengerahkan pengaruh besar terhadap doktrin-doktrin Susunan Kristen. Yang seorang adalah Origen dari Aleksandria (± 185-254 M), dan yang lain, Agustinus dari Hippo (354-430 M). Sehubungan dengan mereka, New Catholic Encyclopedia menyatakan, ”Hanya karena Origen di Timur dan St. Agustinus di Barat maka jiwa ditetapkan sebagai suatu zat yang bersifat roh dan suatu konsep filsafat pun dibentuk berkenaan kodratnya.” Atas dasar apa Origen dan Agustinus membentuk konsep mereka mengenai jiwa?

13 Origen adalah murid Clement dari Aleksandria, yang ”pertama dari para Bapak yang secara eksplisit meminjam dari tradisi Yunani mengenai jiwa”, demikian kata New Catholic Encyclopedia. Gagasan Plato mengenai jiwa pasti telah mempengaruhi Origen secara mendalam. ”[Origen] membangun serangkaian ajaran yang lengkap mengenai jiwa, yang diambilnya dari Plato, dan kemudian memasukkannya ke dalam doktrin Kristen,” demikian komentar teolog Werner Jaeger dalam The Harvard Theological Review.

14 Agustinus dianggap sebagai pemikir terbesar pada zaman kuno oleh beberapa orang dalam Susunan Kristen. Sebelum bertobat menjadi ”Kristen” pada usia 33 tahun, Agustinus sangat berminat pada filsafat dan telah menjadi seorang Neoplatonis. Namun, setelah bertobat, pemikirannya tidak berubah dari Neoplatonisme. ”Pikirannya telah menjadi tempat peleburan agama Perjanjian Baru dengan tradisi Platonisme dari filsafat Yunani,” kata The New Encyclopædia Britannica. New Catholic Encyclopedia mengakui bahwa ”doktrin Agustinus [mengenai jiwa], yang menjadi standar di Barat hingga akhir abad ke-12, banyak berutang . . . kepada Neoplatonisme”.

15  Pada abad ke-13, ajaran-ajaran Aristoteles semakin populer di Eropa, terutama karena tersedianya karya-karya sarjana Arab dalam bahasa Latin yang banyak mengulas tulisan-tulisan Aristoteles. Seorang sarjana Katolik bernama Thomas Aquinas sangat terkesan pada pemikiran ala Aristoteles. Karena tulisan-tulisan Aquinas, ajaran gereja lebih dipengaruhi oleh pandangan Aristoteles daripada pandangan Plato. Akan tetapi, kecenderungan ini tidak mempengaruhi ajaran mengenai jiwa yang tidak berkematian.

16 Aristoteles mengajarkan bahwa jiwa memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan tubuh dan tidak meneruskan eksistensi individu setelah kematian dan bahwa jika ada yang kekal dalam manusia, itu adalah intelektualitas yang abstrak dan tidak berkepribadian. Pandangan seperti ini terhadap jiwa tidak selaras dengan kepercayaan gereja mengenai jiwa yang berkepribadian dan yang terus hidup setelah kematian. Oleh karena itu, Aquinas memodifikasi pandangan Aristoteles mengenai jiwa, dengan menegaskan bahwa jiwa yang tidak berkematian dapat dibuktikan dengan penalaran. Dengan demikian, kepercayaan gereja mengenai jiwa yang tidak berkematian tetap utuh.

17 Pada abad ke-14 dan ke-15, bagian awal dari Renaisans, minat akan Plato dihidupkan kembali. Keluarga Medici yang terkenal di Italia bahkan turut mendirikan sebuah akademi di Florence untuk menggalakkan studi filsafat Plato. Pada abad ke-16 dan ke-17, minat akan Aristoteles memudar. Dan Reformasi pada abad ke-16 tidak memperkenalkan reformasi dalam ajaran mengenai jiwa. Meskipun para Reformis Protestan mempermasalahkan ajaran api penyucian, mereka menerima gagasan mengenai hukuman atau pahala kekal.

18 Dengan demikian, ajaran jiwa yang tidak berkematian tetap populer dalam sebagian besar denominasi Susunan Kristen. Sewaktu mengamati hal ini, seorang sarjana Amerika menulis, ”Sesungguhnya, agama bagi mayoritas besar ras kita, sama dengan peri tidak berkematian, dan bukan hal lain. Allah menjadikan peri tidak berkematian.”

Peri Tidak Berkematian dan Islam

19 Islam dimulai sewaktu Muḥammad dipanggil menjadi nabi kira-kira pada usia 40 tahun. Orang Muslim umumnya percaya bahwa wahyu datang kepada Muḥammad kurang lebih selama jangka waktu 20 hingga 23 tahun, dari sekitar tahun 610 M hingga kematiannya pada tahun 632 M. Wahyu ini dicatat dalam Quran, kitab suci orang Muslim. Pada saat Islam muncul, Yudaisme dan Susunan Kristen telah disusupi konsep Platonisme mengenai jiwa.

20 Orang Muslim percaya bahwa keyakinan mereka adalah puncak dari wahyu-wahyu yang diberikan kepada orang-orang Ibrani dan Kristen yang setia di zaman dahulu. Quran mengutip dari Kitab-Kitab Ibrani maupun Yunani. Tetapi, sehubungan dengan ajaran jiwa yang tidak berkematian, Quran menyimpang dari tulisan-tulisan ini. Quran mengajarkan bahwa manusia memiliki jiwa yang terus hidup setelah kematian. Quran juga berbicara tentang kebangkitan orang mati, suatu hari penghakiman, dan nasib akhir dari jiwa—kehidupan di sebuah taman firdaus surgawi atau hukuman dalam neraka yang bernyala-nyala.

21 Orang Muslim beranggapan bahwa jiwa orang mati pergi ke alam Barzakh, atau ”Pembatas”, ”tempat atau keadaan di mana orang-orang berada sesudah kematian dan sebelum Penghakiman”. (Surah 23:99, 100, The Holy Qur-an, catatan kaki) Jiwa tersebut berada dalam keadaan sadar, dan mengalami apa yang disebut ”Siksa Kubur” jika orang itu jahat atau menikmati kebahagiaan jika ia setia. Tetapi orang-orang yang setia juga harus mengalami sedikit siksaan karena sedikit dosa yang mereka lakukan selama hidup. Pada hari penghakiman, masing-masing akan menghadapi nasib kekalnya, yang mengakhiri tahapan perantara itu.

22 Gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian dalam Yudaisme dan Susunan Kristen muncul karena pengaruh Platonisme, tetapi konsep tersebut dibangun dan dimasukkan ke dalam Islam sejak awalnya. Ini bukan berarti bahwa para sarjana Arab tidak mencoba menggabungkan ajaran Islam dan filsafat Yunani. Sesungguhnya, dunia Arab sangat dipengaruhi oleh karya Aristoteles. Dan para sarjana Arab yang terkemuka, seperti Avicenna dan Averroës, menjelaskan dan memerinci pemikiran Aristoteles. Akan tetapi, dalam upaya mereka untuk menyelaraskan pemikiran Yunani dengan ajaran Islam mengenai jiwa, mereka mengembangkan teori yang berbeda-beda. Misalnya, Avicenna menyatakan bahwa jiwa yang berkepribadian itu tidak berkematian. Sebaliknya Averroës, membantah pandangan itu. Walaupun terdapat berbagai sudut pandangan ini, jiwa yang tidak berkematian tetap menjadi kepercayaan orang Muslim.

23 Kalau begitu, jelaslah bahwa Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam semuanya mengajarkan doktrin jiwa yang tidak berkematian.

[Catatan Kaki]

Seorang penganut Neoplatonisme, versi baru filsafat Plato yang dikembangkan oleh Plotinus di Roma pada abad ketiga.