Rabu, 14 Agustus 2013

Lahirnya Kosmologi Modern; Hasil Pergulatannya dengan Agama

 



Kata kosmologi sendiri berasal dari kata Yunani, Kosmos. Kata ini pada masa Yunani Kuno dipakai oleh Pythagoras untuk menggambarkan keteraturan dan keselarasan benda-benda langit. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya kata kosmologi tidak lagi dipakai dalam hal penjelajahan alam semesta, terutama ketika zaman Aristoteles. Langit dijadikan objek pemujaan sebagaimana berlangsung pada masa Babilonia. Yang ada hanyalah bidang astronomi yang mengkaji tentang perhitungan gerak benda-benda langit atau ramal meramal nasib yang merupakan wilayah astrologi, sedangkan aspek langit lainnya merupakan kawasan yang dikuasai oleh teologi.

Setelah itu kosmologi baru muncul kembali dalam karya penting Thomas Aquinas, Summa Theologica. Kemudian pada abad ke-18 Christian Wolff menggunakan kata ini untuk membagi wilayah kajian filsafat. Dalam pengertian Wolff, kosmologi adalah telaah tentang sistem kosmik, yang diselidiki menurut inti dan hakikatnya yang mutlak, baik menurut segi material maupun menurut maknanya. Hal ini berarti bahwa―dalam spekulasi filosofis mengenai kosmos― obyek-obyek kosmologi tidak secara a priori dibatasi pada benda fisika-kimia ataupun biotik (makhluk hidup), melainkan juga manusia dan kosmos sejauh dialami oleh manusia.

Pada masa revolusi sains, penjelajahan alam semesta sangat berbeda jauh dari masa Aristoteles. Penjelajahan kosmos sepenuhnya berjalan di atas observasi dan tak lagi perlu bersandar pada wahyu ilahiyah. Lewat rumusan sains yang sepenuhnya mampu menghasilkan pengetahuan objektif, manusia mengelana dalam kosmos dengan mengandaikan sains memberinya “Mata Tuhan” untuk memahami alam secara lengkap. Revolusi sains berhasil membuang langit relegius dari peta kosmos. Ia menanggalkan kualitas spiritual yang selama ribuan tahun menghadirkan makna kosmik bagi manusia, dan memutuskan hubungan pengetahuan dengan ilahiyah dalam kajian astronomi.

Hal yang memungkinkan kembalinya kosmologi sebagai sains adalah penemuan Edwin Hubble pada abad ke-20 di mana penemuan sains mengarahkan perkembangannya ke gagasan asal mula kosmos dan kosmologi menjadi cabang sains yang memungkinkan ilmuwan menyebut nama Tuhan tanpa sungkan. Keteguhan Einstein dan de Sitter mengokohkan kosmologi sebagai cabang sains dan tidak terjebak sepenuhnya dalam skeptisisme posistivistik yang masih amat dominan pada permulaan abad ke-20. Keduanya mengembangkan model matematika bagi kosmos dengan asumsi yang tak lain a priori. Mereka tak menunggu hasil kosmologi empiris yang saat itu baru melengkapi tahap embrionya.

Tema asal mula kosmos yang pada awalnya merupakan wilayah kajian para teolog dan filsuf; kehidupan yang selama ribuan tahun sedemikian kramat, kini dicacah hingga serpihan terkecilnya; kosmos dijelajah hingga titik paling belia yang masih terjangkau. Maka dari itu, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa kajian sains hanya pada aspek yang pertama, sedangkan tentang asal mula kosmos (kosmologi) merupakan urusan metafisika atau agama. Namun kemajuan sains yang kemudian melahirkan kosmologi modern tidak lagi dapat dibendung. Tugas selanjutnya adalah bagaimana kita berusaha mencari titik temu dalam kesesuain antara sains dan agama, sehingga keduanya tidak selalu mengklaim kebenaran masing masing dan tidak selalu saling menyalahkan.

SUMBER: Dunia Kita