Jumat, 16 Agustus 2013

Siapa Sebenarnya ”Manusia-Kera”?


Pasal 7

 
SELAMA bertahun-tahun telah dilaporkan adanya penemuan sisa fosil manusia yang mirip kera. Buku-buku ilmiah sarat dengan lukisan para seniman mengenai makhluk tersebut. Apakah makhluk ini bentuk peralihan antara binatang dan manusia seperti yang dinyatakan evolusi? Apakah ”manusia-kera” memang nenek moyang kita? Itulah yang dikatakan para ilmuwan pendukung evolusi. Karena itu kita sering membaca pernyataan seperti judul artikel dalam majalah ilmiah ini: ”Dari Kera Menjadi Manusia”.1

2 Memang, beberapa evolusionis merasa bahwa makhluk yang dianggap nenek moyang manusia itu tidak sepantasnya disebut ”kera”. Meskipun demikian, beberapa kolega mereka tidak sependapat.2 Stephen Jay Gould berkata, ”Manusia . . . berevolusi dari nenek moyang serupa kera.”3 Dan, George Gaylord Simpson menyatakan, ”Nenek moyang kita pasti akan disebut kera atau monyet dalam bahasa sehari-hari oleh siapa pun yang melihatnya. Karena definisi istilah kera dan monyet ditentukan oleh penggunaan umum, nenek moyang manusia adalah kera atau monyet.”4

3 Mengapa catatan fosil begitu penting dalam upaya membuktikan keberadaan nenek moyang manusia yang mirip kera? Karena dalam dunia hayati sekarang ini, tak ada yang dapat mendukung gagasan tersebut. Sebagaimana diperlihatkan di Pasal 6, ada jurang pemisah yang sangat besar antara manusia dan segala binatang yang ada sekarang, termasuk keluarga kera. Karena dunia hayati tidak menyediakan mata rantai antara manusia dan kera, catatan fosil diharapkan dapat menyediakannya.

4 Dari sudut pandang evolusi, jurang pemisah yang jelas antara manusia dan kera dewasa ini merupakan hal yang aneh. Menurut teori evolusi, seraya binatang berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi, binatang itu semakin sanggup bertahan hidup. Lalu, mengapa keluarga kera yang ”lebih rendah” masih hidup, sedangkan makhluk yang dianggap bentuk peralihan, yang konon lebih maju secara evolusioner, sudah tidak ada lagi barang satu pun? Sekarang kita melihat simpanse, gorila, dan orang utan, tetapi tidak ada ”manusia-kera”. Apakah kelihatannya masuk akal bahwa semua ”mata rantai” yang lebih baru dan katanya lebih maju di antara makhluk serupa kera dan manusia modern telah punah, sedangkan kera-kera yang lebih rendah masih hidup?

Seberapa Banyakkah Bukti Fosil yang Ada?

5 Dari keterangan dalam buku ilmiah, museum, dan acara televisi, kelihatannya pasti ada banyak bukti bahwa manusia berevolusi dari makhluk serupa kera. Benarkah demikian? Misalnya, bukti fosil apa pada zaman Darwin yang mendukung hal ini? Apakah bukti tersebut yang mendorong dia merumuskan teorinya?

6 The Bulletin of the Atomic Scientists memberi tahu kita, ”Teori-teori awal tentang evolusi manusia sangatlah aneh, jika dicermati. Menurut David Pilbeam, teori-teori awal tersebut adalah teori ’tanpa fosil’. Artinya, di satu pihak ada teori tentang evolusi manusia yang menurut kita tentu membutuhkan beberapa bukti fosil, tetapi di pihak lain nyatanya hanya ada sedikit sekali fosil sehingga tidak berpengaruh atas teori tersebut, atau tidak ada fosil sama sekali. Jadi, di antara makhluk yang konon adalah kerabat terdekat manusia dan fosil manusia yang awal, tidak ada penghubung apa pun kecuali khayalan para ilmuwan abad kesembilan belas.” Buletin ilmiah ini memperlihatkan penyebabnya, ”Orang-orang ingin mempercayai evolusi, evolusi manusia, dan hal ini mempengaruhi hasil karya mereka.”5

7 Setelah lebih dari satu abad mencari fosil, seberapa banyakkah bukti tentang ”manusia-kera” yang ditemukan? Richard Leakey menyatakan, ”Orang-orang yang bekerja di bidang ini memiliki sedikit sekali bukti untuk mendasari kesimpulan mereka sehingga kesimpulan itu perlu sering diubah.”6 New Scientist mengomentari, ”Dinilai dari jumlah bukti yang mendasarinya, kajian tentang fosil manusia hampir-hampir tidak dapat disebut sebagai cabang ilmu paleontologi atau antropologi. . . . koleksinya sangat tidak lengkap, dan spesimennya sendiri kebanyakan tidak utuh dan tidak meyakinkan.”7

8 Demikian juga, buku Origins mengakui, ”Semakin jauh kita menelusuri jalur evolusi menuju manusia, perjalanannya semakin tidak menentu, lagi-lagi karena minimnya bukti fosil.”8 Majalah Science menambahkan, ”Bukti ilmiah yang utama adalah segelintir tulang-belulang yang digunakan untuk menyusun sejarah evolusi manusia. Seorang ahli antropologi mengibaratkannya dengan tugas menyusun kembali jalan cerita buku War and Peace dengan 13 halaman yang dipilih secara acak.”9

9 Seberapa sedikit sebenarnya catatan fosil mengenai ”manusia-kera”? Perhatikan komentar berikut ini. Newsweek: ”’Semua fosil bisa ditaruh di atas sebuah meja tulis,’ kata Elwyn Simons dari Duke University.”10 The New York Times: ”Sebuah meja biliar bisa memuat sisa-sisa fosil nenek moyang manusia yang ada. Hal itu menjadi landasan yang buruk untuk menguak kabut jutaan tahun yang silam.”11 Science Digest: ”Kenyataan yang menarik adalah bahwa semua bukti fisik yang kita miliki untuk mendukung evolusi manusia masih dapat dimasukkan, itu pun masih ada ruang, ke dalam sebuah peti mati! . . . Kera modern, misalnya, seperti muncul secara tiba-tiba dari antah-berantah. Kera tidak punya masa lalu, tidak ada catatan fosilnya. Dan, asal mula sebenarnya manusia modern—yang tegak, tak berbulu, membuat perkakas, berotak besar—jika kita jujur terhadap diri kita sendiri, adalah hal yang sama misteriusnya.”

10 Manusia modern, dengan kemampuan untuk bernalar, merencanakan, merancang, memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki, dan menguasai bahasa yang rumit, tiba-tiba muncul dalam catatan fosil. Gould, dalam bukunya The Mismeasure of Man, menulis, ”Kita tidak memiliki bukti yang mendukung perubahan biologis dalam ukuran atau struktur otak sejak Homo sapiens muncul dalam catatan fosil sekitar lima puluh ribu tahun yang lalu.”13 Maka, buku The Universe Within bertanya, ”Apa yang menyebabkan evolusi . . . menghasilkan, seolah-olah dalam semalam, manusia modern dengan otak yang sangat istimewa?”14 Evolusi tidak mampu menjawabnya. Tetapi, mungkinkah jawabannya adalah penciptaan makhluk yang sangat rumit dan berbeda?

Di Manakah ”Mata-Mata Rantai” Itu?

11 Tetapi, bukankah ilmuwan telah menemukan ”mata-mata rantai” yang diperlukan antara binatang serupa kera dan manusia? Menurut bukti yang ada, belum. Science Digest menyebut tentang ”tidak adanya mata rantai yang hilang untuk menjelaskan munculnya manusia modern yang relatif tiba-tiba”.15 Newsweek menyatakan, ”Mata rantai yang hilang antara manusia dan kera . . . adalah soal yang paling mencolok dalam seluruh hierarki makhluk khayalan. Dalam catatan fosil, mata rantai yang hilang adalah hal normal.”16

12 Karena tidak ada mata rantai, berbagai ”makhluk khayalan” terpaksa diciptakan dari bukti yang minim dan dinyatakan seolah-olah benar-benar ada. Jelaslah mengapa pertentangan berikut dapat terjadi, seperti dilaporkan sebuah majalah ilmiah, ”Manusia berevolusi secara bertahap dari nenek moyang mereka yang mirip kera dan bukan, seperti bantahan beberapa ilmuwan, secara tiba-tiba melompat dari satu bentuk ke bentuk lain. . . . Tetapi, para antropolog lain, yang bekerja dengan data yang hampir sama, dikabarkan telah menarik kesimpulan yang benar-benar bertolak belakang.”17

13 Maka, kita dapat lebih mengerti komentar Solly Zuckerman, seorang ahli anatomi yang disegani, yang menulis dalam Journal of the Royal College of Surgeons of Edinburgh, ”Pencarian ’mata rantai yang hilang’ yang terkenal dalam evolusi manusia, yang tak henti-hentinya diupayakan dengan penuh pengabdian oleh para ahli anatomi dan biolog, membuka peluang bagi spekulasi dan mitos untuk bertumbuh subur dewasa ini seperti halnya lima puluh tahun yang lalu atau lebih.”18 Ia menyebut bahwa fakta-fakta kerap diabaikan, dan apa yang sedang populer dielu-elukan walaupun bukti menyatakan yang sebaliknya.

Silsilah Manusia

14 Alhasil, ”silsilah” manusia, yang menurut gambaran evolusi dimulai dari binatang yang lebih rendah, terus berubah. Misalnya, Richard Leakey menyatakan bahwa penemuan fosil baru-baru ini ”meruntuhkan gagasan bahwa semua fosil primitif dapat disusun dalam rangkaian perubahan evolusioner yang teratur”.19 Dan, suatu laporan surat kabar tentang penemuan tersebut menyatakan, ”Setiap buku antropologi, setiap artikel mengenai evolusi manusia, setiap gambar silsilah manusia harus dibuang. Semua itu rupanya salah.”20

15 Silsilah teoretis evolusi manusia penuh dengan ”mata rantai” yang tadinya diterima namun kemudian ditolak. Sebuah editorial dalam The New York Times menyatakan bahwa ilmu evolusi ”membuka begitu banyak peluang untuk dugaan sehingga teori-teori tentang terjadinya manusia cenderung lebih banyak bercerita mengenai pengarangnya daripada pokok persoalannya. . . . Sering kali, penemu tengkorak baru tampaknya mengubah gambar silsilah manusia, menempatkan temuannya pada garis tengah yang berujung pada manusia sedangkan tengkorak temuan orang lain diletakkan pada garis-garis lain di sampingnya yang tidak menuju ke mana-mana”.21

16 Ketika mengulas buku The Myths of Human Evolution karya evolusionis Niles Eldredge dan Ian Tattersall, majalah Discover mengatakan bahwa semua silsilah evolusioner disingkirkan oleh para pengarangnya. Mengapa? Setelah menyebut bahwa ”mata-mata rantai yang menjadi nenek moyang spesies manusia hanya dapat ditebak-tebak”, publikasi ini menyatakan, ”Eldredge dan Tattersall bersikeras bahwa sia-sia saja manusia mencari nenek moyangnya. . . . Mereka berargumentasi bahwa jika buktinya memang ada, ’kita dapat dengan yakin berharap bahwa seraya lebih banyak fosil hominid ditemukan, kisah evolusi manusia akan semakin jelas. Tetapi, yang terjadi justru kebalikannya’.”

17 Discover menyimpulkan, ”Spesies manusia, dan semua spesies, akan tetap menjadi ’ yatim piatu’, jati diri orang tua mereka hilang ditelan masa lalu.”22 Mungkin ”hilang” menurut teori evolusi. Tetapi, bukankah alternatif dari buku Kejadian telah ”menemukan” orang tua kita sebagaimana adanya mereka dalam catatan fosil—manusia seutuhnya, seperti kita sekarang?

18 Catatan fosil mengungkapkan bahwa kera dan manusia masing-masing memiliki asal mula yang benar-benar berbeda. Itu sebabnya bukti fosil mata rantai antara manusia dengan binatang yang mirip kera tidak pernah ditemukan. Mata rantai tersebut memang tidak pernah ada.

Seperti Apakah Rupa Manusia Kera?

19 Namun, jika nenek moyang manusia tidak mirip kera, mengapa begitu banyak gambar dan replika ”manusia-kera” membanjiri publikasi ilmiah dan museum di seluruh dunia? Apa yang mendasarinya? Buku The Biology of Race menjawab, ”Imajinasi harus digunakan untuk membuat daging dan rambut pada rekonstruksi tersebut.” Buku itu menambahkan, ”Warna kulit; warna, bentuk, serta penyebaran rambut; bentuk fitur-fitur wajah; dan raut muka—mengenai ciri-ciri ini, kami sama sekali tidak tahu apa-apa tentang manusia prasejarah mana pun.”23

20 Science Digest juga berkomentar, ”Konsep sebagian besar seniman lebih didasarkan atas imajinasi ketimbang bukti. . . . Para seniman harus menciptakan sesuatu di antara kera dan manusia; bila spesimen tersebut dikatakan lebih tua, mereka membuatnya lebih mirip kera.”24 Pemburu fosil bernama Donald Johanson mengakui, ”Tidak ada yang tahu persis seperti apa rupa hominid yang telah punah.”25

21 Ya, New Scientist melaporkan bahwa tidak ada ”cukup bukti dari bahan fosil untuk membawa teori kita keluar dari alam fantasi”.26 Maka, gambaran tentang ”manusia-kera”, seperti yang diakui seorang evolusionis, adalah ”fiksi murni dalam banyak aspek . . . rekaan belaka”.27 Oleh karena itu, dalam buku Man, God and Magic, Ivar Lissner berkomentar, ”Sebagaimana kita lambat laun mengerti bahwa manusia primitif belum tentu biadab, kita pun harus belajar menyadari bahwa manusia yang mula-mula pada Zaman Es bukanlah hewan brutal atau manusia setengah kera atau kretin. Betapa bodohnya semua upaya untuk merekonstruksi manusia Neanderthal atau bahkan manusia Peking.”28

22 Karena berhasrat menemukan bukti ”manusia-kera”, beberapa ilmuwan telah tertipu oleh pemalsuan terang-terangan, misalnya manusia Piltdown pada tahun 1912. Selama kira-kira 40 tahun, ia dianggap asli oleh mayoritas kalangan penganut evolusi. Akhirnya, pada tahun 1953, kebohongan tersebut terbongkar sewaktu teknik modern mengungkapkan bahwa tulang-tulang manusia dan kera telah disatukan dan dibuat terlihat kuno. Pada kesempatan lain, lukisan tentang makhluk mirip kera dipertunjukkan sebagai ”mata rantai yang hilang” dalam media berita. Tetapi, belakangan diakui bahwa ”bukti” yang mendasari lukisan itu hanyalah sebuah gigi dari sejenis babi yang telah punah.29

Siapa Mereka?

23 Jika rekonstruksi ”manusia-kera” tidak didasari kebenaran, lalu makhluk purba apa yang tulang-tulang fosilnya telah ditemukan? Salah satu mamalia paling awal yang dinyatakan berada dalam silsilah manusia adalah binatang kecil mirip hewan pengerat yang konon hidup kira-kira 70 juta tahun lalu. Dalam buku mereka Lucy: The Beginnings of Humankind, Donald Johanson dan Maitland Edey menulis, ”Binatang ini adalah pemakan serangga berkaki empat yang ukuran dan bentuknya mirip bajing.”30 Richard Leakey menyebut mamalia tersebut ”primata mirip tikus”.31 Tetapi, adakah bukti yang kuat bahwa binatang kecil ini adalah nenek moyang manusia? Tidak, yang ada hanya spekulasi isapan jempol. Tidak ada tahap-tahap transisi yang pernah menghubungkannya dengan apa pun selain dirinya sendiri: mamalia kecil yang mirip hewan pengerat.

24 Berikutnya dalam daftar yang umum diterima, dengan selang waktu yang diakui sejauh kira-kira 40 juta tahun, adalah fosil yang ditemukan di Mesir yang dinamai Aegyptopithecus—kera Mesir. Makhluk ini konon hidup sekitar 30 juta tahun yang lalu. Berbagai majalah, surat kabar, dan buku telah memuat gambar makhluk kecil ini dengan judul seperti, ”Makhluk mirip monyet adalah nenek moyang kita.” (Time)32 ”Primata Afrika yang Mirip Monyet Disebut Nenek Moyang Manusia dan Kera.” (The New York Times)33Aegyptopithecus adalah nenek moyang kita dan juga nenek moyang kera-kera yang hidup sekarang.” (Origins)34 Tetapi, di mana mata rantai yang menghubungkannya dengan hewan pengerat sebelumnya? Di mana mata rantai yang menghubungkannya dengan makhluk yang ditempatkan setelahnya dalam garis silsilah evolusioner? Tidak ada.

Timbul dan Tenggelamnya ”Manusia-Kera”

25 Setelah selang waktu berikutnya yang memang sangat besar dalam catatan fosil, fosil makhluk lain telah diajukan sebagai kera pertama yang mirip manusia. Makhluk itu dikatakan hidup sekitar 14 juta tahun yang lalu dan dinamai Ramapithecus—kera Rama (Rama adalah seorang pangeran dalam legenda India). Fosilnya ditemukan di India kira-kira setengah abad yang lalu. Dari fosil-fosil ini dibentuklah makhluk serupa kera, yang berdiri tegak pada kedua kakinya. Mengenai makhluk ini, Origins menyatakan, ”Sejauh yang dapat dikatakan pada saat ini, dialah wakil pertama keluarga manusia.”35

26 Kesimpulan ini didasarkan atas bukti fosil apa? Buku yang sama berkata, ”Bukti mengenai Ramapithecus cukup banyak—meskipun dalam arti sesungguhnya jumlahnya tetap sangat sedikit: pecahan rahang atas dan bawah, ditambah beberapa gigi.”36 Apakah menurut Anda ini ”bukti” yang cukup ”banyak” untuk merekonstruksi ”manusia-kera” yang tegak sebagai nenek moyang manusia? Sekalipun demikian, makhluk yang hampir seluruhnya hipotetis itu dilukis oleh para seniman sebagai ”manusia-kera”, dan gambarnya banyak dimuat di buku-buku evolusi—semuanya berdasarkan pecahan tulang rahang dan gigi! Bahkan, sebagaimana dilaporkan The New York Times, selama puluhan tahun kedudukan Ramapithecus ”tidak tergoyahkan di bagian awal silsilah evolusioner manusia”.37

27 Namun, keadaan sudah berubah. Temuan-temuan fosil yang belakangan dan lebih lengkap mengungkapkan bahwa Ramapithecus sangat mirip dengan keluarga kera masa kini. Maka, New Scientist sekarang menyatakan, ”Ramapithecus tidak mungkin anggota pertama silsilah manusia.”38 Informasi baru itu menimbulkan pertanyaan berikut dalam majalah Natural History, ”Bagaimana Ramapithecus, . . . yang direkonstruksi hanya dari gigi dan rahang—tanpa tulang pinggul, kaki dan tangan, atau tengkorak—dapat menyelinap ke dalam barisan menuju terbentuknya manusia?”39 Jelaslah, banyak sekali rekaan kosong yang dimasukkan dalam upaya membuat bukti tersebut seolah-olah mengatakan apa yang tidak dikatakannya.

28 Terdapat selang waktu yang sangat besar antara Ramapithecus dan makhluk berikut yang tercatat sebagai ”manusia-kera”, nenek moyang manusia. Ia disebut Australopithecus—kera dari selatan. Fosilnya pertama kali ditemukan di bagian selatan Afrika pada tahun 1920-an. Tempurung otaknya kecil seperti kera, tulang rahangnya besar dan ia digambarkan berjalan dengan dua kaki, agak bungkuk, berbulu, dan menyerupai kera. Ia dikatakan mulai hidup kira-kira tiga atau empat juta tahun yang lalu. Belakangan, hampir semua evolusionis percaya bahwa ia adalah nenek moyang manusia.

29 Misalnya, buku The Social Contract menyatakan, ”Dengan satu atau dua perkecualian, semua peneliti yang kompeten di bidang ini sekarang setuju bahwa australopitecine . . . adalah nenek moyang manusia yang sebenarnya.”40 The New York Times menyatakan, ”Australopithecus . . . akhirnya berevolusi menjadi Homo sapiens, atau manusia modern.”41 Dan, dalam buku Man, Time, and Fossils, Ruth Moore berkata, ”Dengan semua bukti yang ada, akhirnya manusia berjumpa juga dengan nenek moyang mereka yang mula-mula, yang telah sekian lama tidak mereka kenal.” Dengan tegas ia menyatakan, ”Buktinya amat meyakinkan . . . akhirnya, mata rantai yang hilang ditemukan.”42

30 Tetapi, apabila suatu bukti pada kenyataannya tidak kuat atau tidak ada, atau didasarkan atas tipuan semata, pernyataannya cepat atau lambat akan menjadi tidak berarti. Itulah yang terjadi pada banyak contoh yang sudah-sudah tentang makhluk yang dianggap sebagai ”manusia-kera”.

31 Halnya sama dengan Australopithecus. Penelitian lebih lanjut telah menyingkapkan bahwa tengkoraknya ”berbeda dengan tengkorak manusia dalam banyak segi selain kapasitas otaknya yang lebih kecil”.43 Ahli anatomi Zuckerman menulis, ”Apabila dibandingkan dengan tengkorak manusia dan tengkorak kera, tengkorak Australopitecine kelihatannya sangat menyerupai tengkorak kera—bukan manusia. Menyatakan yang sebaliknya sama saja dengan menegaskan bahwa hitam itu putih.”44 Ia juga mengatakan, ”Berdasarkan temuan kami, tidak diragukan lagi bahwa . . . Australopithecus tidak menyerupai Homo sapiens tetapi menyerupai monyet dan kera masa kini.”45 Donald Johanson juga mengatakan, ”Australopitecine . . . bukan manusia.”46 Demikian juga Richard Leakey mengatakan ”tidak mungkin bahwa nenek moyang langsung kita adalah keturunan evolusioner dari australopitecine”.47

32 Seandainya ada australopitecine yang ditemukan sekarang, mereka akan dimasukkan ke kebun binatang bersama kera-kera lain. Tidak seorang pun akan menyebutnya ”manusia-kera”. Demikian juga dengan fosil-fosil lain yang serupa, seperti tipe australopitecine yang lebih kecil yang dinamakan ”Lucy”. Mengenai makhluk tersebut, Robert Jastrow mengatakan, ”Otaknya memang kecil; sepertiga ukuran otak manusia.”48 Jelas sekali, ia juga hanya seekor ”kera”. Malah, New Scientist mengatakan bahwa ”Lucy” memiliki tengkorak ”yang sangat menyerupai tengkorak simpanse”.49

33 Tipe fosil lain disebut Homo erectus—manusia tegak. Ukuran dan bentuk otaknya termasuk kategori otak yang lebih kecil daripada otak manusia modern. Selain itu, Encyclopædia Britannica mengatakan bahwa ”tulang anggota badan yang sejauh ini ditemukan sangat mirip dengan tulang H[omo] sapiens”.50 Tapi, tidak jelas apakah itu manusia atau bukan. Jika ternyata manusia, ia tidak lebih dari salah satu cabang keluarga manusia dan telah punah.

Keluarga Manusia

34 Tidak diragukan, manusia Neanderthal (diberi nama menurut distrik Neander di Jerman tempat fosilnya pertama kali ditemukan) adalah manusia. Pada mulanya, ia digambarkan agak bungkuk, tampak bodoh, berbulu, dan mirip kera. Sekarang, diketahui bahwa rekonstruksi yang keliru itu didasarkan atas kerangka fosil yang rusak parah akibat penyakit. Sejak itu, banyak fosil Neanderthal telah ditemukan, yang meneguhkan bahwa ia tidak begitu berbeda dengan manusia modern. Dalam bukunya Ice, Fred Hoyle menyatakan, ”Tidak ada bukti bahwa manusia Neanderthal dalam suatu segi lebih rendah daripada kita.”51 Alhasil, gambaran manusia Neanderthal akhir-akhir ini lebih mirip manusia modern.

35 Tipe fosil lain yang sering ditemukan dalam buku-buku ilmiah adalah manusia Cro-Magnon. Ia diberi nama menurut tempat tulang-tulangnya pertama kali ditemukan di bagian selatan Prancis. Spesimen-spesimen ini ”benar-benar sangat mirip dengan manusia sekarang sehingga orang yang paling skeptis pun pasti mengakui bahwa mereka adalah manusia”, kata buku Lucy.52

36 Jadi, buktinya jelas bahwa kepercayaan akan adanya ”manusia-kera” tidak berdasar. Sebaliknya, manusia memiliki semua ciri khas sebagai ciptaan—terpisah dan berbeda dengan binatang mana pun. Manusia berkembang biak hanya menurut jenisnya, baik sekarang maupun di masa lampau. Semua makhluk mirip kera yang hidup pada masa lampau memang adalah kera, atau monyet—bukan manusia. Dan, fosil-fosil manusia purba yang agak berbeda dengan manusia sekarang hanyalah menunjukkan variasi dalam keluarga manusia, sama seperti dewasa ini ada banyak variasi manusia yang hidup berdampingan. Ada manusia setinggi 2,1 meter dan ada orang pigmi, dengan ukuran dan bentuk tengkorak yang berbeda. Tetapi, semua termasuk dalam ”jenis” manusia yang sama, bukan ”jenis” binatang.

Bagaimana dengan Umur Fosil?

37 Kronologi Alkitab menunjukkan bahwa kira-kira 6.000 tahun telah berlalu sejak manusia diciptakan. Maka, mengapa kita sering membaca bahwa berbagai tipe fosil yang diakui sebagai manusia umurnya jauh lebih tua?

38 Sebelum menyimpulkan bahwa kronologi Alkitab salah, perhatikan bahwa metode penentuan umur dengan radioaktif telah dikritik keras oleh beberapa ilmuwan. Sebuah jurnal ilmiah melaporkan penelitian yang menunjukkan bahwa ”umur yang ditentukan berdasarkan peluruhan radioaktif bisa meleset—bukan beberapa tahun saja, tetapi jauh lebih lama”. Dikatakan, ”Manusia mungkin baru hidup di bumi selama ribuan tahun, bukan 3,6 juta tahun.”53

39 Misalnya, ”jam” radiokarbon. Metode penentuan umur dengan radiokarbon dikembangkan selama lebih dari dua dasawarsa oleh para ilmuwan di berbagai bagian dunia. Metode ini dipuji di mana-mana sebagai cara yang akurat untuk menentukan umur berbagai artefak sejarah kuno manusia. Tetapi, kemudian konferensi para pakar dunia, termasuk ahli radiokimia, arkeolog, dan geolog, diadakan di Uppsala, Swedia, untuk membandingkan hasil penelitian mereka. Laporan hasil konferensi itu memperlihatkan bahwa asumsi fundamental yang mendasari pengukuran itu ternyata tidak dapat diandalkan. Misalnya, didapati bahwa laju pembentukan karbon radioaktif di atmosfer tidak konsisten di masa lampau dan bahwa metode ini tidak dapat diandalkan untuk menentukan umur benda-benda yang berasal dari tahun 2000 SM atau sebelumnya.54

40 Ingatlah bahwa bukti yang benar-benar dapat diandalkan tentang kegiatan manusia di bumi dinyatakan bukan dalam hitungan jutaan tahun, melainkan ribuan tahun. Misalnya, dalam buku The Fate of the Earth kita membaca, ”Hanya enam atau tujuh ribu tahun yang lalu . . . peradaban muncul, sehingga kita dapat membangun dunia umat manusia.”55 The Last Two Million Years menyatakan, ”Di Belahan Bumi Timur, kebanyakan langkah penting dalam revolusi pertanian terjadi antara tahun 10000 dan 5000 SM.” Dikatakan juga, ”Baru 5.000 tahun terakhir ini manusia meninggalkan catatan tertulis.”56 Menurut catatan fosil, manusia modern muncul secara tiba-tiba di bumi, dan diakui bahwa catatan sejarah yang dapat diandalkan baru ada belakangan; fakta tersebut sesuai dengan kronologi Alkitab sehubungan dengan kehidupan manusia di bumi.

41 Mengenai hal ini, perhatikan apa yang dikatakan fisikawan nuklir W. F. Libby, pemenang hadiah Nobel yang juga salah seorang pelopor penentuan umur dengan radiokarbon, dalam buku Science, ”Riset dalam pengembangan teknik penentuan umur terdiri dari dua tahap—menentukan umur sampel dari zaman sejarah dan zaman prasejarah. Saya dan Arnold [seorang rekan kerja] untuk pertama kalinya terkejut sewaktu para penasihat kami memberi tahu bahwa sejarah baru berlangsung selama 5.000 tahun. . . . Anda membaca pernyataan-pernyataan bahwa suatu masyarakat atau situs arkeologis tertentu berusia 20.000 tahun. Kami sangat terkejut ketika tahu bahwa angka-angka ini, usia yang sangat tua ini, tidak diketahui secara akurat.”57

42 Sewaktu mengulas sebuah buku tentang evolusi, Malcolm Muggeridge, seorang pengarang asal Inggris, mengomentari kurangnya bukti pendukung evolusi. Ia menyebut bahwa berbagai spekulasi liar tetap saja tumbuh subur. Kemudian ia berkata, ”Catatan buku Kejadian tampaknya, jika dibandingkan, cukup realistis dan setidaknya unggul karena berkaitan erat dengan apa yang kita ketahui tentang umat manusia dan perilakunya.” Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang tidak berdasar bahwa evolusi manusia berlangsung selama jutaan tahun ”dan lompatan yang sangat jauh dari satu tengkorak ke tengkorak lain, pasti akan dianggap fantasi belaka oleh siapa pun yang tidak terbuai oleh dongeng [evolusi]”. Muggeridge menyimpulkan, ”Anak cucu kita pasti akan heran, dan saya kira amat geli, bahwa teori yang demikian sembarangan dan tidak meyakinkan seperti itu telah dengan begitu mudah menawan pikiran orang-orang abad kedua puluh dan telah ditelan mentah-mentah oleh banyak orang.”58